
"Maaf, tapi kemana kita akan pergi, tuan?" tanya sang supir yang sejak tadi hanya diam mendengarkan percakapan antara atasan dan asistennya itu.
Tuan Romanov menolehkan kepalanya, menatap sang supir kemudian menjawab, "Kita langsung ke mansion utama saja!"
"Baik tuan." ujar sang supir mengangguk patuh, tanpa menoleh. Ia mulai menyalakan mesin mobilnya, lalu perlahan menancap gas, membawa mobil itu keluar dari area parkir dan mulai melaju meninggalkan bandara itu.
"Kota ini..." gumam tuan Romanov sambil menatap santai keluar jendela mobilnya. "...aku rasa kota ini sudah banyak berubah."
Mendengar gumaman sang majikan, Paul pun langsung menoleh. "Ya tuan, saya setuju."
"Kota ini terlihat jauh lebih modern dan terlihat seperti kota yang sangat maju." tuan Romanov terus menatap keluar jendela, memperhatikan sekitarnya.
"Saya rasa itu karena banyak gedung tinggi yang baru di bangun, tuan." ujar Paul yang langsung di angguki oleh sang majikan. Paul lalu melanjutkan kalimatnya. "Menurut info yang saya dengar, beberapa perusahaan memang mendirikan gedung perkantoran baru di kota ini beberapa tahun belakangan, tuan."
Tuan Romanov mengangguk mengerti. "Kota ini memang terlihan jauh lebih maju dan juga tertata indah dari pada dulu. Maksudku lima tahun lalu, sebelum aku memutuskan untuk pindah ke Jepang. Sangat jauh berbeda..."
Paul mengangguk, ia lalu tersenyum dan berujar, "Kota ini memang mengalami pertumbuhan ekonomi dan juga infrastuktur yang sangat pesat, tuan!"
"Ya! Aku bisa melihatnya dengan jelas." ujar tuan Romanov. Baru setelah itu tatapan matanya kembali menoleh keluar jendela, menatap pada mobil-mobil yang sejak tadi melewati mobilnya. "Wajar sekali, ini adalah ibukota, pembangunannya juga pasti sudah jauh lebih cepat dan juga lebih baik di bandingkan dengan kota lain."
Tuan Romanov lalu menambahkan. "Lihatlah! Design dari beberap bangunan juga terlihat sangat indah." tuan Romanov menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi mobil, sedangkan matanya terus memandang pada bangunan mewah dan indah yang ada di tepi jalan.
"Tapi design bangunan hotel milik anda juga tidak kalah indah tuan." ujar Paul dengan nada memuji dan sepertinya tuan Romanov setuju.
"Ya. Aku membayar sangat mahal untuk design hotel itu." balas tuan Romanov. "Biaya pembangunannya juga tidak main-main."
"Benar tuan."
Butuh beberapa saat sebelum akhirnya tuan Romanov kembali melanjutkan kalimatnya.
"Sekarang aku tahu alasan kenapa Charlotte bisa sangat betah berada di sini dan terus menolak untuk pindah ke Jepang bersamaku." Tuan Romanov menghela napas perlahan. "Kota ini terlalu luar biasa untuk di tinggalkan. Lagipula dia juga sudah punya segalanya di sini! Teman, harta, ketenaran... dia sudah memiliki semua itu."
"Benar tuan." jawab Paul setuju. "Saya bisa mengatakan kalau sekarang ini nona Lottie adalah model nomor satu di negara ini, tuan! Nona sangat terkenal."
Tuan Romanov mengangguk sambil tersenyum. "Tentu saja. Itulah keahliannya... menjadi nomor satu! Dia akan melakukan apapun untuk menjadi nomor satu dalam segala bidang." ujar tuan Romanov penuh dengan rasa bangga.
Ya, dia pasti bangga dengan pencapaian cucu perempuannya itu. Ya, walaupun Charlotte adalah pembuat onar dan selalu melakukan hal-hal yang merugikan nama baiknya sendiri dan juga besar Clinton, namun tetap saja, prestasi gadis itu juga tidak bisa diremehkan.
"Ya, tuan. Sejak kecil nona Lottie sudah memiliki banyak prestasi." Paul mengangguk setuju. "Itu karena nona memang sangat ambisius, tuan."
"Ya, dia sama seperti ibunya." ujar tuan Romanov kemudian ia tersenyum sedih. "Dan entah kenapa aku yakin kalau alasan lain dia menolak untuk meninggalkan kota ini adalah karena dia memiliki banyak kenangan tentang mendiang orang tuanya disini."
"Benar tuan. Lagipula makam tuan Robert dan nyonya Mary juga ada di kota ini. Saya juga merasa itu adalah salah satu alasan kenapa nona Lottie pasti enggan dan bahkan menolak untuk pindah ke Jepang bersama anda." Paul kini turut memberikan pendapatnya.
__ADS_1
Tuan Romanov tersenyum pahit. "Aku menyadari setelah kematian anak dan menantuku, sifat dan sikap Charlotte menjadi jauh berbeda. Dia menjadi gadis yang suka berulah, membuat onar dan sangat sulit untuk diatur."
"Saya yakin, selam ini nona pasti kesepian karena harus tumbuh tanpa mendiang tuan Robert dan Nyonya Mary, selaku orang tuanya." Paul ikut teringat masa kecil Charlotte yang menurutnya sangat menyedihkan.
"Ya… kau benar, Paul." tuan Romanov mengangguk.
Tuan Romanov kemudian tersenyum kecil. "Dia sudah hidup tanpa orang tua bahkan sejak dia masih berumur sepuluh tahun dan itu membuatku miris. Itulah sebabnya setahun setelahnya aku membawa Xander dari panti asuhan tempat biasanya kita menyumbang dana. Saat itu aku sangat yakin kalau Xander akan menjadi saudara dan teman yang baik bagi Charlotte."
Paul tersenyum dan mengangguk. "Dan perkiraan anda benar tuan. Pada akhirnya tuan muda Xander bisa sedikit membuat nona menjadi lebih baik. Sejak kedatangan tuan Xander, nona bahkan sudah berhenti marah-marah pada para pelayan dan bisa kembali tersenyum lagi. Dan hidupnya juga jauh lebih terkontrol dari sebelumnya."
"Ya kau benar." balas tuan Romanov. "Dia menjadi jauh lebih baik, meskipun masih saja sulit diatur."
Tuan Romanov menatap langit yang mendung, membuatnya tiba-tiba teringat akan sesuatu. Ia menegakkan posisi duduknya dan menatap sang asisten pribadi. "Paul bisa kita mampir ke toko bunga terlebih dahulu? Ada sesuatu yang ingin aku beli."
"Baik tuan!" Paul mengangguk sopan dan segera memberi tanda pada sang supir agar segera menuju toko bunga terdekat yang dia ketahui.
Dan akhirnya, setelah beberapa kali melewati perempatan jalan, mobil itu pun berhenti di depan sebuah toko bunga yang lumayan besar.
"Tunggu disini sebentar, Paul!" ujar tuan Romanov memberi tanda pada sang asisten.
"Biar saya saja yang turun tuan!" tawar Paul.
"Tidak! Aku saja, kau tunggu di sini!" tolak tuan Romanov tegas yang kemudian di balas anggukan patuh dari bawahannya itu.
Ia lalu kembali masuk ke dalam mobil sambil membawa satu bucket bunga mawar putih. Ia menatap lekat bunga mawar putih itu sebelum akhirnya meletakkannya di dekat kursinya dengan senyum tipis.
"Untuk Nona Lottie tuan, bunganya?" Paul bertanya dengan senyum di wajahnya.
"Untuk Lottie?" tuan Romanov langsung tertawa renyah kemudian menggelengkan kepalanya. "Gadis cerewet itu tidak suka bunga." jelas tuan Romanov.
"Dan seingatku, Lottie juga sangat benci bunga mawar karena membuatnya selalu teringat akan ibunya." tambahnya.
"Ahh, benar!" Paul mengangguk setuju.
Tuan Romanov terdiam sebentar sembari melirik bunga mawar di sebelahnya.
"Bunga ini untuk anakku, Marianne. Dia sangat suka bunga mawar putih!" kata tuan Romanov sambil menatap kosong pada bucket bunga di sebelahnya itu.
Mendengar penjelasan dari tuan Romanov. Paul dan supir di sebelahnya langsung menunduk secara bersamaan. Entah ada rasa penyesalan mendalam yang kini menyeruak dari dalam hatinya saat mengetahui fakta untuk siapa sebenarnya sang majikan membeli bunga itu.
Tuan Romanov tersenyum. Ia secara bergantian menatap pada sang asisten dan supirnya yang kini tengah menunduk sedih. "Tidak apa, kalian tidak perlu merasa bersalah begitu."
"Maaf tuan, saya-"
__ADS_1
"Tidak apa, tenanglah!" tuan Romanov menatap kedua bawahannya itu dengan penuh kehangatan kemudian tersenyum. "Sekarang antar aku ke tempat pemakaman. Aku ingin mengunjungi anak dan menantuku sebentar."
"Baik tuan."
***
*Area Pemakaman.
Angin kencang mulai bertiup menerbangkan helaian daun serta ranting kering ke tanah. Gumpalan awan hitam mulai bergerak menutup langit biru seolah menambah kesan sedih bagi siapapun yang melihat.
Tuan Romanov menatap sendu pada batu nisan yang ada dihadapannya. Sudah hampir setengah jam lebih pria paruh baya itu menghabiskan waktu nya di pemakaman itu. Ia berdiri tegak memandangi batu nisan yang bertuliskan Marianne Clinton, anak tunggalnya yang meninggal karena kecelakaan beberapa tahun yang lalu.
"Mary, maafkan ayah karena ayah baru bisa mengunjungimu sekarang, setelah lima tahun lamanya. Beberapa tahun ini ayah sangat sibuk karena harus mengurus urusan kantor di luar negeri."
Tuan Romanov lalu menundukkan kepalanya sambil memejamkan kedua matanya. Ia mencoba untuk menahan air mata yang hampir keluar karena menahan kesedihan.
Beberapa saat kemudian, tuan Romanov mendongak dan kembali membuka matanya yang terpejam. Ia tersenyum, mencoba menghadapi kesedihan hatinya dengan perasaan tegar. Tuan Romanov lalu menatap pada batu nisan lainnya. Batu nisan yang terletak tepat di sebelah makam sang anak. Itu adalah makam dari menantunya, Robert Anderson.
"Bagaimana keadaanmu disana, Robert?" ujar tuan Romanov. "Apa kau bahagia dengan putriku disana? Aku harap kau juga bahagia disana. Aku juga sangat menyayangimu, menantuku!" lanjutnya.
"Kalian tahu? Charlotte, putri kecil kalian itu sudah besar sekarang. Dan dia tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Begitu mirip dengan Mary!" ujar tuan Romanov sambil tersenyum hambar.
"Aku yakin kalau kalian pasti bisa melihat betapa sempurnanya dia, dari tempat kalian berada di atas sana!" ujar tuan Romanov sambil menatap langit yang mendung.
Tuan Romanov sedikit tersentak saat tiba-tiba ia merasakan sebuah tepukan pelan pada pundak sebelah kanannya.
"Maaf tuan. Tapi sepertinya langit sedang mendung, saya rasa sebentar lagi akan turun hujan. Ini saatnya kita pulang tuan," seru sang asisten yang kini tengah menatap sang majikan dengan pandangan sedih.
Tuan Romanov menoleh kepada sang asisten, kemudian ia tersenyum singkat. "Sebentar lagi Paul, aku sudah meninggalkan mereka selama beberapa tahun terakhir ini."
Sang asisten tersenyum. Ia mengangguk sementara tuan Romanov kembali menatap kosong pada kedua batu nisan itu.
"Aku sangat merindukan mereka." ujar tuan Romanov pelan. "Sepertinya aku butuh waktu sedikit lebih lama di sini untuk bertemu dengan mereka. Kau tunggu saja di mobil, aku akan selesai dalam beberapa menit," lanjutnya.
Sang asisten kembali mengangguk kemudian memilih melangkah pergi meninggalkan sang majikan sendirian di tempat itu.
Angin kencang kembali bertiup menerpa wajah tuan Romanov. Pria tua itu kembali memejamkan kedua matanya, merasakan semilir angin yang bergerak melewatinya.
Dia meremas kuat bucket mawar yang sedari tadi di genggamnya. Tuan Romanov membuka matanya kembali baru kemudian membungkukkan setengah badannya, mencoba meletakan bucket mawar putih itu di atas batu nisan sang anak.
"Ayah harus pergi sekarang. Tapi ayah janji akan menemui kalian lagi nanti." ujarnya lagi.
Tuan Romanov kemudian beranjak pelan. Melangkah keluar dari area pemakaman itu dan memutuskan untuk segera pulang ke mansion. Ia berencana menemui kedua cucunya di sana.
__ADS_1
***