
Charlotte duduk menyilangkan kakinya sementara punggungnya menyandar pada sandaran kursi mobil yang ia tumpangi. Ia menatap bangunan mansion mewah di hadapannya dengan enggan.
Mansion keluarga Clinton. Bangunan mansion yang paling terkenal di kota ini karena kemewahannya. Sebuah mansion yang di kenal milik keluaga konglomerat. Dan mansion yang sudah menjadi tempat tinggal Charlotte saat ia kecil.
"Ah, si@l!" gerutu Charlotte memukul stir mobilnya kesal lalu melihat kembali pada mansion itu dengan jengah. "Aku terlalu malas untuk masuk ke dalam sana."
Charlotte menatap pergelangan tangannya untuk melihat jam. Saat ini sudah hampir jam tujuh malam. Ia menghela saat menyadari kalau ia sudah berada di halaman parkir ini hampir lima belas menit lamanya sejak ia tiba.
"Kakek pasti sudah di rumah. Aku tidak ingin bertemu dengannya. Jika melihat situasi yang ada, kakek pasti akan mengomel lagi." gumamnya.
Charlotte berdecak saat otaknya tiba-tiba mengingat kalau sosok lelaki tua itu memang sudah pulang sejak sore. Sebelumnya, pria tua itu bahkan sudah menanyakan keberadaan Charlotte saat Xander menghubunginya di jalan pulang tadi.
"Kakek pasti akan mengoceh tentang aku pulang dari klub terlalu malam."
"Ah... menyebalkan sekali hidup begini."
Lihat saja, hanya dengan melihat bangunan mansion ini saja Charlotte sudah bisa membayangkan wajah kakeknya yang mengomel. Ah, hati Charlotte jadi kesal bukan main sekarang.
Jika ada yang meminta Charlotte memilih antara apartemen, rumah pribadi atau mansion utama, tentu saja Charlotte akan dengan senang hati memilih pulang ke rumah pribadi yang ia beli.
Tak ada alasan istimewa. Ia hanya merasa begitu nyaman saat berada di rumah itu dan berharap bisa tinggal di sana saja selamanya. Tapi keinginan itu hanya bisa jadi khayalan yang menguap karena sang kakek memintanya untuk tinggal dan menetap di mansion utama ini.
Ah, salah. Bukan meminta. Tapi kakeknya itu sudah memaksa Charlotte untuk menatap. Itulah sebabnya Charlotte merasa begitu muak untuk tinggal di mansion ini. Karena segalanya harus di lakukan dengan rasa terpaksa.
"Aku pergi saja lagi." gumam Charlotte buru-buru kembali menyalakan mesin mobilnya.
Namun saat hendak menginjak gas, hatinya seolah menahannya. Ia jadi ragu sendiri. Kedua tangannya kini memegang erat stir mobil di depannya dengan jari telunjuk yang tampak mengetuk-ngetuk pelan pada stir mobil itu.
"Haruskah aku turun?" gumamnya berpikir keras.
Charlotte memejamkan kedua matanya. Mencoba menetralkan perasaan kesal. Ia harus ingat kalau tuan Romanov adalah kakeknya. Terus menerus berbuat menyebalkan padanya tentu bukan hal baik.
Setelah itu Charlotte membuka kembali matanya, ia dengan cepat membuka pintu dan turun dari mobilnya.
Charlotte melangkah menyusuri halaman rumahnya sambil menatap bangunan mansion megah itu. Datang lagi ke tempat ini adalah masalah. Kakeknya adalah masalah. Masalah yang harus Charlotte hadapi entah bagaimana.
Diam-diam Charlotte terkekeh. Bukankah ia sudah terlalu sering melawan perintah kakeknya itu.
"Ah, untung saja kakek tidak punya penyakit jantung. Kalau tidak?" ucapnya asal sembari menaiki deretan anak tangga yang menuju pintu utama. Ya ampun, menaiki anak tangga ini saja sudah seperti melakukan olahraga. Bahkan benda mati di tempat ini juga terasa sangat menyebalkan.
__ADS_1
Charlotte memasuki mansion melewati pintu masuk utama yang sebelumnya dibuka oleh dua penjaga yang memang berdiri di dekat pintu.
"Selamat datang nona," sapa penjaga yang hanya dibalas Charlotte dengan anggukan angkuh sembari melangkah masuk kedalam mansion.
"Charlotte."
Itu adalah kalimat pertama yang terdengar begitu kaki Charlotte melangkah melewati tepi pintu. Kalimat seruan yang keluar dari mulut Xander begitu melihat sang adik tiba.
Charlotte yang awalnya sempat terkejut begitu mendengar seruan Xander itu langsung menghentikkan langkahnya.
Gadis itu tak mengatakan apapun. Ia hanya melirik Xander sekilas sembari menunggu sang kakak melanjutkan kalimatnya.
Xander kini tengah menatapnya dengan satu tangan yang memegang dokumen. Xander melangkah perlahan, mendekat pada Charlotte.
"Baru pulang?" tanyanya kemudian.
"Oh, wow apa aku transparan?" sindir Charlotte.
Xander mengerutkan dahi. "Charlotte-"
"Kau bisa melihatku dengan jelas, bukan? Aku ada di sini. Kita bahkan mengobrol sekarang." jawab Charlotte masih dengan nada sindirannya. Ia bicara dengan ketus.
"Kau masih marah?"
"Kau bertanya tentang marah pada dirimu atau pada kakek?"
"Padaku?"
"Ya, masih." jawab Charlotte acuh tak acuh.
"Ayolah, Charlotte. Kenapa kau harus sangat marah seperti ini? Apa yang membuatmu begitu marah? Aku lupa dengan janji. Itu manusiawi bukan?"
Charlotte memejamkan matanya dan menghela pelan sementara tangannya memijit pangkal hidungnya, sambil menggelengkan kepalanya sembari tersenyum sinis.
Ya ampun, kenapa bahasa yang digunakan pemuda itu seakan tengah meremehkan apa yang menjadi alasan Charlotte merasa kesal? Haruskah ia menjawab kalimat menyebalkan itu? Charlotte sedang merasa malas mengeluarkan kata-kata untuk berdebat dengan Xander.
Charlotte lalu membuka kembali matanya dan mengarahkan pandangannya kepada Xander, menatap pemuda yang saat ini tengah berdiri menatap dirinya juga.
"Kau bertanya apa yang membuatku begitu kesal?" ujar Charlotte menatap dengan tatapan miris.
__ADS_1
Gadis itu melangkah mendekat pada Xander.
"Semuanya. Aku kesal pada semuanya. Padamu. Pada kakek juga. Kalian berdua. Kakek... dia sudah ingkar janji. Begitu juga dengan dirimu semalam. Ck, kalian berdua sama saja. Benar-benar mirip"
"Dan sekarang, kau bahkan terlihat seperti sedang meremehkan kemarahanku."
"Siapa yang meremehkan. Penilaianmu benar-benar salah, Charlotte." Xander menatap Charlotte seraya tersenyum getir.
Sejujurnya, Xander juga tak tahu bagaimana cara menanggapi dan membuat suasana hati Charlotte agar berubah jadi lebih baik. Ia sudah minta maaf, tapi gadis itu masih juga kesal. Jadi dia menerima begitu saja perlakuan gadis itu.
Sebenarnya, saat ini Xander memang begitu putus asa. Ia tak tahu bagaimana mengatasi masalah mereka.
Masalah ini sudah dimulai sejak tadi malam dan belum juga selesai hingga saat ini. Tak ada jalan keluar di sini. Charlotte terlalu keras kepala, sementara Xander sendiri ia terlalu penurut pada perintah sang kakek.
"Aku hanya peduli padamu, Charlotte. Aku mengkhawatirkanmu. Itu sebabnya aku bertanya."
"Xander, kau tidak perlu berpura-pura peduli. Itu hanya akan membuatmu menderita sendiri jika harus berakting sekeras itu."
"Aku tidak berpura-pura. Aku memang peduli padamu!" sanggah Xander.
"Benarkah begitu? Tapi perlakuanmu padaku tak membuktikan apapun. Bahkan semakin menunjukkan segalanya." sindir Charlotte.
"Bisakah kau tak mengungkit hal itu lagi." ujar Xander dengan tatapan lelah. "Begini saja. Aku bisa menunjukkan padamu seberapa peduli diriku padamu. Kita bisa pergi berdua seperti biasanya. Aku akan menunjukkannya padamu."
"Kita tak akan pergi bersama seperti dulu." tolak Charlotte.
"Lihat! Bagaimana aku bisa membuktikannya kalau kau bahkan tak memberi aku kesempatan. "
"Tak ada lagi kesempatan, Xander. Karena aku tidak ingin kecewa untuk yang kesekian kalinya dengan ucapan dan janjimu. Urus saja urusanmu dengan kakek."
Keadaan hening selama beberapa saat.
"Apa kau sudah selesai bicara? Aku ingin masuk. Saat ini aku sibuk."
"Masalah itu..."
Kalimat Xander kemudian terhenti saat melihat Charlotte yang tak lagi mendengarnya dan malah melanjutkan langkahnya, meninggalkannya.
"Kau sudah pulang Charlotte?"
__ADS_1
***