Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
42.


__ADS_3

*Ruang kerja Tuan Romanov


"Paul, aku ingin kau meminta seseorang untuk mengirim beberapa dokumen penting ke kantor utama." ujar tuan Romanov sambil fokus menyaring beberapa tumpukan dokumen yang terlihat mengacaukan mejanya.


Ia lalu meletakkan setumpuk dokumen yang sudah di susun ke sudut lain di atas meja kerjanya.


"Dokumen yang ini juga!" ujar tuan Romanov lagi sambil menyerahkan dokumen yang dia maksud pada Paul yang tengah berdiri di dekatnya.


Perintah bernada tegas itu ditanggapi Paul dengan anggukan kepala.


Paul dengan cepat melangkah mendekat ke meja majikannya dan meraih tumpukkan dokumen yang dimaksud.


"Saya akan meminta pelayan untuk segera mengirimkan dokumen ini ke kantor utama, tuan." ujar Paul kemudian.


"Dan juga, kau hubungi bagian keuangan yang mengurus usaha restoran dan kafe milik kita. Kau katakan padanya untuk segera mengirimkan laporan keuangan seluruh restoran dan kafe, melalui email. Aku perlu membaca laporan keuangan dan pemasukan kafe kita minggu ini, secepatnya." perintah tuan Romanov lagi, suaranya terdengar penuh dengan wibawa.


"Baik tuan!" Paul kembali mengangguk patuh dan segera pamit pergi untuk menjalankan perintah tuan Romanov barusan.


"Ah, atau begini saja..." ujar tuan Romanov tiba-tiba.


Suara itu membuat gerakan tangan Paul yang sebelumnya hendak meraih gagang pintu seketika langsung terhenti.


Paul lalu menolehkan kepalanya, menatap tuan Romanov, menunggu majikannya itu bicara.


"Ya, tuan?" tanyanya.


"Em, begini... aku rasa kau tidak perlu menghubungi bagian keuangan , Paul." tuan Romanov terdengar sedikit ragu.


"Tidak jadi tuan?" tanya Paul bingung.


"Ya! Tidak perlu." ujar tuan Romanov sambil menganggukkan kepalanya. "Sepertinya aku akan langsung pergi saja ke sana."


"Anda ingin mengunjungi restoran dan kafe, tuan?"


Tuan Romanov mengangguk. "Ya, lagipula aku sudah lama tidak berkunjung ke sana dan melihat-lihat. Jadi hari ini aku akan turun langsung untuk mengecek kondisi dari seluruh usaha termasuk restoran dan juga kafe milikku." jelas tuan Romanov.


"Segera kau kabari Mario! Aku akan pergi ke sana bersamanya nanti, setelah jam makan siang. Aku tidak boleh pergi terlalu sore. Karena terlalu banyak tempat yang akan aku kunjungi. Mengecek usaha seperti ini bisa membuatku pulang sampai malam hari nanti."


"Baik tuan."


.


.


Itu pukul satu siang saat Charlotte datang dan mendekat ke meja makan untuk makan siang.


Charlotte menarik kursi dan langsung duduk tepat di samping Xander. Sementara itu di dekatnya, Charlotte juga melihat sang kakek yang juga sudah ada disana, sedang fokus menikmati makan siangnya.

__ADS_1


Dan saat itu juga kepala Charlotte langsung mendapatkan ide tentang bagaimana cara untuk berbohong pada sang kakek agar bisa pergi ke pesta Laurent nanti malam


CharlotteĀ membenarkan posisi duduknya lalu menatap sang kakek dengan raut wajah serius.


"Kakek, aku ingin mengatakan sesuatu." ujar Charlotte tiba-tiba dan membuat Xander yang duduk di sebelahnya langsung menoleh.


Perasaan Xander tiba-tiba jadi tak enak. Ia tahu pasti apa yang akan Charlotte lakukan saat ini. Adiknya itu pasti akan melancarkan rencananya untuk berbohong pada sang kakek.


"Ada apa, Charlotte?"


"Aku-"


"Kau akan mengatakannya sekarang?" bisik Xander, menyela Charlotte yang sudah hendak bicara.


"Kalau bukan sekarang, kapan lagi?" jawab Charlotte santai.


"Apa kau gila, Charlotte? Kita bahkan belum merencanakan apapun. Jangan melakukan sesuatu semaumu sendiri seperti ini." Xander berusaha mengingatkan adiknya itu.


"Kenapa kalian malah berbisik seperti itu?" ujar tuan Romanov membuat percakapan kecil antara Xander dan Charlotte langsung terhenti.


Tuan Romanov meletakkan sendoknya ke atas piring kemudian fokus menatap Xander dan Charlotte secara bergantian.


"Apa yang ingin kau katakan, Charlotte?" tanya Tuan Romanov.


Charlotte memandang Xander sebelum menjawab.


"Ke apartemen?" tuan Romanov menatap kedua cucunya heran. "Apa kalian ingin kembali tinggal di sana?"


Xander tampak terkejut dengan ucapan sang kakek sementara Charlotte masih tetap berperilaku santai.


"Bukan. Kakek jangan salah sangka. Kami bukan bermaksud tinggal disana. Tapi kami-"


Xander tiba-tiba jadi merasa ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Ah, lebih tepatnya tidak tahu harus bicara apa lagi. Ia tidak pandai mengarang alasan dan berbohong seperti adiknya.


Yah, lagipula sejak awal ini semua adalah rencana Charlotte. Harusnya gadis itu yang berbohong. Selain itu mereka juga belum merencanakan apapun untuk melakukan kebohongan ini.


Xander menoleh pada Charlotte, mengharap bantuan dari adiknya itu. Namun yang ia dapati hanyalah kekesalan, karena melihat adiknya itu hanya diam saja sambil menikmati makanannya dengan santai.


Apa-apaan itu?


"Kenapa kalian ke apartment? Ada yang ingin dilakukan disana?" tanya tuan Romanov lagi.


"Ka-kami hanya-"


Xander menelan ludahnya kasar, ia merasa bingung harus berkata apa lagi sekarang. Catat, ia tak bisa berbohong.


"Aku dan Xander hanya ingin mengecek keadaan apartment kami saja." jelas Charlotte berusaha memecahkan kebekuan yang sedang terjadi.

__ADS_1


Charlotte lalu melanjutkan, "Dan juga, ada beberapa barang yang harus aku ambil, seperti gaun untuk pemotretan, sepatu untuk fashion show dan barang penting lainnya. Aku butuh Xander untuk menemaniku pergi karena barang yang akan ku bawa cukup banyak."


Tuan Romanov menatap kedua cucunya lalu mengangguk paham. Ya, sebenarnya ia tidak merasa keberatan dengan semua itu, tapi entah kenapa ada yang tampak aneh, terutama ekspresi gugup dari Xander.


Charlotte mengetahui ekspresi curiga sang kakek langsung buru-buru bicara.


"Kakek tenang saja. Aku dan Xander akan kembali lagi kesini nanti malam. Jam berapa kami belum bisa memutuskan mengingat banyak sekali barang yang akan kami bawa." ujar Charlotte menjelaskan.


"Ah, baiklah kalau begitu." tuan Romanov kembali mengangguk paham. "Apa kalian butuh bantuan dari pelayan?"


"Tidak." jawab Charlotte cepat, "Yang aku butuhkan hanya Xander."


"Begitukah? Sungguh tak butuh bantuan pelayan?"


"Ya. Kakek jangan khawatir. Kami bisa melakukannya berdua saja." ujar Charlotte. "Kami akan pergi siang ini dan pulang nanti malam."


Tuan Romanov kembali mengangguk. "Baiklah kalau begitu."


Charlotte menghela napasnya lega mengingat sang kakek yang sama sekali tak curiga padanya.


Namun tiba-tiba saja tuan Romanov menyadari sesuatu. "Oh ya, kalian lanjutkan saja makan siangnya berdua."


"Apa kakek akan pergi?" tanya Xander menanggapi.


Tuan Romanov mengangguk. "Ya, sebenarnya kakek harus pergi sekarang. Kakek ingin mengunjungi beberapa usaha keluarga kita."


"Ke restoran?"


"Benar. Kakek sudah lama tidak melihat-lihat perkembangan kafe dan juga restoran kita." ujar tuan Romanov yang langsung beranjak pergi tanpa menunggu respon apapun dari kedua cucunya itu.


Setelah kepergian tuan Romanov, Charlotte dan Xander masih bertahan di meja makan untuk melanjutkan menikmati makan siang mereka.


"Kenapa kau mendadak bicara pada kakek begitu? Kita bahkan belum merencanakan alasan apapun tadi."


"Tapi kau kan bisa melihat, semua berjalan dengan sangat baik kan?" ujar Charlotte mengerlingkan matanya pada Xander.


Xander mendecih. "Ck, baik apanya."


"Ah, aku sangat pandai dalam berakting rupanya." lanjut Charlotte memuji diri sendiri mengabaikan Xander yang tengah mengomel.


"Akting? Berbohong maksudmu?" ujar Xander dengan nada menyindir sementara Charlotte hanya membalas sindiran itu dengan senyum miring.


"Aku lebih suka menyebutnya dengan kata akting!" jawab Charlotte sambil terus tersenyum.


"Dasar gadis licik," ujar Xander masih dengan senyum sinis di wajahnya.


Charlotte memutar bola matanya dan menjawab dengan cepat. "Yah, itu bukan licik namanya! Tapi pintar."

__ADS_1


***


__ADS_2