
Malam itu, sebuah mobil hitam mewah tengah melaju di jalan raya dengan kecepatan di atas rata-rata membawa sang pengemudi menembus ramainya kendaraan.
Sang pengemudi lalu memberhentikan mobilnya tepat di depan sebuah bangunan klub malam. Setelah itu, dia menoleh kanan dan kirinya seperti tengah mencari seseorang, kemudian menghela pelan napasnya.
Ia lalu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Halo! Dimana kalian? Kenapa lama sekali? Aku sudah sampai. Cepatlah!" ucapnya pada lawan bicaranya di telepon itu.
Gadis itu, Charlotte kemudian menutup sambungan teleponnya dan segera bergegas keluar dari mobil. Ia berjalan memasuki bangunan klub malam itu, melewati keramaian manusia yang asyik meliuk-liuk di lantai dansa berserta bau alkoh*l yang sudah mulai mengganggu penciumannya.
Tepat pada saat itu Charlotte melihat seorang pria berlari menghampirinya. Pria itu adalah orang yang dipercaya Laurent untuk menjaga tempat itu.
Pria itu membungkukkan setengah badannya sopan pada Charlotte. "Selamat datang nona Lottie,"
"Ruang pesta Laurent?" Charlotte bertanya dengan cepat tanpa basa basi sambil menutupi sebagian wajahnya dengan ponselnya karena tidak ingin berlama-lama di tempat ramai seperti ini. Orang-orang pasti akan mengenalinya.
Pria itu mengangguk, langsung mengerti maksud gadis di hadapannya ini. "Ya, nona! Saya akan mengantarkan anda ke sana! Mari ikuti saya!"
Charlotte lalu mengikuti pria itu menuju ruangan VIP yang akan di gunakan Laurent untuk pesta malam ini.
Setelah tiba di ruangan yang dimaksud, Charlotte langsung melemparkan jaket kulitnya ke atas sofa yang ada di ruangan itu.
"Ck, mereka lama sekali." ujarnya pelan lalu terkekeh.
Charlotte menghempaskan tubuhnya ke sofa kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, menunggu kedatangan teman-temannya yang lain.
Tidak lama kemudian, beberapa pemuda datang.
"Charlotte, kau gila, hah? Berapa kecepatan mobilmu tadi?" ujar Xander setelah sebelumnya melempar kunci mobilnya ke atas meja.
Charlotte hanya tersenyum sebagai tanggapan. "Tenanglah Xander! Kau lihat, aku tiba dengan selamat, kan? Itu artinya tidak ada yang perlu kau risaukan sekarang."
"Tetap saja, itu namanya cari mati!" ujar Xander sambil mencoba menahan emosinya.
"Baiklah, lain kali aku akan lebih pelan! Puas?" balas Charlotte. Sudah ya, lebih baik sekarang kau duduk. Jangan rusak acara kita malam ini!" ujar Charlotte jengah.
Sementara itu, Laurent dan beberapa orang lain yang mendengarkan omelan Xander pada Charlotte hanya bisa tertawa.
"Kau belajar nyetir dimana, Lottie?!" puji Laurent dan membuat Xander yang mendengarnya langsung mendengus.
Charlotte kemudian menunjuk Xander dengan dagunya. "Xander yang mengajariku!"
"Dia yang mengajarimu?" kedua mata Laurent sudah membulat sempurna. "****, Xander! Aku yakin kau pasti menyesal sudah mengajarinya." ujar Laurent menggelengkan kepalanya
Xander hanya mendengus kesal.
"Sangat menyesal." ujar Xander mulai membuka botol minuman miliknya.
Beberapa saat setelah itu semua orang sibuk dengan obrolan masing-masing. Dan Charlotte juga tampak sibuk dengan temana wanitanya.
"Hai!" Sebuah suara membuat obrolan Charlotte terhenti.
Charlotte menoleh guna menanggapi panggilan itu. Seorang pria tampan duduk di dekatnya, memandangnya dengan senyuman lebar.
__ADS_1
Charlote tampak menolehkan kepalanya pada Laurent yang duduk tak jauh darinya. Sahabatnya itu hanya menggedikkan bahunya sambil tersenyum miring kemudian dia lanjut berbicara pada seseorang di sebelahnya.
Charlotte kembali menoleh pada pemuda tampan itu.
"Ehm, hai," jawab Charlotte.
"Bisa aku duduk disini?" tanya pemuda tampan itu.
"Tentu." jawab Charlotte menggeser tubuhnya, memberi ruang pada pemuda tampan itu untuk duduk.
"Aku Jay." ujar pemuda itu sambil mengulurkan tangannya dan tersenyum.
"Charlotte!" ujar Charlotte sambil membalas uluran tangan pemuda itu.
"Aku tau!" balas pemuda itu. "Aku sempat beberapa kali melihatmu di internet."
Charlotte mengangguk lalu meneguk kembali minumannya. 'Ck, memangnya dimana lagi orang dapat melihatku' gumamnya pada diri sendiri.
Pemuda itu masih tersenyum.
"Aku tidak tau kalau kau sangat cantik dilihat secara langsung, Charlotte," bisik pemuda itu di telinganya.
"Begitukah?!" jawab Charlotte.
Pemuda itu tidak bisa berhenti menatap wajah Charlotte, seperti matanya hanya terpaku pada gadis itu saja.
Dan tunggu dulu, ternyata bukan hanya dia, namun hampir semua orang yang berada di ruangan ini juga tidak bisa berhenti menatap Charlotte. Tidak ada yang bisa disalahkan, karena jika kau menatap Charlotte itu sama seperti kau sedang melihat seorang dewi.
"Hanya dengan menatap begitu tidak akan membuatmu puas, Jay." ujar Charlotte yang berkata tanpa menatap pemuda itu. Gadis itu hanya menatap kaleng minuman di tangannya.
Charlotte mendengus. "Yah aku juga penasaran dengan milikmu yang ada di balik celana itu."
"Wow, aku terkejut. Seorang gadis cantik sepertimu menawarkan langsung milikmu."
"Bukankah itu yang selalu di cari para lelaki?" ujar Charlotte enteng.
"Kau terlalu terbuka!" Jay terkekeh.
Charlotte diam beberapa saat sebelum menatap Jay.
"Mau mencoba keberuntunganmu malam ini?" tanya Charlotte dengan ekspresi santai.
Charlotte lalu menertawakan kata-katanya sendiri dalam hati. 'Ck, ini menjijikan' batinnya.
"Apa yang kau inginkan dariku?" ujar Jay sambil mengangkat satu alisnya.
"Menurutmu?" kata Charlotte yang hampir terdengar seperti sebuah ajakan.
Pemuda itu lalu bergerak lebih dekat pada Charlotte. Setelah itu dia mulai menyisir sebagian rambut Charlotte ke belakang telinga.
"Bagaimana kalau aku menyentuhmu?" bisik Jay.
Ucapan pemuda itu sontak membuat Charlotte tertawa.
__ADS_1
"Oke! Karena aku sedang butuh teman saat ini, aku akan membiarkanmu ikut denganku." ujar Charlotte kemudian bangkit dari duduknya menarik Jay entah kemana sementara pemuda itu hanya tersenyum dan langsung mengikuti langkah Charlotte.
Charlotte dan pemuda itu sengaja meninggalkan pesta dan masuk ke dalam toilet yang ada di ruangan itu. Bahkan mereka sengaja mengurung dan mengunci diri di dalam toilet itu.
Setelah mengunci pintu toilet, Charlotte memutar tubuhnya menghadap ke arah Jay. Ia lalu menyondongkan tubuhnya agar wajahnya bisa lebih dekat pada pemuda itu.
Sambil tersenyum Charlotte menatap wajah Jay lekat. "Bukankah cinta satu malam lebih luar biasa?"
"Mari kita coba, malam ini. Kau mau cari hotel?" balas Jay.
"Kakekku punya banyak. Haruskah kita gunakan malam ini?"
Charlotte kemudian menarik tengkuk Jay dan menyatukan bibirnya dengan bibir pemuda itu. Ia mulai mel*mat bibir Jay perlahan.
Charlotte kini dapat merasakan pria itu mulai membalas ciumannya. Ia semakin menekan tengkuk Jay dan memejamkan kedua matanya saat merasakan pemuda itu mencoba untuk memperdalam lum*tannya.
Namun tiba-tiba saja sebuah bayangan muncul di kepalanya.
Charlotte sontak melepas pagutan mereka kemudian mendorong mundur tubuh Jay dengan kasar agar sedikit menjauh dari tubuhnya.
Gadis itu lalu membuka kedua matanya dengan cepat dan menatap wajah Jay dengan ekspresi yang tak bisa di artikan.
Sementara, Jay kini hanya bisa menatap Charlotte dengan ekspresi keterkejutannya.
"Ada apa?" tanya Jay heran.
"Lupakan! Lupakan tentang ini." ujar Charlotte sambil terus melangkah mundur.
"Apa? Tapi kena-"
"Pergi dan anggap saja pertemuan kita ini tidak pernah terjadi." ujar Charlotte lagi.
Charlotte kemudian beranjak pergi dari tempat itu. Ia merasa aneh. Entah kenapa ia merasa jika ada yang tak beres dengan dirinya saat ini. Dia tidak tahu ada apa dengannya sekarang. Dia bahkan kebingungan sendiri.
Ini tentang pemuda kafe itu!
Pemuda yang ia temui beberapa waktu lalu.
Saat memejamkan matanya tadi, entah kenapa malah wajah pemuda tengil itu yang muncul?
Ia kesal, kenapa di saat seperti ini dia malah memikirkan pemuda kafe itu.
Ah, bukan!
Dia bahkan tidak memikirkannya, tapi bayangannya saja yang tiba-tiba muncul.
Ia mengumpat dalam hati. 'Kenapa aku harus memikirkan bocah itu. Siapa sebenarnya bocah itu. Kenapa bayangannya yang muncul di otakku.'
***
✔ Note :
▪Author tidak akan mengubah kesalahan ejaan, typo dan hal lainnya karena faktor KEMALASAN TINGKAT AKUT. Dan sesungguhnya kemalasan adalah kerajinan yang tertunda.
__ADS_1
▪Author peduli dengan kesehatan mata kalian, jadi, kalau kalian kurang suka sama ceritanya, Author sarankan kalian untuk mencari cerita yang lain saja, karena cerita ini bisa menyebabkan sakit mata akut.