Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
85.


__ADS_3

"Dimana rumahmu?" ujar Charlotte beberapa saat setelah mereka meninggalkan kawasan mansion.


Justin menolehkan pandangannya pada Charlotte dan menjawab. "Itu... aku tinggal di jalan-"


"Jauh atau tidak?"


"Lumayan jauh, saya rasa." jawab Justin dengan nada sopan.


"Ya ampun." Charlotte hanya mengeluh mendengar jawaban itu, sementara Justin memilih menundukkan kepalanya.


Charlotte diam-diam melirik singkat pada Justin. Saat ini pemuda tampan itu tengah memeluk erat tas ransel hitam miliknya. Melihat itu Charlotte sontak tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


'Apakah pemuda ini selalu pergi kemana-mana dengan membawa tas-nya itu? Dia terlihat seperti anak sekolahan saja.' batinnya.


'Tapi sepertinya Xander ada benarnya. Aku menargetkan anak kecil untuk kutiduri.' Charlotte bicara dalam hati, kemudian terkekeh sendiri.


"Nona? Apakah anda mendengar saya?"


Charlotte langsung tersentak karena seruan itu dan langsung menoleh pada Justin. Apa-apaan itu barusan? Apakah Charlotte baru saja melamunkan tentang pemuda ini sambil menyetir mobilnya? Gila. Bukankah seharusnya ia fokus ke jalan raya di depannya saja.


Charlotte menggelengkan kepalanya kencang.


"Ya?" balas Charlotte kemudian.


"Saya barusan bertanya… apakah anda ingin lewat jalan pintas?" tanya Justin sekali lagi.


"Jalan pintas?"


"Ya, jika anda ingin lewat jalan pintas kita bisa lewat sana saja. Jalan itu memang agak sepi tapi saya bisa jamin kalau kita akan tiba lebih cepat." lanjut Justin memberi saran.


"Aku tidak suka jalan pintas yang sepi. Berbahaya."


"Ah... begitu rupanya." Justin menganggukkan kepalanya mengerti.


"Ya."


Charlotte kini menyetir dalam diam. Ia mengernyit saat tiba-tiba saja menyadari bagaimana cara Justin bicara dengan dirinya barusan.


'Kenapa dia bicara dengan cara yang begitu sopan padaku?' Batin Charlotte.


Charlotte lalu kembali melirik ke arah Justin.


"Ngomong-ngomong kau tidak perlu bicara sesopan itu padaku. Itu terasa agak aneh untukku. Aku ini bukan bos-mu, kalau kau lupa." ujar Charlotte.


"Ah, akan saya usahakan nona." balas Justin sambil mengeratkan pelukannya pada tas ransel miliknya.


Charlotte langsung memutar bola matanya malas saat mendengar Justin yang masih memanggilnya dengan sebutan 'nona'.


"Dan juga... berhenti memanggilku dengan sebutan nona!"


"Ta-tapi kenapa?"


"Itu karena kau bukan pelayanku."


Justin menunduk.


"Maafkan saya, tapi untuk masalah itu..." Justin menjeda kalimatnya. "... masalahnya, anda adalah cucu dari atasan saya. Itu artinya nona juga salah satu orang yang harus saya hormati. Jadi saya rasa harus mema-"


"Cepat kau ketikan alamat rumahmu di petunjuk arah yang ada di ponselku!" potong Charlotte cepat.


Charlotte segera menyerahkan ponselnya pada Justin dengan tangan kiri tanpa menolehkan pandangannya sedikit pun pada pemuda itu.


Charlotte hanya terlalu malas mendengarkan kalimat penjelasan yang terlalu panjang seperti itu. Selama ini ia tak pernah mendapat penolakan sekecil apapun dari seseorang dan hanya mendengar kalimat 'ya' saja.


Sementara itu, Justin yang pada awalnya merasa terkejut karena perkataannya di potong begitu saja, memilih untuk menganggukkan kepalanya dan segera mengetikkan apa yang Charlotte minta kepadanya.


Selesai mengetik alamat rumahnya, Justin lalu menyerahkan kembali ponsel itu pada Charlotte.


"Ini... ponsel anda, nona." ujar Justin.


Charlotte tak menjawab dan hanya mengambil ponsel itu dan meletakkannya di depannya agar bisa lebih mudah melihat layarnya.


"Kenapa rumahmu jauh sekali?" keluh Charlotte setelah melihat jarak rumah Justin.


"Maaf, nona." ujar Justin merasa tak enak.


Charlotte sebenarnya merasa agak kesal dengan situasinya saat ini. Ya, ini karena kakeknya sudah dengan seenaknya sendiri meminta dirinya untuk mengantarkan pemuda ini pulang. Bagaimana bisa kakeknya malah membuat Charlotte terlihat seperti supir?


"Ya ampun, aku kesal sekali" gerutu Charlotte sambil membelokkan stir mobilnya dengan tajam saat melalui tikungan. Namun tanpa Charlotte sadari, hal itu membuat kepala Justin terhantuk ke jendela mobil.

__ADS_1


"Aw~"


Charlotte menoleh dengan cepat saat kepala Justin terhantuk di jendela.


"Apa kau baik-baik saja? Aku tidak bermaksud menyetir dengan kasar." ungkap Charlotte yang kemudian buru-buru dia ralat. "...ya sebenarnya aku memang sedikit bermaksud tadi."


"Aku… tidak apa-apa." ujar Justin meringis.


Justin melirik Charlotte. Ia bisa merasakan ketidaknyamanan di dalam mobil saat melihat ekspresi wajah Charlotte. Justin yakin Charlotte kesal karena ia di paksa untuk mengantarkan dirinya pulang. Setelah memikirkan hal itu selama beberapa saat, Justin akhirnya berkata,


"Anda bisa menurunkan saya di jalan, nona. Saya bisa-"


"Tidak."


"Saya tidak ingin membuat anda terganggu karena harus mengantarkan saya."


"Aku tidak terganggu tapi aku kesal."


"Anda jangan khawatir nona. Setelah anda menurunkan saya nanti, saya akan berusaha sampai di rumah dengan selamat agar anda tidak di marahi oleh tuan Romanov."


"Aku tidak khawatir." balas Charlotte tenang.


Justin menelan ludahnya kasar.


"Saya bisa berbohong dengan mengatakan pada tuan Romanov kalau anda mengantarkan saya sampai rumah."


"Dengar! Aku ini cucu Romanov Clinton. Berbohong adalah hobiku. Tapi aku akan berbohong hanya saat aku ingin bersenang-senang. Aku ini orang yang sangat bertanggung jawab. Itu sebabnya jika diminta untuk mengantarmu aku akan menyelesaikan tugasku."


"Ah… baiklah…" jawab Justin ragu.


Keadaan hening selama beberapa saat. Kedua manusia lawan jenis itu sibuk dengan kegiatan masing-masing.


Justin kembali melirik Charlotte dalam diam.


"Kita bisa berhenti di depan halte saja, nona." ujar Justin membuka kembali percakapan.


"Kenapa memangnya?"


"Sebenarnya, rumah saya masuk ke dalam gang sempit dan mobil anda pasti tak akan muat." jawab Justin menjelaskan.


"Begitu rupanya," ujar Charlotte. "Baiklah kalau begitu."


Saat sedang menunggu hitung mundur dari lalu lintas, tanpa sengaja Charlotte mengarahkan pandangan matanya pada Justin. Ia lalu terpaku pada pemuda itu, menatapnya penuh arti.


Charlotte lalu berdehem pelan.


"Apakah kau baik-baik saja?" tanya Charlotte.


Justin buru-buru memegang kepalanya.


"Ah, saya baik-baik saja. Ini hanya terhantuk kecil jadi tidak terlalu sakit."


"Bukan itu."


"Ya?"


"Aku bicara tentang hal lain." jelas Charlotte sambil melirik Justin singkat. "Kakekku... dia sempat menabrak dirimu, bukan? Apa kau terluka begitu parah saat itu?"


"Ah… masalah itu…" Justin langsung menggeleng, "Tidak, saya tidak terluka, saya hanya-"


"Baguslah!" potong Charlotte cepat.


Justin hanya menganggukkan kepala mengiyakan dengan canggung saat menyadari kalau perkataannya kembali di potong oleh gadis ini. Justin menyadari kalau Charlotte bukan seseorang yang ingin mendengar penjelasan dengan kalimat panjang.


Setelah lampu lalu lintas menunjukkan warna hijau Charlotte kembali menancap gas dan membawa mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Kakekku tidak sengaja menabrakmu."


"Iya. Saya tahu nona."


Charlotte lalu berdehem pelan.


"Kau harus tau. Kakekku itu adalah orang yang sangat bertanggungjawab atas apapun yang dia lakukan. Itu sebabnya dia akan bertanggungjawab penuh atas apa yang sudah dia lakukan kepadamu waktu itu. Entah kecelakaan itu di sengaja atau tidak." ujar Charlotte.


Justin menoleh pada Charlotte kemudian menganggukkan kepala sebagai tanggapan, "Saya mengerti, nona."


"Ya, itulah sebabnya kenapa dia sampai harus melakukan semua kebaikan ini padamu. Itu karena dia perlu bertanggungjawab. Ya, meskipun menurutku semua ini terkesan agak… berlebihan."


Mendengar itu, Justin memilih menanggapi dengan anggukan kepala saja. Toh dia juga tak tahu harus menanggapi seperti apa.

__ADS_1


Charlotte melirik Justin.


"Jangan tersinggung."


"Ah, tidak. Tentu saja tidak, nona."


Charlotte hanya menatap Justin dengan raut datar.


"Maksudku... bukankah kakekku sudah memberimu uang ganti rugi atas kecelakaan itu?"


Justin mengangguk. "Benar, nona."


"Berapa yang dia berikan padamu?"


Justin menunduk. "Saya... tidak tahu."


Charlotte menaikkan sebelah alisnya dan menoleh sekilas pada Justin, "Kau tidak tau?"


"Iya..."


"Bagaimana bisa kau tidak tau?" Charlotte bingung.


"Sebenarnya saya belum membukanya. Uang pemberian tuan Romanov masih ada di dalam amplop. Utuh!"


"Kenapa kau belum menggunakannya?" tanya Charlotte lagi heran. "Apakah uangnya kurang? Tidak cukup?"


"Bukan itu…" sanggah Justin.


"Lalu kenapa?"


Justin bisa merasakan Charlotte kini tengah memperlambat laju mobilnya. Gadis cantik ini menyetir dengan cara yang lebih santai dari sebelumnya.


Detik selanjutnya, Charlotte mendecih dengan raut sinis. "Ah, tapi aku yakin pada akhirnya kau pasti akan menggunakan uangnya juga kan?"


Charlotte menghela lelah.


"Yah, itu karena aku merasa kalau ganti rugi dengan uang adalah hal yang paling di harapkan oleh semua orang yang menjadi 'korban' kecelakaan. Sebuah ganti rugi. Setumpuk uang."


Justin tampak menggeleng untuk protes.


"Tapi masalahnya saya-"


"Tenang saja." Charlote mengibaskan tangannya santai.


"Sebenarnya hal seperti ini sudah biasa untukku. Yah, saat aku pulang berpesta tak jarang aku juga menabrak atau menyerempet seseorang. Dan kebanyakan dari mereka akan meminta ganti rugi uang tunai. Sama sepertimu. Mereka mengambil keuntungan. Jadi aku paham tentang itu semua."


Justin memilih menundukkan kepalanya. Ia benar-benar tak tahu harus menjawab apa dengan kalimat yang di ucapkan gadis itu padanya.


Ia tak paham.


Kenapa cara bicara Charlotte saat ini seakan-akan tengah membuatnya terdengar seperti orang-orang yang memanfaatkan sang kakek. Seakan ia menyindirnya dengan kata 'ganti rugi'.


Ayolah, Justin sama sekali tak mengambil keuntungan apapun dari insiden ini. Ia bahkan tak pernah meminta sedikit pun uang dari tuan Romanov. Pria paruh baya itu sendiri-lah yang memberinya. Justin bahkan sempat menolaknya bukan?


Fakta lainnya, sampai saat ini Justin bahkan sama sekali tidak berniat menggunakan sepeser pun uang itu. Lantas kenapa Charlotte menganggapnya sebagai orang yang mengambil keuntungan di sini?


Dengan kepala yang masih menunduk, Justin melirik Charlotte dari sudut matanya. Ia bisa melihat dengan jelas raut wajah gadis itu yang tengah menunjukkan tatapan meremehkan padanya. Gadis itu seakan menganggap dirinya sebagai orang yang mata duitan.


Tapi tak apa.


Justin tidak akan mengatakan apapun saat itu sebagai klarifikasi atas salah paham yang Charlotte pikirkan tentangnya.


Justin memilih diam meskipun dia bisa mengatakan bahwa dia menerima uang itu hanya karena ia merasa tidak enak pada tuan Romanov yang telah memohon padanya. Bagaimana dia bisa membiarkan seseorang yang lebih tua memohon padanya untuk menerima uang pemberiannya dengan cara seperti itu


'Haruskah aku mengatakan saja padanya kalau aku bahkan belum memakai uang dari tuan Romanov itu?' batin Justin.


Namun Justin dengan segera menggelengkan kepalanya sendiri,


'Sepertinya itu tidak perlu.' batinnya.


Ia tidak harus membahas hal yang macam-macam seperti itu. Justin tidak perlu mengatakan seperti apa dirinya pada orang lain. Lagipula jangankan untuk berbicara macam-macam seperti itu padanya, Justin bahkan merasa enggan untuk sekedar mengangkat kepalanya dengan benar.


Lihatlah dirinya yang sejak tadi ia terus saja menundukkan kepalanya. Jujur saja Justin masih merasa begitu canggung. Ia juga malu bahkan tak percaya diri dengan situasi yang ia hadapi saat ini.


Bahkan meskipun sudah beberapa saat bersama dengan Charlotte di dalam mobil ini, Justin masih merasa terkejut mengetahui fakta kalau Charlotte tengah bersamanya, mengantarnya pulang.


'Aku benar-benar merasa malu sekedar untuk membuka topik pembicaraan lain.'


'Dan juga, tidak masalah jika dia memang menganggapku sebagai orang yang memanfaatkan kakeknya untuk uang. Suatu saat dia akan segera mengetahui kebenaran tentang diriku.' batinnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2