
"Kau sudah pulang Charlotte." Itu suara tuan Romanov.
Begitu mendengar suara sang kakek, perhatian dua anak muda itu segera teralih.
Charlotte langsung memutar bola matanya. Ya ampun, urusannya dengan satu orang saja hampir tidak selesai. Kenapa 'monster' utamanya harus ikut keluar juga sekarang.
"Kalian-"
"Kalau begitu, aku pergi dahulu." Charlotte tanpa basa basi langsung melangkahkan kembali kakinya dengan gerakan terburu-buru, hendak menuju kearah anak tangga.
Ia memilih untuk menghindari berdebat apapun dengan kakeknya ini. Kasarnya, kakeknya sudah sangat tua. Umur kakeknya juga sudah tak lama lagi. Dan Charlotte tak mau membuat kakeknya itu jantungan atau memiliki tekanan darah tinggi karena harus dengan berdebat dengan dirinya.
"Tunggu dulu." tahan tuan Romanov.
Charlotte kembali menghentikkan langkahnya.
Ia menggerutu dalam hati. Harusnya kakeknya bersyukur karena Charlotte berencana menghindari perdebatan. Tapi kenapa malah menahan dirinya.
"Charlotte! Kakek sedang bicara denganmu." ujar tuan Romanov lagi.
Charlotte lalu berbalik, menatap kakeknya dengan tatapan frustasi.
"Apa?"
"Kau mau kemana?"
Untuk sesaat Charlotte mengerutkan dahinya.
"Kamar."
"Kau sudah makan?"
"Sudah."
"Tapi kakek belum."
"Lalu?"
"Ayo kita makan bersama."
Charlotte menghela napasnya malas.
"Aku masih kenyang." jawab Charlotte singkat.
Ayolah, kenapa kakeknya ini tak mau mengerti. Lupakan saja tentang makan bersama dan biarkan dirinya masuk kamar untuk beristirahat. Saat ini Charlotte sedang membantunya jauh-jauh dari serangan darah tinggi, kenapaa ia tak mengerti juga sih.
"Kau tidak ingin bicara dengan kakek, Lottie?" tuan Romanov bertanya terus terang. "Kakek rasa kita sudah agak lama tidak berbincang di meja makan."
Charlotte menarik napas dalam-dalam sebelum kemudian mengalihkan pandangannya ke lain arah. Mencoba menghindari pandangan sang kakek.
"Berbincang tentang apa? Pekerjaan kantor? Ck, kakek bisa membicarakan itu dengan cucu kakek yang lain." Charlotte menunjuk Xander dengan dagu.
Tuan Romanov mengerutkan dahi.
__ADS_1
"Apa? Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Charlotte heran.
"Bukankah memang begitu. Kalian biasanya akan pergi berdua. Membicarakan pekerjaan yang membosankan itu hingga lupa waktu. Benarkan, kak?" lanjut Charlotte santai sambil menoleh pada Xander.
Xander membuang muka karena merasa terpojok.
Semua tahu jelas kalimat itu adalah bentuk sindiran pada sang kakek. Tuan Romanov memang selalu pergi berdua dengan Xander dan membuat Charlotte selalu sendirian.
"Tak bisakah kau meluangkan waktu untuk sekedar makan bersama?" tuan Romanov mengalihkan topik pembicaraan.
Charlotte tidak berniat merespon. Ia tampak kembali memutar bola matanya malas menyadari sang kakek yang mengganti topik pembicaraan. Ia mencoba menahan diri untuk tidak merasa kesal.
"Aku… sedang sibuk." ujar Charlotte pada tuan Romanov.
"Kau selalu sibuk. Bahkan melebihi kakek. Coba untuk mengatur waktumu demi bisa berkumpul bersama." Tuan Romanov mencoba memberi nasihat. "Kau selalu pergi bekerja. Pulang malam. Bahkan pulang pagi. Dan kau-"
"Ya ampun, percakapan ini membuatku semakin sakit kepala saja." ujar Charlotte malas. Ia lalu menatap sang kakek dengan kesal.
"Kakek harusnya tidak perlu khawatir. Aku ini model, oke? Model nomor satu. Banyak brand yang mengontrakku. Jadi aku punya banyak jadwal pemotretan. Dan itu adalah pekerjaanku sekarang. Aku sedang mencoba menghasilkan banyak uang untuk diriku sendiri. Aku kaya bahkan tanpa uang kakek dan bisa hidup mandiri. Jadi mengertilah!"
Charlotte seketika merinding dengan perkataannya sendiri. Hei, kenapa dia mengatakan kalimat panjang sialan itu. Sekaya apapun dirinya saat ini tetap saja, uang bulanan kakeknya kan juga cukup berharga untuknya.
Bodoh sekali kau Charlotte.
'Sepertinya aku memang harus pergi dari sini sebelum aku semakin bicara melantur.' batin Charlotte.
Charlotte yang sudah hendak melangkahkan kakinya, sebelum kemudian sang kakek melanjutkan kalimatnya, membuat langkahnya kembali terhenti.
Charlotte melirik Xander sekilas sebelum kemudian melihat kembali pada sang kakek.
"Sekarang juga masih kesal." gumam pelan.
"Xander juga memberitahu alasan kenapa kau marah padanya."
"Wow, benarkah? Bagus kalau dia memberitahu kakek, hitung-hitung agar kakek tahu kalau apa yang kakek lakukan ada konsekuesi untuk orang lain dan tidak terlalu berbuat seenaknya lagi..." sindir Charlotte lagi.
Tuan Romanov mengerutkan dahi lalu menghela lelah.
"Bisakah kau bersikap lebih dewasa, Charlotte?"
Kedua mata Charlotte seketika melebar mendengar perkataan sang kakek.
"Apa?" Charlotte menatap sang kakek dengan tatapan tak percaya.
"Sikapmu saat ini sangat kekanak-kanakan." jelas tuan Romanov. "Bersikaplah dewasa. Mandiri. Jangan terlalu tergantung dengan kakakmu. Dia juga punya urusannya sendiri. Hidupnya bukan hanya tentang dirimu."
Xander bisa merasakan aura hitam tengah muncul dari punggung Charlotte begitu kata-kata itu keluar dari mulut tuan Romanov.
Charlotte pasti marah sekali mendengar kalimat itu.
"Kakek, aku rasa-"
Xander sudah hendak menengahi perdebatan namun ucapannya terhenti saat melihat sang kakek mengangkat tangan untuk menghentikannya bicara.
__ADS_1
"Jangan membela adik manjamu ini, Xander." ucap sang kakek tegas.
Xander kini menggaruk kepalanya frustasi. Ia tak menyangka perdebatan seperti ini akan terjadi lagi. Dan bisakah ia mengatakan kalau penyebab semua ini terjadi adalah karena dirinya.
Charlotte melipat kedua tangannya di dada.
"Aku? Kakek memintaku bersikap lebih dewasa?" Charlotte lalu mendecih. "Jadi kakek mengatakan kalau semua yang terjadi karena aku yang tidak bersikap dewasa. Jadi ini salahku, begitu?"
"Kakek hanya tak ingin kau bersikap manja pada kakakmu seperti ini, Lottie. Kau kesal hanya karena kalian tidak pergi bersama!"
"Apa?"
"Kau tidak mungkin bisa selalu bersama dengan kakakmu. Xander, suatu hari dia akan menikah dan punya anak. Dia harus bekerja. Dia juga akan menjadi pemimpin."
"Aku tau! Kita sudah pernah membicarakan ini sebelumnya. Tapi masalahnya di sini adalah... Xander sudah berjanji padaku malam itu. Dan dia mengingkari janjinya karena kakek."
Charlotte menekankan setiap kalimat yang keluar dari mulutnya. Ia merasa jengah. Terutama saat ini sang kakek terang-terangan menyalahkan dirinya.
"Dan juga... kita sudah punya perjanjian. Xander akan mulai mengurus perusahaan saat mencapai umurnya tertentu. Tapi kakek bahkan melanggar perjanjian kita. Jadi siapa yang bersikap kekanak-kanakan?" sambung Charlotte.
"Ya, tapi Xander juga perlu belajar. Sementara kau mengajaknya untuk berpesta. Bersenang-senang. Itu tidak penting untuk masa depannya, Charlotte. Bukankah pergi dengan kakek jelas jauh lebih penting dari urusanmu? Jadi, ayolah Charlotte, jangan bersikap egois." tuan Romanov mencob menasehati.
"Wow, apa ini?" Charlotte menggelengkan kepalanya tak percaya. "Bukankah aku yang sudah di rugikan di sini?"
"Charlotte-"
"Bukankah kakek seorang pengusaha? Bukankah kakek harusnya mengerti tentang arti sebuah perjanjian? Apapun alasannya perjanjian tetaplah perjanjian. Dan aku rasa kakek juga mengerti akibat dari pelanggaran perjanjian?"
Tuan Romanov terdiam.
Kalimat Charlotte memang benar dan itu sedikit menyudutkan dirinya.
"Kalian berdua sama saja." cibir Charlotte melirik Xander kemudian melangkah menaiki anak tangga yang menuju kamarnya.
Namun baru beberapa langkah, Charlotte teringat sesuatu. Ia menghentikan langkahnya dan kembali berbalik untuk menatap sang kakek.
"Ngomong-ngomong aku bertemu Justin di kafe tempat aku membeli kopi tadi. Dia bekerja di sana."
Alis Tuan Romanov mengerut tapi ia tak menjawab.
"Aku tidak tahu bagaimana ceritanya dan apa alasannya dia berhenti dari kafe milik kakek. Tapi sekarang dia sudah tidak bekerja di kafe milik kakek lagi."
"Dia berhenti?" tanya tuan Romanov bingung.
"Masalah ini pun kakek tidak tahu?" Charlotte yang mendengar jawaban sang kakek nyaris tak percaya pada telinganya. Ia menatap sang kakek dengan tatapan mencibir.
"Bukankah kemarin kakek begitu terobsesi padanya. Kakek seperti tak bisa jauh darinya. Tapi kenapa sekarang kakek seolah tak tahu apa-apa tentangnya. Kakek membiarkan dia pergi begitu saja seperti ini."
"Ya, sebenarnya aku tidak peduli, tapi bukankah kakek mengatakan kalau kakek ingin menjaganya. Tapi kakek bahkan tidak bisa membuktikan omongan kakek sendiri. Memalukan."
Setelah mengatakan itu dengan nada tajam, Charlotte bergegas pergi meninggalkan tuan Romanov dan Xander yang kini saling tatap.
***
__ADS_1