
Di dalam ruangan yang serba putih itu terlihat Charlotte yang sedang bersantai di dalam kamar, tepatnya di atas tempat tidur sembari memainkan ponsel di tangannya.
Charlotte menguap yang entah sudah keberapa kalinya karena saat ini ia merasa sangat bosan. Charlotte sudah terlalu lama menunggu kedatangan Laurent, di dalam kamarnya.
Laurent adalah sahabat dekatnya yang beberapa waktu lalu mengatakan kalau dia akan datang ke rumah Charlotte siang ini.
'Kenapa dia begitu lama' batin Charlotte benar-benar bosan menunggu.
Tok! Tok! Tok!
Bunyi ketukan terdengar di pintu kamarnya membuat perhatian Charlotte sedikit terpecah dari ponselnya.
"Masuk saja! Pintunya tidak aku kunci." seru Charlotte lalu kembali memfokuskan pandangannya pada benda canggih di tangannya itu.
Pintu kamar sedikit terbuka dan menampilkan kepala Xander yang tengah mengintip dari celah pintu.
"Lottie!" panggilnya.
"Hm?" sahut gadis itu tanpa sedikit pun berniat menolehkan pandangannya dari layar ponselnya. "Ada apa?"
"Kau tidak keluar?" tanya Xander. "Laurent sudah datang dan sedang menunggu di lantai bawah, di ruang tamu."
Charlotte lalu meletakkan ponselnya ke atas nakas yang ada di dekat tempat tidurnya dan menoleh pada Xander.
"Dia sudah datang?" tanya Charlotte dengan senyum sumringah di wajahnya.
"Hm!" Xander mengangguk pelan. "Kau bilang mau pesta bersama, kan? Ayo cepat turun."
"Oke, aku siap-siap dulu. Kau tolong beri tahu Laurent aku akan turun sebentar lagi,"
"Lama tidak?"
"Tidak!" Charlotte menggeleng. "Paling lima menitan."
"Oke."
Xander kembali menutup pintu kamar Charlotte dan bergegas pergi.
Tidak lama setelah itu, Charlotte pun segera bangkit dari posisinya dan turun dari tempat tidur. Ia mengambil kaos dan celana jeans pendek dari dalam lemari pakaiannya lalu mengenakannya kemudian segera bergegas keluar dari kamar.
Ia berjalan pelan menuruni satu persatu anak tangga dan melihat ke sekeliling ruang tamu. Matanya kemudian terfokus pada dua orang yang tengah duduk santai di sofa ruang tamu rumahnya.
Itu Xander dan juga seorang pemuda tampan keturunan bule, yang di ketahui sebagai sahabat dekat Charlotte bernama Laurent. Charlotte, Xander dan Laurent sudah bersahabat sejak lima tahun lalu, tepatnya saat Charlotte pertama kali datang ke sebuah klub malam dimana klub itu ternyata milik keluarga Laurent.
__ADS_1
Charlotte masih menatap kedua lelaki yang kini tengah asik menikmati minuman kaleng dan camilan kacang di tangan mereka.
Xander menoleh pada Charlotte yang berdiri di ujung anak tangga. "Aku pikir kau tak akan turun. Kami hampir saja menghabiskan minumannya."
Laurent langsung melirik Xander yang saat ini terlihat tengah memenuhi mulutnya dengan banyak kacang-kacangan.
"Bukan 'kami', Xander! Tapi kau sendiri yang sudah menghabiskannya, jadi jangan bawa-bawa aku!" Laurent berkata dengan nada tidak terima.
"Aku kan ngo-"
"Mending kau makan dengan tenang, jangan bicara dengan mulut penuh begitu." Laurent melempar kotak tisu pada Xander. "Bersihin tuh mulut mu, jorok!"
Xander hanya menggedikkan bahunya santai tapi mengambil kotak tisu yang baru saja di lempar Laurent itu.
Charlotte yang sedari tadi hanya diam di posisinya lalu beralih menatap Laurent yang kini juga tengah menatapnya. "Kapan kau sampai, Laurent?"
"Emm…" pemuda itu melihat jam pada pergelangan tangannya dan segera menjawab pertanyaan Charlotte itu. "Sekitar sepuluh menit yang lalu."
"Lama banget sih sampai di sini!" gerutu Charlotte.
"Jangan salahin aku, salahkan aja dirimu sendiri yang sudah dengan seenaknya merubah rencana. Awalnya kan kau yang bilang kalau acaranya di apartment mu. Tapi nyatanya sekarang malah di rumahmu." omel Laurent sambil memandang Charlotte yang saat ini tengah berjalan mendekat ke arahnya.
Dan tepat saat itu Laurent langsung menyerahkan sebuah kaleng minuman padanya. "Ambil nih! Minuman, b*r kalengan, buat kalian! Aku bawa dari rumah tadi."
"Ck, sombong sekali kalian." ujar Xander yang sejak tadi hanya mendengarkan percakapan mereka. Ia berdecak sebal lalu menunjuk Laurent, "Dan kau, Laurent! Mentang-mentang punya puluhan klub malam pakai bawa-bawa minumannu segala. Nggak takut rugi?"
"Sama sekali nggak. Sama sahabat sendiri kenapa harus perhitungan? Lagipula ini minuman pribadi ku, bukan barang klub kok." balas Laurent santai yang di balas anggukan paham oleh Xander.
Laurent lalu kembali melirik ke arah Charlotte yang baru saja mendudukkan diri pada sofa di sebelahnya. Ia menaikkan sebelah alisnya saat melihat raut masam yang terlihat dari wajah Charlotte.
"Kau kenapa?" tanya Laurent heran.
"Aku?" Charlotte menunjuk dirinya sendiri sambil menatap Laurent, lalu menggelengkan kepalanya. "Nggak kok, aku nggak apa-apa."
"Serius deh, kau kayaknya lagi suntuk." ucap Laurent menatap Charlotte tak percaya. "Kayaknya nggak mungkin nggak apa-apa. Pasti ada apa-apa nih!"
"Kau tadi ngajak aku kesini buat minum dan senang-senang bareng. Tapi kenapa sekarang ekspresi muka mu malah nggak asik banget buat di lihat?" tambah Laurent.
"Biarin aja dia..." Xander berujar acuh sambil menikmati camilan di tangannya. Ia lalu mendekatkan wajahnya pada telinga Laurent. "Dia itu cuma kurang 'main' aja sama cowok!"
Laurent menaikkan sebelah alisnya bingung. "Kurang main gimana maksudmu?"
"Biasa! Dia cuma butuh sentuhan doang!" bisik Xander sambil tersenyum kecil, yang membuat Laurent langsung mengangguk mengerti. "Entar kalau udah di sentuh laki-laki juga bakal balik semangat lagi."
__ADS_1
"Sial*n! Apa kau bilang barusan?" Charlotte menatap nyalang pada Xander. "Kau pikir aku nggak denger, hah?"
Ya, tentu saja Charlotte dapat mendengar dengan jelas tentang apa yang baru saja Xander katakan. Itu bukan sebuah bisikan, melainkan lelaki itu memang tengah mengejeknya. Terbukti dari Charlotte yang bisa mendengar dengan jelas suara pemuda itu.
"Kau kan emang kurang sentu-"
Dengan cepat Charlotte melempar kaleng b*r kosong yang ia dapat dari atas meja ke arah Xander dan tepat mengenai kepala pemuda itu.
"Mulutmu lama-lama aku lem juga ya." gerutu Charlotte sambil menatap tajam kakaknya itu. "Mendingan kau diem aja deh!"
Xander sontak tertawa. "Emosian banget sih!"
Charlotte yang kini sedang malas untuk berdebat langsung menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Ia menegak minuman b*r kaleng di tangannya dan meletakkannya ke atas meja.
"Aku bete, kita keluar yuk!" ajak Charlotte.
"Keluar?" Laurent menoleh. "Mau kemana emang?"
"Kemana aja deh, yang penting nggak di sini." balas Charlotte sambil menaikkan kakinya ke atas sofa. "Aku lagi sumpek banget soalnya."
"Kalau gitu ke klub punyaku aja, mau?" tawar Laurent.
Charlotte dengan cepat menatap Laurent. "Klub milikmu?"
Mendengar ajakan Laurent itu, Xander langsung menggeleng. "Nggak! Perjanjian di awal kan kita cuma minum b!r doang. Kalau ke klub bisa minum macem-macem nanti!"
"Aku sih cuma menawarkan, keputusan akhir ya tetap dari kalian." Laurent berujar sambil menggedikkan bahunya acuh.
"Oke kita kesana!" ujar Charlotte yang langsung bangkit dan berjalan cepat menaiki anak tangga yang menuju kamarnya. "Aku ganti baju dulu."
"Charlotte!" protes Xander. Ia bangkit dari posisinya hendak mengejar adiknya itu namun langsung di tahan Laurent.
Laurent tersenyum dan berkata, "Biarin aja! Kita biarkan dia bersenang-senang. Kau tak lihat dia lagi sumpek kayak gitu?"
Xander menoleh, menatap Laurent dan hendak membuka mulutnya untuk kembali menolak penjelasan Laurent.
"Biarin aja, Xander!" Laurent bersikeras. "Kakek kalian bakalan pulang. Dan kau tau bagaimana sikap kakekmu itu pada Charlotte. Aku yakin setelah ini Charlotte pasti nggak akan bisa sebebas sebelumnya."
Perkataan Laurent memang benar. Ia juga berpikir hal yang sama dengan pemuda di hadapannya itu. Saat tiba nanti, kakek pasti akan berusaha sebisanya untuk menjauhkan Charlotte dari 'kegiatan malam harinya' itu.
Xander menghela nafasnya pelan dan kembali duduk di tempatnya yang sebelumnya.
"Oke, oke," jawab Xander menyerah.
__ADS_1
***