Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
64.


__ADS_3

Laurent berdiri terpaku begitu ia membuka pintu dari rumah Charlotte. Pemandangan di depannya saat ini benar-benar membuatnya terkejut. Ya, walaupun adegan di hadapannya ini adalah sesuatu yang memang selalu ia hadapi selama ini tapi tetap saja ia masih terkejut.


"Charlotte...!" pekik Xander yang baru saja datang, menyusul dari belakang Laurent membuat Charlotte dan kekasihnya sontak terjungkal bersamaan.


"Apa kau gila?" pekik Xander lagi dengan nyaring. Ia dengan buru-buru bergerak masuk ke dalam ruang tamu dan langsung menarik tubuh pria yang saat ini tengah menindih adiknya itu, menghempaskannya dengan keras ke atas lantai.


"Apa yang kau lakukan?" Charlotte menggerutu karena Xander baru saja menggagalkan acara ciumannya dengan kekasihnya.


"Justru aku yang harus bertanya, apa yang sedang kau lakukan?" bentak Xander.


"Ck, apa kau tidak lihat tadi aku sedang apa? Aku sedang bermesraan!" jawab Charlotte santai.


Nada bicara Charlotte yang terlalu santai itu justru membuat emosi Xander semakin memuncak. Laurent yang menyaksikan dari arah pintu bahkan bergidik ngeri melihat ekspresi Xander saat itu.


Xander menghembuskan napasnya, mencoba untuk mengatur emosinya agar tenang kembali. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya, benar-benar tidak habis pikir kenapa Charlotte melakukan 'hal ini' di rumahnya bahkan tanpa mengunci pintu rumahnya seperti ini. Apakah dia tidak takut akan ada orang asing yang tiba-tiba masuk ke dalam rumahnya dan melihat kegiatan apa yang sedang ia lakukan bersama kekasihnya tadi. Dan apakah gadis ini tidak takut kalau hal seperti ini bisa dengan mudah membuat karirnya hancur nanti?


"Apa kau tidak takut akan ada orang yang tiba-tiba masuk dan melihat semua yang kau lakukan?" omel Xander.


"Aku tidak perlu takut dengan hal seperti itu. Orang asing tidak akan berani masuk ke dalam rumahku tanpa mengetuk pintu. Ya, di dunia ini memang hanya kalian berdua saja yang akan masuk ke rumah orang lain tanpa mengetuk pintu."


Xander mengusap wajahnya kasar. Sejak tadi ia terus mencoba mengatur emosinya sendiri.


"Pergi kau!" usir Xander pada pria tadi.


"Tidak!" balas Charlotte. "Dia tidak akan pergi!"


Xander terlihat tak peduli. Ia mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah pintu keluar dengan tatapan tajam. "Aku bilang pergi!"


"Xander!"


"Diam!" Xander menghentikkan Charlotte yang hendak protes, lalu kembali menatap pria tadi. "Dan kau! Kenakan pakaianmu dan cepat pergi dari sini!Jika tidak, aku akan langsung mematahkan kakimu sekarang juga." ujar Xander pada pria itu.


Pria itu menatap horor pada Xander kemudian menganggukkan kepalanya. Ia dengan cepat memungut pakaiannya dan segera mengenakannya kembali.


Setelah mengenakkan pakaiannya, pria itu langsung melangkah cepat menuju pintu keluar rumah Charlotte. Dan saat ia berada di dekat pintu, pria itu berpapasan dengan Laurent yang sejak tadi memang masih berdiri diam di dekat pintu.


Charlotte yang merasa terganggu dengan apa yang Xander lakukan barusan merasa sangat kesal. Ia kemudian bangkit dari posisi berbaringnya dan memperbaiki pakaiannya yang saat ini terlihat agak berantakan.

__ADS_1


"Kau benar-benar mengganggu," gerutu Charlotte


"Kau membawa laki-laki kemari Lottie!" ujar Xander sambil menatap Charlotte, sementara yang sedang yang ditatap hanya nyengir sinis.


"Ya, dia Andrew, kami bertemu tadi sore. Dan aku-"


"Aku sama sekali tidak peduli siapa dia dan kapan kalian bertemu. Yang aku pertanyakan saat ini adalah alasan kenapa dia bisa ada di sini? Kenapa kau harus membawanya kemari."


"Aku sedang tidak mood melakukannya di hotel. Dan tidak mungkin kan aku bermesraan dengan pria itu di rumah kakek, karena dia pasti akan menghabisiku saat itu juga.."


"Kenapa tidak di apartmentmu saja?"


"Apa kau gila? Kakek akan tahu jika aku membawa masuk laki-laki di apartment. Dia itu punya banyak sekali mata-mata. Dimana-mana. Aku jadi merinding sendiri membayangkannya." ujar Charlotte sambil menatap kukunya santai.


Xander berdecak, "Lalu apakah kau berpikir kakek tidak akan tahu kalau kau membawa laki-laki ke rumah ini?"


"Aku rasa untuk saat ini dia belum tau." Charlotte menggedikkan bahunya santai. "Mungkin kau lupa kalau kakek tidak tahu apapun mengenai rumah ini"


"Lain kali lakukan saja di hotel atau di apartmentmu sendiri. Kau tau aku ini kakakmu dan aku tidak suka melihatmu melakukan hal murahan seperti itu di sini."


"Ayolah Xander, yang benar saja? Kita kan tidak akan saling mencampuri urusan percintaan masing-masing?"


"Aku berhak melarangmu karena kakek memberiku pesan untuk menjagamu. Dan untuk masalah seperti ini, aku memang tidak akan melarangmu, asal kau tidak melakukannya tepat di depan mataku. Tapi jika aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri seperti yang barusan terjadi, aku akan menghabisi para lelaki itu. Karena sekali lagi, aku ini kakakmu dan aku berhak melindungimu." jelasnya panjang lebar.


"Tapi Xander, jika aku bermain di apartement, itu akan menyusahkanku nantinya. Bayangkan saja... beberapa penghuni apartment itu pasti mengetahui kalau aku ini adalah seorang model. Dan jika mereka melihatku membawa masuk laki-laki, itu akan menjadi rumor. Dan nama baikku pasti akan tercemar karena membawa pria."


"Ck, apa yang kau bicarakan? Orang-orang itu bahkan sudah mengetahui kalau kau memang suka berganti-ganti pria."


"Tapi mereka tidak tau kalau aku membawa pria kerumahku. Itu sebabnya aku mengajakmu membeli rumah ini bersama. Itu untuk melindungiku, entah dari orang-orang atau juga kakek."


Xander memutar bola matanya malas. Ia kemudian memilih untuk duduk di sofa yang berada paling ujung di ruang tamu itu.


"Tapi ini juga rumahku dan aku juga berhak melarang apapun yang tidak aku sukai. Tapi aku merasa penasaran, kenapa kau memintaku untuk datang kemari?" ujar Xander tanpa basa basi lagi. Ya, sebenarnya dia juga tidak terlalu peduli dimana dan dengan siapa Charlotte tidur.


Laurent yang menyandarkan punggungnya di ambang pintu menjentikkan jarinya. "Itulah yang juga membuatku penasaran. Kenapa kau meminta kami datang kemari?"


"Ya, masalah itu. Sebenarnya aku ingin mengajak kalian ke tempat biasa." ujar Charlotte.

__ADS_1


"Tempat biasa?" Laurent yang sejak tadi berdiri di dekat pintu, tanpa permisi lagi langsung nyelonong masuk begitu saja ke dalam rumah. "Klub malam, maksudmu?"


Charlotte mengangguk. "Ya, entah kenapa saat ini aku agak merasa bosan dan ingin hiburan."


"Sekarang?" tanya Laurent.


Xander memutar tubuhnya menghadap kearah Charlotte. "Kau merasa bosan?"


"Begitulah!" jawab Charlotte membuat Xander terkekeh.


"Apa ini? Seorang Charlotte bisa merasa bosan juga rupanya.." ujar Xander asal.


Perempuan dengan tinggi seratus tujuh puluh tiga senti meter itu mendesis sebal. Ia menatap datar pada Xander saat ini malah yang asyik bermain ponsel di posisinya.


Laurent sendiri terlihat tak begitu peduli dengan perdebatan kakak adik itu. Ia kini tengah membuka bungkusan makanan yang ada di atas meja.


"Apa ini ayam?" tanya Laurent kemudian.


Charlotte mengangguk singkat. "Kami bahkan belum sempat menikmati makanan itu dan kalian sudah datang untuk mengganggu. Kenapa kalian cepat sekali datang?"


"Itu karena kami lebih gesit dari pada apapun." balas Laurent asal.


Xander memasukkan ponselnya ke dalam kantong jaketnya dan menunjuk bungkusan ayam itu dengan dagunya. "Apa pemuda bertopi itu yang mengantarkannya?"


"Bagaimana kau tau?" Charlotte menaikkan sebelah alisnya.


"Kami bertemu dengannya tadi di depan." jawab Xander santai.


"Ya, anak bod*h itu, dia sempat menabrakku tadi. Dia terlihat seperti anak yang sangat ceroboh."  Laurent mengomel sambil menggigit daging ayam di tangannya.


"Pemuda itu, namanya Justin Kim! Dan ya, kau benar, dia itu memang anak yang ceroboh. Sangat!" jawab Charlotte tersenyum sambil mengingat beberapa pengalamannya melihat kecerobohan Justin di pertemuan-pertemuan mereka sebelumnya.


"Justin Kim?" Xander yang mendengar nama itu langsung saja menegakkan posisi duduknya, "Justin Kim, kau bilang? Tunggu dulu, bukankah dia itu-""


"Pemuda incaranku itu! Ya, kau benar." Charlotte memperjelas.


"Hah?" Xander terkejut bukan main. "Jadi dia-lah orangnya? Bocah itu?"

__ADS_1


****


__ADS_2