
Charlotte membelokkan mobil yang ia kendarai masuk ke dalam area restoran dengan desain bangunan yang tampak begitu mewah dari luar.
Pagi ini, ia memutuskan untuk sarapan di restoran mewah itu karena harus memenuhi janjinya, bertemu dengan seseorang di tempat itu.
Charlotte lalu bergegas turun dari mobil begitu selesai memarkirkan mobilnya di parkiran restoran. Ia menutup pintu mobilnya kemudian mulai melangkah dengan cepat menelusuri area parkir restoran.
Namun, saat Charlotte tengah melangkahkan kakinya menuju bangunan restoran itu, ponsel di tasnya tiba-tiba saja berbunyi. Ia meraih ponselnya dan mendecih kecil saat mendapati nama sahabatnya, Laurent Doshe terpampang di layar.
'Dia lagi,' gumamnya.
Charlotte lalu menggeser tombol hijau pada layar ponselnya dan menempelkan benda itu di telinga sembari melanjutkan kembali langkahnya menuju restoran.
"Hai!" sapa Laurent cepat begitu Charlotte mengangkat panggilan telepon darinya.
"Ada apa?" tanya Charlotte tanpa basa-basi.
"Tidak! Hanya memastikan lo beneran masih hidup karena insiden kemarin. Lo baik-baik aja kan?"
Charlotte menghela napasnya, pertanyaan itu lagi…
Ya, memang setelah insiden mabuknya di klub malam itu, entah kenapa Laurent terus saja menghubunginya dan mengiriminya pesan untuk menanyakan pertanyaan yang sama.
Pemuda itu terus saja menanyakan tentang apa yang terjadi padanya saat insiden malam itu, apa dia baik-baik saja, apa dia patah hati dan pertanyaan konyol lainnya.
"Laurent! Kalau nggak salah, ini adalah ke tujuh kalinya elo menanyakan pertanyaan yang sama ke gue sejak kemarin." omel Charlotte.
"Ke tujuh? Wow… benarkah?" tanya Laurent takjub.
"Hm."
"Elo nggak salah hitung?" tanya Laurent ragu.
"Nggak!" tegas Charlotte.
"Sebenarnya sebelas kali, Lottie!" ujar Laurent.
Charlotte menaikkan sebelah alisnya. "Hah?"
"Maksud gue adalah… ini pertanyaan ke sebelas dari gue buat lo, bukan ke tujuh. Gue ngirimin elo tiga pesan yang sama pagi ini tapi belum lo balas." jelas Laurent dengan nada bangga, membuat Charlotte langsung memutar bola matanya.
"Terserah lo deh!"
Laurent terkekeh. "Oke, denger! Gue ini cuma mau pastiin kalau sahabat gue yang cerewet ini dalam keadaan baik." lanjut Laurent santai. "Gue khawatir! Karena jujur aja, di malam itu elo kelihatan kacau banget."
Charlotte menghela napasnya perlahan.
"Gue baik-baik aja Laurent. Dan gue juga sudah jawab pertanyaan lo itu berulang kali dari kemarin." ujar Charlotte dengan sedikit menekan kalimatnya. "Dan ini terlalu merepotkan buat gue kalau harus terus jawab pertanyaan dari lo itu, Laurent!" Charlotte bergumam.
"Ck, tapi bukannya elo baru aja melakukannya, elo jawab pertanyaan gue." tandas Laurent.
Charlotte terdiam.
Benar juga ya?
"Sial, Laurent!" Charlotte mendecih. Ia lalu berdecak kesal. "Elo bener-bener menyebalkan."
Laurent terkekeh. "Kenapa jadi gue? Lagipula gue juga penasaran, sejak kapan lo jadi lemah gitu? Seingat gue, biasanya lo itu adalah yang paling kuat minum dan bisa tahan sama pengaruh alkoh*l kalau di bandingkan sama gue dan Xander."
"Itu-"
"Lo minum berapa botol emang?"
"Ya mana gue inget." jawab Charlotte malas.
"Gue ini cuma kasihan sama Xander karena harus membawa tubuh lo yang berat itu." ujar Laurent dengan nada mengejek dari seberang telepon. "Lo kelihatan kacau banget malam itu. Kenapa? Lo lagi ada masalah?"
"Nggak ada." jawab Charlotte cepat. "Gue lagi pingin senang-senang aja!"
Ia berbohong. Sudah jelas.
__ADS_1
Lagipula mana mungkin ia mengatakan penyebab utama yang sudah membuat perasaannya kacau balau. Harga dirinya jelas terlalu tinggi bahkan untuk sekedar mengatakan kalau saat ini otaknya sudah di penuhi oleh bayangan tentang seseorang pemuda aneh.
Charlotte bahkan bisa merasakan hatinya yang mulai kembali terasa panas begitu mengingat wajahnya.
Lagi?
Dan entah kenapa rasanya dia menjadi sangat sensitive saat mendengar pertanyaan tentang 'masalah' yang menyebabkan perasaannya menjadi kacau di malam itu.
Saat dimana bayangan pemuda itu muncul di kepalanya.
"Lo nggak ke kampus?" tanya Laurent memecah keheningan.
"Sebentar lagi." jawab Charlotte. "Gue ada keperluan sebentar."
"Bareng Xander?"
"Nggak. Gue pergi sendiri."
"Nggak bareng Xander? Tumben banget."
"Gue udah pergi lebih dulu tadi. Tapi setelah ini kami bakal bertemu di kafe biasa tempat kita kumpul, baru setelah itu kami pergi ke kampus bersama." jelas Charlotte.
"Oh. Lo nggak balik ke mansion dulu emang?"
"Nggak!" tolak Charlotte sambil memindahkan ponselnya dari telinga kanan ke telinga kiri. "Gue nggak ada waktu buat balik ke mansion. Gue lagi mau sarapan dan menghabiskan waktu dengan Jason."
"Apa? Jason? Pria yang jemput lo pakai jas kantoran di klub malam waktu itu?" tanya Laurent dengan nada terkejut. "Lo masih pacaran sama dia?"
"Memangnya gue ada bilang sudah putus?" tanya Charlotte heran. Ia terus melangkah menaiki tangga kafe kemudian mendorong pintu kaca di depannya dan berjalan masuk ke dalam restoran.
"Nggak ada sih!" jawab Laurent terkekeh. "Emang belum lo putusin?"
"Belum, gue nggak mau putusin dia dulu. Dia itu pacar terakhir gue bulan ini, Laurent." ujar Charlotte santai.
"Sisanya kemana?" tanya Laurent penasaran.
"Udah gue hempas!" jawab Charlotte santai yang di hadiahi decakan oleh Laurent.
"Hm."
"Serius? Gila lo, Lottie!" seru Laurent kaget.
Charlotte tersenyum. "Lagipula Jason terlalu manis buat gue putusin sekarang. Gue mau senang-senang dulu sebelum gue hempas juga."
"Jangan banyak alasan, Lottie." ujar Laurent. "Gue yakin, lo belum putusin itu cowok bukan karena dia terlalu manis. Tapi hanya karena elo belum mendapat ganti dan cadangan yang baru saja."
"Lo sangat mengenal gue rupanya." puji Charlotte pada Laurent.
"Tentu saja. Kita sudah bersahabat bertahun-tahun lamanya kan..." ujar Laurent dan di hadiahi tawa oleh Charlotte.
Dan tepat setelah itu, senyuman di wajah Charlotte semakin bertambah lebar saat ia melihat dari jauh seorang pria yang tengah berdiri di dekat ruang vip restoran sambil fokus memainkan ponselnya.
Itu Jason, kekasihnya.
Pria berwajah tampan itu tengah berdiri tegap, menunggunya dengan balutan jas abu-abu yang menurut Charlotte semakin membuatnya terlihat tampan.
"Laurent! Gue harus matiin telepon sekarang." ujar Charlotte pada Laurent yang masih berada di sambungan telepon.
"Ya sudah. Sampai bertemu di kampus." balas Laurent.
"Oke!"
Charlotte lalu mematikan sambungan teleponnya dan memasukan ponselnya ke dalam tas. Baru kemudian dengan penuh rasa percaya diri ia kembali melangkah menuju dimana pria itu berdiri menunggunya.
"Hai!" sapa Charlotte pada kekasihnya itu.
Jason mengalihkan fokusnya dari telepon dan menatap kedatangan Charlotte, kemudian ia tersenyum.
"Akhirnya, datang juga." Jason melambaikan tangannya pada Charlotte, menyambut ramah gadis yang tengah berjalan ke arahnya itu. "Kenapa lama banget? Lo telat sepuluh menit nih."
__ADS_1
"Ada urusan sebentar." jawab Charlotte santai kemudian berjalan memasuki ruang vip yang berada di dekat Jason dan langsung duduk di salah satu kursi di ruangan itu.
"Urusan apa?" tanya Jason penasaran.
"Klien produk." jawab Charlotte asal.
Charlotte kemudian memberi tanda pada pelayan yang berada di luar ruangan mereka hendak memesan.
Ia membuka buku menu lalu segera memesan makanan dan minuman untuk mereka. Sang pelayan mencatat semua pesanan dan langsung beranjak pergi dari ruangan itu.
"Lo akan pergi bekerja?" tanya Charlotte sambil melirik pakaian yang di kenakan pria itu.
Jason mengangguk. "Ya! Elo mau langsung ke kampus setelah ini?" Jason balik bertanya.
"Ya,"
"Lo mau gue antar?"
"Tidak perlu." Charlotte menggeleng. "Gue ke kampus bersama Xander nanti."
Jason mengangguk mengerti kemudian dengan senyuman manis, ia meraih jemari Charlotte dan mengelus punggung tangan gadis itu dengan lembut. Tatapannya pada Charlotte menunjukkan betapa ia begitu tenggelam pada wajah cantik Charlotte.
Sangat cantik.
Bulu mata hitam lentik dan panjang, tatapan mata yang memikat, bibir merah yang sangat ingin ia miliki sekarang juga. Charlotte, gadis di hadapannya ini benar-benar sempurna.
Ia terus menatap kagum pada gadis cantik di hadapannya ini. "Kita sudah lama tidak makan berdua seperti ini." ujarnya tersenyum pada Charlotte.
Charlotte dapat merasakan Jason kini lebih meremas tangannya dan mulai membuatnya risih. Ia tidak pernah suka dengan hubungan romantis seperti ini. Gombalan dan perlakuan romantis dari para pria, itu sangat menjijikan baginya.
Charlotte lalu menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Jason. "Benarkah? Seingat gue kita baru bertemu lima hari lalu."
Jason mengerutkan dahinya bingung. "Bertemu? Lima hari lalu?"
Charlotte tersenyum lalu mengangguk. "Twin House cafe, lo nggak inget?"
Jason menggelengkan kepalanya pelan, ia bingung.
"Tapi Lottie, kita bahkan baru bertemu hari ini. Dan lima hari lalu gue lagi ada urusan bisnis dan harus pergi ke singapura. Gue kan baru pulang kemarin. Lo lupa?"
Senyum Charlotte perlahan memudar. "Apa?"
Terkejut, Charlotte memundurkan tubuhnya, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia tersenyum kaku sambil menatap Jason.
"Ah... itu, gue-"
Charlotte lalu memijit pangkal hidungnya dan menutupi setengah wajahnya yang mungkin sudah terlihat merah saat ini. Ia jelas salah orang dan entah kenapa ia merasa ini sangat memalukan.
'Sial! Jadi itu bukan dia? Ah, itu pasti pacar gue yang lain. Tunggu dulu, gue bahkan lupa dengan siapa gue kencan lima hari lalu. Bagaimana gue bisa lupa, ini gila.' omel Charlotte dalam hati.
"Lottie?" Jason melambaikan tangannya pada Charlotte yang tengah melamun.
Charlotte tersadar. "Ya?"
"Ada apa denganmu? Kenapa melamun?" tanya Jason heran.
"Nggak!" Charlotte tersenyum kaku. "Gue nggak melamun kok, cuma lagi mencoba inget-inget aja."
"Jadi? Apa ingatanmu sudah kembali sekarang?" tanya Jason terkekeh.
Charlotte mengangguk. "Ya! Gue rasa gue salah ingat. Maksud gue tadi adalah... lima hari lalu gue lagi pergi sama Xander, tapi yang gue ingat justru elo! Hehe…"
Charlotte berbohong. Lagi!
"Oh, begitukah. Apakah itu artinya saat itu elo lagi mikirin gue." ujar Jason percaya diri sambil memberikan senyuman menggoda tapi tidak cukup menggoda bagi Charlotte.
Jujur saja, selama ini Charlotte memang tidak pernah sekalipun tergoda pada Jason.
Dan ya...Charlotte memang menganggap Jason manis dan tampan tetapi dia tidak pernah menganggapnya menawan. Dan selain itu, Charlotte tidak bisa membuat dirinya menyukai Jason.
__ADS_1
Kini ia bahkan tidak tahu pria macam apa yang ia sukai.
***