
Saat itu matahari sudah muncul saat Xander membuka kedua matanya. Ia mengambil ponsel yang ada di atas nakas untuk melihat jam. Xander menghela saat melihat kalau saat itu jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
Xander bangun lebih siang dari biasanya setelah menghabiskan semalaman untuk bergadang. Ia tak bisa tidur dengan nyenyak dan hanya tertidur selama beberapa jam saja. Pikirannya terus terganggu oleh Charlotte yang tidak pulang ke mansion utama sejak hari dimana mereka pergi ke klub malam itu.
Bahkan semalaman Xander terus mengirimi pesan teks pada Charlotte dan mengatakan kalau riwayatnya pasti akan habis jika sang kakek mengetahui Charlotte sudah diam-diam pergi ke klub malam. Tapi gadis itu terus saja mengatakan kalau Xander harus tenang karena kali ini Xander akan selamat.
'Dasar gadis sialan! Dia pasti tidur dengan nyenyak semalam karena dia tidak perlu berhadapan dengan kakek, lalu bagaimana denganku? Aku yang harus membuat cerita untuk kebohongan pada kakek. Sial! Aku lah yang menjadi korban sebenarnya di sini." batin Xander kesal.
Bagaimana jika nanti sang kakek tau? Bagaimana kalau dia mengecewakan kakek lagi? Dan bagaimana kalau sang kakek memarahinya lagi seperti pada masalah yang terjadi terakhir kali? Ah, bahkan hanya dengan membayangkan hal itu saja sudah bagai mimpi buruk saja bagi Xander.
Xander menghela napasnya frustasi. Ia menggosok wajahnya dengan kasar dan melangkah gontai menuju kamar mandi. Ia berdiri di depan wastafel untuk menggosok giginya.
'Apa aku harus menghindari kakek agar tidak mendapat pertanyaan macam-macam tentang Charlotte?' Batin Xander.
Xander menghela, karena Charlotte dia harus memikirkan siasat tak penting seperti ini. Gadis cerewet itu benar-benar akan membuatnya mati berdiri jika setiap saat membuatnya jantungan begini.
"Tidak ada jalan lain, daripada aku harus berhadapan dengab kakek, aku harus bergerak cepat. Dan aku harus pergi ke kampus lebih dahulu sebelum kakek keluar untuk sarapan." gumamnya pada diri sendiri.
Setelah mengatakan itu Xander langsung buru-buru mengambil handuknya untuk segera mandi. Dan beberapa saat kemudian Xander keluar dari kamar mandi dalam keadaan segar.
Beberapa saat setelah ia selesai mandi dan bersiap-siap Xander segera berjalan keluar dari kamarnya, menuju ke ruang makan untuk mengambil roti. Niatnya setelah mengambil roti ia akan langsung keluar.
Namun saat berada di dekat pintu kamarnya ia bertemu dengan seorang pelayan yang sedang membersihkan mansion. Pelayan yang melihat kemunculan Xander itu langsung menundukkana kepalanya dengan hormat.
"Tunggu dulu," panggil Xander pada pelayan itu saat ia melihat sang pelayan yang hendak pergi.
Mendengar serun itu, langkah pelayan itu pun langsung terhenti. "Ya, tuan muda?"
"Apakah Charlotte sudah pulang?" tanya Xander mencoba memastikan kepulangan adiknya. Itu karena semalam Charlotte mengatakan kalau ia akan pulang pagi-pagi sekali hari ini setelah dua hari berada di rumah barunya itu.
"Maaf tuan muda, saya tidak mengetahuinya. Tapi sepertinya belum karena saya tidak melihat keberadaan nona di manapun pagi ini." jawab sang pelayan.
"Bagaimana dengan di taman belakang?" tanya Xander lagi.
"Saya juga tidak melihat nona berolahraga di taman belakang."
Xander mengangguk paham. Ia menghela napasnya perlahan.Charlotte pasti belum pulang karena pada hari biasanya, gadis itu akan berolahraga lebih dahulu sebelum kemudian mandi dan bersiap untuk pergi ke kampus.
Sedetik kemudian Xander lalu menyipitkan matanya, "Kalau begitu dia mungkin bangun kesiangan atau dia pasti membohongiku." gumam Xander.
"Ya tuan?" tanya pelayan itu.
"Tidak! Aku tidak bicara padamu." jawab Xander sambil menggelengkan kepalanya. "Oh ya, apa kakek sudah bangun?"
"Ya, tuan muda." Pelayan itu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Tuan Romanov saat ini sedang ada di ruang makan. Beliau tengah menikmati sarapan disana."
'Oh ****... kenapa kakek sudah di ruang makan,' batin Xander.
__ADS_1
Xander menggigit bibirnya. Tidak. Ia tidak bisa bertemu dengan sang kakek pagi ini. Bagaimana jika sang kakek bertanya padanya tentang Charlotte. Itu adalah musibah baginya.
Xander menghela napasnya lelah, "sepertinya ini memang hari sialku." gumamnya lagi.
Dia menatap pelayan yang ada di depannya dan mengibaskan tangannya, "Baiklah! Kau bisa lanjut bekerja."
"Baik tuan muda,"
Setelah sang pelayan pergi, Xander berbalik untuk kembali ke kamarnya. Jelas sekali, rencananya untuk tidak bertemu dengan sang kakek sudah gagal sekarang.
Tapi setelah sampai di dekat pintu kamarnya, tiba-tiba Xander mendapatkan ide baru lagi di kepalanya. Xander menjentikkan jarinya. "Aku tau! Aku kan hanya tidak perlu duduk sarapan bersama kakek. Aku akan langsung pergi ke kampus saja jadi kakek tidak akan bertanya apapun tentang Charlotte."
Xander memutar kembali tubuhnya, melanjutkan langkah kakinya untuk pergi ke lantai bawah. Dengan perlahan Xander berjalan menuruni anak tangga sambil melirik ke arah meja makan. Dari anak tangga itu ia bisa melihat kalau sang kakek saat ini tengah duduk di meja makan, menikmati sarapannya.
"Pagi, kakek!" sapa Xander pada sang kakek.
Tuan Romanov menatap ke arah sang cucu dan tersenyum melihat kedatangan cucu sulungnya itu, "Oh Xander, kau sudah bangun. Kemarilah!"
"Kau duduklah dulu, menu pagi ini hanya oatmeal." kata tuan Romanov menunjuk kursi yang ada di depannya sambil mendorong menu sarapan yang ada di depannya agar lebih dekat pada Xander yang masih berdiri di depannya.
Xander langsung menggeleng,
"Maaf kek, tapi sepertinya aku tidak sempat sarapan pagi ini. Aku akan langsung pergi ke kampus saja,"
"Kau tidak sarapan dulu? Ini tidak biasanya kau melewatkan sarapan." Tuan Romanov mengerutkan alisnya bingung. "Kenapa?"
Tuan Romanov bukannya menjawab, justru menolehkan pandangannya ke sekitar Xander. "Tapi dimana adikmu, Charlotte?" tanya tuan Romanov celingukan.
Teng!
Hal ini-lah yang Xander khawatirkan sejak tadi. Xander menghentikan langkah kakinya. Ia memutar tubuhnya ke arah sang kakek dengan canggung, tubuhnya terasa membeku.
"A-apa kek?"
"Dimana adikmu?"
Xander terdiam. Ia bingung harus menjawab apa.
Xander menegang, matanya sedikit membelalak pada sang kakek, ia bingung harus menjawab apa pada pertanyaan itu.
'Duh, bagaimana caranya aku lolos dari pertanyaan ini,' pikir Xander.
Xander terus mengerahkan otaknya agar bisa mencari alasan yang akan membantunya keluar dari masalah ini. Tapi otaknya terasa buntu. Ia tak dapat menemukan alasan lagi.
Bagaimana caranya ia menjelaskan pada sang kakek kalau setelah Charlotte pergi ke klub dan setelah itu ia memilih untuk pulang ke apartemennya agar tidak ketahuan kalau sudah diam-diam pergi ke klub malam.
'Seandainya aku bisa menceritakan semua itu pada kakek,' batin Xander sekali lagi.
__ADS_1
Tuan Romanov menyipitkan matanya, menatap Xander penuh selidik. Ia merasa ada yang aneh dari cucu laki-lakinya itu. Entah kenapa Xander tampak begitu ketakutan saat ini, seperti ada hal yang sedang dia tutupi.
"Xander... kakek bertanya dimana adikmu." ulang tuan Romanov, kali ini dengan nada yang lebih tegas.
"d-dia... dia menginap di apartemennya kek," ujar Xander mencoba memaksakan dirinya untuk tersenyum.
Tuan Romanov bingung menatap Xander kemudian mengernyitkan dahinya, "Dia menginap di apartemen?"
"Ya kakek, sebelumnya dia mengatakan kalau akan tinggal di apartemennya untuk dua sampai tiga hari karena jadwal pemotretan yang kebetulan berada di di dekat sana."
"Begitukah? Bagaimana kakek bisa tidak tau?"
"Kalau masalah itu..." Xander menjeda kalimatnya untuk beberapa detik, "... kakek kemarin lembur, jadi saat aku pulang untuk memberitahu, kakek belum pulang. Dan-"
"Jadi dia belum pulang sampai sekarang?" potong tuan Romanov.
"Ya, kakek! Dia belum pulang sampai sekarang! Mungkin siang atau sore hari nanti. Tapi aku sudah mengabarinya untuk segera pulang."
Tuan Romanov manggut-manggut. "Begitu rupanya."
Xander membelalak atas perkataannya sendiri. Ia terkejut tentang betapa pandai otaknya mengarang kebohongan barusan. Sejak kapan ia pintar berbohong seperti ini?
Untuk pertama kalinya Xander merasa bersalah sekaligus bangga pada dirinya sendiri karena ia berhasil berbohong pada sang kakek. Pasalnya selama ini ia tak pernah bisa berbohong pada sang kakek. Dimata sang kakek entah kenapa Xander selalu gagal untuk berbohong.
"Maaf kakek, kalau begitu aku harus pergi dulu. Ada keperluan penting di kampus." kata Xander sambil mengeratkan tas yang ada di bahunya.
"Kita bisa berangkat bersama." ujar tuan Romanov sambil mengelap mulutnya dengan tisu. "Kakek sudah selesai sarapan."
Heuk.
Xander menelan ludahnya kasar. Apalagi ini? Ia dengan susah payah memaksakan dirinya untuk tersenyum.
"Kakek apa?"
"Kau antarkan kakek. Kita berangkat bersama!"
"Oh itu... tapi aku-" Xander menggaruk tengkuknya yang tak gatal hendak kembali mengarang alasan.
"Kenapa? Apa kau tidak mau pergi bersama kakek?" tuam Romanov menatap Xander heran.
"Bu-bukan. Bukan begitu, kakek."
"Jadi, ada apa?"
Xander menyunggingkan senyum dan dengan cepat menggelengkan kepalanya "Tidak, kek."
"Baiklah, ayo pergi." ujar tuan Romanov melangkahkan kakinya dan diikuti Xander yang berjalan di belakang sambil menggaruk belakang kepalanya frustasi.
__ADS_1
***