
"Charlotte! Xander! Kenapa kalian mengendap-endap seperti itu?" seru sebuah suara dan membuat mereka berdua terperajat.
Langkah Charlotte dan Xander pun sontak langsung terhenti. Mereka menoleh dan terkejut saat mendapati sang kakek yang saat ini sudah berdiri di ujung anak tangga di dekat mereka. Pria paruh baya itu kini tengah menatap tajam pada mereka.
"Kalian berdua terlihat seperti maling!" ujar tuan Romanov lagi.
"Kakek!" seru Charlotte dan Xander secara bersamaan.
Mereka saling menatap satu sama lain. Terlihat dari raut wajah mereka terlihat gugup. Mereka benar-benar tidak menyangka akan tertangkap basah seperti ini.
Charlotte yang sebelumnya menatap kakeknya tegang, buru-buru mengubah ekspresi terkejutnya menjadi senyuman lebar. "Ah... ternyata kakek sudah datang ya?"
"Jangan berpura-pura Lottie!" tuan Romanov berujar dingin, membuat senyum Charlotte langsung memudar dan berganti dengan raut cemberut.
Tuan Romanov terus menatap Charlotte lekat. "Kalian tau jelas kalau kakek sudah datang, itu sebabnya kalian menunggu lama di halaman mansion kan?"
"Bagaimana kakek bisa tahu?"
"Kakek melihatnya di CCTV!"
"Itu-" Charlotte tampak berpikir untuk jawabannya.
Ucapan tuan Romanov itu entah kenapa langsung membuat Charlotte tidak dapat berpikir apalagi bisa menjawab.
Charlotte melirik Xander yang langsung di balas dengan gedikkan bahu oleh pemuda itu. Seakan mengatakan pada Charlotte, 'Aku juga tidak tahu harus menjawab apa!'
"Kakek tahu, kalau kalian pasti kaget dan tidak menyangka kenapa kakek bisa sampai di mansion ini lebih dulu dari kalian kan?" ujar tuan Romanov menatap kedua cucu-nya itu secara bergantian. "Dan jangan berpura-pura tidak dengar. Kakek tadi bertanya, kenapa kalian berjalan mengendap-endap?"
Charlotte tersenyum kaku, "Em, itu... aku..."
Charlotte kembali melirik ke arah Xander. Dan entah tiba-tiba saja sebuah rencana licik langsung muncul di kepalanya. "Ini karena Xander kek, dia sudah-"
"I-itu... dia kek!" dengan cepat Xander juga menunjuk balik Charlotte.
Sejak awal dia tau kalau gadis itu pasti akan melakukan hal ini. Charlotte akan menuduhnya. Ini adalah cara lama dan sudah biasa Charlotte lakukan saat dia sedang terdesak. Jadi Xander berinsiatif untuk menuduh adiknya itu terlebih dahulu sebelum dia yang berakhir menjadi korban dari gadis itu.
__ADS_1
Xander menatap tuan Romanov. "Charlotte! Dia yang sudah menarik dan mengajakku untuk masuk ke mansion dengan sembunyi-sembunyi tadi!"
Charlotte membulatkan mata.
'Si*l, aku kalah cepat!' gerutu Charlotte dalam hati.
Xander menyeringai, menatap Charlotte dengan ekspresi penuh kemenangan karena merasa kali ini sang adik tidak akan bisa menuduhnya macam-macam seperti biasanya.
Charlotte menatap tuan Romanov dan menggeleng, ia jelas tak terima. "Tidak kakek! Ini ide bersama! Melihat tidak ada tanda-tanda dari kakek tadi, itu sebabnya kami masuk dengan mengendap-endap, agar tidak ketahuan kakek."
"Tidak! Charlotte berbohong. Kakek jelas mengenalku, kakek tahu sifatku. Aku tidak mungkin punya ide licik seperti itu. Hanya Charlotte-lah yang akan punya pikiran licik begitu." Xander bersikeras membela dirinya, kali ini tidak akan ada kata 'salah Xander' lagi.
Charlotte menghela pelan. "Baiklah kek! Ini memang ideku. Tapi dia juga tidak menolak atau melarangku tadi. Dia bahkan langsung mengiyakan ajakanku untuk masuk diam-diam tadi. Itu artinya dia juga bersalah."
Xander menatap Charlotte dingin. "Denger! Aku nggak melarang ide licik itu karena aku nggak mau kau nanti terkena masalah. Dan karena itu memang satu-satunya cara supaya kau aman dan nggak bertemu kakek agar terhindar dari omelan kakek."
"Dan mana mungkin aku berani berbuat sembarangan. Aku bahkan nggak pernah berbuat macam-macam. Lagipula selama ini kan kau yang selalu mengajak dan nyeretku agar ikut masuk ke dalam hal buruk kan? Dasar gadis nakal." sambung Xander.
"Gadis nakal kau bilang?" Charlotte melotot tak terima. "Lalu bagaimana denganmu sendiri? Kau pikir kau nggak punya kenakalan? Terus kalau menggoda wanita dan juga masuk ke dalam kelompok gengster yang nggak jelasmu itu merupakan hal baik? Itu juga hal buruk kan? Dasar pemuda nakal!"
"Karena aku harus kasih contoh padamu tentang apa itu yang di sebut dengan kenakalan!" Charlotte melipat kedua tangannya menatap Xander dengan angkuh.
"Itu jelas berbeda!" sela Xander tak terima. "Asal kau tau saja, kelompokku itu tidak pernah berbuat onar seperti yang kau lakukan!"
"Berbeda apanya? Itu jelas sama saja. Sama-sama di sebut dengan kenakalan, dasar bodoh!"
"Apa kau bilang? Aku bodoh?" Xander tertawa sinis. "Tunggu dulu nona cerewet, bukan aku yang bodoh disini, tapi kau!"
"Kau yang bodoh!"
"Kau!"
"Bukan! Tapi kau yang-"
"HENTIKAN KALIAN!!" Tuan Romanov berteriak jengah. Sejak tadi ia hanya mendengar perdebatan kedua cucunya yang menurutnya amat sangat teramat tidak penting itu.
__ADS_1
"Maaf kakek!" Xander menunduk sementara Charlotte hanya memutar bola matanya malas.
Tuan Romanov kini hanya bisa menggeleng pelan saat melihat tingkah dari kedua anak muda dengan jenis kelamin berbeda itu. Sementara para pelayan mansion yang sejak tadi diam-diam memperhatikan mereka hanya bisa tertawa gemas.
"Sudah-sudah!" seru tuan Romanov lagi. "Kalian berhentilah berdebat dan cepat kalian bersiap-siap, kakek akan menunggu kalian di meja makan satu jam lagi." perintah tuan Romanov kemudian ia pergi meninggalkan kedua cucunya, menaiki anak tangga, menuju ruang kerjanya.
Setelah kepergian sang kakek, Charlotte langsung menatap Xander dengan tajam. Ia mengangkat tangannya lalu memukul kepala Xander dengan sedikit keras.
"Aw... apaan sih?" gerutu Xander.
"Kau yang apa-apaan?" desis Charlotte. "Apa yang sudah kau bilang ke kakek tadi, hah? Dasar bodoh! Kau main aman boleh, tapi jangan sampai ngorbanin aku gitu dong!"
"Itu namanya 'memproteksi diri', Lottie!" Xander lalu mengangkat bahunya acuh. "Lagipula kau juga lsering melakukannya kan? Menyalahkanku. Nah di sini aku hanya sedang mencontoh kelakuanmu aja!"
"Cih! Itu jelas bukan memproteksi diri. Kau tahu, itu bahkan lebih pantas di sebut dengan mengkambing hitamkan seseorang."
"Terserah!" Xander mengibaskan tanganya acuh. "Terus kau sendiri, apa yang kau bilang ke kakek tadi, hah? Kenapa kau malah bahas kelompok geng-ku segala? Kau pasti sengaja bikin nama baik geng ku jadi jelek aja di mata kakek."
Charlotte mendecih. "Terus memangnya kau pikir, oa7 tadi nggak ngerusak nama baikku di hadapan kakek?"
"Ck, asal kau tau ya, aku nggak perlu ngerusak nama baikmu itu. Karena pandangan kakek tentang dirimu saja sudah sangat buruk!" Xander menatap Charlotte dengan senyum sinis.
"Sial*n, apa kau bilang? Coba ngomong sekali lagi, kalau kay bosan hidup!" ancam Charlotte kesal.
"Nggak! Aku nggak bosan sama hidupku. Hidupku bahagia. Aku juga belum mau mati!" terang Xander dengan santai. "Minggir, aku mau mandi!"
Xander lalu melangkah kabur meninggalkan Charlotte.
"Iss, Alexander Clinton sialan!" Charlotte berjalan mendekati Xander, mencoba untuk memukulnya sekali lagi. "Urusan kita belum sele-"
"Stop!" Xander langsung mendorong mundur dari Charlotte dengan tangannya hingga membuat langkah gadis itu langsung terhenti. "Sekarang lebih baik kau juga cepetan mandi, sebelum kakek kembali dan memerintahmu untuk kedua kalinya." ujar Xander sambil berlalu pergi.
Charlotte menggerutu melihat kepergian Xander, ia berdecak kesal lalu berbalik. Dan saat itulah Charlotte melihat para pelayan yang sejak tadi mendengarkan mereka tengah menatapnya sambil senyum-senyum.
"Apa liat-liat?" sentak Charlotte membuat para pelayan itu menunduk takut. Ia lalu segera berjalan menuju kamarnya sambil menghentakkan kakinya kesal.
__ADS_1
***