
Dan akhirnya, waktu makan malam itu pun tiba.
Di ruang makan, para pelayan kini terlihat sibuk menata piring di meja makan. Sementara itu Paul terlihat datang kembali ke taman belakang untuk memberitahu tuan Romanov.
"Ada apa?" tanya tuan Romanov melihat kehadiran asistennya.
"Waktu makan malam akan segera tiba, tuan." ujar Paul mengingatkan sang majikan. "Para pelayan saat ini tengah menyiapkan keperluan di meja makan."
Tuan Romanov mengangguk mengerti dan menoleh pada Justin. "Baiklah, kalau begitu, mari kita masuk saja ke dalam sekarang," ajak tuan Romanov.
Justin mengangguk dan mengikuti tuan Romanov berjalan kembali ke halaman parkir tadi. Mereka terus melangkah menaiki sederet anak tangga yang akan menuju ke pintu masuk utama.
Pertama kali Justin memasuki ruang tamu mansion itu ia langsung terpana akan pemandangan ruangan yang begitu luar biasa megah dan juga mengesankan.
Lantai ruangannya terbuat dari marmer putih mengkilat di tambah dengan lampu-lampu hias yang bergantungan di langit-langit rumah. Ruangan ini berukuran sangat besar dan seluruhnya tampak berwarna putih bersih dan terlihat begitu indah.
'Ruangan ini saja terlihat lebih luas dari rumahku." batin Justin.
Justin lalu menoleh ke sisi kanan ruangan, di sana ada banyak sekali barang-barang. Tuan Romanov menjelaskan kalau itu adalah hadiah-hadiah pemberian dari klien tuan Romanov.
Di sisi yang lain, Justin bisa melihat patung-patung porselen yang berasal dari berbagai negara, susunan barang-barang antik yang pastinya tidak murah dan juga benda berwarna perak dan emas yang tampak memenuhi lemari kaca besar yang ada di ruangan itu.
'Ini benar-benar sudah seperti istana.' batin Justin. Ia menatap dengan takjub, matanya tampak membundar, penuh dengan sinar kekaguman.
"Kalau begitu kau silahkan duduk dahulu, kakek akan mandi sebentar. Kau tunggu di sini." ujar tuan Romanov memotong lamunan Justin sambil membimbing pria muda itu untuk duduk ke sofa yang ada di ruang tamu.
Selepas kepergian tuan Romanov, Justin kemudian duduk dengan tenang di ruang tamu. Ia tampak mengedarkan pandangannya, memandang lekat pada ruang tamu yang menurutnya sangat megah itu. Sekilas, Justin kembali teringat pada ucapan tuan Romanov padanya di taman tadi. Saat dimana tuan Romanov mengatakan kalau rumah ini juga rumah Justin.
Justin sontak terkekeh miris.
Yang benar saja..
Tuan Romanov pasti sedang bercanda saat mengatakan hal itu. Karena jangankan untuk menjadi rumahnya, bahkan hanya sekedar untuk menginjakkan kakinya di tempat ini saja, Justin sudah merasa begitu rendah.
Beberapa saat berlalu sejak Justin menunggu di ruang tamu itu. Ia kembali mengedarkan pandangannya, menatap ke sekeliling ruangan. Ah, ternyata ada satu hal yang baru saja Justin sadari tentang ruangan itu.
"Benar juga, kenapa tidak ada satupun foto tuan Romanov atau keluarganya di sini?" gumamnya.
"Itu karena cucu dari tuan Romanov memang tidak suka mengambil foto keluarga." ujar sebuah suara di dekat Justin.
Terkejut, Justin menengadah dan melihat Paul, asisten pribadi dari tuan Romanov tengah berdiri tegak di hadapannya. Di belakangnya, tampak juga seorang pelayan yang membawa nampan minuman.
__ADS_1
"Ini, minumlah dulu," ujar Paul, tersenyum ramah sambil meletakkan cangkir minuman di atas meja. "Saya meminta pelayan untuk membuatkan anda minuman dingin. Saya dengar dari Mario, tadi anda datang kemari dengan menggunakan sepeda, anda pasti lelah."
"Ah, te-terima kasih minumannya." kata Justin sambil menarik piring kecil yang menjadi alas dari gelas minuman itu.
"Ya, sama-sama."
"Si-silahkan duduk, tuan Paul." pinta Justin yang merasa tidak enak saat melihat pria paruh baya itu yang harus berdiri.
Paul mengangkat tangannya sambil menggeleng. "Saya tidak apa-apa,"
"Tidak, duduklah! Saya merasa tidak enak melihat anda berdiri di situ." ujar Justin dengan nada memohon.
Paul menyerah, ia mengangguk dan ikut mendudukkan dirinya di sebelah Justin. Ada keheningan beberapa saat lamanya setelah itu.
"Yah..." kata Paul setelah beberapa saat kemudian. "Tuan Romanov dan kedua cucunya memang tidak punya foto keluarga. Itu karena cucu perempuan tuan Romanov akan selalu menolak jika di ajak untuk foto keluarga."
"Begitukah?"
"Ya, nona sebenarnya adalah model. Berfoto di depan kamera seperti itu adalah keahlian utama baginya. Tapi dia benci dengan yang di sebut foto keluarga."
Justin mengerutkan dahinya. "Benci?"
Justin diam mendengarkan, sementara Paul menghela napasnya, kemudian melanjutkan.
"Baginya sebuah foto keluarga akan membangkitkan kenangan di hatinya, entah itu senang atau sedih. Dan menurut nona muda, hal itu hanya akan menyakiti hatinya sendiri."
"Dulu, ada banyak sekali foto keluarga yang tergantung di dinding ruangan. Tapi nona muda meminta para pelayan untuk melepas semua figura dan foto-foto itu karena nona benci melihat foto keluarga. Bahkan nona muda melepas semua figura tentang orang tuanya."
"Tapi kenapa?"
Justin bertanya bingung, kenapa ada orang yang tidak menyukai kenangan? Bukankah itu yang akan di ceritakan pada seseorang suatu hari nanti?
Paul menatap Justin lekat, "Itu karena nona muda tidak ingin mengingat saat mereka meninggalkannya. Nona tidak ingin mengingat tentang kepergian mereka."
"Ah, apa nona muda marah karena di tinggal?" Justin berusaha menyimpulkan. "Apa mereka pergi keluar kota tanpa mengatakan apapun padanya?"
"Bukan," Paul terkekeh kecil kemudian menggelengkan kepalanya. "Tapi karena mereka sudah meninggal, nak. Mereka sudah lama tiada."
Senyum Justin sontak memudar, "me-meninggal?"
"Ya! Mereka meninggal karena sebuah kecelakaan. Itu adalah kecelakaan tunggal." jelas Paul, kemudian menunduk, ia terlihat murung saat mengatakannya.
__ADS_1
Melihat Paul yang murung, Justin jadi tidak enak karena sudah dengan asal menebak. "Maafkan saya, tuan Paul!"
"Ah, tidak apa-apa. Saya hanya tiba-tiba saja merindukan mereka berdua. Saya yakin, mereka pasti akan senang bertemu dengan anda, nak."
Justin menunduk. Ia tiba-tiba saja berpikir tentang cucu dari tuan Romanov itu. Jelas sekali kalau memiliki nasib yang sama, bukan? Mereka sama-sama yatim piatu.
Justin bisa merasakan kesedihannya.
Namun, baginya ini agak aneh ketika orang tidak ingin mengenang dan justru ingin melupakan kenangan tentang orang yang di sayang.
'Bukankah harusnya kita mengenang mereka?' batin Justin.
Justin akui, mengenang orang-orang itu hanya akan menyakiti hati karena bisa menimbulkan kerinduan. Tapi, itu bukan berarti kita harus melupakan kenangannya.
'Cucu dari tuan Romanov itu, dia orang yang unik.' batinnya.
Dan tepat di sela keterdiaman mereka saat itu, seorang pelayan terlihat datang dari arah luar dan menghampiri Paul.
"Maaf mengganggu anda Mr. Paul, tapi saya ingin memberitahukan kalau nona muda sudah datang," ujar pelayan itu menundukkan kepalanya hormat.
Paul mengangguk mengerti lalu bangkit dari posisinya sambil menatap Justin, "Baiklah, nak! Saya harus keluar untuk menyambut kedatangan nona muda dulu."
Justin mengangguk dan menatap punggung Paul yang tengah melangkahkan kakinya keluar dari ruang tamu menuju ke arah luar rumah.
"Cucu tuan Romanov sudah datang," gumam Justin sambil tersenyum. "Tiba-tiba aku jadi merasa penasaran dengannya."
Tap! Tap! Tap!
Detik selanjutnya, suara sepatu hak tinggi terdengar begitu nyaring sehingga membuat perhatian Justin teralihkan pada pemilik suara sepatu itu.
Justin menoleh dan mendapati seorang gadis cantik tengah berdiri tepat di hadapannya. Tatapan mata mereka bertemu. Dan Justin bisa merasakan tubuhnya membeku di posisinya, kedua matanya bahkan membulat kaget begitu ia menyadari siapa gadis cantik yang ada di hadapannya itu. Dia...
Charlotte Clinton.
***
✔ Note :
▪Author tidak akan mengubah kesalahan ejaan, typo dan hal lainnya karena faktor KEMALASAN TINGKAT AKUT. Dan sesungguhnya kemalasan adalah kerajinan yang tertunda.
▪Author peduli dengan kesehatan mata kalian, jadi, kalau kalian kurang suka sama ceritanya, Author sarankan kalian untuk mencari cerita yang lain saja, karena cerita ini bisa menyebabkan sakit mata akut.
__ADS_1