
Justin berjalan gontai melewati koridor kampus menuju perpustakaan, ia baru saja selesai sarapan dengan Charlie di kantin. Mengingat dosen yang akan mengajar tidak hadir, dia memutuskan untuk tidur saja di perpustakaan kampus.
Sesekali Justin menguap sambil mengucak matanya yang terasa lelah. Dia benar-benar sangat mengantuk sekarang, terlihat dari lingkaran hitam di sekitar matanya, tanda bahwa dirinya memang bergadang semalaman.
Justin memang tidak bisa tidur tadi malam karena terus mengingat apa yang terjadi di tempat kerja barunya beberapa waktu lalu. Ia bahkan masih terus saja memikirkan bahwa dia sudah kehilangan pekerjaan barunya itu karena kecerobohannya sendiri.
Ia benar-benar tidak pernah menyangka bahwa di hari pertamanya bekerja, dia justru berbuat hal ceroboh dan sangat fatal seperti itu. Dan yang lebih parah lagi adalah dia berbuat kesalahan fatal itu tepat di hadapan bosnya sendiri.
Ia bahkan masih bisa mengingat jelas bagaimana sang atasan menatapnya waktu itu. Pria paruh baya itu benar-benar menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Bahkan lelaki paruh baya itu menatapnya tanpa mengalihkan satu detik pun pandangan menakutkan itu darinya, seakan dia benar-benar ingin memakan Justin saat itu juga. Mengingat hal itu lagi seketika saja tubuh Justin jadi merinding.
"Dia mengerikan!" gumam Justin pada dirinya sendiri sambil memperlambat langkahnya. "Tapi entah kenapa aku merasa seperti pernah bertemu dengannya. Wajahnya juga, wajahnya sangat tidak asing. Tapi bertemu dimana ya?"
Justin mengibaskan tangannya. "Ah, tapi itu tidak penting. Hal yang terpenting sekarang adalah aku harus mencari pekerjaan baru lagi." ujar Justin lalu menghela napasnya panjang. Ia masih mencoba untuk menyemangati dirinya sendiri agar tidak putus asa dengan semua yang terjadi.
Ia kemudian mengangkat tangannya, mengecek jam pada ponselnya. Sekarang ini masih jam setengah sembilan pagi, itu artinya dia harus buru-buru ke perpustakaan agar mendapat waktu tidur yang lebih lama. Ia baru saja akan mempercepat langkahnya saat tiba-tiba telinganya mendengar suara.
"Oi, Justin! tunggu aku!"
Justin sontak menghentikan langkahnya begitu dia mendengar seseorang memanggil namanya. Tentu saja dia mengenal siapa pemilik suara itu.
Justin segera berbalik untuk melihatnya. Dan benar saja, Justin langsung memutar bola matanya malas saat melihat sahabatnya, Charlie, tengah berjalan mendekat padanya. Justin menghela nafasnya pelan. Apa pemuda itu benar-benar tak bisa jauh darinya?
"Ada apa lagi, Charlie? Cepat katakan, aku benar-benar ingin tidur sekarang!" omel Justin pada sahabatnya itu.
"Kau jahat sekali, mengusirku seperti itu." gerutu Charlie berakting sedih. Ia lalu mengerutkan dahinya heran. "Tapi tidak biasanya kau tidur di kampus?"
"Aku hanya sedikit mengantuk," jawab Justin sekenanya.
"Mengantuk?" Charlie menatap Justin curiga. "Jujur saja, saat ini kau pasti sedang frustasi karena masalah dengan bos barumu itu kan?"
Justin membulat. "B-bagaimana kau--?"
"Apa? Kau mau bertanya bagaimana aku bisa tahu semua itu." Charlie menatap Justin dengan senyum miringnya, Justin mengangguk.
__ADS_1
Charlie lalu tertawa. "Aku baru saja bertemu dengan Harry tadi. Dia juga sudah menceritakan padaku tentang semua yang sudah terjadi padamu!"
"Dia bercerita padamu?" tanya Justin tak percaya, sementara Charlie langsung mengangguk.
"Ya!"
"Apa yang dia katakan padamu?" Justin penasaran bertanya tanpa basa-basi pada Charlie.
"Hm, dia menceritakan banyak hal, tapi bagian favorit menurutku adalah insiden kopi itu." ujar Charlie sambil tertawa.
"Berhenti tertawa, Charlie! Itu tidak lucu," ujar Justin menggerutu.
"Tapi menurutku itu lucu. Bayangkan Justin, kau menumpahkan kopi pada pakaian atasanmu sendiri, bagaimana kau bisa seceroboh itu, hah?" ujar Charlie masih terus tertawa.
Justin hanya menanggapi candaan Charlie itu dengan tatapan datarnya membuat Charlie langsung menghentikan tawanya. Tentu saja ia tidak ingin membuat sahabatnya itu marah.
Charlie menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum canggung pada Justin. Ia tau Justin benar-benar marah saat ini. "Baiklah Justin, kau tidak suka itu, maafkan aku!"
Ia menatap wajah Justin yang menurutnya terlihat sangat kacau itu. Charlie lalu menepuk punggung Justin pelan. "Sebagai sahabatmu, aku sangat paham dengan sifat cerobohmu itu, tapi... aku tidak yakin bosmu itu akan paham."
"Tapi dia tidak memecatmu, kan? Harry mengatakan padaku kalau bosmu itu bahkan mempertahankan dan tidak mau memecatmu."
Justin menggeleng. "Dia hanya belum memecatku, tapi aku sudah memutuskan untuk berhenti."
"Apa? Kau memutuskan berhenti?"
"Ya, tapi-"
Justin menghentikan perkataannya saat melihat sekumpulan mahasiswa berlari ke arah koridor dekat parkiran kampus.
"Ada apa itu?" potong Charlie sambil menunjuk pada kerumunan mahasiswa yang saat ini sudah memenuhi koridor, mengerumuni sesuatu. "Kenapa ramai sekali di sana?"
Justin menggedikkan bahu. "Entahlah!"
__ADS_1
"Ayo lihat...!" ujar Charlie masih terus menatap kerumunan itu.
"Kesana?" tanya Justin. "Maksudmu kita pergi kesana?"
Charlie mengangguk. "Aku penasaran!"
"Kau saja yang lihat, aku mau ke perpustakaan!" tolak Justin. Ia hampir berbalik meninggalkan Charlie namun langkahnya terhenti karena tarikan Charlie pada lengannya.
"Kau mau kemana Justin? Tunggu dulu sebentar!" ujar Charlie tanpa melepaskan tangannya.
Justin hanya memutar bola matanya malas. Kenapa juga Charlie harus mengajaknya melihat kerumunan itu, dia kan hanya ingin ke perpustakaan sejak tadi. Lagipula yang penasaran itu kan Charlie, bukan dia. Kenapa dia harus ikut?
"Aku mau tidur Charlie! Lagipula kenapa aku juga harus ikut? Kan yang penasaran itu kau, bukan aku!"
"Tunggu dulu, sebentar!" Charlie saat ini tengah berjinjit lebih tinggi, mencoba melihat ke tengah kerumunan. "Kita lihat dulu!"
Justin menghela lelah. "Terserah."
"Wah itu mereka, raja dan ratu kampus kita!" seru Charlie antusias.
Justin mengernyit bingung, "Siapa kau bilang?"
"Ayo kita lihat mereka lebih dekat!" Charlie tidak menjawab namun malah menarik Justin mendekat dan masuk ke dalam kerumunan itu untuk melihat lebih dekat siapa orang yang menjadi pusat perhatian para mahasiswa itu.
"Disini pasti terlihat lebih jelas," ujar Charlie setelah mereka naik ke sebuah batu besar agar dapat melihat lebih jelas. "Nah itu, itu mereka! Disana!" tunjuk Charlie kearah tengah kerumunan mahasiswa. Justin ikut menoleh, melihat ke arah yang di tunjuk Charlie barusan.
Deg!
"Dia kan-" gumam Justin pada dirinya sendiri sambil menatap lurus ke arah seorang wanita yang tengah berjalan santai sambil menenteng tas mahal di tangannya.
Satu kali Justin mencoba memicingkan matanya, mencoba melihat lebih jelas pada wanita itu untuk memastikan penglihatannya. Barangkali dia salah lihat. Tapi tidak, dia tidak salah lihat!
"Dia kan...si gadis pemarah itu!"
__ADS_1
***