Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
74.


__ADS_3

"Aku benar-benar akan gila sekarang!"


Xander terdengar menggerutu kesal pada dirinya sendiri. Tampak kedua tangannya sudah penuh dengan tumpukan pakaian wanita. Beberapa pelayan yang ada di dekatnya menawarkan bantuan dan ingin membantunya memegangi pakaian itu, tetapi entah kenapa Xander menolaknya.


Setelah itu, dengan raut bosan Xander melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. Sudah hampir lima jam lamanya sejak mereka memasuki butik langganan Charlotte tapi kegiatan belanja gadis itu belum juga selesai. Ia terus menerus memilik pakaian yang ini dan itu.


Tak lama kemudian Xander jadi kesal sendiri dan sontak melemparkan pakaian yang ada di tangannya ke atas sofa yang ada di dekatnya. Ia lalu menghempaskan tubuhnya yang lelah ke atas sofa empuk itu.


"Seumur hidupku, aku tidak akan mau jika ada gadis yang memintaku untuk melakukan hal bodoh seperti ini lagi." Xander bergumam malas.


Ya, dia memang benar. Ini memang hal bodoh dan juga sangat konyol. Di dunia ini memangnya siapa yang mau membuang waktunya untuk menghabiskan waktu di sebuah tempat selama berjam-jam lamanya seperti ini.


Xander lalu mendengus, ia merasa begitu kesal saat ini, pasalnya entah sudah yang keberapa kalinya gadis itu bolak balik memasuki ruang ganti. Ya, sejak tadi Charlotte terus saja keluar masuk untuk mencoba pakaian yang sudah dia pilih sebelumnya. Namun kali ini terasa lebih lama dari yang sebelumnya, Xander tak tau kenapa sampai sekarang gadis itu belum juga keluar dari ruangan itu.


'Kalau tau akan begini, alangkah bagusnya aku menolak saja tadi. Ck, cukup sekali ini aku menemani gadis cerewet itu berbelanja.' omel Xander dalam hati.


"Bayangkan, jika saja aku menolak menemaninya, aku pasti sedang tidur dengan nyaman di atas kasurku sekarang." omelnya untuk yang kesekian kalinya.


Xander menghela napasnya sekali lagi. Kini ia mulai merasa jengah untuk terus menunggu. Sejak tadi ingin rasanya dia pergi diam-diam meninggalkan Charlotte di tempat membosankan ini. Tapi ia urungkan, karena jelas akan percuma karena toh mereka pasti akan kembali bertemu di mansion utama nanti. Dan Xander yakin jika ia memang melakukannya, ia pasti akan mendapat omelan dan ocehan pedas dari gadis itu. Xander tentunya tak ingin telinganya jadi sakit karena hal itu. Alhasil, ia tetap menunggu di sini, sekalipun ia akan merasa begitu bosan.


Dan tepat di detik selanjutnya pintu dari ruang ganti itu terbuka seiring dengan munculnya sosok Charlotte dengan pakaian yang baru saja ia coba.


"Bagaimana?" tanya Charlotte menatap Xander sambil berpose-pose ria bak sedang dalam peragaan busana.


Xander yang melihat tingkah Charlotte itu hanya menatapnya dengan tatapan bosan.


"Bagus." jawab Xander dengan nada malas.


Charlotte berdecak kemudian berkacak pinggang, menatap Xander dengan sinis. "Yang benar saja?"


"Semua pakaian yang aku coba dari tadi selalu kau bilang bagus. Apa kau tidak punya pendapat lain selain itu?" gerutu Charlotte.


Mendengar itu Xander hanya memutar bola matanya malas. Sebenarnya ia tak begitu peduli dengan pakaian yang Charlotte tanyakan padanya. Baginya semua pakaian yang Charlotte pilih terlihat sama saja. Dan yang terpenting ia tak peduli. Ayolah! Saat ini ia hanya ingin agar adiknya itu menyelesaikan semua kegiatan konyolnya ini dengan cepat. Itu sebabnya sejak tadi dia selalu menjawab gadis itu dengan jawaban yang sama.


"Apa sudah selesai?" tanya Xander.


"Sudah!"


"Kalau begitu kita bisa pulang sekarang?" tanya Xander terdengar antusias pada Charlotte yang saat ini tampak sedang asyik melihat-lihat pakaian di display yang ada di sekitar mereka.

__ADS_1


Charlotte sontak menoleh dan menatap Xander dengan sebelah alisnya yang terangkat. "Apa maksudmu?"


"Sudah selesai kan?"


"Maksudku, aku sudah selesai mencoba pakaian yang ini dan sekarang aku mau coba pakaian yang lain lagi," ujar Charlotte setelah mengambil setelan pakaian yang lain untuk kembali ia coba.


"Ayolah Charlotte, kau bahkan sudah mencoba ratusan pakaian dan juga bertanya padaku ratusan kali." protes Xander dengan nada memelas, ia berharap adiknya itu akan luluh dengan perkataannya. "Aku bahkan sudah bosan menjawabnya."


"Kau ini kan laki-laki, itu sebabnya aku meminta pendapat padamu." ujar Charlotte santai sambil berlalu, ia kembali menuju ke ruang ganti untuk mencoba pakaiannya.


"Tapi aku hanya ingin pulang sekarang, aku lelah. Aku sangat ingin tidur." ujar Xander kembali memelas.


"Kau bisa tidur nanti malam!" terdengar balas Charlotte dari dalam ruang ganti.


"Kau ini benar-benar sint*ng..." umpat Xander kesal. Ia berseru dengan nyaring pada Charlotte yang masih berada di dalam ruang ganti. Ia bahkan terlihat tak peduli jika harus menanggung malu karena menjadi tontonan orang banyak.


Saat itu memang ada beberapa pelayan butik yang berjaga di sekitarnya. Dan dua pelayan butik yang berada di dekat Xander terlihat menatapnya sambil tertawa kecil sedangkan pelayan lainnya yang berjalan melewatinya juga menatap dan tersenyum. Beberapa lainnya tampak berbisik-bisik sambil menatap Xander dengan tatapan kagum.


Semua orang di butik itu tentunya tau siapa kakak beradik ini. Charlotte sudah sering lalu lalang di televisi, berita selebriti dan internet. Sementara Xander yang di kenal sebagai cucu konglomerat dan kakak dari Charlotte memang beberapa kali tertangkap kamera saat sedang bersama Charlotte. Dan itu membuatnya turut di kenal masyarakat. Satu fakta, Xander bahkan juga memiliki fans tersendiri.


Dan selama ini Charlotte memang sangat sering berbelanja di butik ini. Namun ia tak pernah sekalipun membawa Xander datang kemari. Dan kali ini mereka bisa melihat dengan jelas, paras tampan dari seorang Alexander Clinton.


Saat ini Xander berdiri di balik pintu ruang ganti Charlotte. Ia melipat kedua tangannya ke depan dada, memasang wajah cemberut sambil menyandarkan punggungnya ke dinding.


"Bagus!" jawabnya lagi dengan acuh bahkan terlihat tak berminat. Xander kemudian kembali melanjutkan omelannya. "Apa kau memang akan lama seperti ini saat berbelanja?"


Charlotte memutar bola matanya, tampak berpikir.


"Cukup lama, tapi tidak pernah selama ini. Ya, aku hanya tidak mau membuang kesempatan karena biasanya kau akan selalu menolak jika aku ajak pergi berbelanja. Ini adalah tempat yang bagus, harusnya kau itu tidak masalah saat aku ajak ke tempat ini." cerocos Charlotte.


"Bagus darimananya, tempat ini adalah neraka bagiku." ujar Xander pada Charlotte, membuat gadis itu mendengus sinis.


Merasa tanggapan Charlotte padanya terlalu biasa, Xander kembali mengeluh.


"Charlotte, ayo kita pulang!" pintanya sekali lagi.


Charlotte memutar bola matanya malas, 'Pemuda bodoh ini benar-benar tak menyerah.' batinnya.


"Santailah sedikit, Xander!"

__ADS_1


"Ck, kau itu sudah menghancurkan waktuku seharian dengan melakukan hal-hal yang tak berguna seperti ini. Tubuhku sudah terasa pegal selain itu aku juga merasa sangat lapar, tapi kau memintaku santai? Ngomong-ngomong kapan kita akan makan?"


"Nanti..."


"Aku akan mati kelaparan di sini." omelnya.


Charlotte yang saat ini sedang berdiri di depan kaca, sontak menoleh. Kali ini ia menatap tajam pada pemuda di hAdapannya itu.


"Tutup mulutmu, Xander. Kau mulai membuat mood ku rusak saat ini." ujar Charlotte.


Charlotte kesal karena sejak tadi Xander terus meminta padanya untuk pulang, padahal dia belum mau pulang sama sekali.


Xander kemudian mengecek jam di pergelangan tangannya dan menunjukkannya pada Charlotte, "Lihat! Ini sudah hampir jam tiga sore, Lottie!"


"Lalu kenapa?"


"Kenapa kau bilang? Kita datang kemari sekitar jam sebelas. Kau tau, itu artinya kita sudah lima jam lamanya berada di sini!" omel Xander.


Charlotte menaikkan sebelah alisnya, "Dan?"


"Hei, dengar! Ini sudah sore. Aku tidak mau kakek nanti menunggu kita terlalu lama untuk acaranya makan malamnya."


"Astaga, kau benar! Akan ada acara makan bersama malam ini!" Charlotte menepuk jidatnya kemudian menoleh kanan dan kiri, "Kalau begitu haruskah aku mencari pakaian yang cocok untuk makan malam juga? Apa tidak perlu, ya?"


Melihat Charlotte yang acuh, Xander memutar bola matanya malas, "Aku tidak mau menemanimu lagi. Lain kali kau minta saja pada lelaki bodoh yang menjadi kekasihmu itu untuk menemanimu." 


"Ck, ck, ck, dasar kau ini benar-benar lemah.


Charlotte saat ini kembali masuk ke dalam ruang ganti dan tak lama kemudian ia keluar dengan mengenakan pakaiannya sendiri.


"Ini! Kau berikan semua pakaian ini pada pelayan yang ada di sana!" ujar Charlotte sambil memberikan setumpuk pakaian pada Xander. "Kau katakan padanya kalau aku akan membeli semuanya."


"Semua?"


"Ya!" jawab Charlotte sambil menganggukkan kepalanya. "Setelah itu kau pergi saja ke mobil dan cepat bersiaplah!"


Xander membulat, ia menatap Charlotte dengan penuh harap. "Apa kita akan pulang?"


"Ck, bukan! Tapi kita akan pergi ke mall!"

__ADS_1


"Apa?"


***


__ADS_2