
"Bagaimana? Masih mau sok jago!" ujar Brandon sinis.
Charlotte menatap Brandon dengan tatapan marah.
Apa yang baru saja si bodoh Brandon lakukan pada pemuda incarannya? Ia hampir tak bisa mencerna apa yang terjadi. Semuanya terasa begitu tiba-tiba dan sangat mengejutkan Charlotte. Ah, ingin rasanya ia memukul wajah Brandon saat ini untuk membalasnya.
Dan Charlotte semakin membulat saat melihat Brandon mendaratkan tendangan keras tepat pada kaki kanan Justin.
Seolah tidak cukup, pria itu mulai menendang tulang rusuk dan punggung, dan perut Justin. Dengan keras dan ganas. Seakan Brandon tengah kerasukan sesuatu. Ya, ia kesal karena pemuda kurus ini sudah berani mengganggunya.
"Nona lari!" seru Justin.
Justin merasa sudah tak bisa menahan pria ini lagi. Pandangan matanya sudah mulai berkunang-kunang sekarang. Ia bahkan tak bisa melihat wajah Charlotte dengan jelas. Tulang rusuk Justin terasa begitu sakit. Bukan hanya itu, tapi hampir seluruh tubuhnya terasa sakit.
Seumur hidup, Justin tak pernah berkelahi seperti ini. Jangankan melawan, untuk menghindar dari pukulan saja ia tak mampu.
Charlotte bisa mendengar Justin yang memintanya pergi dari tempat ini. Tapi mana mungkin, apa dia gila? Meninggalkan Justin di sini sendirian dan melawan Brandon adalah perbuatan bodoh.
Charlotte menatap pemuda itu dalam-dalam, mencoba untuk memeriksa keadaan pemuda itu dari posisinya.
Dari tempatnya berdiri saat ini Charlotte bahkan bisa melihat dengan jelas beberapa luka yang Justin dapat. Ia juga melihat sudut bibir Justin yang tampak berdarah.
Ya ampun, ia bertekat tak akan membiarkan Brandon hidup dengan tenang setelah ini karena membuat wajah mulus pemuda itu terluka seperti itu.
Charlotte jadi tak yakin, apakah dirinya akan bisa melawan Brandon yang seperti ini. Nyalinya tiba-tiba menciut.
__ADS_1
Charlotte menoleh kesekitarnya. Kenapa sepi sekali. Apa seluruh mahasiswa sudah pulang sekarang.
Diam-diam Charlotte meruntuki betapa sialnya ia hari ini. Ia harus mencari bantuan. Harus. Tapi hampir saja Charlotte bergerak dan hendak berteriak untuk meminta bantuan orang-orang, ia harus melupakan rencananya itu ketika pandangannya melihat hal yang lebih gila lagi.
"Brandon, apa-apaan. Apa yang mau kau lakukan, sial*n!" pekik Charlotte saat melihat Brandon yang kini mengambil sebatang balok yang ia dapat entah dari mana. "
Brandon seperti tak mendengar teriakan Charlotte dan malah kembali mendaratkan kakinya pada tubuh Justin, menendang pemuda kurus itu beberapa kali.
Charlotte bisa melihat Justin yang bahkan tak memiliki satu pun kesempatan untuk melawan.
Charlotte tahu jelas apa yang akan Brandon lakukan dengan balok itu pada Justin. Brandon pasti sudah benar-benar gila. Justin bisa mati kalau begitu. Apa dia ingin membunuh Justin. Dasar sinting.
Charlotte menggelengkan kepalanya. Ia tak akan membiarkan pemuda bodoh itu melakukan apapun lagi pada Justin.
"Berhenti di sana, sayang. Aku tidak ingin kau terluka." ujar Brandon.
"Brandon, menjauh darinya! Kau sudah gila!"
"Gila? Kau bilang aku gila? Ya, aku memang gila, itu karena dirimu, kau tau!" Brandon lalu menyeringai dan menoleh kembali pada Justin. "Dan sekarang aku akan menunjukkan padamu apa itu yang di sebut gila."
BUK!
BUK!
"Brandon!" pekik Charlotte saat melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika Brandon menghantamkan balok itu pada tubuh Justin.
__ADS_1
Charlotte bisa mendengar erangan kesakitan dari pemuda kurus itu. Hatinya tiba-tiba saja terasa sakit.
BUK!
BUK!
BUK!
"Tidak, tolong, berhenti!" Charlotte hampir menangis sekarang. Ia bisa merasakan pertama kali dalam hidupnya, sebuah rasa yang di sebut ketidakberdayaan yang membuat dirinya menyerah dan harus memohon seperti ini dalam hidupnya.
"Itulah yang di sebut gila." Brandon tertawa.
Brandon mengangkat tangannya hendak melayangkan kembali balok itu ke tubuh Justin, namun tiba-tiba saja tangannya lebih dulu ditahan oleh seseorang dengan erat.
"Semut saja tidak akan mati, jika kau menggunakan benda kecil ini!" ujar 'seseorang' itu.
Brandon sontak menoleh dan mendapati seorang laki-laki bertopi tengah menyeringai padanya.
"S-siapa kau?" ujar Brandon menatap lelaki itu.
"Aku?" ujar pemuda itu sembari melepas topinya dengan sebelah tangannya yang lain dan melemparkannya begitu saja dengan sembarangan ke atas tanah.
"Ah, perkenalkan, aku Xander." ujarnya tersenyum. "Xander Clinton."
***
__ADS_1