
Charlotte kini tengah berbaring di kasurnya. Sebelah tangannya tampak memijit-mijit pangkal hidungnya yang terasa pusing.
Entah sudah berapa gelas yang ia tenggak di klub malam tadi. Laurent bahkan terus menerus melarangnya minum karena khawatir kalau dirinya akan mabuk berat.
Ingatannya tiba-tiba saja kembali ke Xander, kakaknya. Ya ampun, mengingat kejadian barusan entah kenapa membuat dirinya sedikit trenyuh. Bayangan tentang raut wajah kakaknya itu membuat Charlotte diam-diam merasa kasihan. Bukankah perlakuannya pada kakaknya itu begitu keterlaluan?
"Ah, tidak."
Charlotte buru-buru menggelengkan kepalanya, menepis rasa bersalah yang muncul di hatinya. Salahkan saja Xander sendiri yang tidak memberinya kabar dan membuatnya harus menunggu di sana.
Kalau boleh jujur, kemarahan yang Charlotte rasakan saat ini bukan hanya di sebabkan oleh sang kakak. Tapi banyak sekali hal yang membuat Charlotte merasa begitu kesal hari ini.
Jangan lupakan tentang kehadiran Brandon. Ah, manusia satu itu sepertinya memang perlu di musnahkan dari muka bumi ini.
Dia sudah semakin merusak suasana hati Charlotte yang memang sudah rusak sejak awal.
"Aku akan memberinya pelajaran kalau bertemu lagi dengan pemuda bodoh itu." omel Charlotte sambil memejamkan kedua matanya.
Tak beberapa lama kemudian terdengar pintu kamarnya di ketuk. Charlotte bisa mendengar suara itu dan membuka mata. Ia hanya diam dan selanjutnya pintu tampak terbuka dengan perlahan.
Lalu muncullah Xander dengan raut canggung di wajahnya dengan tangan yang memegang masih gagang pintu.
Charlotte melirik sekilas dan menatap Xander sinis. Mau apa lagi pemuda ini kemari?
"Apalagi sekarang?" tanya Charlotte ketus.
"Ingin lihat-lihat saja." ujar Xander salah tingkah.
Charlotte bangkit dari tidurnya dan duduk di tepi kasur. "Tidak perlu basa-basi, Xander."
"Kau masih marah padaku?"
Charlotte mendecih lalu memutar bola matanya malas. Jadi Xander repot-repot datang ke kamarnya hanya untuk bertanya hal ini? Dia bahkan bisa menghubunginya dari telepon jika ingin bertanya itu.
"Pertanyaanmu tidak penting. Pergilah saja dari sini!" ujar Charlotte bangkit dari duduknya, berjalan ke arah Xander, hendak menutup kembali pintu kamarnya namun buru-buru di tahan oleh sang kakak dengan tangannya.
"Tunggu dulu!" tahan Xander.
"Apalagi sih?"
"Kau mau apa memangnya?"
Charlotte menghela, mengatur emosinya.
"Tidur." jawab Charlotte kemudian.
"Tapi kau belum menjawab pertanyaanku."
Charlotte menatap Xander semakin kesal saja.
"Pertanyaan apa lagi?"
__ADS_1
"Pertanyaanku tadi."
Xander melepaskan tangannya dari menahan pintu. Ia menatap Charlotte dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
"Kau masih marah atau tidak padaku?"
Charlotte mendecih. "Apa aku perlu menjawab pertanyaan bodohmu itu?"
"Menurutmu?"
Hal itu hanya membuat Charlotte menggedikkan bahunya santai.
"Aku rasa aku tidak perlu menanggapi apapun atas pertanyaanmu itu." ujar Charlotte.
"Kenapa tidak perlu? Jawabanmu kan hanya memilih antara ya atau tidak saja."
Charlotte mendelik kesal. Namun Xander tetap menatapnya dengan tatapan lekat. Apa sih mau pemuda ini. Kenapa juga ia ingin tau Charlotte marah atau tidak? Seperlu itu kah pemuda ini tau atas jawaban darinya.
Charlotte memalingkan wajahnya menahan kesal. Ia bisa merasakan rasa berat di kepalanya semakin menjadi. Ayolah, pengaruh alkohõlnya bahkan masih begitu terasa. Ia sudah ingin tidur tapi pemuda ini malah mengganggu dirinya. Ia kemudian kembali menatap Xander dengan tajam.
"Dengar Xander! Kau pergi bersama kakek aku tak masalah sama sekali. Meskipun kau tau kalau kakek terus menerus menyalahi perjanjian awal tentang masalah membawamu ke kantor. Aku masih mencoba diam."
"Tapi masalahnya ada pada dirimu. Kau? Kau sudah membuatku menunggu di sana selama berjam-jam. Entah itu sengaja atau tidak. Dan aku tidak suka itu."
"Baiklah... aku minta maaf padamu." balas Xander.
"Di maafkan!"
"Hmm.." balas Charlotte malas. "Apa kau puas sekarang?"
"Ya lumayan. Tapi kenapa caramu bicara seolah kau masih marah padaku."
"Ayolah Xander. Tidak ada yang semudah itu di dunia ini. Marah dan memaafkan adalah hal lain. Perlu waktu untukku meredakannya."
"Sampai kapan akan marah padaku?"
"Ya ampun..."
Charlotte memejamkan matanya, kemudian menghela napasnya pelan. Ayolah, dirinya sudah merasa lebih tenang sekarang. Emosinya juga sudah jauh lebih baik dari beberapa saat lalu. Ia hanya tak ingin emosinya naik lagi karena pertanyaan pemuda ini.
"Aku tidak ingin menjawab apapun, Xander. Jadi, lebih baik kau pergi saja sekarang."
"Kau mengusirku?" tanya Xander.
"Ah, dan juga... mulai besok aku akan pergi kemana pun sendirian. Kau tidak perlu mengantarkan aku lagi." ujar Charlotte mengabaikan pertanyaan Xander sebelumnya.
"Apa kau bilang?"
"Aku yakin kau bisa mendengar dengan jelas apa yang baru saja aku katakan."
"Kau bilang kau akan pergi tanpa aku?"
__ADS_1
"Ya,"
Xander sendiri tampak diam selama beberapa detik setelah Charlotte mengutarakan seluruh kalimatnya. Ia mengerutkan alisnya. Kaget dan bingung adalah rasa yang pertama muncul di kepalanya saat ini.
"Kenapa?"
"Tidak apa." Charlotte menggeleng santai. "Aku hanya sedang ingin melakukan apapun sendiri."
"Hanya karena itu? Alasan macam apa itu. Dan juga mana mungkin aku membiarkanmu pergi kemana pun sendirian."
"Aku tidak sedang meminta izin pada dirimu. Tapi aku sedang memberitahumu."
"Tapi aku tidak setuju."
"Aku juga tidak butuh persetujuan apapun darimu."
"Mana bisa begitu, Lottie."
Xander tentu saja protes. Mana mungkin ia membiarkan itu. Tidak mungkin. Sebuah kewajiban menghalangi dirinya untuk membiarkan gadis itu pergi kemana pun sendiri.
Sambil menatap wajah Charlotte lirih, Xander masih berusaha membujuk adiknya itu.
"Charlotte, kau boleh marah padaku. Tapi menjagamu adalah hal yang lain. Kau tau jelas apa maksudku. Aku tidak mungkin membiarkanmu selalu pergi tanpaku."
"Ah, benarkah? Tapi itu agaknya sedikit berbeda dengan yang kau lakukan tadi. Kau pergi. Kau membuatku menunggu di sana."
"Itu karena kakek me-"
"Sudah ku katakan sejak awal bukan? Kita punya perjanjian. Dan kakek menyalahi perjanjian. Oke aku akan membiarkannya. Tapi dia pebisnis. Dia tau konsekuensi karena menyalahi perjanjian."
"Tapi tidak bisa begitu, Lottie. Aku bahkan tidak salah apapun di sini. Mana mungkin aku memilih diantara kalian."
"Sepertinya pembicaraan kita sudah selesai. Aku juga sudah mengatakan keinginanku. Dengan jelas. Jadi tidak ada yang perlu di bicarakan lagi."
"Tidak, kau harus dengar dulu."
"Urusan kita sudah selesai. Kau bisa pergi." sambung Charlotte.
"Charlotte, jangan gila. Kakek akan marah kalau-"
BRAK!
Charlotte menutup pintu sebelum Xander selesai berbicara.
"Tunggu dulu, Lottie!" seru Xander sambil menggedor pintu kamar adiknya itu. "Aku belum selesai bicara."
"Pergilah! Aku ingin istirahat dan tidur. Kepalaku sakit." Charlotte berteriak dari dalam.
Untuk beberapa saat Xander hanya diam di depan pintu kamar Charlotte. Ia menghela, meruntuki dirinya sendiri yang tak dapat berbuat apapun disaat seperti ini.
Tak lama setelah itu, Xander kemudian berbalik untuk meninggalkan kamar adiknya itu.
__ADS_1
***