Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
113


__ADS_3

Mengingat posisinya saat ini, Brandon memang tak dapat melihat benda apa yang mengenai leher bagian belakangnya, tapi dia tau pasti kalau itu adalah pisau.


Brandon meringis sakit saat merasakan Xander yang mulai menggores leher bagian belakangnya dengan ujung pisau.


Ia semakin merintih kesakitan saat merasakan pisau milik Xander yang terus menggores kulitnya hingga goresan itu berakhir di punggungnya.


Brandon bisa merasakan darah segar yang mulai keluar dan mengalir di area punggungnya.


Sembari menggelengkan kepalanya, Brandon meruntuki nasibnya. Pria yang berdiri di belakangnya ini adalah orang gila.


Orang gila yang sesungguhnya.


Jika dia tau akan berakhir ditangan 'monster' seperti ini, dia tentu tidak akan pernah mau berurusan dengan Charlotte bahkan sejak awal pertemuan mereka.


Salahkan dirinya sendiri yang sudah berbuat macam-macam dengan gadis itu tadi.


"Ja-jangan... to-tolong.. tolong le-lepaskan aku, berhenti.. kumohon..aku..aku.." tubuh Brandon mulai gemetaran hebat.


"Bicara yang jelas, sial*n!" ujar Xander tajam. "Kau harus memohon dengan benar."


"Lepaskan aku..ku-mohon..." Brandon terus memohon pada Xander.


Xander menyeringai licik kemudian tanpa rasa kasihan ia mendorong kasar tubuh Brandon hingga kembali tersungkur ke atas tanah.


Brandon memegangi leher belakangnya yang terasa begitu sakit dan perih karena goresan pisau milik Xander tadi.


Xander kemudian berjongkok tepat di hadapan Brandon, menatap tubuh pemuda itu sambil terus tersenyum licik.


"Tak ada yang kedua kali." ujar Xander pelan.


"Ini adalah peringatan terakhir untukmu. Jauhi Charlotte jika kau masih ingin hidup lebih lama di dunia ini. Kau dengar!" sentak Xander dengan nada mengancam membuat bulu kuduk Brandon semakin meremang.


"Paham?" tanya Xander memastikan.


"I-iya..a-aku paham." ujar Brandon cepat sembari mengangguk-anggukan kepalanya.

__ADS_1


Dia hanya ingin segera lepas dari psikopat gila dihadapannya ini.


Sejujurnya, Brandon sudah pernah mendengar tentang 'kegilaan' Xander jika ada yang berani berbuat macam-macam pada Charlotte.


Tapi Brandon benar-benar tidak menyangka kalau pemuda itu akan berlaku semengerikan ini.


Selama ia dan Charlotte masih menjalin hubungan bersama pun, dia tidak pernah satu kali pun berbicara pada laki-laki ini.


Xander tidak pernah benar-benar muncul di hadapannya. Hanya sesekali saat ia melihat Xander datang untuk mengantar Charlotte, tapi kemudian dia pergi begitu saja.


Dan di waktu lain, saat ia dan Charlotte berkencan, Xander pernah muncul lebih lama, tapi pemuda itu hanya menunggu di dalam mobil.


Itu sebabnya ia begitu terkejut karena menyadari bahwa Charlotte memiliki kakak yang semengerikan ini.


Alexander Clinton benar-benar mirip seperti monster liar.


Brandon menatap takut-takut pada Xander yang tengah dengan santai memasukan kembali pisau miliknya ke dalam jaketnya.


"Apa yang kau lihat?" bentak Xander saat melihat Brandon yang masih berada di hadapannya, sedang menatapnya dengan tatapan ketakutan. "Kenapa kau masih disini? Cepat pergi sebelum aku berubah pikiran!"


Saat Brandon tak terlihat lagi. Xander langsung menoleh dan buru-buru mendatangi Charlotte yang saat ini tengah berjongkok di dekat Justin.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Xander melirik Justin yang kini tengah meringis memegangi perutnya kemudian pandangannya beralih menatap Charlotte. "Dan bagaimana keadaanmu?"


"Aku baik-baik saja."Charlotte beralih untuk menatap tubuh Justin dengan tatapan khawatir. "Tapi dia-"


"A-aku tidak apa-apa" potong Justin lalu mencoba untuk bangkit namun tubuhnya terasa begitu lemas. Pandangannya juga mulai memudar. Ia kembali terduduk saat merasakan nyeri pada tubuhnya bekas pukulan dan juga tendangan Brandon tadi.


"Tubuhnya penuh lebam." gumam Xander setelah memperhatikan dengan teliti.


"Aku rasa kakimu juga terluka," ujar Charlotte pada Justin dengan nada khawatir. Matanya memandangi kaki Justin yang terlihat lebam. Charlotte yakin itu pasti bekas pukulan balok Brandon padanya tadi.


Menurut Charlotte, kondisi Justin saat ini bukan sesuatu yang bisa di anggap enteng. Pemuda ini baru saja diserang oleh Brandon, dihajar habis-habisan dan dipukuli dengan balok kayu.


Seumur hidup Charlotte tak pernah benar-benar melihat kejadian mengerikan seperti ini dengan kedua matanya. Hanya melalui film yang ia tonton.

__ADS_1


"Xander bantu aku membawanya menuju mobil," pinta Charlotte pada sang kakak.


Xander menghela dan mulai membantu Justin untuk bangun dari posisinya.


"Tapi kau akan membawanya kemana?" tanya Xander penasaran.


Pertanyaan Xander itu sontak membuat Charlotte terdiam. Benar juga. Kemana ia akan membawa Justin yang terluka seperti ini?


"Rumah sakit?" tanya Xander sekali lagi, sementara Charlotte masih terdiam.


Charlotte beralih untuk menatap Justin. Pemuda ini jelas butuh pergi ke rumah sakit. Itu yang utama untuk saat ini. Kondisinya sangatlah parah bahkan nyaris tak bisa bangun.


'Tapi kalau Justin masuk rumah sakit, kakeknya bisa tahu dengan mudah.' batin Charlotte.


Charlotte buru-buru menggelengkan kepalanya. Tidak, kakeknya jelas tidak boleh tau tentang masalah ini. Jika kakeknya tahu bahwa penyebab Justin terluka adalah karena dirinya, kakeknya itu pasti akan menghabisinya detik itu juga.


"Tidak perlu ke rumah sakit." ujar Justin memecah kesunyian. "Aku tidak apa-apa."


"Apanya yang tidak apa-apa?" sindir Xander sinis.


"Rumah sakit adalah tempat yang tepat untukmu saat ini." ujar Charlotte, meski ragu ia tetap ingin membawa Justin ke rumah sakit.


"Tidak kumohon, jangan ke rumah sakit." mohon Justin. Ia punya banyak pertimbangan. Jika ia dibawa ke rumah sakit biaya pengobatannya akan sangat mahal.


"Kau yakin?" tanya Xander yang langsung mendapat anggukan sebagai jawaban dari Justin.


Xander lalu menoleh pada Charlotte untuk meminta pendapat pada adiknya itu.


"Jadi bagaimana?" tanya Xander.


Charlotte mendongak untuk menatap Xander dengan pandangan yang tak bisa diartikan.


Setelah beberapa detik berpikir, Charlotte menghela napas perlahan.


"Aku tau kita harus kemana!" jawab Charlotte.

__ADS_1


***


__ADS_2