Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
6.


__ADS_3

Charlotte menatap kakaknya seolah pemuda itu adalah orang yang bodoh. "Apa ada yang salah?"


"Tidak ada. Hanya saja, bukannya semalam kau juga sudah berkencan, Lottie?" Xander menaikkan sebelah alisnya, berujar heran.


Charlotte berdesis. "Itu kan orang yang berbeda, Xander!"


"Jadi berbeda lagi?" Xander menatap Charlotte dari spion depan. "Jadi, kali ini kau kencan dengan orang yang berbeda?"


"Hm. Sekarang ini aku sedang ada janji kencan dengan seseorang bernama Victor."


"Victor?" Xander memicingkan matanya, "Siapa lagi itu?"


"Seorang pengusaha."


"Oh!" jawab Xander singkat. "Tapi kenapa sepertinya aku pernah mendengar nama Victor itu, tapi entah dimana, aku lupa."


Charlotte memutar bola matanya malas. Ia meruntuk sebal. Bagaimana bisa dia punya kakak yang terlalu bodoh begini. "Ya ampun! Tentu saja kau pernah mendengar nama itu. Ayolah Xander, nama 'Victor' di dunia ini kan bukan cuma satu."


"Benar juga." Xander mengangguk setuju. "Tapi aku sedikit penasaran. Bukannya kau baru saja putus dengan pacarmu beberapa waktu lalu. Siapa namanya?"


"Brandon."


Xander menjentikkan jarinya. "Ya, itu dia! Brandon."


"Ya, aku juga baru bertemu dia di kafe beberapa saat lalu."


"Bertemu dia?" Xander kembali melirik Charlotte dari kaca spion. "Kalian mau balikan, memangnya?"


"Kembali padanya? Ck, jangankan balikan. Hanya sekedar melihat wajahnya saja aku tak sudi lagi."


"Lalu kenapa menemuinya?"


"Ini yang terakhir kami bertemu, aku sudah benar-benar muak dengannya."


"Kau yakin?"


Charlotte menatap angkuh pada Xander. "Aku tak perlu kembali dengan mantan. Aku bukannya tak laku. Aku ini kan punya ba-"


"Ah ya, tak perlu kau lanjutkan lagi!" potong Xander cepat. "Aku sudah tahu kalimat selanjutnya."


Charlotte mengernyitkan alisnya bingung.


"Kau pasti ingin mengatakan kalau kau tak mungkin hanya punya satu kekasih saja. Kau kan selalu aja punya pacar pengganti bahkan sebelum kau putus dengan pacarmu yang lama." ujar Xander dengan nada sinis. "Dasar kau, wanita buaya. Kerjamu hanya selingkuh saja."


Charlotte mendengus.


"Ayolah Xander. Tuhan itu sudah berbaik hati memberiku wajah yang begitu sempurna. Jadi, sebagai rasa terima kasihku pada Tuhan, aku pasti akan memanfaatkannya sebaik mungkin. Memikat para pria contohnya, bagaimana, jenius kan?" Charlotte tersenyum sinis.


"Itu bukan jenius, Charlotte, tapi gila!" ledek Xander. "Ck, aku kasihan sekali dengan mereka. Para lelaki itu pasti sudah terjebak oleh pesona palsumu itu, mereka pasti tak tahu betapa gilanya dirimu itu."


TAKK!

__ADS_1


"Aw.. sakit Lottie!" Xander mengaduh saat merasakan sakit akibat pukulan Charlotte pada kepalanya. "Apaan sih main pukul-pukulan!"


"Kau sendiri, apa kau bilang tadi? Siapa yang kau sebut gila barusan?" gerutu Charlotte.


"Tidak. Aku tadi sedang bicara sendiri."


"Ck, kau pikir aku tak tau kalau kau sedang membicarakan aku? Awas saja kalau kau berani bicara macam-macam lagi tentangku!" Charlotte menatap tajam.


'Cih padahal aku juga bicara yang sebenarnya, dia kan memang gila,' batin Xander.


Namun tiba-tiba Xander tertawa sendiri mengingat bagaimana kegilaan wanita ini. Bayangkan, pernah pada bulan lalu, gadis ini mengencani tiga orang pria dalam satu hari. Gila kan?


Ya, tapi menurut Xander pribadi, itu adalah hal biasa. Mungkin karena sudah terlalu lama hidup bersama Charlotte, hingga pada akhirnya membuat Xander sudah benar-benar hafal dengan sifat dan sikap aneh juga gila dari gadis ini.


Ya, Xander dan Charlotte memang sudah hidup bersama sejak bertahun-tahun lalu. Tepatnya saat gadis itu masih berumur sebelas tahun.


Ah, mengingat itu membuat Xander tiba-tiba saja ingin menerawang masa lalu. Tepatnya saat tuan Romanov Clinton, kakek dari Charlorte yang saat itu sudah berjasa besar karena sudah membawa Xander dari panti asuhan.


Tuan Romanov bahkan dengan sukarela merawatnya dan memberinya pendidikan tinggi, bahkan setara dengan Charlotte, cucu kandungnya sendiri.


Sejak saat itu, Xander memutuskan untuk menjaga Charlotte dengan baik sebagai tanda balas budinya pada pria paruh baya itu. Ya, meskipun sebenarnya tuan Romanov tidak pernah menyetujuinya karena ia sudah menganggap Xander sebagai cucu kandungnya sendiri.


Dan masalah menjaga Charlotte, tuan Romanov sendiri berencana untuk mengirimkan bodyguard agar bisa menjaga cucunya itu. Tapi Xander tetap memaksa karena ia tidak dapat mempercayai siapapun kecuali dirinya sendiri.


Ya, itulah alasan utama mengapa Xander dan Charlotte sekarang seolah tak terpisahkan. Mereka hidup bak saudara kandung, karena sejak kecil mereka selalu bersama.


Meskipun selama ini Charlotte selalu mengatakan hal yang kasar juga menyakitkan, bahkan berkata akan mengusir dan memecat Xander, namun faktanya hal itu tidak akan pernah terjadi. Sebab walaupun Charlotte mengusirnya tapi pada akhirnya gadis itu pula lah yang akan membutuhkan Xander dan memintanya kembali. Itu karena menurut Charlotte tidak ada yang bisa mengantikan posisi Xander sebagai kakak dan orang nomor satu yang harus selalu berada di sisinya.


Selama mereka hidup, setahunya Charlotte memang suka mempermainkan hati para lelaki. Menurut Xander, gadis itu tidak akan pernah serius dalam menjalin hubungan dengan siapapun dan lelaki manapun karena Charlotte tidak pernah benar-benar mencintai seseorang.


Dan itulah yang memang terus menerus Charlotte lakukan selama beberapa tahun ini. Ia membuat para pria kaya tergila-gila padanya kemudian dengan gampangnya ia mencampakan mereka hanya dalam satu hempasan.


Percaya atau tidak, Xander bahkan sudah sangat sering melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana gadis gila itu secara tega mencampakan dan meninggalkan para pria bodoh itu bahkan tanpa belas kasihan hingga mereka memohon-mohon agar bisa kembali bersama.


Xander sendiri sebenarnya cukup bingung dengan penilaian semua orang terhadap adiknya ini. Selain cantik, apa sebenarnya yang para lelaki itu lihat dari wanita gila dan kasar seperti Charlotte ini hingga mereka sangat tergila-gila dengannya.


Dan saking penasarannya, Xander bahkan pernah menuduh Charlotte menggunakan ilmu hitam untuk menggoda para lelaki itu. Dan tuduhan konyol itu sontak saja membuat Charlotte marah. Gadis itu langsung menginjak kakinya sebagai pelampiasan.


'Dia benar-benar gadis yang kasar,' batin Xander saat teringat itu.


Tapi, bagaimanapun sifat Charlotte, Xander hanya bisa berharap suatu saat nanti akan ada pria yang bisa menaklukan sifat liar, kasar, dan gila dari adik kesayangannya ini.


Xander tiba-tiba saja kembali tertawa pada dirinya sendiri. 'Tapi itu jelas tidak mungkin. Mana mungkin akan ada yang berani menaklukannya. Dia kan gadis gila. Bahkan lebih buruk dari seekor anjing gila.' batin Xander kemudian ia kembali tertawa.


TAKK!


Xander terlonjak kaget saat tiba-tiba Charlotte memukul kepalanya dari arah belakang.


"Hei, bodoh, kau tak inget kataku tadi? Aku bilang kita pergi ke hotel Clinton!" ujar Charlotte


"Iya, iya, aku ingat kok!" jawab Xander dengan nada kesal sambil mengusap kepalanya.

__ADS_1


"Yakin ingat?" tanya Charlotte kesal. "Karena kau baru saja melewati hotelnya!"


"Hah? Hotelnya kelewatan?" seru Xander kaget. Pemuda itu langsung menatap ke luar mobil untuk memastikan ucapan gadis itu.


"Ya, kau baru saja melewati gedung hotelnya. Lagipula kau itu sedang melamunkaj apa sih sampai bisa kelewatan? Kau buang-buang waktuku saja kalau begini." gerutunya.


"Iya, jangan marah-marah terus dong!" ujar Xander lalu bergegas memutar balik arah mobilnya karena hotel yang dimaksud gadis itu memang sudah mereka lewati beberapa saat lalu.


Dan -setelah menghabiskan waktu beberapa menit diperjalanan- disinilah mereka sekarang, di depan gedung hotel Clinton, hotel mewah bintang lima, yang sebenarnya adalah milik kakek Charlotte sendiri.


"Aku turun di sini saja!" ujar Charlotte memasukkan ponselnya ke dalam tasnya.


"Ya, nona cerewet!"  Xander langsung menghentikan mesin mobil yang ia kendarai.


Charlotte membuka pintu mobil untuk turun, sedang Xander hanya melirik dari kaca spion memastikan gadis itu turun dengan aman.


'Ya, siapa tahu kan gadis gila itu akan tersandung gaunnya sendiri nanti' batin Xander kemudian tertawa sendiri


Ah, bahkan hanya dengan membayangkan jika gadis gila itu mempermalukan dirinya sendiri saja sudah bisa membuat hati Xander senang bukan main.


Xander akhirnya menghentikan tawanya saat menyadari kalau Charlotte tengah menatapnya dari luar mobil dengan tatapan tajam.


"Kenapa tertawa sendiri begitu? Kau stres?" tanya gadis itu dengan tatapan curiga.


Xander menggeleng cepat. "Tidak."


Charlotte berbalik untuk menatap gedung hotel itu sebentar sebelum kembali beralih pada Xander. "Aku rasa aku akan lama di sini. Mungkin akan pulang besok pagi. Jadi kau tak perlu menungguku di sini, oke!"


"Lantas, bagaimana dengan jadwal pemotretanmu? Kau bilang tadi ada jadwal pemotretan sore ini."


"Aku sudah mengirimi pesan pada stafnya untuk mengatur ulang jadwal."


"Ck, tidak profesional sekali."


"Aku masuk dulu." ujar Charlotte seolah tak peduli dengan sindiran kakaknya barusan.


Belum juga Xander menjawab apapun, Charlotte tiba-tiba saja mengangkat jari telunjuknya dan mengarahkannya pada pemuda itu.


"Dan ingat, jangan bawa mobilku pergi kemana-mana lagi setelah ini! Langsung pulang saja. Kau tunggu saja di apartemen sampai aku keluar besok pagi. ujar Charlotte memberi perintah bernada ancaman pada Xander baru kemudian melanjutkan langkahnya untuk memasuki gedung hotel itu.


Sementara itu Xander hanya menggedikkan bahunya acuh. "Memangnya aku mau kemana? Aku memang mau pulang. Lagipula siapa juga yang mau melihatnya bermesraan dengan pria bodoh itu" gumam Xander pada dirinya sendiri.


***


✔ Note :


▪Author tidak akan mengubah kesalahan ejaan, typo dan hal lainnya karena faktor KEMALASAN TINGKAT AKUT.


Dan sesungguhnya kemalasan adalah kerajinan yang tertunda.


▪Author peduli dengan kesehatan mata kalian, jadi, kalau kalian kurang suka sama ceritanya, Author sarankan kalian untuk mencari cerita yang lain saja, karena cerita ini bisa menyebabkan sakit mata akut.

__ADS_1


__ADS_2