Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
107.


__ADS_3

Hari ini Charlotte sengaja bangun pagi-pagi sekali dan memilih sarapan diluar untuk menghindari kakek dan saudara lelakinya.


Namun langkahnya langsung terhenti saat hendak turun ke lantai bawah, lebih tepatnya ke arah meja makan. Di sana, ia bisa melihat sang kakek dan Xander yang sudah lebih dahulu berada di meja makan.


Untuk beberapa detik, Charlotte hanya diam berdiri menatap ke arah meja makan.


"Kenapa mereka selalu bersiap lebih pagi dari pada aku sih." gumam Charlotte menghela malas, lalu melanjutkan langkah kakinya.


"Charlotte." seru tuan Romanov yang melihat Charlotte melintas dengan santainya.


Mendengar seruan itu, Charlotte menghentikkan langkahnya. Berbalik dengan malas ke arah meja makan. Wajahnya terlihat berubah jadi datar dan cemberut. Ia menatap tuan Romanov dengan ekspresi kesal.


"Kenapa?" tanya Charlotte dengan nada dingin.


"Kemari, mendekatlah dulu!" ujar tuan Romanov tenang.


"Aku akan pergi kuliah." tolak Charlotte.


"Ini terlalu pagi, makan dulu!" ujar tuan Romanov lagi sambil mengecek jam di tangannya.


Xander hanya diam memperhatikan. Mana berani ia mengatakan apapun saat kedua manusia dihadapannya ini tengah berbincang dingin seperti ini.


"Ayo, cepat kemari!" perintah tuan Romanov.


Tampak Charlotte memejamkan kedua matanya, mencoba menekan emosi yang mulai kembali muncul. Ia masih sadar kalau lelaki yang ada di hadapannya ini adalah kakeknya sendiri. Ia membuka kembali matanya sebelum kemudian menjawab.


"Ya, baiklah." jawab Charlotte singkat.


Lagipula, toh Charlotte juga sudah tak mau membuang-buang energinya lebih banyak lagi untuk berdebat dengan kakeknya. Ini masih sangat pagi dan hari masih sangat panjang untuk ia jalani sepanjang hari ini.


Charlotte lalu bergegas menuju meja makan, menunggu pelayan yang masih tampak menata makanan di meja.


'Tidak biasanya pelayan masih menata makanan seperti ini.' batin Charlotte.


Namun ia langsung teringat kalau mereka memang bersiap lebih awal daripada hari-hari biasanya. Charlotte sendiri bahkan bangun dan pergi kuliah satu jam lebih awal. Sementara Xander dan tuan Romanov sudah tiba di sini lebih awal, itu artinya mereka bersiap lebih pagi dari Charlotte.


"Charlotte kakek ingin semalam menjadi-"


"Bisa kita makan saja?" potong Charlotte dengan nada acuh.


"Kakek hanya-"


"Mari kita makan dengan tenang..." sekali lagi Charlotte menghentikan ucapan kakeknya, berusaha menahan emosinya. "... atau aku pergi ke kampus saja."


"Kita makan." ujar tuan Romanov sebelum menghela lelah, memilih mengalah saja.


Charlotte tampak memutar bola matanya malas. Ya ampun, pria tua ini, mereka bahkan baru bertemu kurang dari lima menit, tapi Charlotte sudah mulai kesal kembali padanya.


Charlotte tahu, ia seharusnya tidak menjawab dengan nada seperti ini pada sang kakek. Masalah tadi malam bukanlah sesuatu yang harus di biarkan berlarut terus menerus dan sudah seharusnya ia melepaskan emosinya tadi malam juga.


Bukan apa, Charlotte hanya tak suka membahas hal itu terus menerus. Ya, sebenarnya dia juga sudah melepaskan emosinya sejak semalam. Ia sudah tak memikirkan apa yang terjadi semalam. Tapi jujur, Charlotte tidak munafik dan di hatinya masih ada sedikit rasa kesal tentang Xander yang tak datang ke klub malam karena kakeknya.


Harusnya ia memang sudah melupakan kejadian itu. Tapi entah kenapa Charlotte begitu kesal dengan masa-masa itu. Entahlah, sepertinya egonya-lah yang membuatnya bersikap begini.


Charlotte melirik Xander yang ada di dekatnya. Pemuda itu hanya diam, tampak fokus pada makanannya. Charlotte menaikan alis saat menyadari kalau Xander tampak murung.


Mungkin hanya perasaan Charlotte saja.


Saat itu, tanpa sengaja pandangan Xander beralih pada Charlotte, menyebabkan mereka saling bertatapan.


Xander lalu berusaha mencairkan rasa canggung diantara mereka dengan memberi senyum pada Charlotte. Namun tampaknya gadis itu tak berniat membalasnya.


Menyadari itu, Xander tersenyum masam. Ia bisa melihat wajah Charlotte yang masih terlihat marah. Tatapannya begitu tajam pada Xander. Seakan gadis itu sedang memiliki niat di otaknya untuk memakan Xander hidup-hidup sekarang juga.


"Bagaimana dengan Justin?" Charlotte berujar tiba-tiba.

__ADS_1


Keadaan hening seketika.


Charlotte jadi merasa canggung. Ia tak ingin kakeknya merasa heran dengan dirinya yang tiba-tiba saja peduli pada Justin.


"Ya, sebenarnya aku hanya bertanya. Aku tidak bermaksud ikut campur tentang dirinya. Itu urusan kakek dan Justin sendiri." Charlotte bicara dengan nada acuh tak acuh, ia memasukkan makanan ke dalam mulutnya untuk menutupi kecanggungan.


Tuan Romanov mengangguk, ia mengerti maksud cucunya ini.


"Kakek akan berusaha agar dia kembali bekerja dengan kakek."


Charlotte mengangguk.


Keadaan kembali hening. Masing-masing dari mereka hanya menikmati makanan dalam diam.


"Aku pergi sekarang." ujar Charlotte setelah menikmati jus dan sepotong roti. Ia meraih tasnya dan segera beranjak dari kursinya. Alisnya berkerut heran saat melihat Xander yang ikut beranjak.


"Aku juga selesai. Ayo kita pergi bersama." ujar Xander meraih ranselnya dan memasangnya ke bahu.


Charlotte buru-buru berbalik badan ke arah Xander, ia melipat tangannya, menatap pemuda itu tajam.


"Aku tidak akan pergi bersamamu."


"Charlotte, kita sudah lama tidak pergi bersama, jadi ayo kita-"


"Tidak."


"Tapi-"


"Aku akan pergi sendiri. Dengan mobilku sendiri. Dan kau pergi dengan mobilmu."


Setelah mengatakan itu Charlotte melanjutkan langkahnya, mengabaikan sang kakek yang menatap mereka dalam diam.


Xander menatap nanar kepergian Charlotte. Sudah bertahun-tahun mereka selalu pergi sekolah bersama. Pergi ke kampus sendiri membuatnya merasa agak aneh. Mungkin karena kebiasaan sejak kecil. Tapi sudah beberapa hari ini Charlotte menolak pergi ke kampus dengannya. Charlotte benar-benar berniat menjaga jarak dengan Xander.


Sembari menghela, Xander menoleh pada sang kakek untuk berpamitan.


"Charlotte.." serunya.


Charlotte bahkan tidak menoleh dan menuruni deretan anak tangga menuju tempat dimana mobilnya terparkir.


Gadis itu sudah hendak membuka pintu mobilnya, membuat Xander buru-buru menahan pergelangan tangan Charlotte.


"Charlotte, aku ingin bicara."


"Ada apa lagi?" tanya Charlotte jengah.


"Sejak kemarin, kau hampir tidak pernah membalas satupun pesanku jika sedang berada di luar."


Charlotte menaikkan sebelah alisnya. "Apa gunanya memberitahumu?"


"Apa maksudmu? Tentu saja agar aku tahu kegiatanmu."


"Untuk apa?"


"Memastikan kau baik-baik saja."


Charlotte mendecih sinis, "Alasan gila yang sama lagi."


"Kenapa kita harus berdebat hal seperti ini, sih?"


"Itu karena alasanmu yang sama sekali tak sesuai dengan fakta."


"Aku hanya khawatir padamu, Lottie."


Xander khawatir, tentu saja. Beberapa waktu lalu ia mendapat info dari Laurent kalau Charlotte bertemu seseorang saat di klub. Laurent mengatakan padanya kalau ia curiga itu adalah mantan kekasih Charlotte karena mereka tampak saling mengenal satu sama lain.

__ADS_1


Charlotte bahkan mendatanginya lebih dahulu dan tampak sangat kesal setelah kembali dari berbincang.


"Kau khawatir?" Charlotte tertawa. "Jangan bercanda sesuatu yang bahkan tidak lucu."


"Charlotte, dengar dulu. Kau-"


"Kau bilang khawatir padaku tapi kau malah lebih sering pergi bersama kakek. Konyol!" ujar Charlotte sembari menggelengkan kepalanya. "Sudahlah aku mau pergi."


Charlotte sudah hendak masuk ke dalam mobil sampai Xander kembali menghentikkannya dengan memegang lengannya.


"Lepaskan, Xander!"


Xander hanya diam, ia mengeratkan pegangannya pada lengan Charlotte sedang matanya menatap adiknya dengan tatapan lirih.


"Malam itu aku memang tidak datang karena pergi dengan kakek. Aku salah, aku akui. Aku minta maaf karena itu." ujar Xander dengan suara pelan.


"Aku benar-benar tidak tau lagi bagaimana caranya membuatmu memaafkan aku." ujar Xander putus asa.


"Tidak ada maaf jika kau masih terus menurut pada kakek. Karena kau akan terus melakukan hal yang sama seperti ini dan setelah itu kau akan minta maaf lagi, lagi dan lagi."


"Kakek adalah orang yang harus aku patuhi Charlotte. Kau harus mengerti aku. Aku banyak berhutang budi pada kakek."


Charlotte tak menjawab, hanya mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Dan juga, apa yang dia lakukan selama ini pasti hanya demi kebaikanmu juga." ujar Xander lagi.


“Kebaikan seperti apa? Dia hanya melakukan apa yang dia inginkan. Bukan untuk kebaikan siapapun. Dia hanya melakukan ini untuk satu hal yang di sebut 'ego'."


"Lagipula yang membuatku begitu kesal adalah… kau yang tidak menepati janjimu."


Charlotte menghela lelah.


"Sudahlah! Kau bisa melakukan apa yang kau mau lakukan, Xander. Au tak akan melarangmu lagi. Lakukan apa yang kakekku perintahkan padamu. Tapi aku... aku tidak ingin mengikuti kata-katanya." kata Charlotte dengan nada kesal. Dia menatap Xander dengan mata tajam.


Xander memilih diam, mencoba untuk memahami emosi Charlotte.


"Charlotte aku tahu kau bersikap seperti ini karena masalah kemarin." kata Xander masih berusaha bicara dengan nada tenang. "Ayo kita perbaiki segalanya. Kau dan aku, kita bisa pergi bersama lagi, seperti biasanya."


Kali ini Charlotte terdiam.


Ia akui kalau ia memang sudah tak marah lagi pada kakeknya ataupun Xander. Tapi ia masih merasa kesal. Ayolah, biarkan dia menenangkan dirinya sendiri dulu.


Xander tiba-tiba menghela napasnya lelah dan menundukkan kepalanya lesu. Ia melepaskan pegangan tangannya pada lengan Charlotte.


"Aku tau aku tidak sempurna sebagai kakakmu. Tapi aku selalu mencoba, Charlotte. Kumohon, biarkan aku mencoba menjadi saudara yang sempurna untukmu."


Charlotte mengerjap dan menatap sang kakak dengan mata yang berkaca-kaca. Kalimat yang di ucapkan pemuda itu bagaikan tusukan perih di dadanya. Ia trenyuh. Baginya, Xander sama sekali tak punya kekurangan apapun. Ia saudara yang sempurna. Dan karena terlalu sempurna, itulah yang membuat Charlotte merasa berat untuk membiarkan Xander pergi meninggalkannya.


Charlotte menatap Xander dengan sebuah perasaan bersalah. Apakah ia memang terlalu kejam pada pemuda ini. Ya, ia akui perlakuannya memang keterlaluan.


Bergeming, Charlotte memejamkan kedua matanya. Detik selanjutnya ia membuka matanya dan menghela napasnya lalu tersenyum tipis.


"Aku sudah memaafkanmu. Tenangkanlah dirimu sedikit." ujar Charlotte melembutkan nada bicaranya, memilih untuk mengalahkan egonya.


"Ya?" Xander membulat tak percaya. "Apa kau bilang?"


"Kita bicarakan ini nanti." ujar Charlotte. "Aku pergi!"


"Hei, Charlotte katakan lagi!" ujar Xander menatap Charlotte yang saat ini tengah memasang sabuk pengamannya. "Kau sungguh-sungguh kan?"


Charlotte menancap gas mobilnya. Meninggalkan Xander di area parkir sendirian.


Xander menatap mobil Charlotte yang meninggalkan mansion dengan kecepatan sedang. Diam-diam, Xander tersenyum. Ia senang mengetahui fakta kalau gadis itu sudah memaafkan dirinya.


"Terima kasih." gumamnya.

__ADS_1


***


__ADS_2