Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
66.


__ADS_3

Jam sebelas malam saat Justin baru saja tiba di depan rumahnya. Kali ini dia pulang sedikit lebih terlambat daripada hari-hari biasanya. Setelah sampai di depan pintu rumahnya, Justin dengan cepat membuka kunci dan masuk ke dalam. Ia melemparkan jaketnya ke atas sofa dan melangkah gontai menuju kamar tidurnya.


Justin lalu menghempaskan tubuhnya sendiri keatas tempat tidur. Ia bahkan belum mengganti pakaiannya dan Justin memang tidak berniat untuk menggantinya. Tubuhnya sudah terlalu lelah bahkan untuk sekedar bergerak sekarang.


Dengan malas, Justin mengeluarkan ponselnya untuk mengirim balasan pesan pada beberapa temannya lalu melemparkan ponselnya ke samping tubuhnya dengan asal.


Sambil menarik napasnya dalam Justin memejamkan kedua matanya. Bayangan Charlotte saat memeluk mesra pria tampan tadi membuat hati Justin terasa panas. Ia merasa cemburu. Ya, Justin tau dia tak punya hak apapun untuk cemburu, tapi hatinya tidak bisa berbohong.


"Pacarnya saja tampan begitu." gumam Justin lesu saat mengingat pria yang di peluk Charlotte tadi. "Untuk melirik ke arahku saja dia tidak akan sudi."


Tok! tok! tok!


Suara ketukan pintu itu sontak saja membuyarkan lamunan Justin. Ia mengernyitkan alisnya heran. Seingat Justin, ia tak punya janji bertemu dengan siapapun malam ini. Lantas siapa yang datang ke rumahnya?


Justin bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah pintu depan. Ia membuka pintu bahkan tanpa mengintip lebih dahulu dari celah kaca jendela rumahnya yang transparan. Dan begitu pintu terbuka, Justin hanya bisa terpaku karena terkejut bukan main saat melihat siapa yang datang dan berada di depan pintu rumahnya saat ini.


"Harry?" gumam Justin dengan mata membulat.


"Justin," balas Harry menatap Justin dengan memasang senyum kaku di wajahnya. "Apa kau sedang sibuk sekarang?"


"Aku… tidak, aku tidak sibuk."


"Bisakah aku masuk ke dalam?" tanya Harry dengan ekspresi canggung.


"Y-ya, tentu saja."


Justin mengangguk dan mundur selangkah, memberi ruang pada Harry untuk masuk ke dalam rumahnya. Ia lalu berjalan menuju sofa kecil yang ada di ruang tamunya. Mengulurkan tangannya, mempersilahkan Harry untuk duduk di sofa itu.


"Duduklah!"


Harry mengangguk dan duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tamu itu. Keadaan menjadi hening untuk beberapa saat. Harry terlihat mengusap kedua pahanya sendiri. Masing-masing dari mereka terlihat jelas merasa begitu canggung.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Harry mencoba untuk memecah kesunyian.


"Hah?"


"Ah, maksudku...aku tidak bisa menghubungimu selama beberapa hari ini." Harry menjelaskan maksudnya.


"Itu, aku baik-baik saja." jawab Justin menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Harry menepuk sofa yang ada di sebelahnya. "Kenapa kau masih berdiri di situ? Kemarilah dan duduk dulu."


"Iya."


Dengan canggung Justin menghampiri Harry dan ikut mendudukkan dirinya pada sofa yang ada di sebelah Harry.


"Oh ya, ini... aku membawakanmu makanan. Tadi aku tidak sengaja bertemu bakso keliling yang sering parkir di depan gang mu. Aku tau kau menyukainya jadi aku membelinya sebelum datang kemari." Harry mencoba menjelaskan masih dengan senyum canggung di wajahnya.


"Ah.. terima kasih," balas Justin menganggukkan kepalanya sambil menerima bungkusan bakso itu.

__ADS_1


Setelah itu keadaan jadi hening kembali. Mereka saling diam. Tak ada yang berniat untuk membuka pembicaraan lebih dahulu.


Tak ada jalan keluar, akhirnya Harry mencoba memantapkan hati bicara lebih dahulu, "Justin aku-"


"Aku minta maaf padamu, Harry!" potong Justin cepat sambil menunduk.


"Minta maaf, untuk apa?"


"Ya, karena sudah berbuat tidak sopan padamu. Aku pergi tanpa mengatakan apapun padahal kau sudah sangat baik padaku. Kau sudah membantuku. Tapi aku... aku malah membuatmu malu di hadapan atasanmu."


Harry tersentak dengan perkataan Justin padanya barusan. Apa ini? Justin ternyata merasa bersalah padanya? Semua yang terjadi karena ketidaksengajaan. Lagipula tuan Romanov juga tidak mempermasalahkan apapun saat itu. Harusnya Justin tidak perlu merasa bersalah seperti ini.


"Aku tidak terlalu memikirkan itu, Justin. Saat ini aku hanya merasa penasaran tentang sesuatu."


"Sesuatu?" Justin mengernyit.


"Ya, aku hanya ingin tahu apa alasanmu pergi tanpa pamit waktu itu." tanya Harry pada Justin dengan raut serius. "Kau pergi bahkan tanpa mengatakan apapun padaku."


"Waktu itu, aku-"


"Kau menghindariku bahkan di kampus juga begitu. Aku mencarimu di kampus tapi aku tidak menemukanmu dimanapun. Aku bertanya pada Charlie. Aku juga terus mencoba meneleponmu tapi tidak kau angkat. Aku jadi bingung apakah aku sudah berbuat kesalahan padamu."


"Tidak, bukan begitu-"


"Aku khawatir padamu karena kau tiba-tiba menghilang tanpa kabar."


"Harusnya kau menemuiku terlebih dahulu setelah insiden itu. Jika bos kita marah atau terjadi hal apapun padamu saat itu, aku pasti akan berusaha sebisaku untuk membelamu, karena seperti yang kau tau kita ini sahabat, Justin." Harry berujar kesal. "Ah... atau hanya aku yang berpikir seperti itu ya? Apa hanya aku yang menganggapmu sahabat, dan kau tidak."


Ucapan Harry itu sukses membuat Justin yang sedari tadi menunduk, mengangkat kepalanya, menatap wajah Harry. Ia dengan cepat menggelengkan kepalanya kencang.


"Bukan. Bukan seperti itu, Harry. Apa yang kau bicarakan. Kita adalah sahabat, tentu saja."


"Maaf, aku hanya khawatir. Jadi aku berpikiran kemana-mana. Aku pikir kemarin kau tidak ingin berteman denganku lagi. Itu sebabnya kau menghindariku."


"Aku berpikiran yang sama Harry. Aku pikir karena aku sudah mempermalukanmu waktu itu. Jadi kau pasti marah padaku. Dan... menjauh darimu adalah jalan terbaik. Itu saja yang terpikirkan olehku waktu itu."


Harry menghela napasnya perlahan, ia tersenyum kecil menatap Justin. "Sebenarnya aku bisa paham kalau keadaanmu pasti sangat kacau pada waktu itu. Jadi kau melakukan sesuatu yang terpikirkan oleh otakmu saja. Tentu saja kau jadi kacau, bayangkan kau bermasalah langsung pada pemilik kafe itu. Kau pasti kaget."


"Ya, aku benar-benar kaget saat teman-teman lain mengatakan kalau dia adalah pemilik dari kafe itu." Justin berujar lirih, "Itu benar-benar memalukan bagiku. Tapi aku salah karena saat itu aku malah pergi begitu saja dan terlihat seperti orang yang tak bertanggung jawab."


"Tapi Justin, ada hal yang membuatku penasaran!" ujar Harry menatap Justin dengan tatapan menyelidik.


"Apa itu?"


"Apa kau mengenal tuan Romanov? Maksudku... pemilik kafe itu, apa kau pernah berurusan dengannya sebelum ini?"


Justin menggeleng, "Wajahnya memang terlihat tidak asing. Tapi itu mungkin karena aku bekerja sebagai kurir, otomatis aku pasti bertemu siapa saja dan tidak menutup kemungkinan aku pernah bertemu dengannya. Tapi aku bisa mengatakan kalau aku tidak mengenalnya."


"Kenapa? Ada apa? Apakah dia meminta ganti rugi atas kerusakan pakaiannya?" Justin berujar cemas. Ia was-was jika pemilik kafe itu meminta ganti rugi padanya, ia tak punya uang lagi sekarang.

__ADS_1


"Ganti rugi?" Harry bertanya balik lalu buru-buru menggelengkan kepalanya. "Ah bukan! Justru kedatanganku kesini karena pemilik kafe itu yang memintaku untuk menemuimu."


"Oh ya?" Justin menaikkan sebelah alisnya.


"Ya, dengar ini!" Harry bergeser untuk mendekatkan dirinya pada Justin. "Tuan Romanov memerintah padaku untuk meminta kedatanganmu. Dia ingin bertemu denganmu."


"Kalau begitu aku benar. Pasti dia ingin minta ganti rugi padaku." Justin mengusap wajahnya.


"Aiss, berhentilah bicara tentang ganti rugi. Kau dengar aku dulu!"


Harry akhirnya mulai bercerita pada Justin, mulai dari setelah kejadian Justin menumpahkan kopi waktu itu,  Harry yang di larang memecat, kedatangan tuan Romanov untuk kedua kalinya, sampai tuan Romanov yang marah saat mengetahui Justin yang tak bekerja lagi di kafe. Harry menceritakan hampir seluruhnya.


"Dia marah padamu?" Justin bertanya bingung.


"Ya, dia bahkan hampir memecatku karena dia pikir aku yang sudah memecatmu."


"Tapi kenapa?"


"Itulah yang menjadi pertanyaan terbesarku. Aku juga penasaran alasan dia marah karena kau berhenti bekerja. Dan itulah sebabnya aku bertanya padamu sebelumnya, apakah kalian saling mengenal, tapi kau bilang tidak mengenalnya."


Justin mengangguk, "ya, aku memang tak mengenalnya."


Harry manggut-manggut.


"Baiklah, lupakan itu. Intinya dia meminta kehadiranmu, segera, di kantornya." ujar Harry sambil mengeluarkan kertas catatan dari kantong jaketnya dan langsung menyerahkannya pada Justin. "Dan ini adalah alamat dari kantor utama tuan Romanov."


Justin menatap kertas catatan di tangannya itu dengan lekat, hatinya merasa ragu untuk menemui mantan atasannya itu.


"Aku tidak bisa datang." ujar Justin meletakkan kertas catatan itu ke atas meja.


"Tapi kenapa?" 


"Kau lupa, aku kan harus kuliah."


Harry memutar bola matanya malas, "Kau bisa datang tengah hari atau sore hari."


"Aku harus bekerja, Harry. Aku akan mulai mengantar pesanan orang-orang pada jam dua belas siang. Tak ada waktu."


"Ini hanya sebentar. Kau mengatakan kau mulai bekerja jam dua belas siang, kau bahkan bisa datang setelah pulang kuliah."


"Tapi-"


"Ayolah justin, dia bilang dia akan memecatku kalau kau tidak datang. Lakukanlah demi aku." Harry memohon sambil menangkupkan kedua tangannya.


Justin menghela pasrah, Harry rela memohon seperti ini padanya. Dan itu membuatnya jadi merasa tak enak sendiri.


"Baiklah... aku akan pergi menemuinya." ujar Justin membuat Harry tersenyum senang.


***

__ADS_1


__ADS_2