
"Apa kau bilang?" pekik Charlotte nyaring, membuat beberapa pelayan yang berada di dekatnya langsung menoleh kaget. Charlotte menatap Paul, asisten tuan Romanov dengan tatapan nyalang. "Kau bilang Xander pergi bersama kakek?"
Sebuah anggukan dia terima sebagai jawaban. "Ya, nona."
"Dan mereka pergi ke pabrik?" tanya Charlotte lagi, kali ini dengan nada yang lebih menyolot.
Sekali lagi pria paruh baya di hadapan Charlotte itu mengangguk, membuat tubuh Charlotte langsung membeku di tempatnya.
"Sejak kapan mereka pergi?"
"Mereka baru saja pergi, nona! Mungkin sekitar sepuluh menit yang lalu." jelas Paul dengan nada gugup.
"Sial!" umpat Charlotte entah pada siapa.
"Tuan Romanov sempat mengatakan pada saya, selain ke pabrik, mereka juga akan mengunjungi hotel dan beberapa tempat lainnya. Jadi saya rasa mereka akan pulang sore atau malam hari nanti, nona."
Selama Paul menjelaskan, mata Charlotte tetap terus menatap asisten pribadi dari kakeknya itu dengan tatapan tajam. Membuat Paul merasa terintimidasi dan sedang di todong dengan pisau yang membuatnya tak bisa berkutik sama sekali. Setelah mengatakan itu ia pun langsung menundukkan kepalanya takut.
Charlotte lalu berdecak kesal. Ia bahkan hampir tidak percaya dengan telinganya saat mendengar penjelasan Paul barusan.
Bayangkan saja, pagi ini dia sudah bersiap seperti biasa untuk pergi ke kampus, tapi yang ia dapati sekarang adalah laporan dari asisten kakeknya yang mengatakan bahwa Xander sudah pergi bersama sang kakek.
Apa-apaan ini?
Charlotte kembali menatap sang asisten.
"Lalu kenapa kakek tidak memberitahu aku terlebih dulu? Dan kau... kau kan bisa mengabariku lebih dahulu sebelumnya." seru Charlotte tidak terima.
Paul langsung menggeleng takut. "Sa-Saya tidak tahu, nona. Tuan Romanov hanya mengatakan pada saya, untuk memberitahukan tentang kepergian beliau dan tuan muda Xander jika nona bertanya."
"Bisa-bisanya kakek melakukan ini padaku." decaknya sebal.
Paul menelan ludahnya kasar, "Tuan Romanov mengajak tuan muda Xander ke pabrik untuk-"
"Stop! Berhenti bicara!" ujar Charlotte mengangkat tangannya, memotong ucapan Paul dengan cepat. "Aku tidak peduli dengan apa yang sedang mereka lakukan atau pergi kemana mereka. Yang jelas adalah... saat ini Xander tidak ada disini! Dia tidak ada di hadapanku! Dan kakek sudah berani membawanya bahkan tanpa mengatakan apapun padaku sebelumnya."
"Nona, tuan Romanov mengatakan ba-"
"Diam!" Charlotte kembali memotong ucapan Paul, kali ini dengan nada tajam dan dingin. "Aku sudah memerintahkanmu untuk berhenti bicara kan, Paul?"
Paul mengangguk kecil.
__ADS_1
"Ma-maaf, nona." ujarnya kemudian dengan nada pelan.
Paul kemudian diam di posisinya. Ia sama sekali tidak berani menjawab atau mengatakan apapun lagi jika Charlotte sudah mengomel seperti itu.
Charlotte menghela napasnya kasar. Entah kenapa ia merasa pikirannya terasa kacau.
"Baiklah kalau begitu..." ucap Charlotte dengan nada kesal. "Kalau Xander tidak ada di sini, dihadapanku, itu artinya aku tidak akan pergi kemana-mana!"
Charlotte berujar acuh, melempar tas mahal miliknya dengan asal ke atas lantai. Ia bahkan tidak peduli lagi tentang seberapa mahal ia membeli tas itu.
Melihat itu, Paul hanya bisa berdiri melongo di tempatnya. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri saat tas mahal yang ia yakini pasti seharga lima bulan gaji-nya itu baru saja dilempar ke atas lantai begitu saja dengan mudahnya.
"Aku tidak akan kuliah hari ini!" terang Charlotte. Ia sudah hendak melangkah pergi, namun langkahnya kembali terhenti saat mendengar sahutan dari Paul.
"No-nona tapi-"
Charlotte berbalik dan menatap Paul dengan tajam, membuat pria paruh baya itu mengurungkan niatnya untuk bicara dan kembali menutup mulutnya.
Gadis itu menaikkn sebelah alisnya lalu melangkah pelan mendekat pada Paul. "Jangan terlalu banyak bicara, Paul! Ingat posisimu!"
Paul menundukkan kepalanya, kemudian mengangguk. "Maaf nona." jawabnya dengan pasrah.
"Lagipula kau bukan asistenku. Kau adalah asisten kakek. Itu sebabnya kau tidak perlu banyak bicara saat ada di hadapanku, seperti saat kau berada di hadapan kakek." lanjut Charlotte.
Ia menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa sambil memejamkan kedua matanya, mencoba untuk mengatur nafasnya yang masih memburu karena emosi.
Beberapa detik kemudian seorang pelayan segera bergerak mengambil tas milik Charlotte yang tergeletak di lantai tadi lalu meletakannya ke atas meja, tepat di hadapan Charlotte.
Charlotte membuka mata dan melirik ke arah Paul yang ternyata masih berdiri di hadapannya, entah sedang menunggu apa.
"Paul?" serunya.
"Ya, nona?" jawab Paul mengangkat kepalanya.
"Kenapa kau masih ada di sini? Apa kau tidak pergi? Apa lagi yang kau tunggu." Charlotte membenarkan posisi duduknya agar sedikit lebih tegak. "Aku bukan kakek yang harus kau ikuti kemanapun." Charlotte berujar sinis.
"Sa-saya hanya-" asisten Paul sedikit terhenyak saat mendengar teguran dari Charlotte itu hingga tidak tau harus menjawab apa.
"Pergilah Paul! Entah kenapa aku semakin emosi saja melihatmu berdiri di situ!" ujar Charlotte mengibaskan tangannya, mengusir Paul agar segera pergi dari tempat itu.
Paul mengangguk. "Baik nona, ka-kalau begitu saya pe-pergi dulu, nona." ujarnya.
__ADS_1
Paul dengan cepat membungkukkan setengah badannya sopan kemudian segera beranjak pergi dari tempat itu agar sang nona muda bisa sedikit lebih tenang.
Charlotte kini hanya bisa menghela nafasnya kasar sambil terus menatap kepergian Paul yang sudah berjalan menjauhinya. Ia lalu melirik jam dinding di ruangan itu yang menunjukkan pukul tujuh pagi.
Charlotte mendecih. "Harusnya aku sudah pergi ke kampus sekarang." gerutunya.
Beberapa saat kemudian perhatian Charlotte teralihkan oleh suara langkah kaki seseorang yang tengah berjalan masuk ke dalam mansion dan membuatnya langsung menoleh ke sumber suara itu.
"Mario?" gumam Charlotte bingung.
Tunggu dulu, kenapa bodyguard kakeknya itu masih ada di mansion. Ia lalu menatap heran pada pemuda itu.
"Kenapa kau masih di sini? Kau tidak pergi bersama kakek?" tanya Charlotte.
Mario menggeleng. "Tidak nona, hari ini tuan Romanov hanya memerintah saya untuk mengurus hal lain di kantor utama. Dan sepertinya tadi tuan Romanov pergi bersama tuan muda Xander."
"Baiklah! Kau bisa pergi sekarang." ujar Charlotte dan langsung di angguki patuh oleh Mario.
Setelah kepergian Mario, Charlotte lalu mengerutkan dahinya. "Kenapa kakek memerintahkan Mario untuk mengurus kantor utama dan dia malah pergi bersama Xander ke pabrik?" gumam Charlotte.
"Untuk apa Xander dan kakek pergi ke pabrik pagi-pagi begini?" gerutu Charlotte. "Dan kenapa juga kakek harus membawa Xander?"
Charlotte lalu mengambil ponsel miliknya, mencoba menghubungi Xander. "Sialan, kenapa ponselnya tidak aktif?"
Dengan kesal Charlotte melempar ponselnya ke atas meja, tanpa khawatir sedikit pun jika benda itu akan rusak.
Kemudian sambil terus menggerutu kesal ia bangun dan beranjak dari sofa itu. Ia mengambil tas dan ponselnya dari atas meja lalu berjalan dengan cepat meninggalkan ruangan itu, kembali menuju kamarnya.
Seluruh pelayan yang sedang berada di ruangan itu hanya bisa menunduk hormat saat gadis itu berjalan melewati mereka dan mereka hanya menatap kepergian gadis itu dalam diam. Mereka semua sudah sangat paham jika wanita itu sedang marah besar maka jangan sampai ada yang berani menyapa atau mengajaknya bicara.
Sebenarnya, banyak dari mereka yang cukup merasa prihatin melihat kegelisahan sang nona muda mereka itu. Mereka tau Charlotte tidak suka jika sang kakak lelakinya itu berada jauh darinya.
Xander itu ibarat bayangan dari Charlotte, dimana ada Charlotte, disitu juga ada Xander. Mereka memang bisa berpisah, tapi setelah itu mereka akan saling mencari satu sama lain.
Bukan..
Bukan sebagai sepasang kekasih. Tapi sebagai saudara yang tidak dapat di pisahkan. Seperti saudara kembar. Charlotte dan Xander adalah dua orang yang jika kau mencoba untuk memisahkan mereka, sama artinya kau cari mati.
Bahkan selama ini, selain Xander tidak ada orang yang mampu menaklukan sifat liar Charlotte, bahkan termasuk kakeknya sendiri. Hal itu yang membuat semua orang bahkan penasaran akan seperti apa kedepannya nanti jika Xander sudah memiliki pasangannya sendiri.
Dan apakah suatu saat nanti akan ada seseorang yang mampu menaklukan sifat liar dari gadis itu?
__ADS_1
Selain Xander tentunya.
***