Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
35.


__ADS_3

Pemuda tampan berambut hitam kecoklatan itu tampak sedang memarkirkan sepeda miliknya di parkiran kampus. Ia menghela pelan, mencoba mengatur napas yang memburu karena sedikit kelelahan. Ia sedikit mengebut di jalan tadi karena tahu jam masuk kuliah sudah dekat.


Sebentar lagi dosen akan datang. Ia tak mau terlambat. Selama ini ia tak pernah datang hampir terlambat seperti ini karena waktunya terbuang di kafe yang disebabkan oleh wanita asing dan aneh.


Wanita itu menabraknya dan memintanya untuk minta maaf atas kesalahan yang bahkan tak ia lakukan. Karena perdebatan itu cukup membuang waktu, akhirnya ia minta maaf.


Tidak ada salahnya jika ia minta maaf pada wanita ini meskipun itu bukan kesalahannya. Lagipula jika terus di lanjutkan, nantinya perdebatan itu akan membuang waktunya. Ia bisa terlambat masuk kuliah.


Setelah memperbaiki letak tas di punggungnya, ia lalu berjalan pelan melewati area parkir menuju aula kampus. Namun, baru beberapa langkah ia memasuki aula, seluruh pasang mata di aula itu sudah menatapnya dengan tatapan penuh rasa kagum.


Bahkan beberapa gadis yang berdiri di dekat pintu masuk pun tak segan memberikan kedipan mata dan senyuman manis mereka kepadanya, tapi pemuda itu hanya membalasnya dengan senyuman canggung dan terus berjalan memasuki area kampus itu.


Ia terus saja berjalan lurus melewati para murid itu melewati koridor kampus menuju ruang kuliahnya.


"Hei Justin!" seru seseorang padanya.


Justin Kim atau yang lebih sering di sapa Justin itu langsung menoleh dan tersenyum lebar saat mendengar seruan itu. Ia mengenal jelas siapa pemilik suara itu.


Ia menoleh dan mendapati Charlie -teman sekelasnya yang juga berstatus sebagai sahabatnya sejak SMA- tengah tersenyum ramah menatapnya.


"Charlie!" ujar Justin sumringah kemudian segera berlari mendekati sahabatnya itu dengan langkah sedikit tertatih-tatih.


"Kenapa langkahmu terlihat pincang begitu?" tanya Charlie menatap heran pada kaki Justin.


Justin menghentikkan langkahnya dan langsung menunduk, turut melihat kakinya. "Apa terlihat jelas?"


"Ya, lumayan." jawab Charlie menyilangkan tangannya, lalu menatap Justin penuh selidik. "Kau terluka?"


"Ya! Aku tidak menyangka akan terasa sesakit ini, padahal ini hanya luka kecil." cengir Justin.


"Apa yang terjadi memangnya? Kecerobohan apalagi yang sudah kau lakukan kali ini?" Charlie menatap Justin lekat, terlihat raut khawatir di wajahnya.


"Aku mendapat kecelakaan kemarin!" cengir Justin sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Charlie tercengang sesaat sebelum akhirnya ia membulatkan kedua matanya. "Apa kau bilang? Kau kecelakaan. Bagaimana bisa?"


"Seseorang menabrakku dengan mobil saat aku akan mengantar pesanan makanan." Justin menjelaskan dengan tenang.

__ADS_1


"Astaga! Lalu apa kau tidak apa-apa? Kau baik-baik saja kan?" tanya Charlie khawatir. Ia merasa shock setelah Justin menceritakkan apa yang sudah di alaminya.


Justin mengangguk mengiyakan. "Aku tidak apa-apa, Charlie! Hanya saja lenganku terasa sedikit linu, sepertinya terkilir. Ah... dan juga aku mendapat beberapa luka lainnya, termasuk di dahi dan juga di kakiku ini!" ujar Justin sambil menunjukan luka-lukanya di anggota tubuhnya yang lain.


Charlie menatap sahabatnya itu dengan tatapan tak percaya. Entah kenapa pemuda itu justru memperlihatkan luka-lukanya dengan ekspresi bangga seperti itu. Ini kan musibah, bukan prestasi.


"Ah, aku yakin kalau makanan yang harusnya kau antar itu pasti hancur kan?" Charlie menatap Justin prihatin.


Justin kembali mengangguk. "Ya, karena musibah itu aku bahkan harus kembali lagi ke restoran untuk mengganti pesanan yang tumpah. Dan hal itu sempat membuat beberapa pelangganku marah. Tapi beruntung mereka masih bisa mengerti setelah melihat luka di dahi dan kakiku." terang Justin tersenyum kecil.


"Itu terlihat buruk!" Charlie meringis saat melihat luka di beberapa bagian tubuh sahabatnya itu. Ia lalu menyentuh luka di dahi Justin yang di beri plester luka. "Ini gawat! Lukanya benar-benar sudah mencoreng wajah tampanmu, Justin."


Justin memutar bola matanya, perkataan Charlie barusan langsung membuatnya tersenyum sambil menggelengkan kepala.


"Kau ini, masih sempat saja membahas wajahku!" ujar Justin tersipu.


"Tentu saja." jawab Charlie cepat. "Bukankah sudah pernah ku katakan kalau aku sangat iri dengan wajahmu itu. Lihat ini! Wajahmu tercoreng. Untung saja kau sangat tampan." puji Charlie.


"Ini gila, bahkan dengan luka di wajahmu itu kau masih terlihat sangat tampan." Charlie menatap takjub pada wajah sahabatnya itu. "Pantas saja kau jadi rebutan para gadis dan aku tidak!"


"Haha, kau ini, Charlie! Ada-ada saja." balas Justin, ia lalu mengibaskan tangannya. "Sudahlah, tidak usah di pikirkan!" tanggap Justin santai.


"Hentikan ucapanmu itu, Charlie! Itu benar-benar tidak penting."


"Ya, ya! Baiklah." Charlie memutar bola matanya malas. "Oh ya ini sudah hampir jam delapan pagi, sepertinya kau datang terlambat. Kenapa bisa terlambat? Tidak biasanya."


"Ya, itu karena aku tadi pergi ke kafe di dekat kampus untuk membeli kopi." ujar Justin mencoba untuk menjelaskan alasan keterlambatannya.


"Kau pergi ke kafe hits itu?" Charlie menatap takjub. Ia agak kaget mengetahui Justin pergi ke kafe itu sendiri, biasanya mereka pergi bersama.


"Ya, aku kesana."


"Lalu kenapa tidak mengajakku juga?" seru Charlie tak terima.


"Aku lupa, Charlie." Justin tersenyum canggung.


"Ah, kau pasti membeli kopi di sana untuk menggoda para gadis kan, mengaku saja!" tuduh Charlie.

__ADS_1


Justin sontak menggeleng. "Di sana bahkan hanya ada tiga orang gadis, Charlie. Lagipula aku membeli kopi bukan untuk melihat para gadis itu. Tapi untuk menahan rasa mengantuk."


"Kenapa?" Charlie kemudian melihat wajah lelah Justin. "Sepertinya aku tau jawabannya! Kau tidak perlu menjawab apapun! Pasti kau begadang lagi kan?"


Justin memberikan cengiran pada Charlie. Ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Ya! Itu karena aku sedang mengerjakan tugas minggu lalu yang belum aku selesaikan."


"Kau memang selalu begitu!" Charlie berdecak. "Padahal tugas itu baru akan kita kumpulan tiga hari kedepan."


"Tidak apa-apa! Aku hanya menggunakan waktu kosong yang aku punya saja." Justin menarik nafasnya sesaat. "Oh ya, di kafe tadi aku mendapat insiden kecil!"


"Insiden lagi?" Charlie menatap Justin takjub. Entah kenapa sahabatnya ini tidak bisa jauh-jauh dari hal-hal yang membahayakan.


Dia benar-benar sangat ceroboh.


Justin mengangguk. "Ya, aku bertemu dengan seorang gadis yang entah kenapa marah hanya karena aku tidak mengenalnya. Aku tidak tau dia siapa tapi dia terlihat sangat marah padaku!" terang Justin panjang lebar.


"Benarkah?"


Justin mengangguk. "Kau tau, Charlie! Gadis itu, dia yang sudah menabrakku tapi dia juga yang marah-marah padaku karena kopi miliknya tumpah."


Charlie terkekeh.


"Mungkin dia hanya salah satu dari fansmu, Justin! Dia pasti hanya sedang mencoba mencari perhatianmu saja. Sama seperti para gadis itu." ujar Charlie lalu menunjuk gerombolan gadis yang berdiri di dekat mereka dengan dagunya.


Justin ikut menoleh ke arah yang Charlie tunjuk barusan dan melihat para gadis yang kini tengah menatapanya.


Melihat Justin yang menoleh kearah mereka, para gadis itu langsung berbisik kegirangan.


Justin menghela napasnya malas lalu menatap Charlie datar. "Jangan bicara sembarangan, Charlie! Aku tidak punya fans. Dan bisakah kau berhenti menyebut mereka sebagai fansku." 


"Tidak punya fans apanya?" Charlie tersenyum sinis lalu kembali melirik sekilas pada sekumpulan gadis cantik yang berdiri di dekat mereka. "Lalu kau anggap apa para gadis itu? Lihat, mereka adalah orang yang selalu memberimu makanan setiap hari pada pagi hari!"


Justin mendengus. "Aku bahkan tidak pernah meminta itu pada mereka."


"Hei, jangan bilang begitu. Memangnya siapa lagi yang rela menunggumu bahkan sampai kau selesai kuliah dan pulang dari kampus itu, hah? Tentu saja para fansmu kan, begitu kita menyebutnya!


"Ah, jangan bahas mereka Charlie. Aku tidak ingin membahas mereka sekarang. " protes Justin. Ia sudah benar-benar merasa bosan saat Charlie terus menerus membahas tentang para gadis itu.

__ADS_1


***


__ADS_2