Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
91.


__ADS_3

Malam itu Charlotte duduk di sofa yang ada di salah satu ruangan vip di klub malam milik Laurent. Charlotte terlihat sedang mengetuk-ketukkan ujung jarinya ke pegangan sofa, menunggu kedua pria di depannya selesai bicara.


Laurent dan Xander, sejak tadi kedua pria itu sibuk berbicara dengan nada pelan. Sangat pelan. Hampir seperti berbisik malah. Dan Charlotte tebak mereka pasti tengah membicarakan diriny saat ini.


"Sampai kapan kalian akan berbisik-bisik seperti itu?" ujar Charlotte datar.


"Kami tidak berbisik." protes Laurent, sementara Xander langsung bergerak mundur untuk menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.


Charlotte mendecih sinis.


"Aku datang kemari untuk berkumpul, bukan untuk melihat kalian berbisik dan membicarakan diriku seperti itu."


"Kami tidak membicara-"


"Berhenti membual, Laurent!" potong Charlotte dengan cepat. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada sambil menatap kedua pemuda itu sinis. "Apa kau pikir aku tidak tau kalau diam-diam kalian sedang membicarakan diriku, hah?"


"Ya, sebenarnya, untuk masalah itu... " Laurent lalu menjeda kalimatnya untuk beberapa saat sebelum kembali melanjutkan.


"Ya, sebenarnya Xander tadi hanya bertanya pada diriku. Ia penasaran kenapa kau terlihat tidak menikmati pesta kita malam ini. Itu saja..." Laurent akhirnya menjelaskan.


Charlotte kemudian menoleh pada Xander, menatap pemuda itu seakan meminta penjelasan. Ia ingin memastikan ucapan Laurent barusan.


Xander yang menyadari pandangan itu memilih untuk menggedikkan bahunya acuh. "Aku hanya penasaran." ungkapnya.


"Jadi apa masalahnya?" tanya Laurent.


"Tidak ada masalah. Mood-ku hanya tak sebaik biasanya." ungkap Charlotte sambil meraih gelas minuman yang ada di hadapannya.


"Benarkah?" tanya Laurent.


"Hm." balas Charlotte.


Laurent kemudian bergerak mendekat dan kembali bertanya pada Xander.


"Menurutmu apa yang tengah dia renungkan kali ini?"


"Aku juga tidak tau." ungkap Xander.


"Maksudku... kira-kira apa yang membuat mood-nya hari ini menjadi buruk?" Laurent bertanya-tanya, melihat kepada Charlotte yang tengah memutar-mutar gelas minuman yang ada di tangannya.


"Aku benar-benar tak tahu. Dia tidak bisa di tebak sama sekali. Bagaimana menurutmu?" Xander bertanya.


"Aku tidak terlalu yakin," Laurent mengakui, lalu menggedikkan bahunya santai.


"Aku tidak percaya." Xander mencebik sinis. Ia lalu menunjuk kedua manusia beda lawan jenis itu satu persatu dengan dagunya.


Xander lalu melanjutkan, "Kalian berdua adalah satu kesatuan. Kalian setipe. Charlotte selalu tahu semua masalahmu yang bahkan tidak aku ketahui. Dan begitu pula sebaliknya."


"Tunggu dulu..." Laurent lalu menatap Charlotte bingung. "Lottie, apa kau tidak memberitahu Xander?"


"Memberitahu apa?" Charlotte bertanya heran.


"Tentu saja tentang masalah yang mengganggumu saat ini? Masalah yang kau katakan padaku di telepon."


"Aku belum memberitahunya." ungkap Charlotte acuh. "Ya, sekalipun dia tau segalanya, tetap saja dia adalah orang pertama yang akan menghalangi rencanaku nanti."


"Jadi kau tau masalahnya?" Xander menatap Laurent dengan tatapan datar.


Laurent dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tau. Sungguh, aku tak tau apa-apa. Dia bahkan belum memberitahu apapun padaku."

__ADS_1


Xander mendecih sinis. Ia tau jelas kalau Laurent tengah berbohong saat ini.


"Apa ini tentang Justin?" tanya Xander tanpa basa basi.


"Wow, luar biasa. Bagaimana kau bisa mengetahuinya?" ujar Laurent takjub.


"Jadi benar, ini semua memang tentang pemuda itu?" tuntut Xander tajam.


Melihat tatapan tajam dari Xander, Laurent seketika menjadi ciut.


"Ah bukan begitu, sebenarnya ma-maksudku adalah..." Laurent menggaruk belakang kepalanya canggung. "Maksudku... aku bahkan tak dapat menebaknya. Bagaimana kau bisa menebak-nebak seperti itu."


Xander beralih pada Charlotte. "Charlotte, apa benar? Apa ini semua karena Justin?"


Charlotte hanya menggedikkan bahunya acuh. Dan jelas itu adalah pertanda jika Charlotte mengiyakan pertanyaan itu.


"Ck, sudah ku duga. Aku sudah dapat menebak apa masalahnya bahkan sebelum dia mengatakan sepenuhnya." sindir Xander pada Charlotte.


Charlotte hanya memutar bola matanya malas.


"Bagaimana kau dapat menebaknya?" tanya Laurent.


"Ya, bagaimana tidak? Beberapa waktu ini dia selalu saja membahas tentang bagaimana cara menaklukan pemuda itu. Aku benar-benar sampai bosan mendengarnya."


"Pemuda itu…" Laurent menatap Charlotte tak percaya, "Kau benar-benar tergila-gila padanya, ya?"


"Ya, dia memang terobsesi pada pemuda itu. Aku tidak tau kenapa." timpal Xander.


Alis Charlotte menukik tajam pada Xander. Ia terlihat tak terima dengan perkataan pemuda itu padanya. Mana mungkin seorang Charlotte Clinton merasa terobsesi pada siapapun.


"Aku tidak terobsesi pada siapapun." protes Charlotte.


"Lihat ini! Dia bahkan tidak mau mengakuinya." Xander terkekeh. "Padahal itu terlihat begitu jelas."


"Ya ampun. Bukankah kalian harusnya membantu aku untuk berpikir tentang bagaimana aku bisa mendekati Justin. Bukan malah mengomentari diriku begini." ujar Charlotte lagi mulai kesal.


"Sejujurnya aku tidak tau, Lottie. Aku tidak pernah merencakan untuk meniduri orang sepertimu saat ini. Aku melihatnya. Suka. Maka aku akan langsung menidurinya." Laurent berujar santai.


"Dulu... aku juga begitu. Tapi untuk yang satu ini. Dia hanya tampak begitu sulit." Charlotte kemudian menoleh pada Xander. "Bagaimana denganmu?"


Sementara Xander yang di tatap sontak mengangkat tangannya, "Aku tidak ikut-ikutan masalah ini. Aku tak setuju dengan rencanamu, kalau kau lupa."


"Dasar kalian berdua, tidak bisa di andalkan" cibir Charlotte. "Dasar laki-laki payah, tak punya ide..." tambahnya.


"Hei, kenapa jadi seperti aku yang salah?" Xander membela diri. "Aku bahkan tak ingin ikut-ikutan!"


Charlotte tak membalas, hanya memutar bola matanya bosan.


"Lagipula tidak biasanya kau pakai rencana untuk tidur dengan seseorang." Laurent berujar heran. "Kenapa? Apa dia... maksudku bocah itu, terlalu sulit untuk kau dapatkan?"


"Apa maksudmu? Charlotte Clinton tidak pernah gagal. Tidak pernah ada yang sulit bagiku."


"Begitukah? Lantas kenapa kau terlihat begitu frustasi?"


"Aku... tidak tahu..." ujar Charlotte ragu.


Charlotte juga tak mengerti dengan dirinya sendiri. Padahal biasanya jika dia ingin tidur dengan seseorang ia akan langsung melakukannya dan tak banyak pikiran seperti ini. Tapi kali ini kepalanya bekerja sangat keras untuk menyusun rencana agar bisa meniduri pemuda itu.


Kenapa?

__ADS_1


Apa benar dia terlalu sulit di dapatkan?


Ah, bukan. Sebenarnya Charlotte hanya ingin hati-hati. Masalah sebenarnya bukan pada pemuda itu. Tapi pada kakeknya. Charlotte tidak bisa melakukan hal sembrono. Ia tak ingin suatu saat rencananya akan di ketahui oleh kakeknya.


Xander dan Laurent kompak saling tatap. Mereka tau ada yang tak biasa dari Charlotte tapi tak tahu apa. Mereka hanya merasa kalau gadis itu sudah seperti anak gadis yang baru mengenal seķs saja.


"Kau tidak perlu melanjutkan rencanamu jika kau tak mampu, Lottie!" ujar Xander yang di angguki setuju oleh Laurent.


"Kau menyiksa dirimu sendiri." timpal Laurent. "Kau cari laki-laki lain saja."


"Siapa bilang aku tidak mampu?" protes Charlotte kesal. " Kalian tak mengerti, aku tidak bisa menyerah lagi!"


"Apa yang tak kami mengerti disini?" Xander berujar agak kesal. Kenapa susah sekali bagi dirinya menjauhkan Charlotte dari Justin.


Charlotte menutup matanya untuk sejenak. Ia lalu menghela perlahan sebelum membuka kembali matanya.


"Aku... penasaran dengannya. Dan juga... terakhir kali kami bertemu dia malah mengacuhkanku."


Xander dan Laurent kembali saling menatap.


"Dia mengacuhkanmu?"


Charlotte mengangguk.


"Luar biasa." Xander berseru takjub membuat Laurent dan Charlotte langsung menoleh ke arahnya.


"Apanya yang luar biasa?" Charlotte menatap tajam.


"Aku hanya takjub. Ternyata ada orang yang memiliki mata jernih untuk menyadarai kalau kau tidak semenarik itu."


"Apa katamu?"


"Ya, selama ini semua lelaki seperti memuja dirimu. Tapi lihatlah, Justin tak tertarik olehmu."


"Apa maksudmu sebenarnya, Xander?"


"Begini... bukankah sejak pertama kali kau bertemu dengan pemuda itu dia memang sama sekali tak tertarik denganmu. Dia juga mengacuhkanmu saat itu."


"Dan itu-lah yang membuat egomu tertantang untuk membalasnya, kan? Tapi tetap saja, sampai sekarang dia juga tak merasakan apapun padamu. Itu artinya dia memang hanya tidak menyukaimu."


Charlotte mendecih. Entah kenapa perkataan Xander begitu masuk akal di kepalanya. Dan itu membuatnya menjadi kesal sendiri.


"Siapa yang tidak menyukaiku?" protes Charlotte. "Dia pasti akan menyukaiku. Aku dan Justin akan tidur bersama. Aku hanya belum tau caranya."


Laurent kemudian terkekeh, "Kalau begitu kau katakan saja padanya kalau kau menyukainya. Ajak dia tidur denganmu. Aku rasa dia tidak mungkin menolakmu."


"Dia akan menolaknya." Xander menyandarkan punggungnya dengan santai sementara Charlotte yang tengah memijit keningnya hanya melirik sekilas.


"Ayolah Xander... tidak mungkin dia menolak Charlotte. Bukankah Charlotte sudah biasa melakukannya. Ini hanya hal kecil baginya." ujar Laurent. "Lagipula Charlotte sendiri yang bilang, dia tidak akan pernah gagal, bukan?"


"Itu benar! Tapi kali ini dia akan gagal dan ini adalah kegagalan pertama dalam hidupnya. Aku berani bertaruh kalau dia akan gagal meniduri pemuda itu."


"Xander, tugas kita disini adalah menyemangati Charlotte, bukan membuatnya semakin menyerah begitu."


"Menyemangati? Jangan bercanda. Aku tidak akan menyemangati pedofil sepertinya."


Charlotte mendengus. "Sialan! Sudah ku bilang pemuda itu berumur delapan belas tahun."


"Aku tau! Kau sudah mengatakannya ribuan kali" Xander kemudian menghela. "Lagipula… sampai kapan kita akan membicarakan hal ini? ...atau kita hentikan pesta ini dan pulang saja."

__ADS_1


Charlotte kembali mendecih sementara Laurent memilih untuk diam.


***


__ADS_2