
Justin berjalan kembali ke rumahnya pada pukul sebelas malam. Dia menghabiskan waktunya seharian ini untuk mengerjakan tugas kuliah.
Ia merasa begitu lelah dan energinya sudah benar-benar terkuras. Justin tidak menginginkan apa pun lagi selain menghabiskan malam ini dengan tidur nyaman di tempat tidurnya.
Justin memutar kunci pintu rumahnya dan menekan knop pintu. Ia melenggang masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai.
Tangannya meraba-raba dinding untuk mencari dimana saklar lampu berada. Begitu menemukannya, lampu sontak menyala, membuat ruang tamu yang awalnya gelap seketika menjadi terang.
Justin meletakkan tas-nya lalu bergegas untuk mandi.
Dan saat ini, sudah beberapa saat setelah Justin tiba di rumahnya. Ia sudah mandi dan juga berganti pakaian dengan yang lebih santai.
Justin tengah mengenakan kaos oblong dan juga celana training abu-abu miliknya yang ia dapat dari Charlie sebagai hadiah perjalanan luar kota.
Air dari rambutnya yang basah bahkan masih menetes di atas bajunya. Sambil mengusak rambutnya dengan handuk, Justin melangkah ke arah dapur. Ia merasa lapar. Makanan yang ia nikmati tadi sore ternyata sama sekali tak cukup untuk mengganjal perutnya. Akhirnya, Justin memilih membuat secangkir teh panas di temani sepotong roti yang ia dapat dari toples plastik yang ada di dapurnya.
Sambil menggigit roti, Justin membawa cangkir teh di tangannya menuju ke ruang tamu. Ia mendudukkan dirinya di atas sofa miliknya dan meletakkan cangkir teh tadi ke atas meja kaca.
Untuk sesaat Justin melirik ke arah layar ponsel miliknya yang juga berada di atas meja. Entah ini sudah yang keberapa kali Justin memandangi ponselnya hari ini. Ia seperti tengah menunggu telepon dari seseorang.
Menunggu telepon? Kenapa harus menunggu seperti ini? Memangnya siapa yang akan menelepon dirinya? Ah, Justin sendiri juga tak tau kenapa ia melakukan ini. Apakah ia terlalu percaya diri dengan berpikiran kalau Charlotte akan menghubunginya.
Tunggu dulu. Charlotte? Kenapa Justin harus menunggu telepon dari gadis itu.
Ya, sebenarnya, sejak pertemuannya dengan Charlotte di kampus tadi pagi, Justin diam-diam menunggu gadis itu untuk menghubungi ponselnya.
Charlotte sempat meminta nomor ponselnya dan itu membuatnya berpikir kalau gadis itu pasti akan menghubungi dirinya. Itulah yang Justin pikirkan sepanjang hari ini.
Lantas, apakah Justin salah dengan berpikir seperti itu. Dan apa ia hanya akan membuat hatinya sendiri terluka dengan harapan tinggi kalau gadis itu akan meneleponnya.
Diam-diam Justin merasa penasaran dengan gadis itu. Charlotte Clinton. Bukankah saat pertemuan pertama mereka dahulu Charlotte sempat mengatakan kalau dirinya begitu terkenal? Charlie, sahabatnya juga mengatakan hal yang sama bukan.
"Apa dia memang seterkenal itu?" gumam Justin.
Justin masih dirasuki rasa penasaran yang terlampau besar di hatinya sampai akhirnya ia tak tahan dengan rasa penasarannya sendiri.
__ADS_1
Kemudian, Justin berakhir dengan menyerah dan langsung meraih ponselnya. Ia dengan gerakan cepat mulai mengklik layanan internet dan mulai mengetikkan nama 'Charlotte Clinton'.
"Haruskah aku mencarinya?" gumam Justin ragu.
Sebenarnya mencari nama public figure seperti ini adalah sesuatu yang sama sekali tak pernah Justin lakukan seumur hidupnya. Tapi hari ini adalah pengecualian, karena Charlotte Clinton sudah mulai membuatnya penasaran.
Setelah berpikir beberapa saat, Justin akhirnys mengklik 'cari' dan detik selanjutnya muncul-lah informasi tentang Charlotte. Hal itu diikuti dengan serentetan artikel yang berisi tentang hal lain dari gadis itu. Mulai dari karir, kehidupan percintaan, fashion, dan lain sebagainya.
"Wah, apa ini?"
"Ternyata dia benar-benar selebriti." gumam Justin menatap layar ponselnya dengan tatapan takjub.
Justin menggelengkan kepalanya, ia benar-benar tak percaya. Bagaimana dia bisa tak mengetahui tentang segala hal tentang Charlotte ini. Pada akhirnya, segala hal tentang artikel ini membuat Justin sadar kalau Charlotte memang sangat-lah terkenal.
Ini juga bisa menjelaskan alasan Charlotte yang begitu marah saat mengetahui kalau Justin tak mengenal dirinya. Benar begitu bukan?
Entah kenapa Justin jadi malu sendiri sekarang.
"Aku seperti hidup di goa saja..." gumam Justin sambil terus men-scroll layar ponselnya.
Saat ini Justin tengah fokus membaca artikel yang isinya tengah membahas kehidupan percintaan Charlotte.
Lima belas menit Justin habiskan untuk membaca berbagai artikel yang muncul. Seumur hidupnya ini adalah kali pertama Justin menghabiskan waktu luangnya untuk melakukan hal tak berguna seperti ini. Biasanya ia hanya membaca buku atau mengerjakan tugas kuliah saja.
Tapi kali ini ia malah membaca segala informasi tentang Charlotte Clinton. Ah, sebenarnya bukan hanya Charlotte. Justin juga membaca artikel yanh membahas tentang keluarga Clinton. Bahkan segala pencapaian yang di dapat oleh orang-orang yang ada di keluarga itu.
"Benar-benar keluarga sultan." gumam Justin tak percaya. Mereka punya prestasi masing-masing.
Justin tiba-tiba saja menghentikkan kegiatan 'membaca artikelnya'. Ia menggigit bibir bawahnya dan tampak tersenyum miris.
Diam-diam segalanya menyadarkan Justin. Segala artikel yang ia baca sudah bisa membuktikan seperapa tinggi kasta seorang Charlotte Clinton itu.
Justin tersenyum hambar. Bukankah sudah jelas kalau posisi Justin disini sudah bagaikan debu yang tak mempunyai arti apapun. Meskipun ia berada di dekat keluarga itu, status sosialnya juga tak akan ada bedanya.
Dan apakah pantas Justin terus berada di dekat keluarga Clinton atau haruskah ia bersyukur karena bisa mengenal mereka. Ia bahkan di undang makan malam secara langsung. Itu adalah satu hal yang tak bisa di dapat oleh orang lain, bukan?"
__ADS_1
Entah bagaimana ia malah terus berada di dekat tuan Romanov. Ia juga tak tau kenapa. Toh bukan Justin yang mengemis, tapi pria paruh baya itu-lah yang mencoba membawanya masuk ke kehidupannya.
Justin menarik napas panjang-panjang dan menghembuskannya lelah.
Charlotte Clinton. Dia adalah gadis yang diam-diam Justin kagumi. Selama ini ia tak pernah menyukai siapapun. Dan begitu memiliki perasaan ia malah jatuh hati pada gadis yang bahkan tak bisa ia miliki.
"Itu sebabnya aku tak boleh terlalu banyak mengkhayal." ujar Justin, terkekeh.
Justin yang merasa bosan akhirnya memilih untuk mematikan layar ponselnya. Ia lalu meletakkan kembali ponselnya ke atas meja.
Dengan gerakan lunglai Justin lalu bangkit dari duduknya. Tanpa sengaja ia melihat pada tumpukkan barang pemberian tuan Romanov untuknya yang berada di sudut ruangan itu. Astaga, untuk melihatnya saja sudah berhasil membuat kepala Justin terasa pusing.
Justin menggelengkan kepalanya.
"Berapa banyak yang tuan Romanov habiskan untuk membeli semua barang-barang ini.."
"Bagaimana aku membalas pemberiannya ini."
Setelah itu Justin menghela napas pendek dan bangkit dari duduknya. Ia memilih untuk melangkah pelan menuju ke kamar tidurnya.
Justin membaringkan tubuhnya yang terasa begitu lelah ke atas kasur. Matanya menatap langit-langit kamarnya. Ia tersenyum dalam diam, memilih untuk menikmati betapa nyaman posisinya saat ini.
"Sepertinya tidur akan lebih baik." gumamnya.
Baru saja hendak menutup mata, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu rumahnya. Dahi Justin mengkerut. Siapa orang yang tengah malam begini bertamu ke rumahnya?
Dengan gerakan malas Justin bangkit dari tempat tidurnya. Ia melangkahkan kedua kakinya, berjalan keluar dari kamar, berniat membuka pintu untuk tamunya.
Begitu pintu di buka, Justin malah merasa semakin bingung saat melihat siapa yang datang.
"Harry?" ujar Justin heran.
"Justin..." ujar Harry menyapa balik dengan posisi bersandar di ambang pintu.
Justin terlihat bingung dengan apa yang di lakukan pemuda itu disini saat ini.
__ADS_1
"Harry, kenapa kau datang kesini?"
***