Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
46.


__ADS_3

*Loffey Cafe


Justin menatap para pelanggan yang saat ini sedang menikmati menu pesanan masing-masing. Beberapa datang dan beberapa pergi. Cukup melelahkan memang, namun bagi Justin ini adalah hal yang biasa, sangat biasa malah karena sebelumnya dia sudah sering melayani banyak orang seperti ini.


Semuanya tampak mudah bagi Justin hari ini, Harry bahkan mengatakan kalau Justin sangat cepat saat menghafalkan daftar menu-menu yang tersedia di kafe itu. Bayangkan, Justin hanya menghafal seluruh menu di kafe itu selama satu jam, dan sejauh ini semua pekerjaannya terlaksana tanpa kendala.


"Justin Kim!"


Justin tersentak saat mendengar namanya di panggil oleh pelayan lain. Ia pun langsung berlari kecil mendekat pada rekan kerjanya itu.


"Ya, ada apa?"


"Tolong kau antar minuman ini ke meja nomor dua belas! Itu meja yang itu!" ujar pria itu sambil menunjuk meja yang tidak jauh dari mereka.


"Baik!" jawab Justin patuh sambil mengambil nampan yang di berikan pemuda tadi.


Justin berbalik untuk mengantarkan menu pesanan itu. Namun ia tidak menyadari jika saat itu beberapa rombongan orang tengah berjalan melewatinya. Hingga akhirnya..


BRUUKK!


Tabrakan pun tak terelakan.


Justin yang menabrak salah satu orang dalam rombongan itu sontak kehilangan keseimbangannya, membuat nampan yang di bawa olehnya oleng sehingga membuat kedua gelas minuman yang berada di atasnya itu langsung tumpah.


Namun yang lebih membuat mata Justin semakin membulat adalah saat ia menyadari jika tumpahan minuman yang baru saja jatuh itu mengenai pakaian orang yang ia tabrak barusan.


Justin membeku seketika dengan gugup ia mendongak menatap takut pada orang yang baru saja ia tabrak. Ia menelan ludahnya kasar saat mendapati jika orang yang baru ia tabrak itu adalah seorang pria paruh baya dan saat ini tengah menatapnya tajam.


"Apa yang telah aku lakukan, ma-maafkan saya tuan!" ujar Justin sambil membungkukkan badannya seraya mengucapkan kalimat maaf berkali-kali pada pria paruh baya itu.


"Bi-biar saya bersihkan tuan," ucapnya lagi sambil mengeluarkan kain bersih dari kantong celananya hendak membersihkan pakaian pria paruh baya itu.


"Tidak, tidak perlu!" ujar lelaki itu pelan.


Justin lalu melangkah mundur mendengar kalimat penolakan dari pria itu. Ia lalu berdiri terpaku pada sisa keterkejutannya, menatap sisa cairan minuman yang ia tumpahkan dan saat ini sudah terlihat mengotori pakaian pria paruh baya yang berdiri di hadapannya itu.


Ia lalu menunduk untuk menatap gelas minuman yang kini sudah pecah berantakan di atas lantai. Justin lalu kembali menatap pakaian pria tua yang sudah kotor karena tumpahan kopi itu berkali-kali, secara bergantian.


Sekali lagi Justin mendongak, menatap takut pria paruh baya itu. Kini matanya dan pria itu bertemu. Ia menelan ludahnya kasar saat menyadari pria itu juga tengah menatap wajahnya lekat. Tapi Justin mengeryit bingungkarena menyadari jika tatapan itu bukanlah tatapan marah atau kesal.

__ADS_1


Dan satu keanehan lainnya adalah, ia seperti pernah melihat pria paruh baya di hadapannya itu.


"Kau-" ujar pria paruh baya itu seraya mengangkat tangannya menunjuk Justin.


'Mati aku!' batin Justin. Ia semakin menundukkan kepalanya, tak berani menatap wajah pria paruh baya di hadapannya itu.


"Ma-maafkan saya tuan. Saya benar-benar tidak sengaja!" ucap Justin masih terus menundukan kepalanya takut.


Seorang pria muda berjas kemudian datang dan langsung mendorong mundur tubuh Justin. "Apa yang kau lakukan? Beraninya kau menumpahkan minuman pada-"


"Mario hentikan!?" ucap lelaki paruh baya itu datar, memotong ucapan lelaki muda berjas yang tiba-tiba datang entah dari mana dan langsung berdiri tepat di sampingnya.


"Apa kau tidak apa-apa?" tanya pria paruh baya itu sambil menatap Justin.


Justin lalu mengangkat kepalanya dan menatap bingung pada pria paruh baya itu. "A-apa?"


"Aku bertanya, apa kau tidak apa-apa?" tanya pria itu lagi.


"Kau ini, bukankah kau pemuda yang--"


"Ada apa ini?" tiba-tiba Harry datang mendekat pada mereka dan langsung menghentikan ucapan pria paruh baya itu.


"Aku baru tiba!" jawab pria paruh baya itu. "Aku datang kemari untuk mengunjungi kafe."


Justin kini hanya terdiam memperhatikan Harry yang sedang bicara dengan nada yang sangat sopan pada pria paruh baya itu.


'Mereka saling mengenal?' batin Justin kebingungan.


Sementara itu, pria paruh baya yang Justin ketahui bernama tuan Romanov itu masih sesekali menatap ke arah Justin dengan tatapan yang sulit diartikan. Entah kenapa seperti hanya Justin saja yang menjadi fokus utamanya saat ini.


Pemuda yang di panggil Mario tadi dengan cepat melangkah maju mendekat pada Harry. "Apa-apaan ini, Harry? Kenapa kau menerima karyawan ceroboh seperti ini untuk bekerja di sini. Kau lihat yang sudah dia lakukan pada tuan Romanov?" ucap Mario sambil menunjuk pakaian tuan Romanov yang sudah basah karena tumpahan minuman.


"Apa?" mata Harry seketika membulat kemudian dengan cepat ia menoleh pada Justin.


"Ma-maaf Harry! Aku benar-benar tidak sengaja menumpahkan minuman pada tuan ini." Justin menatap takut pada Harry kemudian kembali menundukkan kepalanya.


Saat ini dia benar-benar merasa sangat bersalah pada seniornya itu. Harry sudah sangat membantu Justin untuk mendapatkan pekerjaan ini. Tapi lihat sekarang, bukannya berterima kasih, dia malah semakin merepotkan pemuda itu.


Harry menatap Justin. "Justin, ka-"

__ADS_1


"Hentikan!" ujar tuan Romanov tiba-tiba. "Ada apa dengan kalian? Kenapa jadi sangat berlebihan begini, ini hanya air."


Mario bergerak maju. "tapi tuan, dia-"


"Aku bilang tidak apa-apa Mario!" ujar tuan Romanov tegas. Suara tuan Romanov itu sontak membuat beberapa pengunjung di tempat itu terkejut dan menoleh.


Justin semakin mengeratkan pegangannya pada nampan di tangannya. Dia benar-benar merasa tak enak dengan semua kegaduhan ini.


"Aku sudah bilang ini hanya air!" ujar tuan Romanov datar sambil kembali melirik pada Justin.


"Bukan itu maksud saya tuan," Harry menggaruk tengkuknya canggung. "Dia ini adalah pegawai baru yang menjadi tanggung jawab saya. Dan tentunya saya merasa sangat tidak enak pada anda!"


"Tidak masalah!" ujar tuan Romanov dengan nada santai. "Aku baru selesai mengunjungi beberapa pabrik, kafe dan restoran tadi. Aku memang memilih kafe ini untuk dikunjungi paling akhir, karena menurut info yang aku dengar kafe ini adalah yang paling ramai di antara usahaku yang lain."


"Aku akan ke ruanganku sekarang dan mengganti pakaianku!" ujar tuan Romanov melanjutkan kalimatnya. "Dan aku mau kau membawakan laporan keuangan bulan ini ke ruanganku."


"Baik tuan. Oh, iya apa anda ingin minum sesuatu tuan?" tanya Harry masih sedikit canggung.


"Tidak perlu." jawabnya datar. "Aku sedang tidak ingin minum apapun sekarang,"


Harry mengangguk sopan, walau raut wajahnya sudah benar-benar terlihat tidak enak.


Tuan Romanov kemudian beralih pada Mario. "Kau ambilkan pakaian gantiku di mobil dan bawa ke ruanganku, saat ini aku ada urusan dengan Harry." ujarnya datar.


"Baik tuan!" jawab Mario patuh.


Setelah Mario pergi, tuan Romanov kembali beralih pada Harry. "Ikut ke ruanganku sekarang, Harry!"


Harry mengangguk patuh kemudian mengikuti tuan Romanov menuju lantai tiga bangunan kafe itu meninggalkan Justin yang masih berdiri kebingungan di tempatnya.


Setelah Harry dan tuan Romanov pergi, beberapa karyawan lain langsung mendekati Justin.


"Kenapa kau melakukan itu, Justin!" ujar seorang pelayan.


"Habislah kau, Justin!" Seru pelayan lain.


"Kau baru sehari bekerja dan langsung membuat masalah pada pemilik kafe ini," timpal pelayan bertubuh paling gemuk sambil menggelengkan kepalanya.


Mata Justin seketika membelalak. "Apa kau bilang? Pe-pemilik kafe ini?"

__ADS_1


***


__ADS_2