
Harry mengangkat alisnya dan mencibir.
"Apa maksudmu dengan bertanya kenapa aku datang kesini?" omel Harry.
Tentu saja ia mengomel. Lihat ini, Justin menatapnya dengan tatapan kaget sesaat setelah ia membuka pintu rumahnya. Ia seolah tak menyangka kalau saat ini ia mendapati Harry tengah berdiri didepannya.
"Ngomong-ngomong, maaf aku datang terlambat." ujar Harry lagi, meringis konyol.
Tapi Justin seakan tak peduli dengan penjelasan Harry itu.
"Aku serius, Harry. Sedang apa kau di rumahku malam-malam begini?" tanya Justin lagi begitu bingung.
"Apa kau ingin menginap?" lanjut Justin dengan raut polosnya.
Harry menatap Justin dengan tatapan bosannya.
"Menginap apanya? Tentu saja bukan."
"Jadi?"
"Apa kau lupa? Kau sendiri yang meminta diriku datang kemari." ujar Harry.
"Aku meminta dirimu datang?"
"Ya, siang tadi kau menghubungiku dan mengatakan kalau kau tidak bisa masuk kerja. Setelah itu kau mengajak aku bertemu. Di rumahmu. Jadi aku datang. Kau yang menelepon diriku, ingat?"
Justin ingat sekarang. Bagaimana ia bisa lupa. Siang tadi ia memang sempat menghubungi Harry, meminta izin libur karena Harry adalah manajer di kafe tempat ia bekerja. Dan setelah itu ia meminta agar Harry datang ke rumahnya. Justin meminta kedatangan pemuda itu karena ada hal penting yang ingin Justin bicarakan dengan pemuda itu.
Justin menepuk jidatnya.
"Maafkan aku Harry. Aku bahkan hampir lupa sudah meminta bertemu denganmu." ujar Justin terkekeh.
Justin kemudian bergerak ke samping, memberi ruang pemuda itu untuk melangkah masuk kedalam rumahnya.
"Silahkan masuk!" ujar Justin lagi mempersilahkan Harry untuk masuk.
Harry mengangguk dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang tamu Justin.
"Ya, sebenarnya aku bekerja lembur hari ini. Itu sebabnya aku terlambat datang..."
"Tidak masalah. Aku senang kau datang."
"Kau belum makan?" tanya Harry, ia berbalik menatap Justin sambil mengangkat bungkusan yang ada di tangannya. "Aku bawa mekdi, ngomong-ngomong."
"Wah, kebetulan sekali aku belum makan dan sedang lapar sekarang." Justin berujar antusias.
"Benarkah?"
"Ya, aku belum makan malam ini." Justin mengangguk dan mengambil bungkusan dari tangan Harry.
Harry tersenyum puas. "Sudah ku duga kalau kau pasti belum makan."
"Terima kasih."
Justin kemudian melangkah menuju sofa diikuti Harry yang juga duduk di sofa setelah sebelumnya meletakkan barang-barangnya di atas meja.
"Burgernya ada dua?" Justin menatap isi bungkusan itu lalu menatap Harry
"Ya, makanlah. Keduanya milikmu."
__ADS_1
"Kau baik sekali." ujar Justin sembari mengigit burger di tangannya.
"Warung nasi goreng langgananmu kebetulan sedang tutup. Penjualnya pulang kampung. Itu sebabnya aku hanya membeli burger. Tapi aku rasa itu juga bisa mengganjal perut kosongmu."
"Ya, tak masalah. Ini juga cukup."
Justin kini sibuk melahap burger di tangannya. Ia benar-benar merasa lapar sekarang. Justin bahkan sudah melupakan kehadiran Harry di depannya.
Sementara itu, melihat Justin yang tengah makan dengan lahap Harry hanya menggeleng.
Sejujurnya ia begitu peduli dengan Justin. Pemuda ini sudah ia angap sebagai adiknya sendiri selama ini.
Walaupun mereka sudah jarang bertemu karena kesibukan Harry yang harus kuliah dan juga bekerja tapi Harry kadang membawakan Justin makanan seperti yang ia lakukan malam ini.
Selain itu Harry adalah orang pertama yang akan selalu membantu Justin saat pemuda itu butuh bantuan.
"Kau masih lapar?" tanya Harry kemudian saat melihat Justin menyeruput minumannya.
Justin menggeleng, "Ini sudah cukup."
"Yakin?"
Justin mengangguk, "Ya."
"Katakan saja. Kau mau makan apa. Biar aku pesankan untukmu."
"Tidak." Justin kembali menggeleng. Ia lalu menunjuk ke sudut ruangan dengan dagunya. "Sebenarnya aku punya banyak sekali makanan di sana."
Harry menoleh ke arah yang di maksud dan langsung membulat saat melihat tumpukkan dus berisi berbagai macam makanan instan dan camilan.
"Wow.. apa kau mendadak kaya? Kenapa banyak sekali makanan rumahmu?" Harry kembali menoleh pada Justin. "Sejak kapan kau menjadi kaya raya, hah?"
Justin menghela pelan dan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
"Lalu?"
Harry menatap Justin dengan tatapan tak percaya. Ya, ia memang tak percaya. Bagaimana bisa ada banyak barang dirumahmu tapi kau tak membelinya. Apa ada toko retail yang salah antar barang?
Harry terkekeh pada dirinya sendiri.
"Apa ibu peri yang memberikannya padamu?" ejek Harry sambil menggelengkan kepalanya.
"Tuan Romanov yang memberikannya padaku."
Senyum Harry memudar dan berganti ke ekspresi wajah serius.
"Apa kau bilang?" tanya Harry ragu seakan tak mempercayai telinganya. "Siapa yang memberikannya padamu?
"Tuan Romanov."
"Tuan Romanov?"
Justin mengangguk, "Ya!"
"Kenapa dia memberimu banyak barang seperti ini?"
"Sebenarnya itu juga yang menjadi pertanyaanku saat ini." ujar Justin menggeleng lelah.
"Bukankah harusnya kau senang?" Harry bertanya bingung.
__ADS_1
"Harusnya..." balas Justin pelan.
Justin menatap burger yang ada di tangannya. Ia melatakkan makanan itu kembali keatas bungkusan. Entah kenapa ia tak ingin makan lagi. Nafsu makannya sudah hilang sekarang.
Melihat Justin yang tampak tak bersemangat, Harry mengernyit,
"Ada apa, Justin?" tanya Harry.
Justin kembali diam, tampak berpikir.
"Kenapa kau tampak tak senang dengan barang-barang ini?"
"Harry, jika itu orang lain, mereka mungkin akan merasa senang mendapat banyak barang seperti ini."
"Tentu saja."
Justin menggeleng.
"Tapi aku tidak. Jangankan senang. Untuk tersenyum saat menerimanya saja aku tidak bisa." keluh Justin dengan helaan napas yang keras.
"Aku tidak ingin berhutang budi. Entah pada siapapun."
Harry mengangguk, "Aku bisa mengerti alasanmu."
Keduanya lalu terdiam selama beberapa saat.
Dalam diam, Harry terus mengamati Justin. Ia bisa mengerti kenapa Justin bukannya senang tapi malah merasa tak enak saat menerima semua pemberian dari tuan Romanov ini.
Sebagai teman baiknya, Harry telah mengenal Justin selama bertahun-tahun lamanya. Mereka sudah berteman baik sejak masih SMA, jadi Harry bisa mengetahui sifat mendalam dari pemuda itu.
Ya, sebenarnya itulah Justin. Ia adalah pemuda yang penuh dengan rasa segan. Pada siapapun. Ia pasti akan merasa tak nyaman jika ada orang yang memberinya banyak hal. Ia pasti merasa tak enak dan memiliki rasa hutang budi yang besar.
"Ya, aku merasa sangat tak enak menerima semua ini."
"Bagaimana kalau di kembalikan."
"Tuan Romanov pasti akan tersinggung." ujar Justin.
"Benar juga."
Harry jadi ikut merasa serba salah sekarang.
"Aku rasa mulai sekarang aku hanya bisa menghindari jika dia ingin memberiku sesuatu. Itu satu-satunya cara."
"Menghindar?" Harry mengernyit bingung. "Tapi bagaimana caranya?"
"Itulah sebabnya aku memintamu datang malam ini, karena aku membutuhkanmu. Membutuhkan bantuanmu."
Kedua alis Harry sontak bertaut. Ia semakin bingung saja sekarang. Harry menyipitkan kedua matanya, menatap pemuda di hadapannya itu dengan ekspresi bertanya-tanya.
"Membutuhkan bantuanku?"
Justin mengangguk.
"Ada apa memangnya?" tanya Harry lagi.
"Begini... sebelumnya aku ingin minta maaf dan juga berterima kasih karena sudah membantuku mencarikan pekerjaan." ujar Justin menjeda kalimatnya beberapa saat.
"Lalu?"
__ADS_1
"Meskipun tuan Romanov memintaku untuk lanjut bekerja di sana, tapi sepertinya aku akan mengundurkan diri saja dari pekerjaanku di kafe miliknya."
***