Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
41.


__ADS_3

"Bukan begitu caranya, Charlotte! Lakukanlah dengan benar!" ujar Xander dengan kesal.


"Ini sudah benar, Xander!"


"Benar apanya? Lihat, posisi kuda-kudamu saja sudah salah. Sudah bertahun-tahun latihan kenapa masih tidak paham ilmu dasarnya?"


"Dan kau, sudah bertahun-tahun tapi masih saja mempermasalahkan ilmu dasarnya."


"Justru ilmu dasar adalah hal yang utama." ujar Xander sama sekali tak memperdulikan omelan adiknya itu.


"Kakimu ini harus dibuka lebih lebar lagi. Dan juga, tubuhmu harus lebih turun lagi dari ini." sambung Xander sambil menendang-nendang kaki Charlotte agar terbuka lebih lebar lagi.


"Ah, sakit bodoh."


"Lemah sekali." ejek Xander.


Mendengar ejekan itu Charlotte langsung berdiri tegak, tak lagi meneruskan latihannya.


"Aku menyerah sajalah." ujar Charlotte langsung mendudukkan dirinya di atas rumput dengan raut wajah cemberut.


"Hei, bangun. Kau sedang apa?"


"Berhenti latihan. Apalagi memangnya?"


"Ayo bangun! Kita bahkan baru mulai melakukan pemanasan."


"Tapi aku lelah!" Charlotte bersikeras. "Bagaimana kalau kita tunda saja latihannya pagi ini? Dan aku lanjut berlatih dengan Mario saja nanti sore. Dia bisa melatihku lebih lembut darimu"


Xander berjalan mendekati Charlotte yang tengah berselonjoran di atas rumput.


"Pertama, aku ini bukan Mario, Charlotte. Jadi jangan bandingkan aku dengannya. Dan kedua, dia tak akan sedetail aku saat melatihmu." ujar Xander sambil menatap Charlotte datar.


"Selain itu, kemampuan bela diriku sama sekali tak bisa dibandingkan dengannya. Kemampuan kami sangat berbeda. Ilmu bela diriku jauh lebih baik dari Mario."


Charlotte mengibaskan tangannya acuh. "Terserah saja. Intinya saat ini aku lelah dan ingin istirahat."


Xander hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku adiknya itu. "Sejak kapan kau jadi malas begini?"


"Aku tidak malas. Aku hanya lelah, Xander." ujar Charlotte membela diri sambil menatap Xander tajam.


"Begitukah?" Xander menatap adiknya itu dengan senyum mengejek, membuat Charlotte langsung tersinggung.


"Kenapa ekspresimu seperti itu?"


"Ada apa dengan ekspresiku?"


"Kau meremehkanku?" tanya Charlotte mulai terpancing emosi. Catat, ia benci di remehkan orang lain. Meskipun itu kakaknya sendiri.


"Aku bahkan tak mengatakan apapun."


Charlotte mendecih.


"Dengar, Xander! Aku tidak perlu melakukan latihan dasar bodóh ini. Kalau mau, aku bisa melawanmu. Kita bertanding sekarang."


Xander masih tersenyum meremehkan. "Ah, benarkah begitu?"


"Tentu saja. Apa kau tidak percaya? Kau lupa? Aku ini Charlotte Clinton, si nomor satu dalam segala hal."


"Hm, aku memang sering sekali mendengar itu dari mulutmu. Tapi bagaimana aku bisa percaya kalau tak ada bukti. Maksudku, gadis manja sepertimu mana bisa mengalahkan aku, si pemegang empat sabuk tertinggi dari ilmu bela diri yang berbeda."


Charlotte lalu mendengus kesal sambil bangkit dari duduknya. "Kau benar-benar meremehkan aku rupanya."


Gadis itu mengambil sarung tinju miliknya yang berada di dekatnya dan mulai mengenakannya.


"Kita berlatih sekarang?" ujar Charlotte.


Xander tersenyum dalam hati. Ia senang karena berhasil menyentuh titik harga diri tertinggi dari seorang Charlotte Clinton.


Diremehkan.


Ia tahu kalau adiknya itu benci saat diremehkan oleh orang lain. Niat Xander sebenarnya hanya mencoba membuat semangat Charlotte bangkit saja.


Charlotte bergerak maju dengan tatapan mata yang tajam, mendekat pada Xander.


"Mau bukti, kan? Kalau begitu ayo lihat siapakah yang paling tangguh diantara kita." lanjut Charlotte, berujar sambil tersenyum sinis.

__ADS_1


Gadis itu lalu mengangkat tangannya, menepuk pipi Xander pelan, tapi pemuda bertubuh tinggi itu langsung menepisnya.


"Ayo kita lihat." sahut Xander tersenyum.


.


.


Hampir satu jam lamanya Charlotte dan Xander berlatih bela diri. Namun tidak ada satupun dari mereka yang mau menyerah dan mengalah. Hingga mereka berdua sama-sama mulai kehabisan tenaga dan akhirnya jatuh berbaring di atas rumput taman dengan napas yang memburu dan keringat yang mengalir deras.


"Lumayan, untuk ukuran pria yang mengaku berpengalaman." ujar Charlotte enteng dengan senyum sinis.


Xander mendecih.


"Kau juga... Lumayan, untuk ukuran gadis manja yang baru mempelajari bela diri selama beberapa tahun." ujar Xander turut membalas kata-kata Charlotte.


"Tiga setengah tahun!" ralat Charlotte.


"Ya, terserah!" ujar Xander lalu menoleh pada Charlotte. "Aku tidak menyangka kalau kemampuanmu sudah sejauh ini."


"Sudah kukatakan sejak awal, aku ini Charlotte Clinton. Dan aku si nomor satu dalam segala hal." Charlotte berujar bangga. "Aku sudah berlatih keras selama ini untuk mengalahkanmu."


Xander tersenyum sinis.


"Tapi sayang, ilmuku masih sangat jauh dibandingkan dirimu." ujarnya. "Kemampuanmu itu bahkan belum se-level dengan Mario. Kau coba kalahkan dulu Mario baru bisa mengalahkan aku."


"Tentu saja. Kau kan sudah berlatih sejak berumur dua belas tahun. Sedangkan aku baru mulai berlatih tiga setengah tahun. Jangan bercanda, Xander."


Xander menggedikkan bahu. "Aku hanya ingin mengatakannya."


"Hanya pamer maksudmu?"


Xander langsung menganggukkan kepalanya bangga. "Itu dia maksudku. Pamer."


"Tapi tidak masalah." ujar Charlotte dengan tersenyum. "Suatu saat nanti kemampuanku akan meningkat dan aku pasti akan mengalahkanmu!"


"Kita lihat saja nanti!" ujar Xander bangkit dari posisinya untuk mengambil air mineral yang berada di dekatnya.


Jam kini sudah menunjukan hampir jam sepuluh pagi. Saat ini mereka berdua tengah sibuk mengeringkan sisa keringat mereka dengan handuk.


Charlotte beranjak dari posisinya untuk memeriksa ponselnya dan terlihat sudah ada sekitar lima panggilan tidak terjawab yang berasal dari Laurent.


"Kenapa dia menelepon sebanyak ini?" gumam Charlotte. "Aneh, biasanya dia masih tidur jam segini."


Charlotte sudah berinisiatif untuk menghubungi Laurent, tapi ternyata Laurent jauh lebih cepat dan menghubunginya lagi.


"Dia sangat tidak sabaran!" ujar Charlotte sambil memandangi nama Laurent di layar ponselnya lalu mengangkat panggilan itu.


"Halo?"


"Aku meneleponmu berkali-kali. Kenapa tidak kau angkat?" Laurent bertanya tanpa basa-basi begitu Charlotte mengangkat telepon darinya.


"Tidak dengar."


"Bagaimana bisa?"


"Aku sibuk berolahraga, jadi tidak dengar."


Laurent diam sebentar sebelum kembali melanjutkan percakapan. "Kau dimana sekarang?" 


"Aku di taman belakang mansion, sedang latihan bersama Xander. Ada apa?"


"Malam ini aku akan mengadakan pesta di salah satu klub milikku. Kau bisa datang? Aku ingin-"


"Aku akan kesana" jawab Charlotte tanpa menunggu Laurent menyelesaikan kalimatnya.


"Wow, itu jawaban yang cepat, nona Clinton!" ujar Laurent, kemudian terdengar suara tawa pemuda itu dari seberang telepon. "Kau bernafsu sekali jika berhubungan dengan pesta."


"Tentu saja. Jangan lupa, pesta adalah duniaku, tuan Laurent Doshe!" jawab Charlotte dengan senyuman khas-nya.


"Baiklah! Kalian jemput aku dulu, baru kita akan pergi ke klub bersama nanti malam."


"Oke!" ujar Charlotte. Ia lalu mengakhiri panggilan telepon dan langsung menoleh pada Xander yang tengah berdiri di belakangnya.


Pemuda itu tampak menatap Charlotte dengan ekspresi penasaran.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Xander.


"Barusan dari Laurent. Dia bilang akan ada pesta malam ini di klub, dan..." Charlotte menjeda kalimatnya. "… dan dia meminta kita datang malam ini."


Xander menaikkan sebelah alisnya. "Di klub malam miliknya?"


"Hm, memangnya klub mana lagi!" jawab Charlotte sambil memasang handuk kecil miliknya di lehernya.


Xander menatap Charlotte, "Kau akan datang?"


"Tentu saja."


"Kau serius Charlotte?" tanya Xander.


"Serius. Kau juga diundang. Kita akan datang bersama nanti."


Xander sontak terdiam di posisinya, menatap Charlotte ragu. Ia dengan cepat menggelengkan kepalanya


"Tidak. Kita tak bisa pergi." ujar Xander.


"Kenapa tidak bisa?"


"Aku tidak mau diomeli kakek lagi."


"Xander, aku sudah janji pada Laurent. Ayolah."


Xander diam sebentar kemudian menghela. "Apa kakek akan mengizinkan kita?"


"Kakek?" Charlotte berdecak, tersenyum. "Ck, kita bahkan tidak perlu izinnya."


"Tidak perlu bagaimana maksudmu?" tanya Xander heran.


"Ya, aku akan bilang pada kakek kalau kita akan pulang ke apartment sore ini. Dan kita akan kembali lagi ke mansion besok pagi."


Xander menggelengkan kepalanya tanda tak setuju. "Tidak mungkin."


"Kenapa?"


"Kakek tidak akan percaya."


"Itu sebabnya kau juga harus ikut meyakinkan kakek."


"Tunggu sebentar." Xander menatap Charlotte tak percaya, "Apa kau baru saja memintaku ikut berbohong pada kakek?"


Charlotte menghela. "Tentu saja."


"Tidak mau. Pikirkan resikonya. Bagaimana kalau kita ketahuan nanti?"


"Ya artinya rencana kebohongan kita gagal." ujar Charlotte menggedikkan bahunya acuh. "Tapi tenang saja. Namamu juga tak akan rusak di hadapan kakek. Aku janji akan bertanggung jawab kalau ada masalah. Yah, lagipula kakek juga akan tahu kalau aku-lah yang sudah memaksamu ikut."


Xander menghela napasnya panjang. "Baiklah! Tapi hanya sampai jam sebelas!"


"Hah?" Charlotte memberengut begitu mendengar permintaan Xander. "Aturan macam apa itu?"


"Kenapa? Tidak mau?" tanya Xander menaikkan sebelah alisnya. Ia lalu menggedikkan bahunya acuh. "Ya sudah, kalau begitu aku tidak akan pergi. Dan kau bisa berbohong sendiri."


"Jam satu. Bagaimana kalau sampai jam satu malam?!" tawar Charlotte.


Xander diam sebentar, tampak berpikir. "Jam dua belas!"


"Baiklah. Jam dua belas." Charlotte menyerah.


"Lebih dari itu kau akan aku seret pulang!" ujar Xander tegas.


Charlotte memutar bola matanya malas kemudian menganggu. "Baiklah!"


"Dan tidak boleh sampai mabuk berat."


"Tapi kan aku-"


"Tidak ada penolakan!" ujar Xander langsung memotong kalimat Charlotte yang terlihat seperti akan melakukan protes. "Karena aku tidak mau pulang dengan menggendong tubuh beratmu itu."


***


*Kalau ada kesalahan, maafin. Saya kurang fokus nulisnya. Mau ngecek ceritanya lagi, capek.

__ADS_1


__ADS_2