Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
65.


__ADS_3

Charlotte mengangguk, "Ya! Dialah orangnya."


"Dia masih muda, Lottie. Aku sudah melihatnya dengan mataku sendiri tadi. Selain umurnya, wajahnya memang terlalu muda untukmu."


"Lantas?"


Xander menghela napasnya kesal lalu mengangkat kedua tangannya pasrah, "Oke! Terserah kau saja. Aku tidak ingin lanjut membahasnya. Kita sudah pernah berdebat tentang ini sebelumnya. Aku hanya akan mengatakannya sekali lagi padamu kalau aku masih belum setuju dengan rencana jahatmu untuk pemuda itu."


"Dan aku juga akan mengatakan padamu kalau aku tidak butuh persetujuan apapun darimu." balas Charlotte sengit.


"Hei! Hei! Ada apa dengan kalian berdua? Kenapa kalian berdebat seperti itu?" Laurent yang sejak tadi hanya diam melongo mendengarkan perdebatan antara dua orang itu akhirnya tak tahan dan ikut berkomentar.


"... dan apa hanya aku yang sama sekali tak mengerti apa yang sedang kalian bicarakan saat ini?" Laurent menatap kedua sahabatnya itu secara bergantian dengan tatapan bingung.


Xander memilih mengangkat tangannya, tak berniat menjawab pertanyaan itu. Ia malah memejamkan matanya sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Sementara itu, Charlotte hanya menggedikkan bahunya santai, tak peduli dengan reaksi Xander barusan.


"Hai, teman-teman. Aku sedang butuh jawaban di sini?" Laurent melambai-lambaikan tangannya.


"Ini tentang pemuda bertopi itu!" jawab Charlotte.


"Kurir ayam itu?" tanya Laurent dan Charlotte mengangguk membenarkan. Laurent menatap serius pada gadis itu, "Oke, lalu apa masalahnya? Ada apa dengannya?"


"Aku mengatakan pada Xander kalau aku akan menidurinya lalu mencampakannya." ujar Charlotte menjelaskan dengan raut santainya.


"Wow, apa kau serius, Lottie? Anak SMA itu? Kau ingin meniduri anak SMA itu?" Laurent menatap tak percaya.


Charlotte berdecak, "Dia itu bukan anak SMA, Laurent!"


"Benarkah? Dia terlihat seperti bocah."


"Ya, itu hanya wajahnya saja yang terlihat seperti bocah."


"Dan dia juga kurir ayam, Lottie." ujar Laurent tenang sambil mengangkat potongan ayam ditangannya.


"Ah, apa saat ini aku terlihat peduli dengan apa pekerjaannya?"


"Tapi bukankah kau biasanya hanya tertarik pada laki-laki dari kalangan atas, Lottie!"


"Ah, aku hampir lupa, pemuda itu juga berada di kampus yang sama dengan kita. Aku bahkan bertemu dengannya di kampus." bukannya menjawab Charlotte malah kembali bicara tentang rencananya  pada Justin.


"Kau bertemu dengannya di kampus?" tanya Xander terlihat tertarik dengan topik itu..


Charlotte menganggukkan kepalanya santai.


"Itu berarti dia benar-benar berada satu kampus dengan kita?" tanya Xander lagi.

__ADS_1


Charlotte kembali mengangguk.


Xander mendecih, tak percaya. "Kebetulan macam apa ini?"


"Ini jelas bukan kebetulan Xander, tapi ini hanya keberutungan yang ku miliki." Charlotte berujar senang.


"Dan kesialan untuk anak itu." Xander mendecih dengan mata yang melirik sinis pada Charlotte, "Kenapa kau tetap ingin menjalankan rencanamu? Apa kau masih tetap berencana mempermainkan anak itu?"


"Tentu saja," Charlotte tersenyum bangga. "Kau lihat sendiri bukan? Kami selalu terhubung dalam hal apapun. Segalanya sudah benar-benar seperti di permudah untuk rencanaku. Takdir, bahkan takdir saja mendukung rencanaku."


"Tapi kau belum menjawab pertanyaanku." Laurent memotong percakapan mereka.


"Pertanyaan apa?"


"Aku bertanya, bukankah kau hanya akan mengincar pria dari golongan atas saja? Orang-orang kaya? Anak konglomerat?"


"Bagiku dia adalah pengecualian. Dia punya wajah yang sangat tampan. Itu yang membuatnya beruntung karena bisa membuatku sedikit berminat padanya. Dan justru lelaki yang seperti dia-lah yang akan lebih mudah untuk aku campakkan nantinya."


Charlotte tersenyum sendiri membayangkan jika nanti dirinya berhasil membuat Justin Kim tergila-gila padanya.


"Berminat? Ck, aku justru merasa kalau saat ini kau-lah yang terlihat seperti sedang tergila-gila padanya. Kau tidak pernah berekspresi begitu saat membahas laki-laki lain." ujar Laurent sinis.


Charlotte menaikkan sebelah alisnya bingung. "Apa maksudmu?"


"Maksud Laurent adalah... wajahmu terlihat merona saat membahas pemuda itu." Xander ikut bicara tanpa berniat melihat Charlotte, ia memilih untuk fokus pada ponselnya lagi.


"Benarkah? Tapi aku rasa kau terlihat seperti tidak sedang menggunakan make up..." ujar Xander lagi.


"a-aku-"


"Tapi apa kau yakin kau akan meniduri kurir ayam itu, Lottie?" tanya Laurent lagi, ia masih penasaran rupanya.


"Jangan hina pekerjaannya seperti itu Laurent! Dia punya nama," protes Xander mengalihkan pandangannya dari ponsel dan menatap Laurent tajam.


"Hei, aku hanya bertanya, oke. Lagipula kenapa kau terlihat begitu peduli padanya?" Laurent menatap penuh curiga.


"Entahlah! Aku hanya merasa prihatin padanya. Dan juga, aku lihat dia sepertinya anak yang cukup mandiri dengan bekerja sebagai kurir. Bukankah itu bagus?"


Laurent mengangguk, "Aku setuju."


"Tapi gadis lakn*t ini justru ingin merusaknya. Kau bayangkan, dia ingin membalas pemuda itu hanya karena dia tidak mengenali dirinya." Xander menatap sinis pada Charlotte.


"Jaga bicaramu! Siapa yang kau sebut gadis lakn*t? Aku tidak merusaknya! Dengar, berhubungan se*s adalah suatu kebutuhan hidup. Itu hal biasa di dunia ini. Benar kan Laurent?"


"Aku setuju!" Laurent mengangguk sambil menjentikkan jarinya.

__ADS_1


Charlotte tertawa penuh kemenangan. "Kau lihat, Xander? Hanya kau yang tidak setuju disini."


"terserah saja." Xander dengan pasrah mengangkat kedua tangannya, "Lakukan yang kau mau,"


Xander sudah tidak tahu harus menjawab apa untuk gadis itu. Walaupun ingin, dia jelas tidak bisa melindungi pemuda itu dari Charlotte. Charlotte dan pemuda itu berada di kampus yang sama dan itu jelas mempermudah Charlotte dalam menjalankan rencananya.


Lagipula sebelumnya Xander juga tidak tahu wajah pemuda itu, jadi bagaimana Xander bisa membantunya. Bertemu saja baru tadi dan itu jelas sudah terlambat. Sekali lagi, Xander jadi merasa sangat prihatin seandainya Charlotte berhasil mempermainkan pemuda itu, selain usianya yang sangat muda dia juga terlihat sangat polos.


"Tapi kau bilang ingin pergi, kalau begitu cepatlah kau bersiap!" Laurent menatap Charlotte


Charlotte mengangguk. "Ah, benar. Baiklah, tunggu sebentar aku ganti pakaian dulu!"


Laurent mengangguk kemudian memilih duduk santai di sofa ruang tamu, menikmati ayam pedas milik Charlotte lagi.


Beberapa saat kemudian Charlotte keluar dari kamarnya menuju ruang tamu. Ia mengenakan gaun ketat berwarna merah dengan sepatu hak yang tak terlalu tinggi.


Dia terlihat merias wajahnya, namun hanya dengan riasan natural karena setelah ini mereka akan pulang ke mansion utama dan Charlotte tak ingin kakeknya mengetahui dari mana mereka pergi.


"Ayo pergi!" ajak Charlotte


"Aku tidak ikut!" ujar Xander tiba-tiba.


Charlotte dan Laurent sontak saja menolehkan pandangan mereka pada Xander.  Charlotte terlihat menyipitkan matanya, menatap sinis pada pemuda bertubuh tinggi itu.


"Apa maksudmu dengan tidak ikut?" Laurent bertanya bingung.


"Aku tunggu di sini saja, aku tidak akan pergi. Kakek akan menghabisiku kali ini."


Charlotte mengerti apa yang membuat kakaknya itu menolak ikut. Ini pasti karena insiden waktu itu disaat mereka ketahuan pergi ke klub malam karena Charlotte mabuk berat dan membuat Xander dimarahi habis-habisan oleh sang kakek.


"Ayolah, aku tidak akan mabuk lagi, Xander." bujuk Charlotte


Xander mendecih, "Cih, omong kosong, Lottie.."


"Hei, aku bersungguh-sungguh."


"Mungkin kau tidak ingat, tapi sepertinya kau bahkan mengatakan hal itu juga terakhir kali. Tapi nyatanya?"


"Tapi kali ini aku bersungguh-sungguh. Kita tak akan lama. Aku hanya membuang rasa bosan saja barulah setelah itu kita pulang ke mansion."


Laurent menganggukkan kepalanya, "Ya, Charlotte benar. Ayolah Xander, jangan merusak suasana begini. Mari kita pergi ke klub malam dan bersenang-senang di sana."


"Kita hanya akan berada di sana selama dua jam dan kita akan pulang jam dua belas. Aku janji." ucapan Charlotte, yang entah kenapa terdengar begitu meyakinkan.


Xander menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal. Ia merasa bingung harus melakukan apa sekarang.

__ADS_1


"Baiklah!" Xander akhirnya menyerah. Ya, ia memang sama sekali tak kuasa menolak ajakan dua manusia beda lawan jenis ini.


***


__ADS_2