Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
38.


__ADS_3

*Dikantin


"Kau mengantar koran?" Charlie berseru nyaring, matanya kini tengah melotot menatap Justin yang saat ini duduk tepat di hadapannya.


Sementara itu Justin kini hanya bisa tersenyum canggung pada Charlie. Ia tahu kalau sahabatnya itu akan bereaksi seperti ini setelah mendengar kata-katanya.


Mata Charlie kini sudah membulat sempurna. Dan dengan bantingan kasar ia lalu meletakan sendoknya dan memilih fokus pada sahabatnya itu. "Jadi itu alasan kenapa sekarang kau jarang sarapan?"


"Ya!" Justin mengangguk pelan. "Tapi tidak masalah, Charlie! Aku kan masih bisa sarapan di kampus kalau sempat."


"Kalau sempat kan?" sargah Charlie cepat. "Jadi kalau tidak sempat artinya kau tidak akan sarapan kan?" tanya Charlie dengan senyuman sinis dan membuat Justin langsung tersenyum kaku.


"Sekarang aku tanya padamu, kenapa kau harus menambah pekerjaan sampingan lagi?" tanya Charlie dengan nada tajam.


"Itu karena aku butuh pekerjaan tambahan, Charlie!" jawab Justin.


"Sudah berapa lama kau mengantar koran?"


"Dua hari!" jawab Justin pelan.


"Dua hari?"


Justin kembali mengangguk sementara Charlie hanya mendengus sebal. Ia bahkan sudah hampir berteriak kesal saat ini, namun ia urungkan karena langsung teringat bahwa mereka sedang berada di kantin kampus yang ramai orang.


Charlie menatap Justin tajam. "Seingatku, kau sudah punya banyak pekerjaan,"


"Iya, itu kan-" Justin semakin gugup sekarang. Ia bahkan tidak bisa melanjutkan kalimatnya saat melihat tatapan tajam dari Charlie. "Itu kan masih kurang, Charlie." jawabnya kemudian.


Charlie mendorong jauh piringnya, seketika mood-nya untuk makan hilang begitu saja. Ia menghela napasnya kasar.


"Justin, bukankah aku sudah pernah mengatakan padamu untuk berhenti mengambil banyak pekerjaan. Kau akan mati kelelahan nanti!" ujar Charlie sebal. Ia heran, kenapa susah sekali untuk menasehati sahabatnya satu ini.


Bayangkan saja, seingat Charlie untuk saat ini saja Justin setidaknya sudah punya banyak pekerjaan sampingan. Itu pun sudah dikurangi karena waktu itu Charlie yang sempat mengomel karena tidak mau melihat sahabatnya itu kelelahan.

__ADS_1


Charlie tiba-tiba kembali teringat, semasa SMA dulu Justin pernah pingsan karena kelelahan bekerja. Dan Charlie hanya tidak mau hal buruk itu kembali terulang lagi saat ini.


Ia benar-benar benci fakta bahwa Justin bukan orang bertubuh kuat yang bisa bekerja dua puluh empat jam penuh. Tapi ia juga benci fakta bahwa pemuda itu selalu saja memaksa tubuhnya seakan ia sanggup melakukannya.


Bagaimana jika Justin pingsan lagi?


Bagaimana jika Justin sakit lagi.


Charlie jelas khawatir, karena Justin hanya hidup sebatang kara. Tidak akan ada orang yang bisa mengabarinya jika terjadi sesuatu pada sahabatnya itu. Dan itulah itulah alasan kenapa Charlie selalu meminta Justin untuk mempunyai pacar, agar ada seseorang yang bisa menjaga sahabatnya itu saat ia tak ada.


"Kurangi!" perintah Charlie tegas membuat mata Justin langsung membulat. "Kurangi atau kita tidak akan berteman lagi!" lanjutnya.


Justin mengerjap, ia tampak kebingungan saat ini. "Tidak bisa Charlie. Aku sudah susah payah agar mendapatkan pekerjaan ini." ucapnya dengan nada lirih. "Dan aku juga tidak mungkin tidak berteman denganmu."


Charlie kembali mendengus. "Tapi kau sudah punya pekerjaan, Justin! Kau mengantar pesanan ayam, kau bahkan juga mengambil pekerjaan sebagai editor magang yang sering membuatmu hampir tidak tidur semalaman. Dan kau juga mengatakan punya pekerjaan di minimarket dekat rumahmu tiap akhir pekan kan?"


"Dan juga, jangan lupa dengan pekerjaan cuci kendaraanmu itu!" lanjut Charlie lagi.


Justin membulat. "Bagaimana--"


"Charlie aku-" mulut Justin terbuka hendak menjelaskan namun sekali lagi Charlie memotong.


"Kau tau Justin? Aku tidak pernah membahas itu karena aku ingin memberimu kesempatan. Aku mencoba mengerti keadaanmu. Tapi apa ini? Kau bahkan terus menambah pekerjaanmu lagi dan lagi... kau gila!"


Justin hanya bisa menunduk. Saat ini ia benar-benar merasa bersalah karena sudah membohongi sahabat baiknya ini.


Beberapa waktu lalu ia memang bekerja di sebuah pencucian mobil. Ia memang mencuci beberapa buah mobil untuk menambah isi dompetnya. Tapi ia tidak menyangka kalau Charlie akan melihatnya.


"Maafkan aku Charlie" lirih Justin yang saat ini merasa bersalah. "Tapi aku hanya bekerja sebagai pencuci mobil beberapa kali saja dan aku juga hanya mencuci beberapa buah mobil saja, untuk waktu luang. Aku bahkan sudah berhenti bekerja di tempat itu." jelasnya.


Melihat sahabatnya yang menjadi sedih seperti itu, Charlie hanya bisa menghela pelan. Ia mencoba mengontrol emosinya agar kembali mereda.


"Tidak, jangan minta maaf padaku, Justin! Minta maaf saja pada tubuhmu sendiri, kau sudah menyiksa mereka setiap hari!" ujar Charlie mencoba menasehati sahabatnya.

__ADS_1


"Heumm.." Justin menganggukkan kepalanya pelan. Ia masih menunduk dan menatap makanan di hadapannya. "Apa kau marah?"


"Aku tidak marah," jawab Charlie tersenyum, membuat Justin mengangkat kepalanya lalu ikut tersenyum.


"Terima kasih!" ujar Justin pelan.


Charlie menghela napasnya dan menatap Justin selama beberapa detik sebelum akhirnya kembali bicara.


"Justin, berhentilah bekerja dan terimalah bantuan dariku!" ujar Charlie pelan.


Justin menggeleng cepat. "Tidak! Aku tidak akan menerima lagi bantuan apapun darimu!"


Charlie mendengus. "Berhenti menolak bantuan dariku, Justin! Lebih baik kau berhenti dari semua pekerjaan paruh waktumu itu dan bekerja untuk ibuku saja!"


"Aku tidak suka hutang budi pada sahabatku sendiri, Charlie. Jadi berhenti memintaku menerima bantuan apapun darimu, termasuk bantuan dari ibumu!" tegas Justin. "Lagipula kau dan ibumu kan sudah banyak membantuku sejak kita masih sekolah."


Charlie menatap Justin dengan pandangan memohon. "Justin kau-"


"Tidak!" tegas Justin yang langsung memotong kalimat Charlie.


"Hanya sekali ini saja, untuk yang terakhir. Izinkan aku membantumu!"


"Itu bukan membantu, Charlie. Karena jika aku menurutimu, itu hanya akan membuatku merasa punya hutang budi." ujar Justin tegas. Ia menjeda kata-katanya kemudian melanjutkan. "Kau bisa membantuku, tapi dengan doa!"


"Baiklah, terserah kau saja." Charlie akhirnya menyerah. Ia tau sekeras apapun ia mencoba membujuk sahabatnya itu, tetap tidak akan berhasil. Justin terlalu keras kepala untuk sekedar menuruti ucapannya.


Sebenarnya Charlie sendiri berasal dari keluarga yang cukup kaya. Orangtuanya memiliki usaha yang lumayan sukses. Dan ibu Charlie juga sudah sangat sering menawarkan bantuan pada Justin namun pemuda itu selalu saja menolak.


Hanya beberapa kali saja saat Justin mau menerima bantuan dari Charlie. Itu pun karena paksaan yang berlebihan dari Charlie dan ibunya.


Charlie sendiri sebenarnya tidak tega melihat betapa keras hidup sahabatnya itu. Dia selalu ingin membantu, sangat ingin. Namun Justin selalu menolaknya dengan alasan tidak ingin memiliki hutang budi apapun dengan siapapun. Alasan ini yang akhirnya membuat Charlie dan Justin pada akhirnya selalu berdebat.


Charlie menghela pelan kemudian menarik piringnya agar lebih dekat kemudian menyendok kembali makanannya. "Cepat makan makananmu. Kelas kita akan di mulai sebentar lagi. Kita tidak boleh terlambat." ujar Charlie.

__ADS_1


***


__ADS_2