
Suara salah satu klub malam di tengah kota mulai riuh dan ramai bercampur dengan teriakan orang-orang yang berada di dalamnya. Dj kini memutar musik yang menggema keras di seluruh ruangan yang luas itu membuat siapapun yang mendengarnya mulai menari.
Tapi tidak dengan Charlotte, gadis itu hanya duduk di meja bar dengan wajah cemberut dan perasaan kesal sambil terus menegak minuman di tangannya.
Charlotte meletakkan gelas kosong di tangannya dengan bantingan kasar dan mengumpat sejadi-jadinya saat mengingat kejadian yang baru saja ia alami.
Ck, bahkan untuk melupakan kejadian itu saja ia tidak bisa. Entah sudah berapa banyak minuman ker*s yang sudah ia habiskan agar dapat membuat rasa kesal terhadap dirinya sendiri bisa hilang.
'Ada apa ini? Kenapa bayangan pemuda itu belum juga hilang dari kepalaku?' batinnya seraya menjambak-jambak rambutnya sendiri dengan kesal.
Charlotte mengangkat kepalanya dan menatap kembali gelas minumannya yang kosong.
"Hei kau, kemari!" suara Charlotte terdengar sedikit samar karena tertutup oleh suara musik yang nyaring.
Sang bartender yang di panggil tadi menoleh dan langsung berjalan mendekat. "Ya nona? Apa ada yang anda butuhkan?" tanya si bartender.
Namun bukannya menjawab, Charlotte justru malah terdiam. Ia menatap bartender itu dari atas ke bawah dan sontak saja langsung membuat sang bartender yang tidak paham situasi itu, menjadi sedikit malu karena di tatap seperti itu.
"Permisi Nona?!?" ujar bartender itu lagi sambil menunduk malu. "Apa ada yang anda inginkan?"
Charlotte tersadar, kemudian berdecak kesal. Ia mendorong maju gelasnya. "Ini! Tambah minumannya."
Sang bartender itu lalu mengangguk dan kembali menambah minuman pada gelas kosong yang ada di hadapan Charlotte.
Charlotte lalu kembali menegak minuman di tangannya itu dalam sekali tegukan dan kembali membanting gelas miliknya ke atas meja bar.
"Oke! Sepertinya aku sudah gila. Bahkan wajah bartender ini saja berubah mirip dengan wajah pemuda itu." ujar Charlotte lalu membentur-benturkan kepalanya di meja bar. Ia berharap agar bisa menghilangkan pikirannya tentang pemuda kafe itu.
Bukankah ini aneh?
Kenapa bayangan pemuda itu terus, terus dan terus muncul di kepalanya.
Ia mengeluh dalam hati.
Kenapa susah sekali menghilangkan bayangan pemuda itu dari pikirannya. Bahkan semakin ia mencoba untuk melupakan bayangan pemuda itu malah semakin terlihat jelas.
"Hai, kenapa kau hanya sendirian saja? Mau aku temenin?" ujar seorang pria berparas tampan mencoba menggodanya.
__ADS_1
Charlotte melirik sekilas pada pria itu, ia tidak tertarik sama sekali dan hanya memutar bola matanya malas. Ia sedang tidak mood untuk bermain-main malam ini.
Pria itu bergerak mendekat. "Kenapa diam saja?" tanya pria itu.
Tidak menjawab, Charlotte lalu memilih bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya dengan sedikit pelan dan sempoyongan, hendak kembali ke ruangan pesta Laurent tadi.
Namun saat melewati lorong yang menuju ke ruang itu, tiba-tiba saja Charlotte merasakan tangannya di tarik oleh seseorang yang ia duga adalah pemuda yang baru saja mencoba menggodanya.
"Apa-apaan, lepas!" pekik Charlotte marah dan berusaha menepis tangannya dari pegangan pria itu. Namun cengkraman pria itu lebih kuat membuat Charlotte meringis kesakitan.
"Lepas, brengs*k!" teriak Charlotte namun pria itu malah mendekatkan wajahnya bersiap untuk mencium Charlotte.
"Menjauh dari adikku" teriak seseorang dengan suara berat, terdengar sangat marah. Kemudian…
Bugh!
Tepat saat itu juga, tubuh pria mesum itu langsung terjungkal ke atas lantai dengan darah segar yang mengalir keluar dari sudut bibirnya.
Charlotte yang turut jatuh ke lantai lalu menoleh pada lelaki yang baru saja berteriak itu dan mendapati Xander, sang kakak kini tengah berdiri di dekatnya.
Charlotte tersenyum saat melihat Xander yang tengah berjalan ke arahnya, pemuda itu semakin mendekat, masih dengan raut marahnya.
"Itu baru kakakku!" racau Charlotte mencoba untuk berdiri. Namun karena pengaruh alkoh*l yang terlalu kuat, tubuh Charlotte langsung oleng dan membuatnya kembali terjatuh di atas lantai.
"Ayo bangun!" ujar Xander tidak terlalu peduli dengan ucapan Charlotte barusan dan bergegas membantu Charlotte untuk bangun.
Charlotte mencoba berdiri sambil terus bicara tak jelas. "Ya, benar! Ayo kita bangun. Jangan pikirkan pemuda tampan bodoh itu lagi. Ah, dia tampan, tapi dia tidak menyukaiku." racau Charlotte.
Xander menaikkan sebelah alisnya, ia heran tentang apa dan siapa yang sedang di bicarakan adiknya itu.
Namun sedetik kemudian ia mengibaskan tangannya di depan wajahnya. "Mulutmu bau minuman keras. Apa kau minum melebihi syarat yang sudah aku tentukan?"
Charlotte menggeleng lucu. "Aku tidak minum lebih dari syarat kok. Kau bilang satu botol kan? Ya sudah, jadi aku minumnya pakai gelas." ujar Charlotte kemudian tertawa sendiri. "Yang menuang minuman juga bartender, salahkan saja dia!"
"Kita pulang!" ujar Xander karena melihat adiknya sudah mulai bicara tak jelas.
Charlotte langsung menggeleng.
__ADS_1
"Tidak! Tidak bisa. Ini bahkan baru jam dua belas." ujar Charlotte memberontak, membuat tubuhnya hampir jatuh.
Laurent datang dan bingung saat melihat seorang pria terbaring pingsan di dekat mereka. Laurent menggedikkan bahunya acuh kemudian ikut membantu Charlotte.
"Dia! Kenapa dia harus terus muncul di kepalaku!" ujar Charlotte dengan nada marah sambil menunjuk ke arah depannya, lalu dia tersandung dalam langkahnya, jika bukan karena Xander, dia pasti sudah jatuh.
Xander dan Laurent mengikuti arah jari telunjuk Charlotte, tapi tidak ada apa-apa di sana.
Hanya patung.
Laurent terkekeh. "Dia mabuk berat!"
"Itu sudah jelas." jawab Xander.
"Kau bisa menanganinya?" Laurent bertanya sambil melihat Xander yang terlihat sedikit kepayahan untuk menjaga Charlotte yang sedang mabuk itu agar tetap berdiri tegak.
Xander menghela. "Bisa, tapi ini jelas bukan hal baik kalau kita bawa dia ke ruangan pesta lagi."
Laurent tampak berpikir sebentar kemudian menjentikkan jarinya setelah mendapat ide bagus.
"Gimana kalau ke ruangan kantorku saja." tawar Laurent menatap Xander meminta persetujuan. "Ini masih jam dua belas, kita biarkan dia tidur dulu di sana, sekalian kau minumkan dia air putih dulu."
Xander langsung mengangguk setuju.
"Oke!" ujar Xander lalu membopong tubuh Charlotte dan mulai mengikuti Laurent menuju ruangannya.
"Si*al, Lottie! Kakek pasti akan membunuhku malam ini!" gerutu Xander. "Dan juga pemuda mana yang dia maksud sejak tadi. Apa tadi dia baru saja bertemu seseorang yang menolak dan mencampakanya?"
***
✔ Note :
▪Author tidak akan mengubah kesalahan ejaan/EYD karena faktor KEMALASAN TINGKAT AKUT
Dan sesungguhnya kemalasan adalah kerajinan yang tertunda.
▪Author peduli dengan kesehatan mata kalian. Jadi, kalau kalian kurang suka sama ceritanya, Author sarankan kalian untuk mencari cerita yang lain saja, karena cerita ini bisa menyebabkan sakit mata akut.
__ADS_1