
Charlotte melangkahkan kakinya dengan enggan menuju ke ruang makan. Sesampainya ia di sana, dapat Charlotte lihat sang kakek yang merupakan kepala keluarga sudah duduk di ujung meja. Ia terlihat belum menyantap makanan apapun.
Sementara itu di kursi yang ada di sebelah kanan sang kakek dapat Charlotte lihat ada Justin yang tengah duduk sambil menundukkan kepalanya, menatap jari tangan yang ada di pangkuannya.
"Akhirnya, kau datang juga" ujar tuan Romanov menyambut ramah kedatangan cucu perempuannya itu. "Kenapa kau tiba-tiba menghilang dari ruang tamu?"
Charlotte langsung mengalihkan perhatiannya dari Justin, menatap pada sang kakek.
"Aku meninggalkan sesuatu di mobil," Charlotte menjawab sambil tersenyum kecil sebagai tanggapan. Ah, ia yakin kalau senyumannya pasti terlihat canggung saat ini.
"Duduklah dulu Charlotte," ujar tuan Romanov lagi sambil menunjuk kursi kosong yang ada di dekatnya.
Charlotte dengan raut malas mengangguk namun tetap menurut dan mengikuti perintah sang kakek padanya. Ia langsung berjalan memutari meja dan memilih duduk tepat di hadapan Justin.
Justin yang melihat kedatangan Charlotte lalu menengadah. Pupil matanya membesar, terkejut dengan kehadiran gadis itu. Raut wajahnya berubah gugup. Ia lalu menyapa sambil menundukkan kepalanya, telihat sekali bahwa ia merasa tidak nyaman berada di tengah-tengah mereka.
"Dimana Xander?" tanya kakek pada Charlotte begitu gadis itu menyamankan posisinya pada kursi yang ia duduki.
"Dia..."
"Aku di sini, kek!" seru seseorang.
Belum sempat Charlotte menjawab, tiba-tiba saja muncul seorang pemuda dengan wajah tampan, sangat tampan dengan tinggi badan yang tinggi menjulang.
Pemuda tampan itu kemudian langsung duduk disamping Charlotte, tepatnya di kursi kosong yang juga ada di hadapan Justin yang sudah disediakan perlengkapan makannya.
Justin mengangkat kepalanya untuk melihat wajah dari pria itu. Justin jelas mengenal siapa dia. Dia adalah Alexander, si Raja kampus yang sempat di ceritakan Charlie padanya waktu itu. Dia adalah pemuda yang datang bersama Charlotte ke kampus dan mendapat sorakan histeris dari para mahasiswi di kampusnya.
"Xander, kenalkan, ini Justin Kim. Dia ini adalah pemuda yang sempat kakek ceritakan padamu pagi tadi." ujar Tuan Romanov mengenalkan mereka, membuat pemuda tampan itu langsung menatap kearah Justin.
"Salam kenal, aku Alexander Clinton" Xander berujar dengan ramah yang langsung di angguki kepala oleh Justin.
"Saya Justin Kim, salam kenal juga." balas Justin dengan senyum kaku.
Xander yang baru saja mendudukkan dirinya dengan nyaman di kursi, menganggukkan kepalanya.
Sejujurnya Xander sendiri pernah bertemu dengan pemuda ini satu kali sebelumnya. Ia bertemu dengan pemuda ini ketika ia muncul di rumah baru milik Charlotte, tepatnya saat pemuda ini menjadi kurir dan mengantar ayam ke rumah Charlotte waktu itu. Dan itu adalah pertama kalinya Xander bertemu dengannya kala itu.
"Kakek sudah menceritakan banyak sekali hal baik tentang dirimu. Dan aku berterima kasih karena kau sudah bersedia untuk datang kemari."
"Ah, iya. Saya juga berterima kasih karena sudah di undang datang kemari." balas Justin dengan sopan.
Mendengar perkataan Xander itu, Charlotte sontak menaikkan sebelah alisnya. Ia melirik heran pada Xander yang duduk di sebelahnya.
'Apa ini? Xander mendapat cerita dari kakek? Tapi cerita apa yang Xander maksud barusan?' batin Charlotte sembari menyipitkan mata pada Xander.
__ADS_1
Sementara itu Xander yang tidak sadar tengah di tatap oleh Charlotte malah menatap wajah Justin dengan lekat. Pemuda itu terlihat memperhatikan sang kakek yang sejak tadi terus mengajak dirinya bicara tentang berbagai hal.
'Kakek pasti suka pada pemuda ini. Ya, kakek akan berubah jadi banyak bicara pada orang yang dia sukai' batin Xander menggelengkan kepala sambil tersenyum.
Sampai akhirnya makanan pun datang dan aroma dari makanan itu membuat tuan Romanov mengalihkan topik pembicaraan. Ia kini dengan serius menjelaskan macam-macam makanan yang ada di depan mereka saat ini pada Justin yang terlihat mendengarkan dengan seksama.
Di atas meja kini tersedia bermacam-macam menu mewah yang sebenarnya tidak dimengerti oleh Justin. Tuan Romanov mengatakan kalau jenis masakan yang tersedia di hadapan mereka saat ini adalah jenis masakan yang berasal dari negara Turki. Justin yang sejak tadi mendengarkan sama sekali tidak bisa mengingat nama-nama masakannya.
Selain itu ada juga masakan Indonesia yang di sajikan seperti opor ayam, lobster asam manis, dan masakan Indonesia lainnya.
"Kau mau makan masakan yang mana? Semuanya di sini sangat enak, kakek jamin itu." ujar tuan Romanov.
"Sa-saya makan opor ayamnya saja, tuan." ujar Justin tersenyum.
"Baiklah, tapi kalau bisa kau cobalah masakan yang lain. Semua ini memang di sediakan hanya untuk menyambutmu. Jadi kau juga harus mencicipinya."
"Ah, terimakasih, tuan. Akan saya coba." Justin mengangguk pelan.
Charlotte terus saja memperhatikan sang kakek yang tampak lebih bersemangat dari pada hari-hari biasanya.
'Kakek tidak pernah seperti ini. Dia terlihat begitu memuja pemuda ini.' batinnya mencebik kesal.
Diam-diam Xander lalu melirik ke sebelahnya dimana Charlotte saat ini tengah duduk dan fokus menatap Justin tanpa berkedip. Xander lalu terkekeh. Melihat pemuda incarannya ada di rumahnya sendiri, Xander pikir hal ini pasti akan sangat memusingkan bagi gadis itu.
"Berhenti menatapnya, kau terlihat seperti ingin memakan pemuda itu saat ini juga." bisik Xander.
Mereka lalu melanjutkan acara makan malam itu dengan suasana yang begitu santai. Mereka menikmati makanan sambil berbicara mengenai berbagai hal seperti tentang pekerjaan Justin, hobi berkebun Tuan Romanov, hobi olahraga Xander dan berbagai topik santai lainnya.
Sementara itu, saat semua orang sibuk bicara dan tertawa, Charlotte justru sama sekali tidak berbicara apapun. Ia hanya diam dan mendengarkan. Charlotte jelas jadi orang yang sangat amat merasa bosan pada situasi saat ini.
'Apa-apaan ini, kenapa aku jadi yang tersisih di sini?" gerutunya.
Charlotte kemudian melirik ke arah pemuda tampan di depannya yang ternyata juga tengah menatapnya. Kedapatan tengah menatap Charlotte, Justin buru-buru menunduk. Charlotte entah kenapa merasa kalau pemuda itu terlihat begitu canggung saat melihat dirinya.
Charlote melirik sekilas Xander yang ada di sebelahnya lalu menyenggol lengan pemuda itu dengan sikunya, membuat Xander yang tengah sibuk menyendok nasi ke dalam mulutnya itu langsung menoleh.
"Apa?" tanya Xander.
"Kenapa kakek membawa pemuda ini datang ke mansion ini? Darimana kakek bisa mengenalnya? Dan... cerita macam apa yang sudah kakek katakan padamu?" bisik Charlotte pelan namun sepertinya suaranya masih bisa tertangkap di pendengaran Xander.
"Masalah itu... sepertinya bukan aku, tapi kakeklah yang harus menceritakannya padamu."
"Begitukah?" Charlotte menaikkan sebelah alisnya, heran. Ia lalu kembali berbisik pada kakaknya itu. "Dan juga, kakek tidak pernah mengajak orang lain untuk makan malam seperti ini di mansion, selain orang yang dia sukai!"
"Entahlah..." Xander hanya menggedikkan bahunya acuh. "Mungkin kakek memang suka padanya."
__ADS_1
Merasa Xander yang terlalu acuh saat menjawab pertanyaannya, membuat Charlotte kesal dan langsung menginjak sepatu Xander dengan ujung high heels yang ia kenakan.
"Aw, sakit! Apa-apaan sih, pakai injak-injak kaki ku segala, hah?" bisik Xander.
"Berhenti merahasiakan apapun dariku! Apa yang kakek katakan padamu? Cepat katakan!" tanya Charlotte tak sabar.
"Baiklah!" Xander menghela napasnya pelan. Ia melirik sang kakek yang masih sibuk mengajak Justin bicara. "Sepertinya kakek ingin menebus kesalahannya!"
"Kesalahan?" Charlotte menoleh cepat pada Xander, menatap kakak laki-lakinya itu dengan alis yang sedikit berkerut, ia lalu lanjut berbisik. "Kesalahan apa maksudmu?"
"Sedikit yang aku ketahui, kakek sudah menabrak pemuda ini!" Xander menjelaskan dengan nada suara serius. "Kakek sempat mengatakan padaku tadi pagi."
"Menabrak?"
"Ya, semacam kecelakaan yang di sebabkan oleh kakek, yang sudah pasti membuat pemuda itu cidera."
Charlotte mengangguk paham lalu menatap sengit Justin yang duduk di hadapannya.
'Jadi itu alasannya kenapa kakek bisa mengenalnya. Tapi apa sebenarnya alasan kakek memintanya datang kemari? Ah, apakah kehadiran bocah ini di sini karena dia ingin mencoba meminta ganti rugi pada kakek?' batinnya.
Charlotte lalu menutup mata sambil menundukkan kepalanya. Ia menggelengkan kepalanya sambil memijit pelipisnya yang kini mulai berkedut. Apa ini? Kisah hidup macam apa ini sebenarnya? Ini seakan sebuah takdir baginya. Dan kenapa dunia benar-benar sesempit ini?
Pemuda di hadapannya ini adalah calon 'korban' bagi Charlotte. Ia sudah berencana untuk mempermainkan hati lelaki ini, sama seperti lelaki lainnya lalu menghempasnya. Tapi ternyata tidak akan mudah. Ini justru jadi rumit. Lagipula, kenapa kakeknya justru mengenalnya seperti ini?
Sejujurnya bukan hal besar bagi Charlotte kalau masalahnya hanya tentang kakeknya yang mengenal Justin. Tapi ini karena kakeknya yang terlihat begitu mengagumi Justin. Charlotte tidak pernah mengalami hal semacam ini sebelumnya. Kakeknya tidak pernah mengenal lelaki yang dekat dengan Charlotte sebelumnya.
Tapi Justin Kim, dia agak berbeda di sini. Salah satunya bisa di lihat sendiri kalau kakeknya terlihat seperti memujanya dan itu entah kenapa membuatnya jadi merasa tak enak pada sang kakek.
Ah... semua ini sungguh membuat kepalanya sakit saja.
Xander melirik pemuda yang tengah duduk berhadapan dengan Charlotte itu. Yang Xander tau, Justin beberapa kali juga kedapatan diam-diam tengah menatap pada Charlotte.
Xander tidak tau bagaimana perasaan pemuda itu pada Charlotte tapi bukankah ini bagus, jika ternyata kakek mereka mengenal Justin. Bukankah itu artinya Charlotte tidak akan bisa melakukan apapun yang menjadi rencananya pada pemuda itu? Apalagi tuan Romanov terlihat begitu peduli dengan pemuda itu.
'Kakek bisa menghabisi Charlotte kalau begini ceritanya.' batin Xander.
Sekali lagi Xander melirik pada Justin, kemudian melirik Charlotte, dan terkekeh sendiri.
'Sepertinya ini akan seru...' batin Xander sambil tersenyum sinis.
***
✔ Note :
▪Author tidak akan mengubah kesalahan ejaan, typo dan hal lainnya karena faktor KEMALASAN TINGKAT AKUT. Dan sesungguhnya kemalasan adalah kerajinan yang tertunda.
__ADS_1
▪Author peduli dengan kesehatan mata kalian, jadi, kalau kalian kurang suka sama ceritanya, Author sarankan kalian untuk mencari cerita yang lain saja, karena cerita ini bisa menyebabkan sakit mata akut.