
Charlotte melangkahkan kakinya memasuki hotel milik keluarganya dengan ekspresi dingin. Kaki jenjang nan indah miliknya itu menelusuri lobi hotel dengan langkah cepat.
Suara ketukan dari sepatu hak tinggi di kakinya bahkan terdengar nyaring dan membuat beberapa orang yang mendengarnya sontak menoleh ke arahnya.
Orang-orang di tempat itu yang memang mengenal siapa Charlotte menatapnya dengan tatapan kagum. Beberapa dari mereka bahkan tidak menyangka jika akan bertemu langsung dengan gadis cantik yang di kenal sebagai model ternama sekaligus gadis pemilik kaki terindah di negaranya itu.
Tidak lama kemudian seorang pria tua berjas mewah terlihat berjalan dengan cepat, datang menghampiri Charlotte.
Itu Dimitri, bawahan dari kakek Charlotte atau yang bisa di sebut sebagai orang yang paling di percaya oleh kakeknya, tuan Romanov Clinton. Dimitri adalah orang yang sudah bekerja selama puluhan tahun dengan keluarga Clinton bahkan jauh sebelum Charlotte di lahirkan.
"Selamat datang, Nona Charlotte!" sapa Dimitri dengan nada sopan.
Lelaki paruh baya itu terus melangkah dengan cepat, mencoba untuk menyamakan kecepatan dari langkah kakinya dengan kecepatan langkah dari Charlotte. Ia berjalan mengikuti gadis itu dari belakang.
"Ya." jawab Charlotte singkat saat mendengar sapaan dari bawahan kepercayaan kakeknya itu.
"Kenapa nona tak mengabari kalau akan datang."
"Apa itu perlu?" jawab Charlotte bicara dengan nada dingin. Gadis itu terus saja melangkah, tanpa sedikit pun menoleh atau melirik ke arah Dimitri.
Dimitri tersenyum canggung mendengar jawaban gadis itu. Benar juga. Nona muda ini memang tak perlu mengabarinya. Tapi jika ia memberitahu kalau akan datang, setidaknya ia bisa bersiap-siap, kan?"
"Apakah anda-"
"Paman Dimitri!" seru Charlotte memotong perkataan Dimitri.
"Ya, nona?"
"Aku ingin paman ikut denganku. Kita akan ke ruang kerja kakek!" pinta Charlotte pada Dimitri.
"Baik nona!" jawab Dimitri patuh.
"Aku akan beristirahat di sana sebentar. Tapi paman juga harus ikut ke sana. Aku tidak ingin nantinya kakek akan menuduhku jika tiba-tiba ada barang atau dokumen miliknya yang hilang." ujar Charlotte lagi.
Dimitri tersenyum kemudian mengangguk paham. Ia terus mengikuti Charlotte yang saat ini tengah melanvkaj menuju lift.
"Oh ya, saat ini aku sedang ada janji untuk bertemu dengan seseorang di hotel ini. Jadi sepertinya aku akan beristirahat sebentar saja di ruang kakek." ujar Charlotte tanpa basa-basi.
Dimitri mengangguk mengerti.
"Ya, nona. Baik."
__ADS_1
Charlotte terus melangkahkan kakinya menuju lift yang berada di ujung lobi. Ia berniat untuk singgah sebentar ke ruangan milik kakeknya yang berada di lantai paling atas hotel itu.
Setelah beberapa saat Charlotte akhirnya sampai di ruang kantor milik sang kakek. Ia membuka handle pintu dan memasuki ruangan. Charlotte kemudian melangkah ke tengah ruangan itu dan menghempaskan dirinya di atas sofa empuk milik sang kakek.
Charlotte menolehkan pandangannya pada Dimitri yang berdiri sopan di dekatnya. "Aku ada janji temu dengan seseorang. Akan ada tamu yang datang untukku… atas nama Victor."
Dimitri mengangguk sopan. "Ya Nona! Resepsionis kita sempat memberitahu saya beberapa saat lalu. Memang ada tamu untuk anda nona, seorang pria dengan nama Victor." jelas Dimitri.
"Oh, jadi dia sudah datang?"
"Ya nona, tamunya sudah datang." jawab Dimitri sopan.
"Wow, bukankah ini cepat sekali. Dia bahkan sudah tiba lebih dulu dariku. Tampaknya dia lebih antuasias dariku." Charlotte menyeringai lebar entah karena apa.
Dimitri hanya diam. Tak tahu harus menjawab apa atas perkataan itu.
"Dimana dia sekarang?" tanya Charlotte.
"Saat ini dia sedang menunggu di restoran hotel kita, nona." terang Dimitri, kedua matanya terus memperhatikan seringaian di wajah gadis itu.
"Sudah lama dia datang, paman?" tanya Charlotte lagi dan langsung di angguki oleh Dimitri.
"Oke, kalau begitu aku akan menemuinya di sana nanti." jawab Charlotte ikut menatap jam di pergelangan tangannya.
"Baiklah kalau begitu, nona." ujar Dimitri paham.
Sembari melihat jam yang ada di pergelangan tangannya, Charlotte bangkit dari posisinya. "Aku mau pergi dulu, paman."
"Apakah tak ada lagi yang anda butuhkan, Nona?" tanya Dimitri pada Charlotte yang sudah hendak pergi meninggalkannya.
Mendengar pertanyaan itu, Charlotte sontak saja menghentikan langkahnya kemudian berbalik untuk menatap ke arah Dimitri. Ia melepas kacamata hitam yang sejak tadi memang bertengger di matanya lalu melipat tangannya di dada.
"Yang aku butuhkan?" gadis cantik itu tampak berpikir sebentar kemudian ia menjentikkan jari. "Oh ya, ada! Aku mau pamam siapkan sebuah kamar untukku! Siapkan kamar yang terbaik di hotel ini. Ingat, yang terbaik!"
"Baik nona, akan segera saya kerjakan." Dimitri mengangguk patuh.
Charlotte tersenyum dan mengangguk. Ia kini sudah hampir kembali melangkahkan kakinya namun baru beberapa langkah tiba-tiba saja ia kembali menghentikkan langkahnya. Ia berbalik, menatap ke arah Dimitri yang masih terus mengikutinya dari belakang. Charlotte berdehem sebentar.
"Paman Dimitri!" ujar Charlotte membuat pria paruh baya di hadapannya itu mendongakkan kepalanya.
"Ya nona? Apa ada lagi yang anda butuhkan." jawab Dimitri, menatap Charlotte dengan ekspresi penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Tidak, tidak ada!" Charlotte menggeleng pelan. "Aku hanya penasaran, bukankah urusan kita sudah selesai?"
Lelaki paruh baya itu langsung menganggukan kepalanya. "Ya, nona. Urusan kita sudah selesai!" jawabnya.
"Lalu kenapa paman masih di sini?" tanya Charlotte sembari menaikkan sebelah alisnya.
"Ya?"
"Maksudku, mau sampai kapan paman akan terus mengikuti aku seperti ini?"
Dimitri terhenyak. Lelaki paruh baya itu tampak tersenyum canggung pada Charlotte. "Itu… saya hanya ingin mengantar nona ke restoran hotel."
"Sudah, sudah!" Charlotte berujar santai sambil mengibaskan tangannya acuh. "Paman sampai disini saja mengikuti aku. Lagipula aku tahu jalan menuju restoran itu dimana. Lebih baik sekarang paman siapkan kamar untukku karena aku ingin menggunakannnya sekarang."
"Baik nona!"
Dimitri segera membungkukkan setengah badannya sopan sementara Charlotte hanya menatap Dimitri datar.
"Aku akan pergi ke restoran sendirian saja nanti. Dan paman tidak perlu mengantarkan aku, paham!" Charlotte memberi penekanan pada kata terakhir agar lelaki paruh baya itu bisa mengerti.
Dimitri mengangguk patuh. "Akan saya siapkan kamarnya sekarang juga nona."
"Sekalian isi dengan buah-buahan dan minuman kesukaanku." perintah Charlotte lagi.
Dimitri kembali mengangguk. Ia sudah tak berani mengatakan apapun lagi dan segera bergegas pergi meninggalkan gadis itu.
Dia sudah hidup berpuluh-puluh tahun dan sangat mengenal perangai mengerikan dari gadis itu. Dan ia tau jelas kalau dia baru saja membuat kesalahan kecil pada gadis itu.
Charlotte berdecak lalu menggelengkan kepalanya sembari terus menatap kepergian Dimitri dengan tatapan datarnya.
Setelah Dimitri menghilang di ujung lorong, Charlotte menghela napasnya lega. Jujur, Charlotte memang sengaja membuat pria paruh baya itu pergi karena tak ingin diikuti kemanapun.
'Diikuti seseorang itu sangatlah menyebalkan bagi diriku.' batin Charlotte kembali teringat saat kakeknya mengirimkan belasan bodyguard padanya beberapa waktu lalu.
***
✔ Note :
▪Author tidak akan mengubah kesalahan ejaan, typo dan hal lainnya karena faktor KEMALASAN TINGKAT AKUT. Dan sesungguhnya kemalasan adalah kerajinan yang tertunda.
▪Author peduli dengan kesehatan mata kalian, jadi, kalau kalian kurang suka sama ceritanya, Author sarankan kalian untuk mencari cerita yang lain saja, karena cerita ini bisa menyebabkan sakit mata akut.
__ADS_1