
Charlotte terbangun saat merasakan hangatnya sinar matahari pagi yang menerpa wajahnya. Ia membuka matanya perlahan lalu mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan cahaya yang membuat matanya silau.
Tubuhnya menggeliat, mencoba merenggangkan tubuhnya di atas kasur, baru kemudian bangkit dari tempat tidur. Ia lalu berjalan pelan menuju kamar mandi untuk bersiap-siap menuju kampus.
Beberapa saat kemudian, Charlotte keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaiannya yang berbeda. Setelahnya Charlotte memutuskan untuk keluar dari kamarnya menuju ruang makan.
Charlotte menuruni tangga, berjalan pelan menuju meja makan. Sesampainya Charlotte di sana, ia lalu menarik kursi dan mendudukan dirinya di kursi itu.
Ia menoleh pada Xander yang duduk tepat di sebelahnya. Pemuda itu kini tengah duduk sambil terfokus memakan roti tawar yang ada di tangannya.
Charlotte menuang jus wortel ke dalam gelas sambil sesekali mengecek ponsel, melihat komentar orang-orang di sosial media miliknya. Sementara Xander kini sibuk mengoleskan selai kacang favoritenya ke atas roti tawar sambil bersenandung kecil.
Xander mulai merasakan kecanggungan di antara mereka. Charlotte tak seperti biasanya. Gadis itu tak banyak bicara.
"Kau mau selai kacang nggak?" tawar Xander sambil mengangkat dan memperlihatkan toples selai kacang di tangannya, mencoba mencairkan suasana.
Charlotte menoleh lalu menggeleng. "Nggak! Aku lagi nggak sarapan hari ini, minum jus aja!"
"Ya sudah!" Xander menggedikkan bahunya acuh lalu kembali mengoleskan selai kacang itu di atas roti tawar miliknya. "Kalau kau tidak mau, biar aku saja!"
"Kakek dimana? Kenapa belum turun?" tanya Xander pada pelayan yang tengah menuang jus di gelas Xander.
"Tuan besar masih di ruang kerjanya, tuan!"
"Apa kakek tidak turun untuk sarapan?"
"Tuan besar se-"
"Kenapa kau peduli?" potong Charlotte acuh. "Kakek hanya belum turun, jika dia ingin sarapan dia pasti akan turun kan. Ah, jangan-jangan kau mau ikut lagi ke kantor dengannya, kan?"
Xander menatap Charlotte. Ia yakin gadis itu pasti masih marah soal semalam.
"Aku hanya bertanya, Charlotte." ujar Xander.
"Terserah." Charlotte menenggak jusnya sembari mengalihkan pandangan ke arah lain.
Tidak lama setelah itu, tuan Romanov tiba di ruang makan di ikuti Paul yang berjalan di belakangnya, tampak setia mengikuti di belakang.
__ADS_1
Tuan Romanov lalu ikut duduk di meja makan, tepat di hadapan Xander kemudian mengambil roti tawar dan setoples selai, lalu mengoleskannya perlahan ke atas roti.
"Jam berapa kau pulang semalam, Xander?" tanya tuan Romanov.
Xander yang di ajak bicara menoleh singkat pada Charlotte lalu menoleh pada sang kakek.
"Aku tidak begitu ingat kek!" jawab Xander dengan ragu. "Setelah Paul menelepon Dimitri agar meminta aku untuk segera pulang semalam, aku langsung pulang tanpa melihat jam lagi."
"Benarkah?"
"Ya!" balas Xander. "Em, tapi mungkin aku sampai di mansion sekitar pukul sembilan malam atau bisa jadi lebih, kek!"
Tuan Romanov mengangguk lalu tersenyum.
"Dimitri sempat menelepon kakek semalam. Dia mengatakan pada kakek kalau kau sangat fokus saat mempelajari tentang dokumen hotel semalam bahkan sampai lupa waktu." ujar tuan Romanov menjelaskan dengan antusias.
"Ah, tidak juga kek." jawab Xander canggung.
"Dimitri juga mengatakan ada saat-saat dimana dia memanggilmu beberapa kali tapi kau tidak mendengarnya karena terlalu fokus pada dokumen-dokumen itu."
"Dia mengatakan itu pada kakek?" tanya Xander sedikit terkejut.
Dan setelah mendengar perkataan tuan Romanov padanya barusan, terlihat wajah Xander seketika berubah menjadi kaku.
Mata Xander lalu kembali melirik singkat ke arah sang adik, Charlotte. Suasana canggung di antara mereka semakin parah saja. Ia menghela pelan sambil membayangkan amukan macam apalagi yang akan dia terima dari gadis cerewet itu di pagi hari ini.
Bayangkan saja, baru semalam dia dan gadis itu bertengkar karena masalah kepergiannya yang mendadak bersama sang kakek kemarin pagi. Tidak mungkin kan pagi ini mereka harus kembali bertengkar karena sang kakek yang kembali membahas perihal urusan kantor dengannya di hadapan Charlotte begini.
Semalam saja, entah mungkin karena beruntung atau apa, Xander masih bisa dengan cepat berbaikan dengan gadis pemarah itu. Dan jika gadis itu marah lagi, ia yakin tidak akan ada keberutungan yang datang-nya dua kali sehingga dia bisa dengan mudah dimaafkan lagi
Xander kembali melirik Charlotte untuk yang kesekian kalinya. Ia lalu menelan ludahnya dengan kasar. Ia gugup karena saat ini ia dapat melihat ekpresi mengerikan dari Charlotte. Raut wajah gadis itu sudah berubah garang karena sang kakek yang sejak tadi terus menerus membahas urusan kantor dengannya.
Dan benar saja, saat ini Charlotte sendiri sudah mulai merasa kesal dengan topik pembicaraan orang-orang di depannya ini, namun ia hanya terlalu malas untuk mengatakan apapun sekarang. Ia hanya diam dan memilih fokus untuk menghabiskan jus miliknya.
Charlotte meletakkan gelas jusnya ke atas meja kemudian menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
Diam-diam Charlotte melirik Xander yang ternyata juga tengah menatap dirinya.
__ADS_1
"Bagaimana, Xander?" tanya tuan Romanov. "Apa kau akan kembali ke hotel dan bertemu dengan Dimitri seperti kemarin?"
Xander yang sebelumnya menatap Charlotte kembali beralih pada tuan Romanov lalu tersenyum masam.
"Ah, masalah itu...em, aku tidak yakin, kek!" jawab Xander sambil terus mencoba menyembunyikan kegugupannya.
"Kenapa tidak?" Tuan Romanov menatap Xander heran. "Kakek rasa kau harusnya bisa lebih sering berkunjung ke hotel dan juga kantor utama. Ya, sekalian untuk belajar tentang manajemen di kantor kita. Hm, bagaimana kalau hari ini kau ikut dengan kakek ke kantor?" tawar tuan Romanov.
Xander tersenyum kikuk. "Em, itu-"
Xander sudah hendak menjawab, tapi terpotong karena Charlotte yang lebih dulu bicara.
"Dia masih muda untuk masuk ke kantor, kek!" ujar Charlotte cepat.
Dan, pada akhirnya, mau tidak mau Charlotte harus menanggapi percakapan membosankan ini. Ia sudah tidak tahan dengan sikap kakeknya itu.
Tuan Romanov menoleh pada Charlotte.
"Justru di saat umurnya yang masih muda jadi lebih baik, Lottie! Hitung-hitung agar Xander lebih punya banyak pengalaman." jawab tuan Romanov dengan tenang, namun kata-katanya terdengar sangat tajam.
Charlotte melongos, lalu membuang nafasnya kasar.
"Aku rasa, di umurnya yang sekarang dia justru lebih memilih menghabiskan waktu untuk bersenang-senang denganku daripada pergi ke kantor." balas Charlotte. "Xander juga masih terlalu muda untuk memimpin perusahaan!"
"Lottie, dia memang masih muda untuk memimpin, tapi kakek rasa umurnya sudah cukup untuk pelan-pelan mulai mempelajari semua tentang pekerjaan kakek di kantor."
"Tidak!" jawab Charlotte tajam. "Kita sudah pernah membicarakan tentang ini dulu. Dan bukankah perjanjian kita sejak awal adalah... Xander bisa membantu kakek di kantor saat umurnya sudah menginjak dua puluh enam atau minimal setelah dia lulus kuliah. Dan sekarang ini umur kami baru dua puluh satu tahun bahkan belum lulus kuliah!"
Charlotte menatap sang kakek dengan tatapan kesalnya. "Kuliah saja dia belum selesai dan kakek sudah melanggar perjanjian yang sudah kita buat dengan membawanya ke kantor lebih cepat, jangan bercanda!" lanjutnya.
"Ya, Lottie tapi ini untuk kebaikan Xa-"
"Bisa hentikan pembicaraan ini?" Charlotte murka. Ia bahkan menaikkan nada bicaranya saat ini. "Kalian semua mulai terdengar menyebalkan sekarang!"
Tuan Romanov menggeleng. "Dengar Charlotte! Kau harusnya bisa mengerti kalau-"
BRAKK!
__ADS_1
***