
Charlotte melangkah meninggalkan bangunan kafe itu dengan ekspresi tak bersahabat. Ia lalu berjalan lurus menuju mobilnya yang tengah terparkir tepat di depan bangunan kafe itu.
Dengan cepat Charlotte bergerak memasuki mobil dan langsung mendaratkan pantatnya dengan kasar di atas kursi mobilnya.
BRAK!
Charlotte lalu menutup pintu mobilnya dengan bantingan keras dan membuat Xander yang tengah menunggu di dalam sambil memejamkan matanya langsung terlonjak kaget.
"Jalan, cepat!" perintah Charlotte.
"Lottie, aku tau kalau kau kaya raya dan bisa beli barang apapun yang kau mau hanya dengan satu kedipan mata. Tapi setidaknya kau bisa memperlakukan semua barang yang kau punya dengan lebih lembut." gerutu Xander sambil memasang sabuk pengamannya.
"Mobil ini bahkan baru kau beli beberapa hari lalu dan sekarang kau sudah main banting-banting pintu saja." lanjutnya.
Merasa tidak ada jawaban dari gadis di sebelahnya, Xander menaikkan sebelah alisnya.
Xander menoleh dan menatap gerak-gerik Charlotte yang menurutnya sedikit aneh. Gadis itu tampaknya sedang merasa kesal atau marah akan suatu hal yang Xander sendiri tidak tahu karena apa.
Xander menghela napasnya malas sambil menatap datar Charlotte.
"Oke, apa lagi sekarang? Kenapa wajahmu cemberut begitu?" tanya Xander heran.
Pandangan Xander lalu beralih menatap tangan Charlotte yang tampaknya tidak membawa satu pun minuman di tangannya. "Terus kopinya mana? Bukannya tadi kau bilang mau beli kopi?"
"Tidak ada kopi." jawab Charlotte ketus membuat Xander semakin kebingungan.
"Kenapa memangnya?" tanya Xander.
Charlotte tidak menjawab, membuat Xander kembali menghela malas. Jujur saja, saat ini Xander sudah semakin merasa penasaran dengan apa yang baru saja terjadi pada gadis ini.
"Kenapa tidak jadi beli kopi, Lottie?" desak Xander, mencoba bertanya lagi.
"Barusan aku bertemu dengan pemuda menyebalkan." Charlotte menjelaskan.
"Menyebalkan, maksudnya?" tanya Xander menatap adiknya itu heran.
Charlotte memutar tubuhnya, menghadap ke arah Xander. "Kau tahu? Baru kali ini ada orang yang tidak mengenalku. Pemuda itu bahkan tidak tahu siapa aku. Gila…"
"Tidak mengenalimu bagaimana?" Xander semakin merasa bingung saja sekarang. "Siapa yang nggak mengenali elo?"
"Jadi begini ceritanya..."
Charlotte akhirnya menceritakan seluruh kejadian yang baru saja ia alami di dalam kafe tadi. Namun, setelah selesai bercerita, Charlotte malah mengerutkan dahinya heran setelah melihat reaksi Xander yang terlihat tidak seperti biasa.
__ADS_1
"Haha...haha...haha" Xander langsung saja tergelak, ia tertawa terpingkal-pingkal.
Charlotte langsung melotot, saat melihat Xander yang kini sedang tertawa lebar, pemuda itu tengah mentertawainya.
"Aku tidak sedang melucu, Xander. Ini juga sama sekali tidak lucu." gerutunya kesal.
"Tapi menurutku ini lucu, Lottie. Haha." Xander belum juga menghentikkan tawanya yang nyaring itu.
Ia jelas merasa terkejut setelah mendengar penjelasan dari adik kesayangannya itu. Ia jelas kaget karena tidak menyangka jika Charlotte, si gadis yang sangat hebat dan luar biasa itu, masih bisa di kalahkan juga.
Satu fakta, ketika harga diri seorang Charlotte Clinton jatuh, maka di situlah letak kesenangan Xander.
"Kau bisa diam tidak, sih?" ujar Charlotte menggosok telinganya yang panas karena mendengar tawa mengejek saudaranya itu.
"Tidak!" jawab Xander menggelengkan kepalanya cepat. "Ini sebuah hiburan Lottie! Hiburan yang memberi kepuasan luar biasa untukku, kau tau?"
Xander kembali melanjutkan.
"Bayangkan! Bayangkan saja. Selama ini kau selalu menyombongkan diri tentang betapa terkenalnya kau di negara ini. Dan akhirnya sekarang, ada orang yang tidak mengenali siapa dirimu. Aku senang sekali karena akhirnya kesombonganmu itu bisa terpatahkan hanya karena satu orang ini."
"Mana? Yang mana orangnya? Cepat kau kasih tau aku, yang mana?" ujar Xander berpura-pura mencari.
Charlotte menoleh, menatap Xander dengan mata yang memicing tajam. Ia lalu melipat kedua tangannya di depan dada. "Kenapa kau bertanya tentang dia?"
"Sial*n. Kau bisa diam tidak sih! Kepalaku makin pusing mendengarmu tertawa seperti itu." Charlotte memerintah dengan nada dingin.
"Oke..oke.. gue diem..." Xander menutup mulutnya walau sesekali ia masih mencoba untuk menahan tawanya.
Charlotte lalu menghela napasnya pelan, sambil mengusap wajahnya kasar. Ia mengepalkan tangannya kuat lalu memukul dashboard mobil di depannya.
Xander yang sudah hendak menyalakan mesin mobil langsung menoleh karena terkejut.
"Aku tidak terima. Aku tidak terima di perlakukan begini oleh pemuda itu."
"Ya, terus kau mau apa? Tidak mungkin kau marah-marah pada orang asing hanya karena dia tidak mengenalmu?"
"Masalahnya, dia... dia sudah membuat harga diriku jatuh!" ujar Charlotte lalu mengepalkan tangannya kuat. Ia harus kembali menahan amarahnya saat mengingat betapa pemuda tadi sudah berhasil menjatuhkan harga dirinya.
Charlotte lalu kembali melanjutkan kalimatnya.
"Kau jelas tahu kalau selama ini harga diri adalah hal paling utama dan penting buatku. Harga diri adalah hal yang selalu aku bangga-banggakan dalam hidupku, Xander! Dan pemuda itu sudah-"
"Dia sudah buat aku senang karena sudah berhasil mematahkan kesombohan dan membuat harga dirimu itu jatuh! Hahahaha!" sambung Xander memotong kalimat panjang Charlotte sambil kembali tertawa.
__ADS_1
"Diam, Xander!" sentak Charlotte kesal.
"Oke, oke! Maaf Charlotte. Tapi ini bener-bener lucu dan juga menghibur buatku!" Xander berujar dengan senyum yang tidak luntur dari wajahnya.
Charlotte hanya diam, tidak menjawab membuat keadaan menjadi hening beberapa saat hingga akhirnya Charlotte kembali bicara.
"Aku berharap bisa bertemu pemuda itu lagi!" ujar Charlotte dengan nada bicara yang berbanding terbalik dengan nada bicaranya beberapa saat yang lalu.
"Eh?" Xander menatap bingung pada Charlotte. Ia terdiam beberapa saat sebelum bertanya. "Kau malah berharap bertemu dengannya lagi?"
Charlotte mengangguk mantap. "Ya!"
"Tapi untuk apa? Kupikir kau marah dan kesal padanya?" tanya Xander.
"Memang!"
"Terus, kenapa kau mau bertemu dengannya lagi?"
Charlotte terdiam, tampak berpikir.
"Xander, selama ini semua pemuda selalu terpana dan tergoda saat melihatku. Tapi cowok itu keliatan berbeda. Tatapannya padaku amat berbeda dengan para lelaki di luaran sana."
"Berbeda bagimana maksudmu? Dia tidak suka padamu, begitu?"
Charlotte mengangguk. "Ya, tampaknya dia tidak tertarik padaku."
"Lalu, dimana masalahnya?"
"Itulah masalahnya. Kenapa dia tidak tertarik padaku?"
Xander menghela napasnya pelan. "Charlotte, tidak semua lelaki di dunia ini harus tertarik padamu, kan?"
"Ya memang bener." Charlotte mengangguk setuju. "Tapi justru itu yang menarik buatku. Dia tidak mengenaliku. Dia juga tidak tau aku ini siapa. Tapi minimal dia kan bisa terpesona pada kecantikanku! Karena selama ini semua orang yang melihatku pasti selalu terpana!"
"Tapi anehnya pemuda itu tidak. Dia menatapku seakan aku ini wanita biasa. Dia seperti tak tertarik sama sekali padaku. Ah, apa jangan-jangan dia itu g*y?" ujar Charlotte tampak bicara dengan dirinya sendiri.
Xander yang mendengarnya hanya bisa memutar bola mata malas. "Charlotte, jangan hanya gara-gara dia tak tertarik padamu, jadi membuatmu harus menuduhnya sembarangan begitu."
"Ya, aku kan hanya asal tebak." Charlotte menggedikkan bahunya acuh. "Kau tau Xander, cowok itu... dia sudah bener-bener membuatku penasaran dengan sikapnya."
Xander memutar bola mata malas. "Oke, jadi apa rencanamu?"
"Aku belum tau! Tapi untuk saat ini aku cuma bisa berharap bisa ketemu dengannya lagi untuk yang kedua kali."
__ADS_1
***