
"Ini tidak mungkin." Charlotte memekik nyaring sesaat setelah mereka tiba di apartemen Charlotte.
"Kenapa kau harus berteriak-teriak seperti ini sih, Lottie. Bicaranya pelan-pelan saja. Aku tidak tuli." ujar Xander kesal sembari menggosok-gosok telinganya yang kini sedikit berdenging. "
Gadis itu tampaknya tak peduli. Ia melempar tas dan mantelnya ke atas sandaran sofa dan mendudukkan dirinya di atas sofa empuk miliknya.
"Ini jelas kabar buruk, Xander. Ah, aku bisa gila kalau harus memikirkan ini."
Xander yang baru saja mendudukkan dirinya di atas sofa tampak menghela napasnya malas.
Sejujurnya, sejak tadi ia sudah merasa amat kesal pada Charlotte. Bayangkan saja, sepanjang perjalanan pulang, adiknya ini terus menerus bertanya tentang kebenaran berita kepulangan kakek mereka.
Charlotte tampak tak percaya dengan ucapannya bahkan mengira kalau dirinya tengah mencoba mengerjainya. Hal itu sungguh membuat Xander merasa jengah.
Meskipun setelah beberapa saat, barulah Charlotte sadar kalau Xander sama sekali tidak bercanda.
"Bagaimana bisa dia mengatakan akan kembali lagi ke Indonesia setelah bertahun-tahun pergi."
"Tentu saja dia bisa. Buktinya dia sudah mengatakannya, kan?" jawab Xander.
Charlotte menatap Xander tajam kemudian melangkah mendekati kakaknya itu. "Katakan padaku sekali lagi kalau kau tak berbohong tentang ini. Ini bukan ulahmu yang ingin mengerjaiku, kan?"
"Aku sudah menjawabnya berkali-kali. Aku tidak bercanda, Charlotte."
Charlotte menarik napas dalam, mencoba menenangkan dirinya. "Kau bilang kakek akan pulang?"
Xander menganggukkan kepalanya. "Hm."
"Lalu kapan dia bilang akan pulang?"
"Kakek bilang paling lambat dua hari lagi." ujar Xander mencoba mengingat-ingat.
"Dua hari lagi? Kalau begitu besok lusa." ujar Charlotte.
"Benar."
Charlotte menggelengkan kepalanya.
"Gila, ini benar-benar gila. Kenapa secepat ini? Dan kenapa juga harus mendadak begini mengabarinya?"
Xander menggedikkan bahunya acuh. "Mana aku tahu."
"Lagipula kenapa juga dia harus pulang? Ini sudah lima tahun sejak dia pergi ke Jepang dan hidupku terasa baik-baik saja." gerutu Charlotte kesal melipat kedua tangannya di depan dada.
Xander melirik Charlotte dengan tatapan sinisnya.
"Kenapa bertanya untuk apa kakek pulang kemari. Bukankah sudah jelas kalau tujuan dia pulang adalah ingin mengunjungi kita. Mengunjungimu. Apalagi memangnya?"
Charlotte mendengus, balas menatap Xander dengan sinis. "Aku tak perlu dikunjungi siapapun, terutama oleh kakek."
"Yah, salahkan saja dirimu sendiri yang tak pernah mau mengunjungi kakek ke Jepang selama lima tahun ini. Alhasil kakek-lah yang punya inisiatif lebih dahulu untuk pulang."
"Untuk masalah itu..." raut wajah Charlotte berubah kaku. "Aku kan sudah bilang akan menemui kakek ke Jepang saat punya jadwal kosong."
"Terlambat. Dia sudah akan kembali ke sini untuk menemuimu." Xander tertawa senang.
"Kalau begitu kau katakan pada kakek kalau dia tak perlu datang kemari. Tetaplah di Jepang saja! Aku akan mengunjunginya minggu depan." usul Charlotte asal.
__ADS_1
"Kau gila? Bagaimana aku bisa mengatakan hal itu pada kakek. Lagipula dia itu sudah repot-repot datang kemari karena ingin bertemu denganmu."
"Untuk apa sih dia ingin menemuiku?"
"Karena dia merindukanmu. Memangnya apalagi? Apa kau tau, dia sudah beberapa kali menanyakan kabarmu padaku!" jelas Xander dengan nada kesal. "Dan nomor ponselmu itu juga sama sekali tak bisa dihubungi oleh kakek!"
"Aku memblokirnya."
Xander dengan cepat menoleh, menatap Charlotte tak percaya. "Kau sungguh gila. Kalau begitu, bagaimana caranya kakek bisa menghubungimu untuk menanyakan kabar?"
"Dia kan bisa bertanya padamu. Lagipula, kurasa kakek juga tak perlu pulang jika tujuannya hanya untuk mengetahui kabarku. Itu adalah hal paling tak berguna yang dia lakukan."
"Charlotte, dia itu kakekmu sendiri. Sudah jelas dia pasti ingin bertemu denganmu."
"Ya, oke! Aku tau. Tapi kan-"
"Kau setidaknya bisa langsung menghubungi kakek, Charlotte. Sekedar memberi kabar padanya." potong Xander kesal.
"Kau mau aku menghubungi kakek? Apa kau bercanda." sentak Charlotte kesal. "Apa kau lupa kalau hubunganku dan kakek sedang tak baik karena kejadian waktu itu. Kejadian saat dia dengan seenaknya mengirim belasan bodyguard bodohnya untuk mengikutiku."
"Ah, benar. Maaf aku lupa."
Charlotte benar.
Beberapa waktu lalu tuan Romanov memang pernah mengirim banyak sekali bodyguard untuk mengikuti Charlotte. Hal itu tuan Romanov lakukan hanya untuk memastikan agar cucu kesayangannya itu selalu dalam kondisi aman.
Akhirnya karena merasa terlalu risih dengan kehadiran mereka, Charlotte marah-marah dan meminta pada kakeknya itu untuk segera menarik pulang seluruh anak buahnya itu ke Jepang.
Setelah kejadian konyol itu, Charlotte bahkan memutus semua jalur komunikasi dengan kakeknya. Dan sampai hari ini kekesalan Charlotte pada sang kakek masih belum juga mereda.
Xander mengangguk paham. Ia bisa paham alasan dari kemarahan adiknya itu.
Charlotte adalah gadis yang suka kebebasan. Ia tak suka dikekang. Jadi ia tak akan suka jika harus diikuti orang-orang seperti itu.
Xander tersenyum pada adiknya itu. "Tapi Charlotte, bukankah itu adalah hal bagus."
"Apanya yang bagus?" Charlotte menaikkan sebelah alisnya bingung.
"Puluhan bodyguard yang mengikutimu saat itu. Itu hal yang bagus." jawab Xander. "Hal itu sangat membantuku. Ya, setidaknya itu akan mengurangi beban hidupku dalam menjagamu."
Charlotte mendecih sinis. "Sialán, kau! Beban hidup kau bilang. Siapa yang kau sebut beban hidup, hah!"
"Kau. Siapa lagi. Buktinya aku selalu terbebani dengan menemanimu kemana pun?"
"Apa maksudmu? Kenapa kau bersikap seolah aku tak membayarmu saat menemaniku? Kau lupa, aku memberimu gaji, Xander!" protes Charlotte tajam.
Xander berdesah malas.
"Ya oke, oke! Biar aku ralat ucapanku." ujar Xander dengan ekspresi malas. "Selama ini aku digaji untuk menemanimu sekaligus menjagamu."
"Itu dia!" ujar Charlotte menjentikkan jari sembari menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa dengan raut wajah angkuh. "Aku sudah mengeluarkan banyak uang untuk membayarmu. Jadi jangan terlalu banyak mengeluh."
Xander menggedikkan bahunya acuh. 'Kalau kau tak membayar, aku juga tak mau mengantar dan menjemput gadis cerewet sepertimu.' batin Xander.
Keadaan hening sebentar sebelum akhirnya Xander kembali bicara. "Ngomong-ngomong kakek juga memintamu untuk datang ke mansion utama saat dia tiba di Indonesia nanti. Dia ingin kau tinggal di mansion selama dia ada di sini."
"Kalau begitu kau beritahu padanya juga, aku akan datang ke mansion asalkan dia berjanji untuk tak mencampuri apapun urusanku."
__ADS_1
"Ayolah Charlotte, bagaimana aku bisa bilang itu padanya." Xander lalu mendecih. "Perlu kau tahu, Charlotte. Kakek bisa sampai ikut campur dalam hidupmu ya itu karena ulahmu sendiri."
"Kenapa jadi aku yang salah?!"
"Ya, menurutku, kakek tak akan ikut campur urusanmu asalkan kau melakukan semua 'kegiatan' liarmu itu dengan bersih." ujar Xander dengan nada mengejek.
"Bersih?" Charlotte mengernyit. "Bersih bagaimana?"
"Ya bersih. Tidak berbuat onar seenaknya. Seperti tidak menyetir dalam keadaan mabuk, melanggar lalu lintas, berkelahi di bar, skandal kencan dengan para pria, me-"
"Stop, stop! Apa yang kau lakukan? Kau tak perlu menyebutkan semuanya begitu." ujar Charlotte berdesis kesal.
Xander menggedikan bahunya acuh.
"Aku hanya mencoba membantu supaya kau bisa mengingat semua skandal bodohmu itu. Tadinya aku pikir kau lupa!"
"Aku ingat, bodoh! Aku ingat semuanya dengan jelas." ujar Chatlotte menatap Xander datar.
"Bagus kalau kau ingat." jawab Xander mengangguk santai.
"Tapi tunggu, kau bilang aku harus melakukan semua kegiatan dengan bersih? Hei, aku rasa aku bahkan tak perlu melakukan itu." ujar Charlotte dengan nada angkuh. "Karena membersihkan dan juga membereskan segala kekacauan yang sudah kubuat, itu semua sudah menjadi tugasmu."
"Tugasku?" ujar Xander menaikkan sebelah alisnya heran yang langsung diangguki oleh gadis cantik itu.
Hal itu membuat Xander mendecih.
"Jangan coba-coba membuat lelucon. Kakek bilang tugasku hanyalah menjagamu. Aku hanya harus melindungi dan membuatmu selalu aman. Jadi, membereskan kekacauan seperti itu sama sekali bukan tugasku, tapi tugas anak buah kakek. Ya kecuali..."
"... kecuali?" Charlotte menoleh pada Xander, menatap kakaknya itu dengan penasaran.
Xander menatap Charlotte lekat kemudian ia menyeringai.
"Kecuali kau berani menambah bayaranku sebanyak dua kali lipat." ujar Xander.
"Uang lagi?" Charlotte sontak mendecih.
Tentu saja ini semua adalah tentang uang. Ya, memangnya jawaban apalagi yang harus Charlotte harap dari Xander selain uang, uang dan uang.
"Seperti biasanya, uang yang bicara. Dan aku jamin, semua kekacauan yang sudah kau buat itu pasti akan segera bersih hanya dalam satu kedipan mata. Kakek bahkan tak akan sempat menyadari kesalahanmu itu."
"Kau ini bener-bener mata duitan, ya!" gerutu Charlotte melirik sinis sang kakak.
"Ya, itu karena aku hidup untuk itu, Lottie. Untuk uang. Hanya untuk uang!" tegas Xander sambil memasang wajah angkuhnya.
Charlotte tertawa renyah mendengarnya. "Ya ampun, kita sudah bertahun-tahun hidup bersama tapi aku masih belum terbiasa dengan sifat mata duitanmu itu."
Charlotte akui kalau semua yang Xander kerjakan selama ini memang tergolong sangat baik. Pemuda ini juga ulet. Tapi semua yang dia lakukan itu bukan karena dia orang yang tekun. Namun semua itu Xander lakukan hanya karena dia menginginkan bayaran uang.
Pria muda yang satu ini memang di kenal sangat menyukai uang. Dia rela melakukan apapun perintah Charlotte, rela mendengar betapa cerewetnya Chatlotte, asal wanita itu memberinya banyak uang.
***
✔ Note :
▪Typo, alur ngaco, kesalahan Eyd tidak akan di perbaiki. Saya author pemalas. Titik!
▪Author peduli dengan kesehatan mata kalian, jadi, kalau kalian kurang suka sama ceritanya, Author sarankan kalian untuk mencari cerita yang lain saja, karena cerita ini bisa menyebabkan sakit mata akut.
__ADS_1