
Charlotte keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan bathroobs. Wajah gadis itu kini sudah terlihat jauh lebih segar dari sebelumnya.
Dengan malas Charlotte melemparkan handuknya ke sembarang tempat kemudian menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Ia memegang kepalanya yang terasa sedikit berdenyut, memberikan pijatan kecil di sana.
Gadis itu lalu memejamkan kedua matanya, mencoba menikmati wangi dari lilin aroma yang menyala. Ia tersenyum puas, para pelayan di mansion ini benar-benar sudah hafal dengan aroma lilin kesukaannya.
Tok! Tok! Tok!
Seseorang baru saja mengetuk pintu kamarnya dan membuat mata Charlotte sontak menatap ke arah pintu kamarnya. Ia berdecak malas. Siapa lagi yang datang dan mengganggu kenyamanannya sekarang.
"Masuk!" perintah Charlotte.
Seorang pelayan lalu membuka pintu. "Nona Lottie, tuan Romanov sudah menunggu anda di bawah untuk makan malam bersama."
"Hm, baiklah!" ucap Charlotte pada pelayan yang berada di dekat pintu kamar. Matanya kembali terpejam. "Katakan padanya aku akan turun sebentar lagi."
Pelayan itu mengangguk. "Baik nona."
Setelah kepergian sang pelayan, dengan gerakan malas Charlotte bangkit dari tidurnya. Ia lalu menyeret kedua kakinya berjalan keluar dari kamar untuk menemui sang kakek di ruang makan.
Charlotte berjalan pelan menuruni satu per satu anak tangga dan melihat sekeliling. Di ruang makan kini terlihat kakeknya dan Xander yang sudah duduk di meja makan sambil menikmati makan malam mereka.
"Aku pikir kau tidak akan turun. Aku bahkan hampir menghabiskan bagian daging milikmu," ujar Xander yang saat ini tengah sibuk menikmati makanan di piring di hadapannya.
Charlotte tak menjawab. Gadis itu hanya melirik sinis pada Xander yang saat ini terlihat sedang menimbun piringnya dengan banyak makanan.
Pemuda itu juga terlihat tengah memenuhi mulutnya dengan banyak nasi dan daging. Charlotte mendecih saat menyadari kalau sang kakak terlihat seperti orang yang sedang kelaparan.
"Jangan memenuhi mulutmu dengan makanan seperti itu, Xander. Makanannya sangat banyak dan tidak mungkin akan habis. Kau bisa memakan semuanya. Pelan-pelanlah sedikit."ujar tuan Romanov menasehati sang cucu.
Xander tersenyum lebar pada sang kakek. "Menu malam ini sangat enak kakek. Chefnya benar-benar luar biasa!"
"Ini adalah Chef favorit kakek!" ujar tuan Romanov tersenyum.
"Pilihan kakek memang tidak pernah salah." puji Xander.
Tuan Romanov mengangguk senang. Ia kemudian beralih pada cucu bungsunya, Charlotte, yang saat ini masih berdiri di ujung anak tangga. "Kenapa hanya berdiri di situ, Lottie? Kau tidak makan?"
Charlotte menatap sang kakek kemudian bergerak maju, berjalan lebih dekat pada meja makan. "Kapan kakek sampai?" tanyanya.
Tuan Romanov mencoba mengingat-ingat. "Entahlah! Sepertinya beberapa jam yang lalu."
Xander berhenti mengunyah dan menatap tuan Romanov. "Kakek mengatakan padaku akan pulang pukul sepuluh kan? Tapi kenapa justru-"
__ADS_1
"Kakek pulang lebih cepat? Ingin bertanya itu?" ujar tuan Romanov, memotong pertanyaan Xander.
Xander mengangguk.
"Ya, kakek memang berangkat lebih cepat daripada jadwal seharusnya."
Charlotte menatap Xander beberapa saat lalu beralih untuk menatap sang kakek kemudian menganggukkan kepalanya paham.
'Sudah ku duga. Kakek pasti memang berniat membohongi kami.' batin Charlotte.
"Kau makanlah dulu Lottie, kau pasti lelah dan lapar karena baru pulang kan?" tawar tuan Romanov.
"Saat ini aku tidak terlalu lapar jadi aku hanya akan makan sedikit!" ujar Charlotte melipat kedua tangannya di dada. Ia lalu menunjuk Xander dengan dagunya. "Tapi sepertinya dia sangat lapar!"
Xander tahu jika Charlotte tengah menyindirnya karena makan dengan rakus. Tapi dia tidak terlalu peduli dengan apa yang gadis itu katakan. Ia bahkan masih sibuk menikmati makanan di hadapannya.
"Aku sedang lapar. Bicaranya nanti saja, oke!" jawab Xander acuh.
Charlotte lalu menggedikkan bahunya, kemudian menarik kursi dan mulai duduk di kursinya, barulah setelah itu ia mulai mengisi piringnya dengan salad sayur dan beberapa makanan hijau lainnya.
"Kau tidak makan nasi, Lottie?" tanya tuan Romanov.
Charlotte menggeleng. "Tidak, aku sedang-"
"Dia sedang diet, kek. Itu sebabnya dia hanya makan rumput!" potong Xander sambil melirik isi piring Charlotte yang hanya berisi sayuran hijau.
"Aku hanya membantu menjawab." jawab Xander enteng.
Charlotte melirik ke arah Xander.
"Berhenti mengambil daging Xander! Kau akan menghabiskan dagingnya nanti!" hardik Charlotte saat melihat tangan Xander mulai bergerak mengambil daging di hadapannya. "Makanan ini bukan disediakan untukmu saja. Lihat! Kakek bahkan belum memakan satupun dagingnya."
Xander tersenyum lebar. "Kakek tidak suka daging! Benarkan kek?" ucapnya kemudian menatap tuan Romanov dengan tatapan penuh harap agar pria paruh baya itu mengizinkannya memakan daging miliknya.
"Kakek suka daging!" jawaban tuan Romanov enteng dan sontak membuat Xander cemberut.
"Dasar kau!" Xander menatap Charlotte sinis lalu bergerak mengambil menu yang lain sambil menggerutu.
Charlotte menaikkan sebelah alisnya. "Aku lagi?"
"Ya, kan memang gara-gara kau!" Xander berujar kesal.
Tuan Romanov menatap Xander kemudian tertawa geli. "Bukankah kata para pelayan selama ini kau sudah sering datang kemari, Xander? Kau kan bisa memanggil chef jika ingin makan daging atau lainnya."
__ADS_1
Xander mendengus. "Daging apa yang sedang kakek bicarakan? Apa kakek tau, jangankan untuk makan, untuk menuju mansion ini saja aku selalu gagal karena Charlotte!"
"Jangan bicara macam-macam!" Charlotte langsung menatap Xander tajam.
Xander tidak perduli dengan tatapan tajam dari adiknya itu dan terus melanjutkan kalimatnya.
"Lottie akan selalu menelepon setiap hari. Dia selalu memintaku untuk mengantar dan menemaninya ke sana dan kemari sebelum aku bisa datang kemari, bahkan mengijak pintu gerbang mansion ini saja aku belum. Dia selalu membuatku ikut sibuk sepertinya."
"Dan apa kakek juga tahu?" ujar Xander melirik Charlotte sebentar kemudian kembali melanjutkan kalimatnya. "Cucu kesayangan kakek ini hanya memberiku telur dan udang selama kakek tidak ada!"
Charlotte melempar tissu bekas yang di pegangnya pada Xander. "Apa katamu? Sudah ku bilang, jangan bicara macam-macam, apalagi asal bicara!"
Xander mengambil tissu yang di lempar Charlotte padanya tadi kemudian melemparnya kembali pada Charlotte.
"Aku tidak sedang asal bicara, Lottie! Kau memang selalu meminta pelayan untuk memberiku telur dan udang setiap hari. Dasar pelit!
Charlotte menatap tajam "Apa kau bilang? Siapa yang kau bilang pelit, hah?"
"Kau yang-"
Tuan Romanov menghela pelan. "Xander! Lottie! Apa kalian belum selesai berdebatnya?"
"Maaf kakek!" ujar Xander pelan.
"Baiklah, bisa kita nikmati makanan kita sekarang?" tuan Romanov menatap kedua cucunya bergantian.
"Bisa, tentu saja bisa." jawab Xander dengan sumringah.
Charlotte melirik ke arah Xander dan berdecak. "Ck, makan apa maksud kakek? Lihat lah! Manusia licik satu ini bahkan sudah menghabiskan semua menu makanannya. Dasar rakus!"
Xander meletakkan sendok dan garpunya, menatap Charlotte kesal. "Siapa yang rakus?"
"Aku bilang kau ra-"
"Berhentilah berdebat, kalian berdua!" ucapan Charlotte harus terpotong saat sang kakek bicara dengan nada tegas.
"Sudah-sudah, cukup! Sekarang, ayo kita makan sekarang." ajak tuan Romanov.
Xander dan Charlotte tidak menjawab. Mereka hanya terus saling menatap tajam.
Tuan Romanov yang menyaksikan hal itu hanya bisa menggelengkan kepala sambil melihat kelakuan kedua cucu nya itu.
Ya, sebenarnya inilah yang selalu ia rindukan selama lima tahun belakangan ini.
__ADS_1
Melihat keributan kedua cucunya ini.
***