Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
94.


__ADS_3

"Apa masih lama?"


Itu adalah pertanyaan Xander pada Charlotte yang saat ini tengah memilih perhiasan di etalase kaca di salah satu toko perhiasan paling terkenal di kota itu.


Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang entah sudah keberapa puluh kalinya dan membuat Charlotte mulai merasa sedikit bosan.


Charlotte tak menjawab. Gadis itu hanya mengangguk tenang, tanpa menoleh.


"Tubuhku mulai mengering disini." oceh Xander.


"Kita akan pulang sebentar lagi." ujar Charlotte tenang.


"Itu adalah jawabanmu lima belas menit lalu. Sama persis." ujar Xander malas.


"Sabarlah sedikit. Kau hanya terlalu tegang. Santai saja."


"Sabar? Kau bilang sabar? Cih, memangnya kurang sabar apa aku sejak tadi." keluh Xander dengan raut sinis. "Kau yang gila belanja tapi kenapa mengorbankan aku di sini."


"Hmm…" Charlotte hanya mengangguk tak peduli.


"Sabarku bahkan sudah habis sekarang. Aku hanya ingin pulang dan tidur nyenyak."


Xander memang berkata yang sebenarnya. Rasa sabarnya memang sudah habis sejak beberapa waktu lalu, saat mereka mencari sepatu di toko sebelumnya.


Siang itu, Charlotte dan Xander sedang berada di dalam mall untuk berbelanja. Charlotte mengajak Xander, walaupun ia tau pemuda itu tak suka pergi menemaninya.


Dan seperti biasa, pekerjaan Xander saat menemani dirinya hanya mengeluh dan mengeluh saja selama mereka berbelanja.


"Kapan kita akan pulang?" sekali lagi Xander mengeluh membuat Charlotte memutar bola matanya malas.


"Kau bahkan baru bertanya pertanyaan yang sama satu menit lalu."


"Itu karena kau lama sekali."


Charlotte yang mendengar keluhan itu hanya melirik tajam kemudian berdecih kesal. Namun ia memilih untuk tak menanggapi, malah kembali fokus pada jejeran perhiasan yang ada di hadapannya. Gadis itu memilih-milih perhiasan yang lain.


"Aku ingin lihat yang itu." ujar Charlotte pada pegawai toko perhiasan itu.


"Baik nona."


Pegawai toko itu dengan hati-hati mengeluarkan kotak perhiasan yang di maksud Charlotte.


"Tck, menyebalkan." ujar Xander kesal karena di abaikan.


Sejujurnya saat ini Xander merasa bingung pada dirinya sendiri. Entah kenapa juga ia selalu bersedia menemani gadis ini pergi berbelanja. Kenapa ia tak pernah menolak jika Charlotte minta di antarkan untuk berbelanja.


Diam-diam muncul sebuah pertanyaan di kepalanya Xander. Ia jadi penasaran. Apakah orang lain akan bersedia menemani adiknya berbelanja seperti ini?


Ah, jika di lihat dari pengalaman dimana banyak sekali pria tergila-gila pada gadis ini sepertinya mereka akan dengan senang hati menemaninya.


"Yang mana?" tanya Charlotte mengangkat dan memperlihatkan dua buah kalung ke arah Xander, meminta saran pada pemuda itu.


"Dua-duanya tidak cocok. Terlalu bagus untukmu." ujar Xander acuh.


Tampak kedua pegawai toko yang sejak tadi mendengarkan itu hanya tertawa geli mendengar jawaban Xander. Namun buru-buru mereka menunduk untuk menyembunyikan wajah, takut-takut Charlotte akan tersinggung.

__ADS_1


Kedua pegawai itu sangat senang bisa melihat keluarga yang sangat terkenal di negara ini secara langsung seperti ini. Ini sudah benar-benar bagaikan mimpi untuk mereka.


Charlotte mendecih dan memandang Xander dengan sinis.


"Penghinaan macam apa itu." omel Charlotte.


"Asal kau tau saja. Jika aku memakai perhiasan ini, bukan aku yang tertolong. Tapi perhiasannya. Brand diriku sendiri lebih besar di banding perhiasan ini."


"Aku tidak peduli." balas Xander malas.


Charlotte menggedikkan bahunya acuh dan kembali memilih-milih perhiasan.


"Anda bisa menggunakan kalung yang ini nona. Ini edisi terbatas kami." ujar manajer toko itu mengeluarkan kotak perhiasan lain.


Xander yang melihatnya hanya memutar bola matanya malas. Pegawai ini, bukannya membantu dirinya yang hampir mati bosan, malah membuat Charlotte jadi samakin lama memilih saja.


"Apa kau belum selesai?" Xander menghela napas malas. "Aku sangat bosan menemanimu.


"Hmm." Charlotte bergumam santai.


"Kapan kau akan selesai berbelanja?"


Charlotte tampak berpikir sebentar.


"Aku akan selesai setelah aku memilih di antara perhiasan-perhiasan ini."


Xander meruntuki jawaban dari gadis itu. Ia tahu dengan jelas kalau untuk memilih satu perhiasan saja akan memakan waktu yang sangat lama bagi gadis ini.


"Kalau begitu, sepertinya kita akan pulang esok hari." sindir Xander.


"Kalau kau bosan, kau bisa pergi saja dari sini. Aku bisa di sini sendiri." ujar Charlotte.


"Kau ingin aku pergi?" Xander langsung bertanya antusias.


"Tidak."


Xander mengernyit. 'Apa sih sebenarnya maksud gadis aneh ini.' batinnya.


"Boleh atau tidak?" tanya Xander.


"Menurutmu?"


Pemuda itu hanya diam tak mengeluarkan sepatah kata apapun karena merasa bingung sendiri. Percayalah, kalau saat ini ia hanya menatap Charlotte dengan tatapan bodohnya.


Merasa tak ada jawaban dari sang kakak, Charlotte melirik sekilas. Ia kembali terkekeh kecil melihat raut wajah bodoh yang di tunjukkan Xander.


"Ya ampun..." Charlotte lalu menggeleng sambil tersenyum geli.


"Aku tidak akan memintamu tinggal tapi aku juga tak akan menyuruhmu pergi." ujar Charlotte lagi lalu kembali melihat-lihat perhiasan yang ada di tangannya.


Xander mengangguk mengerti.


"Kalau di suruh memilih begitu, aku akan memilih pergi."


"Terserah saja."

__ADS_1


"Aku pergi dulu. Aku sangat lapar. Jadi aku akan makan lebih dahulu sambil menunggumu di restorannya..."


"Hmm."


Charlotte tak begitu peduli.


Xander sudah berbalik dan hendak melangkah pergi sebelum matanya melihat sesuatu yang membuatnya langsung mengurungkan niatnya. Xander menggeleng pelan. Ia tidak mungkin meninggalkan Charlotte sendirian.


Pemuda itu memilih untuk kembali memutar tubuhnya, menatap Charlotte.


"Apa kau yakin?"


"Yakin apanya?" ujar Charlotte yang merasa heran karena pemuda ini tak kunjung pergi dari tempat ini.


"Maksudku, apa dirimu yakin tidak apa kalau aku meninggalkanmu disini."


"Tentu saja."


"Benar?"


"Hmm... ya."


Xander diam sebentar sebelum kembali bicara.


"Sebenarnya, aku bisa saja meninggalkanmu. Tapi apa kau yakin kau akan bersedia kalau aku tinggal di sini? Disini... sendirian?" Xander mencoba memastikan.


Karena pertanyaan konyol pemuda itu, Charlotte akhirnya berbalik untuk melihat padanya.


"Ada apa?" tanya Charlotte tajam. "Kenapa tidak yakin?"


"Memangnya kau bisa menghadapi mereka?" ujar Xander.


Pemuda itu lalu menunjuk beberapa orang yang berada tak jauh dari mereka dengan dagunya.


Orang-orang itu sejak tadi memang telah berada di sana. Charlotte sempat melihat mereka. Tapi ia tak begitu peduli. Mereka diam-diam tengah mengambil foto dan juga merekam kegiatan Charlotte.


Sepertinya orang-orang itu adalah fans atau orang biasa yang memang mengenal siapa Charlotte. Ah, mereka bukan hanya mengenal Charlotte tapi mereka bahkan juga mengenal Xander.


Layaknya bintang Hollywood, mereka berdua sebenarnya memang sering di hadapankan dengan kamera wartawan atau pun kamera publik seperti ini, kemanapun mereka pergi. Ini sebenarnya adalah hal yang biasa bagi keluarga Clinton. Menjadi pusat perhatian.


Charlotte menatap Xander beberapa saat kemudian meringis sambil menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak yakin."


"Sudah ku duga." Xander terkekeh.


"Ya sudah, mau bagaimana lagi. Kalau begitu aku tidak jadi pergi saja. Aku akan menemanimu saja di sini. Sampai selesai." sahut Xander menggedikkan bahunya pasrah.


Charlotte mengangguk. "Ya, terima kasih."


"Tapi cepatlah!"


"Hmm.."


Xander kemudian mendekatkan wajahnya pada telinga Charlotte untuk membisikkan sesuatu.


"Tapi... bisakah kita pergi makan setelah ini?"

__ADS_1


***


__ADS_2