Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
58.


__ADS_3

Justin bisa mengenal dengan jelas siapa orang yang baru saja di tunjuk oleh Charlie. Dia si gadis pemarah yang dia temui di kafe waktu itu dan juga gadis yang sama dengan pemilik mobil yang sudah ia tabrak tadi pagi.


Jadi Charlie mengenal gadis itu? Wow, bukankah ini kebetulan yang luar biasa? Saat ini Justin hanya bisa diam terpaku di posisinya sambil terus menatap gadis itu dari kejauhan.


Dan detik itu juga, muncul serentetan pertanyaan di kepala Justin tentang apa yang sedang gadis itu lakukan di kampusnya saat ini. Apa dia juga berkuliah di kampus ini? Dan jika benar, bukankah itu artinya dia dan gadis itu juga berada di satu kampus yang sama? Tapi yang membuat Justin lebih penasaran adalah setelah beberapa lama dia kuliah di kampus ini, kenapa Justin baru melihatnya sekarang?


"Akhirnya mereka muncul juga." ujar Charlie tiba-tiba sambil tersenyum puas menatap ke tengah kerumunan.


"Hah?" tanya Justin bingung tanpa menoleh pada Charlie.


"Xander dan Charlote!!"


"Siapa?" tanya Justin penasaran.


"Mereka Xander dan Charlotte. Raja dan Ratu kampus kita." ujar Charlie lagi menjelaskan kemudian menoleh pada Justin. "Kau tidak tau?"


Justin menggeleng polos, membuat Charlie berdecak kesal sambil mencebikkan bibirnya lalu kembali menoleh pada pusat kerumunan itu.


"Bagaimana bisa kau tidak tau?" omel Charlie.


Justin menggedikkan bahunya, ia bingung harus menjawab apa. Dia memang tidak tau apa yang sedang di bicarakan sahabatnya itu. Lagipula ini bahkan sudah hampir sebulan sejak dia menjadi mahasiswa baru di kampus ini dan tidak pernah terjadi hal-hal aneh seperti ini. Jadi, bukankah hal wajar jika Justin tidak tau apa-apa?


Charlie kemudian melirik sekilas pada Justin. "Aku paham jika kau tidak pernah mengetahui ataupun mengenal mereka. Kerjamu itu kan hanya mengurung diri di perpustakaan kampus saja."


"Aku tidak mengurung diri Charlie, aku belajar di sana!" Justin berujar tak terima.


"Sama saja!" balas Charlie sambil terkekeh.


Justin memanyunkan bibirnya kesal. "Lagipula kenapa memangnya kalau aku tidak mengenal siapa mereka? Itu kan tidak membuatku rugi sama sekali." ujar Justin polos.


TAK!


Charlie langsung memukul kepala Justin, membuat pemuda itu menggosok kepalanya dan kembali menggerutu kecil.


"Apa yang kau lakukan?" gerutu Justin sambil terus menggosok kepalanya.


"Menyadarkanmu dari kebodohan." desis Charlie kesal.


"Tapi kan-"


"Dengar, Justin! Kau akan menyesal karena sudah mengatakan hal bodoh itu. Asal kau tau saja, sangat penting mengenal mereka, karena mereka itu ibarat artis di kampus ini. Mereka sangat di sukai, di gilai, juga di hormati. Ah, bukan hanya di kampus ini saja, bahkan sampai kampus lain juga tau siapa mereka."


"Begitu ya..." ujar Justin yang saat ini hanya menganggukkan kepalanya polos tanda mengerti dan langsung di sambut senyuman puas oleh Charlie.

__ADS_1


Charlie kembali mengalihkan perhatiannya pada kerumunan dihadapannya itu. "Dan kau tau? Sudah lama sejak aku menunggu kemunculan mereka dikampus ini. Aku bahkan sempat bertanya-tanya kenapa hanya Xander yang terlihat muncul beberapa kali, sementara Charlotte tidak muncul sama sekali selama beberapa waktu setelah aku masuk kuliah disini. Dan kau tau kenapa?"


Justin menggeleng. "Tidak."


"Ternyata dia cuti!" jawab Charlie terkekeh sendiri.


"Oh, begitu..." Justin mengerjapkan matanya sambil sesekali mengangguk. Ia sebenarnya tidak mengerti kenapa Charlie sangat antusias menceritakan tentang ini padanya.


Charlie masih sumringah kembali melanjutkan kalimatnya. "Sejak SMA aku sudah mendengar info tentang betapa populernya kampus ini dari teman-temanku. Mereka bilang selain menjadi kampus terbaik, kampus ini juga tempat berkumpulnya para gadis cantik dan kaya."


"Begitukah? Aku hanya tau kalau kampus ini adalah kampus nomor satu. Tapi aku tidak tau kalau para mahasiswanya juga populer." jawab Justin.


"Ya, kita beruntung bisa di terima di kampus ini. Dan kau tau mereka berdua adalah yang terpopuler. Benar-benar sangat populer. Lebih populer di atas populer." lanjut Charlie sambil tersenyum-senyum sendiri.


Justin hanya diam di posisinya. Dia tidak tau harus menanggapi apa.


"Kau lihat dia, dia Raja di kampus kita!" tunjuk Charlie pada pria yang tengah berjalan di tengah kerumunan itu. "Namanya Alexander. Dia adalah mahasiswa dengan IQ tinggi. Sering mendapat nilai tinggi, berprestasi di bidang seni, beladiri, dan... ah banyak lagi. Dia penguasa kampus kita. Aku dengar tidak ada yang berani melawannya!"


'Dan wajahnya juga sangat tampan.' ujar Justin dalam hati.


"Dan kau lihat gadis itu, Justin!" tunjuk Charlie pada gadis yang berjalan di sebelah Alexander. "Dia Charlotte! Dia ratu kampus kita! Dia adalah model paling terkenal di negara ini, paling banyak penggemar. Dia sangat populer!"


Justin kembali menoleh pada arah yang di tunjuk Charlie. Menatap gadis cantik yang tengah menjadi pusat perhatian itu. Gadis itu! Dia gadis yang Justin temui tadi pagi saat insiden tabrakan. Dan dia juga gadis pemarah yang di kafe waktu itu. Jadi, ternyata memang benar, gadis itu memang kuliah di tempat ini.


"Mereka cocok! Serasi." gumam Justin. 


Justin langsung menyengir malu. "Ya mana aku tau kalau mereka itu saudara, aku bahkan tidak tau mereka siapa."


"Hidupmu benar-benar tidak asik." ujar Charlie sambil menggelengkan kepalanya prihatin. "Aku saja sangat ingin bertemu mereka. Selama ini aku sangat ingin melihat mereka dan akhirnya aku bisa melihat mereka secara langsung. Mereka luar biasa kan Justin?"


"Ya, aku rasa." jawab Justin seadanya. Ia lalu menoleh pada sahabatnya itu. "Tapi Charlie, ada yang ingin aku beritahu padamu." lanjutnya.


Charlie menoleh, menatap Justin. "Ada apa?"


"Gadis bernama Charlotte itu. Aku pernah bertemu dengannya sebelumnya." gumam Justin pelan.


Charlie yang mendengar gumaman Justin itu langsung mendecih. "Tentu saja kau pernah bertemu dengan dia. Dia itu kan model terkenal, jadi kau pasti akan melihatnya entah di televisi, majalah, ponsel atau-"


"Bukan, bukan itu, Charlie!" ujar Justin menggelengkan kepalanya. "Tapi aku bertemu langsung dengannya tadi pagi! Dia adalah gadis yang ku ceritakan padamu tadi. Gadis yang mobilnya aku tabrak!"


"Apa?" teriak Charlie refleks. "Dia yang kau tabrak?"


"Mobilnya, Charlie!"

__ADS_1


"Ah, itu maksudku!" Charlie mengibaskan tangannya acuh. "Kau serius, Charlotte orangnya?"


"Ya, dia!"


"Sial! Kau beruntung sekali." ujar Charlie.


"Beruntung? Beruntung bagaimana maksudmu? Jelas itu bukan beruntung! Itu namanya sial." protes Justin tak terima.


"Ya, tetap saja aku menyebut kau beruntung karena bisa berhadapan langsung dengan seorang Charlotte Clinton." jelas Charlie.


"Terserahmu saja." Justin mengibaskan tangannya acuh. "Oh ya satu lagi. Gadis bernama Charlotte itu, dia adalah gadis yang aku ceritakan padamu tempo hari." terang Justin lagi. "Dia gadis di kafe itu. Gadis yang marah hanya karena aku tidak mengenalinya."


"Apa? Dia adalah gadis di kafe itu?"


Mata Charlie  sudah benar-benar membulat sempurna sekarang. Charlie menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya.


"Kalau begitu, wajar saja dia marah. Kau pasti sudah membuatnya tersinggung. Bayangkan saja, mana ada orang yang tidak mengenalinya saat ini." ujar Charlie.


"Ya, kalau aku tidak mengenalinya, aku bisa apa?" balas Justin acuh.


"Justin, Tuhan memang menyayangimu. Ini sangat tidak adil. Tuhan tidak adil padaku. Dia bahkan sudah dua kali mempertemukanmu dengan gadis yang selama ini sangat ingin aku temui."


Justin memutar bola matanya malas melihat tingkah sahabatnya itu. Ia lalu kembali fokus pada gadis itu sampai dia hilang di tikungan koridor. 'Jadi itu artinya aku berhutang pada seorang model terkenal. Kalau begitu, dia pasti bisa membuatku malu seandainya aku tidak mampu membayar hutangku? Aku benar-benar sial.' ucap Justin dalam hati.


"Tuhan memang tidak adil padaku!" terdengar gerutu Charlie lagi.


"Hah? Tidak adil bagaimana?"


"Ya! Bayangkan saja. Dia sudah membuatmu lebih populer di banding aku. Dan sekarang dia juga membuatmu bertemu langsung dengan Charlotte Clinton padahal kau bukan fansnya, sedangkan aku? Melihatnya secara langsung saja baru hari ini. Tuhan benar-benar tidak adil!"


Justin mendengus. "Aku bukan hanya bertemu dengannya, Charlie. Tapi aku juga mempunyai hutang padanya. Ingat? Aku kan harus ganti rugi kerusakan mobilnya!"


"Sama saja. Mau bagaimanapun caranya, tetap saja kau bertemu langsung dengannya kan?"


"Terserah saja. Kata-katamu itu sama sekali tidak membantuku, Charlie. Menghibur saja tidak!" omel Justin mengibaskan tangannya acuh sambil berjalan meninggalkan sahabatnya itu.


"Mau kemana?"


"Perpustakaan. Bukannya sejak tadi aku sudah bilang, aku mau ke perpustakaan. Aku mengantuk!


"Hei, jangan lupa jam sepuluh akan ada jadwal mata kuliah kedua!" ujar Charlie.


Justin menghentikan langkahnya namun tak menoleh pada Charlie. "Jangan mengerjaiku Charlie! Aku tau, hari ini mata kuliah kita hanya satu!" ujar Justin sambil kembali melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


"Ah, ya!" Charlie hanya nyengir kuda saat ia ketahuan tengah mencoba mengerjai sahabatnya itu. Ia memandang kepergian Justin dari belakang sampai pemuda itu hilang di ujung koridor. Ia menggedikkan bahunya acuh lalu segera pergi dari tempat itu dengan senyum kecil.


***


__ADS_2