Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
40.


__ADS_3

Siang itu, selepas kuliah, dengan tas ransel yang masih menggantung di pundaknya, Justin bersiap untuk pergi ke kafe tempat Harry bekerja. Ia memutuskan akan melamar pekerjaan disana.


"Justin!" seru seseorang pada Justin.


Suara itu membuat Justin sontak menghentikan langkahnya kemudian menoleh. Ia mendapati Charlie yang sedang berjalan ke arahnya sambil tersenyum sumringah.


"Charlie," sapa Justin balik. "Kenapa kau belum pulang?"


"Kau lupa? Aku kan harus mengantar tugas ke ruang dosen dulu tadi."


Justin mengangguk. "Oh, iya aku lupa."


"Oh iya, kau mau ikut pulang denganku? Aku bawa mobil hari ini. Bukankah kau akan pergi sebentar lagi, bagaimana kalau kita makan siang terlebih dahulu." ajak Charlie.


Justin menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, aku bawa sepeda hari ini. Lagipula aku juga tidak akan langsung pulang, aku ada urusan sedikit."


"Em baiklah, kalau begitu aku duluan ya!" ujar Charlie sambil berjalan meninggalkan Justin.


"Kau hati-hati di jalan!" teriak Justin sambil menatap kepergian sahabatnya.


"Ya!" jawab Charlie mengangguk. "Kau juga hati-hati!"


Justin kemudian kembali melanjutkan langkahnya dan berbelok ke arah parkiran untuk mengambil sepedanya.


Ia lalu mengayuh sepedanya keluar dari area kampus dan menyusuri jalanan kota yang ramai oleh kendaraan. Sepeda Justin terus melaju menuju alamat kafe yang di berikan oleh Harry di kampus tadi.


Loffey Cafe, itulah nama kafe dimana Justin akan melamar pekerjaan. Menurut info yang sempat ia dengar, kafe ini adalah tempat yang paling terkenal di kota itu. Yah, meskipun Justin sendiri belum pernah datang ke kafe ini sebelumnya karena dia memang tidak pernah datang ke tempat-tempat yang hits seperti itu.


Setelah lima belas menit lamanya menempuh perjalanan akhirnya Justin sampai di depan gedung kafe yang ia tuju. Kafe itu memang lumayan dekat dengan kampusnya, tapi karena Justin menggunakan sepeda jadi memakan waktu yang sedikit lebih lama.


Saat ini Justin tidak langsung bergegas masuk ke dalam kafe itu. Ia malah berdiri di seberang jalan dari bangunan itu dan masih sibuk menatap sekaligus mengagumi bangunan kafe yang menurutnya sangat besar dan juga mewah.


"Kafenya besar sekali! Pemilik kafe ini pasti orang yang sangat kaya," gumamnya.


Justin turun dari sepedanya, mendorongnya pelan menuju parkiran kafe untuk memarkirkannya. Lalu setelah sedikit merapikan pakaian yang dikenakannya, ia langsung memutuskan untuk masuk ke bangunan kafe itu.


Justin perlahan mendorong pintu kafe itu kemudian berjalan pelan, masuk ke dalam gedung mewah itu.


Namun begitu sampai di dalam, Justin mendadak menghentikan langkahnya dan malah berdiri celingukan menoleh ke kanan dan kiri. Ia merasa heran karena mendapati situasi kafe yang tampak sepi, tanpa pengunjung.


"Dimana orang-orang?" gumamnya.


"Permisi!" seru Justin dengan suara sedikit lebih nyaring. Namun tidak ada satu pun suara yang menjawab, hanya ada keheningan yang ia dapat, kafe itu juga terlihat sangat sepi.

__ADS_1


"Permisi!" ulang Justin sambil terus mengedarkan pandangannya ke seluruh area kafe.


Tidak beberapa lama kemudian akhirnya ia mendapati seorang wanita yang tengah melintas di dekatnya. Justin berjalan cepat mendekat pada wanita yang tampaknya belum menyadari kehadirannya itu.


"Permisi.." ucap Justin pelan pada wanita itu.


Gadis itu menoleh dengan raut wajah yang sedikit terkejut namun beberapa detik kemudian raut wajahnya berubah dan matanya menatap takjub pada wajah Justin.


"Maaf, permisi!" ujar Justin lagi, kali ini sambil melambaikan tangannya di depan wajah wanita yang saat ini terlihat tengah melamun itu.


"Ah, iya iya?" gadis itu lalu tersadar. Ia kemudian menunduk malu karena di tatap sedekat ini oleh Justin, yang menurutnya sangat tampan itu. Ia lalu tersenyum. "Maaf tuan, tapi kami sedang istirahat sekarang dan kafe ini akan kembali buka jam tiga sore nanti!"


"Ah, begitukah? Maaf, tapi tadi pintunya tidak di kunci jadi aku-"


"Apa anda ingin memesan sesuatu?" tanya gadis itu penasaran.


Justin langsung menggeleng kencang. "Tidak, bukan itu. Aku datang bukan untuk membeli makanan."


"Ah, kalau begitu, apa ada yang bisa di bantu?" tanya wanita itu lagi.


"Itu...aku ingin bertanya sesuatu!"


Gadis itu mengangguk. "Ya. Tentang apa?"


"Em, jadi beberapa hari lalu seorang teman memberitahuku tentang lowongan pekerjaan di kafe ini. Dan aku datang untuk pekerjaan itu. Apa lowongan pekerjaannya masih ada?"


Justin mengangguk. "Heum, temanku, namanya Harry!"


"Oh, maksudmu Harry, si manajer di kafe ini?" ujar pelayan tadi sambil tersenyum ramah.


"Manajer?" Justin menatap takjub. "Jadi Harry adalah manajer di sini?"


Gadis itu mengangguk lalu tersenyum tipis, membenarkan pertanyaan Justin. "Ya, dia sudah dua tahun menjabat sebagai manajer utama di kafe ini. Apa kau tidak tahu?"


"Aku tidak tau. Harry juga tidak bilang!" ujarnya pelan.


"Em, apa namamu Justin Kim?" tanya wanita itu.


"Ya, aku Justin Kim!"


"Aku Sarah." ujar gadis itu mengulurkan tangan dan langsung di balas Justin dengan ikut mengangkat tangannya, menerima uluran itu. 


"Harry sudah memberitahuku tentangmu beberapa waktu lalu. Dan sebenarnya, dia juga yang sudah meminta para karyawan disini untuk menolak lamaran pekerjaan dari orang lain, hanya karena dia ingin merekrutmu." ucap gadis itu sumringah.

__ADS_1


"Ya, dia sempat mengatakan itu tadi." Justin menggaruk tengkuknya canggung.


Wanita itu terdiam, menatap Justin sebentar, lalu tersenyum kaku. "Kau bisa menjadi pelayan kan?"


"Bisa, aku bisa!" Justin mengangguk cepat, menjawab dengan antusias.


"Baiklah, kalau begitu sekarang kau bisa pulang terlebih dahulu dan kembali lagi besok, sekitar jam dua siang."


"Besok?"


Gadis itu mengangguk. "Ya, mulai besok sore kau sudah bisa bekerja disini."


"Mulai besok?" Justin tampak terkejut. "Tapi bukankah aku harus melakukan wawancara kerja lebih dulu?"


"Tidak perlu! Berterima kasihlah karena Harry mengenalmu, jadi kau tidak perlu melakukan wawancara kerja apapun. Tapi ingat, kau harus tetap memberikan CV mu nanti!"


Justin mengangguk paham. "Baiklah!"


"Harry mengatakan kalau kau adalah mahasiswa dan masih aktif kuliah. Jadi kau hanya akan mendapat giliran kerja tiap sore hari saja.Dan selama dua minggu ini kau harus datang setiap jam dua siang. Itu adalah satu jam lebih awal dari jam kerja biasanya, karena kami harus mentrainingmu terlebih dahulu agar lebih memahami sistem kerja pelayan di kafe ini. Mulai cara order, cara bicara dengan pengunjung dan hal penting lainnya."


Mendengarkan penjelasan dari wanita itu, Justin hanya diam, fokus mendengarkan sambil sesekali menganggukkan kepalanya.


Wanita itu lalu kembali melanjutkan."Kau akan bekerja sekitar jam tiga sore sampai jam sepuluh malam. Ah, dan satu lagi, kafe ini harus selalu lembur setiap hari sabtu dan minggu. Tapi jangan khawatir kau akan mendapatkan uang tambahan lebih dengan itu. Apa sejauh ini kau mengerti?" tanya wanita itu.


"Saya mengerti, nona." jawab Justin tersenyum.


"Baiklah! Kau bisa pulang sekarang dan jangan lupa kembalu pukul dua besok sore. Dan ingat, jangan sampai terlambat!"


Justin mengangguk kemudian membungkukkan setengah badannya sopan lalu berjalan keluar dari kafe itu. Ia mengambil sepedanya dan mulai mengayuh meninggalkan kafe itu.


Di sepanjang jalan pulang Justin hanya tersenyum sumringah. Ia sangat senang karena dia tidak perlu repot lagi bekerja dengan banyak pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.


Terlebih lagi, dia sudah tau dari Harry jika kafe itu adalah kafe paling terkenal di kota itu dan gaji yang akan dia terima sudah jelas tidak mungkin main-main.


Justin berharap pekerjaan barunya sebagai pelayan ini akan membantunya untuk membiayai kebutuhan hidupnya. Karena demi pekerjaan ini Justin bahkan sampai rela melepas pekerjaan paruh waktunya yang lain agar bisa lebih mudah membagi waktu.


Ia lalu menggeleng. "Aku masih bisa mengantar koranku setiap pagi hari. Dan aku rasa, aku juga masih bisa menjadi kurir makanan untuk mengantar pesanan di pagi hingga siang hari setiap sabtu dan minggu." gumamnya.


Tentu saja. Ia adalah Justin Kim! Itu sebabnya dia harus memiliki banyak pekerjaan paruh waktu. Ia tidak peduli besar atau kecil uang yang di dapat, ia harus tetap bekerja dan bekerja.


Ia kemudian melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya lalu bergumam pelan saat menyadari waktu yang saat ini sudah menunjukkan pukul setengah satu siang


"Sebaiknya aku pulang sekarang." ujar Justin mengayuh sepedanya lebih cepat.

__ADS_1


Ia harus cepat sampai dirumah agar bisa lebih cepat beristirahat karena tubuhnya terasa sedikit lelah sekarang.


***


__ADS_2