Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
90.


__ADS_3

Charlotte sudah tidak tahu berapa lama ia harus menghabiskan waktu di ruang kuliahnya ini. Sejak tadi ia hanya mendengarkan dosen di depan kelas yang tengah bicara panjang lebar tentang mata kuliah.


Ah, sejujurnya Charlotte sudah tak mendengarkan sama sekali isi penjelasan sang dosen. Sejak tadi pikirannya hanya terfokus pada 'bertemu Justin'.


Hari ini Charlotte memang berencana bertemu dengan pemuda itu. Charlotte bahkan tiba lebih pagi dari biasanya. Ya, ia akan memulai rangkaian pdkt-nya dengan pemuda itu hari ini juga.


'Kapan jam mata kuliah ini akan selesai?' batinnya bosan sambil mengecek jam yang ada di tangannya.


Charlotte kembali menoleh ke arah sang dosen. Ia menjaga dirinya sendiri agar sang dosen menganggapnya mendengarkan penjelasannya.


Beberapa saat kemudian jam mata kuliah berakhir dan tepat saat itu ponselnya bergetar.


Sebuah pesan masuk.


Dari Xander.


"Aku tunggu di parkiran. Kalau lambat, kau kutinggal." isi pesan itu.


"Ah... sial*n..." gumamnya sambil membanting ponselnya ke meja kuliahnya.


"Aku harusnya bertemu dengan Justin hari ini tapi gagal karena pria bodoh ini." Charlotte segera memasukkan ponsel miliknya kedalam tas dan berjalan keluar dari ruang kuliah.


Saat ini Charlotte tengah berjalan di lorong kampus untuk menemui Xander yang tengah menunggu di parkiran. Ia terus melangkahkan kakinya sambil melihat sekeliling kampus yang mulai terlihat sepi karena ini memang sudah jam pulang.


Namun saat itu juga langkah Charlotte terhenti. Ia menyeringai ketika melihat sosok Justin di kejauhan dari tempat ia berdiri saat ini. Charlotte bisa melihat dengan jelas pemuda tampan itu tengah berjalan menuju ke arahnya.


Untuk sesaat Charlotte bisa merasakan hatinya yang seakan-akan berbunga. Kebahagiaan yang luar biasa muncul di dadanya saat dia melihat pemuda itu.


"Kami memang berjodoh rupanya." gumam Charlotte girang


"Lihat ini! Seberapa keras kami di pisahkan tetap saja akan bertemu pada akhirnya..."


Dan... tanpa sadar senyum kecil muncul di bibir Charlotte saat ia melihat pemuda itu melangkah semakin mendekat padanya. Charlotte kembali melangkahkan kakinya, berniat untuk mendekat pada pemuda itu.


Sementara itu Justin tetap terlihat berjalan dengan tenang. Pemuda itu sebenarnya tak melihat ke arah Charlotte sama sekali dan tengah fokus pada ponsel di tangannya.


Sampai akhirnya, saat Charlotte semakin mendekat, pemuda itu malah terus melangkah melewati Charlotte... tanpa menyapanya.


Senyum Charlotte sontak memudar.


Detik berikutnya, tubuh Charlotte hanya bisa terpaku selama beberapa saat di posisinya. Otaknya bahkan memerlukan waktu agar bisa memastikan dan meyakinkan dirinya kalau dia baru saja di abaikan, ia diacuhkan.


"Apa-apaan itu? Dia baru aja mengabaikan aku? Bocah itu? Dia berani mengacuhkan aku? Mengabaikan seorang Charlotte Clinton?" Charlotte bergumam tak percaya.


Charlotte mengepalkan tangannya kesal. Untuk pertama kali dalam hidupnya ia di abaikan begini. Selama ini semua laki-laki bahkan selalu mencari perhatian padanya, tapi kali ini...


Namun Charlotte bukanlah gadis yang mudah menyerah. Ia dengan segera berbalik, menatap punggung belakang dari pemuda yang sudah berjalan agak jauh darinya itu.


"Hai kau!" seru Charlotte nyaring. "Berhenti!"


Justin yang mendengar seruan itu sontak saja menghentikan langkah, lalu menoleh. Ia membolakan matanya, kaget saat menyadari siapa yang baru saja berseru nyaring.


"Nona Charlotte?" ujar Justin masih dengan raut terkejut.


"Berhenti disitu!" ujar Charlotte tajam sambil menunjuk Justin.


Tunggu dulu, apa gadis itu memang bicara dengan dirinya... atau siapa?


Justin menunjuk dirinya sendiri. "Apa anda sedang bicara dengan ku, nona?"


Charlotte memutar bola matanya malas.


"Bukan! Bukan bicara denganmu, tapi orang lain."


Dengan polosnya, Justin percaya dan menoleh kekanan dan kirinya, berusaha mencari orang yang di maksud Charlotte.


Ya ampun... Charlotte hampir gila sekarang.


"Sial!" umpat Charlotte frustasi. "Kau ini bodoh atau apa sih?!"

__ADS_1


"Hah?"


"Apa kau tidak lihat kalau di sini hanya ada kita berdua saja? Bukankah sudah jelas aku sedang bicara denganmu..."


Justin segera menganggukkan kepalanya paham.


"Oh.. jadi anda bicara dengan saya..."


Charlotte menghela napas kesal barulah kemudian melangkahkan kakinya mendekat pada pemuda tampan itu.


"Justin Kim!" ujar Charlotte kembali berkacak pinggang tepat di hadapan pemuda itu.


Justin memundurkan dirinya setelah menyadari Charlotte yang terlalu dekat dengan dirinya. "A-ada apa, nona?"


"Kau... berani sekali kau tidak menyapa diriku."


"Ya?" Justin mengerutkan dahinya.


"Apa kau tidak mau menyapa aku?"


Justin semakin mengernyit, menatap semakin bingung pada Charlotte. "Hah?"


"Aku bertanya, kau tidak ingin menyapa aku?"


"Maksud anda, nona?"


"Kita sudah saling kenal kan?" tanya Charlotte yang di balas anggukan oleh Justin.


"Iya."


"Lalu kenapa kau tidak menyapa aku? Kau malah melewatiku begitu saja."


Justin tersenyum canggung, "Ah… masalah itu... i-itu.. s-saya tadi tidak melihat anda, nona."


Charlotte merapatkan mulutnya. Sekali lagi harga dirinya di hantam. Selama ini tidak pernah ada orang yang tidak melihatnya saat dia berjalan kemanapun. Tapi pemuda ini...


"Apa?" Ujar Charlotte tak percaya.


'Pemuda ini...' batin Charlotte. Ia bisa merasakan hatinya memanas untuk beberapa saat. Ia terlalu kesal sekarag. Dan akhirnya Charlotte menghela napasnya perlahan, mengontrol ekspresinya.


"Kau bilang tidak melihat kehadiranku?" tanya Charlotte tajam.


"Sebenarnya... aku tadi sedang membalas chat dari temanku... Charlie." ujar Justin yang merasa tak enak sambil menunjukkan layar ponselnya.


Charlotte kembali berusaha mengontrol ekspresi wajahnya.


"Ya sudah, terserah saja." ujar Charlotte acuh sambil mengibaskan tangannya malas. "Tapi apa kau tidak ingin minta maaf padaku"


"Eh?"


"Minta maaf padaku!" ujar Charlotte melipat kedua tangannya di depan dada. "Kau itu baru saja mengabaikan diriku, jadi cepat minta maaf!"


Justin terdiam. Ia merasa seperti dejavu. Seingatnya Charlotte juga pernah memintanya untuk meminta maaf seperti ini dahulu.


Melihat Justin yang diam, Charlotte menaikkan sebelah alisnya.


"Kenapa diam? Apa kau tidak mau?" tanya Charlotte tegas.


Justin menggeleng.


"Ma-maaf nona. Aku minta maaf karena tidak sengaja mengabaikan nona tadi."


Charlotte tersenyum.


Hatinya merasa cukup puas karena sudah berhasil mencari perhatian Justin. Ya, meskipun tetap saja, harga dirinya tergoyah karena kecuekan yang Justin lakukan tapi dia berhasil mendapatkan perhatian dari pemuda itu. Sementara itu, Justin hanya menatap Charlotte dengan tatapan heran.


"Hm... kalau begitu lain kali kau jangan sampai lupa buat menyapaku apalagi sampai berani mengacuhkan diriku seperti tadi."


Justin memilih menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Baiklah, kau boleh pergi sekarang."


"Kalau begitu saya permisi, nona." Justin berbalik dan melanjutkan langkahnya.


"Tunggu dulu!" Charlotte mencegat Justin, membuat pemuda itu menghentikkan langkahnya. "Hm... tunggu sebentar."


"Ya?"


"Mana ponsel milikmu."


Justin mengerjap bingung.


Pandangan mata Justin membuat Charlotte jadi merasa gemas sendiri. Ia berani bersumpah jika wajah tampan pemuda itu saat ini terlihat begitu menggemaskan di matanya.


Charlotte mengulurkan tangannya, meminta Justin menyerahkan ponselnya.


"Mana?"


Justin menatap uluran tangan Charlotte, "Tapi untuk apa?"


"Untuk memberimu nomorku, tentu saja. Apalagi memangnya." Charlotte berujar sambil memutar bola matanya malas.


"Lagipula kau kan sangat akrab dengan kakekku. Itu artinya aku juga ada hubungan dengan dirimu. Dan aku harus bisa menghubungimu juga. Maka dari itu, kau harus memberikan aku nomor ponselmu agar lebih mudah bagiku jika ingin menghubungimu... maksudku jika kakekku membutuhkan sesuatu darimu." Charlotte beralasan dengan kalimat panjang lebar.


Justin bukan anak kecil yang tidak mengerti apa alasan seseorang meminta nomor ponsel milik orang lain. Tentu saja agar semakin mudah di hubungi. Tapi yang membuat Justin bingung adalah kenapa Charlotte bersedia meminta nomornya? Pikirkan, selain sang kakek, Charlotte bahkan tak punya urusan apapun dengan Justin. Ini agak mengejutkan memang.


Hal lain yang membuat Justin bingung saat ini adalah... seorang Charlotte Clinton-lah yang meminta nomor ponsel miliknya. Bukankah ini sebuah anugerah?


Tuhan! Mimpi apa dia semalam?


Tapi, jika alasan Charlotte adalah kakeknya, bukankah tadi pagi tuan Romanov baru saja menghibungi dirinya?


"Tapi tuan Romanov baru saja menghubungiku pagi tadi."


"Apa?" Charlotte menaikkan sebelah alisnya. "Dia bahkan punya nomormu?"


"Ya..." Justin mengangguk.


Charlotte menatap Justin cengo. Ia lalu mendecih sinis,


'Ya ampun. Kakek... dia sudah benar-benar menggagalkan segala usahaku. Aku bahkan baru mulai menjalankan rencanaku dan dia sudah membuatku gagal.' omel Charlotte dalam hati.


Charlotte memikirkan ide lain.


"Ya, sebenarnya kakekku sangatlah pikun. Karena umurnya. Maksudku... siapa tau kakekku melupakan nomormu. Jadi aku bisa langsung memberikannya."


Dan akhirnya, Justin memilih mengangguk saja lalu dengan perlahan pemuda itu mengulurkan ponsel yang sejak tadi ia pegang pada Charlotte.


"Kau ini lama sekali." Charlotte yang sudah tak sabar langsung merampas ponsel itu dari tangan Justin.


Charlotte lalu menelepon nomor pribadinya lewat ponsel milik Justin.


"Ini, ambil! Aku juga sudah menyimpan nomor telepon milikku di ponselmu," ujar Charlotte santai.


Justin menerima ponselnya itu sambil menganggukkan kepalanya pelan.


"Jika nanti aku meneleponmu, kau jangan coba-coba untuk tidak mengangkat telepon dariku."


"Aku mengerti," balas Justin dengan cepat menganggukkan kepalanya,


"Sudah selesai, kau bisa pergi sekarang." Charlotte mengibaskan tangannya seakan mengusir Justin.


"Hmm." Justin kembali menganggukkan kepalanya dan berbalik meninggalkan Charlotte.


Charlotte melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap punggung Justin yang tengah melangkah meninggalkannya.


"Itu mudah sekali bagiku mendapatkan kontaknya..." ujar Charlotte sambil terus menatap pemuda itu hingga dia menghilang di tikungan koridor.


***

__ADS_1


__ADS_2