
Siang itu, mata kuliah terakhir selesai, terbukti dengan dosen yang baru saja melangkahkan kakinya keluar dari ruangan kuliah. Seluruh mahasiswa yang ada di ruangan itu satu per satu turut keluar dari ruangan dan hanya menyisakan beberapa orang saja di dalam.
"Justin!"
Charlie menghampiri Justin yang saat ini terlihat tengah membereskan buku-buku miliknya dan memasukkannya ke dalam tas ranselnya. Mendengar seruan itu dari Charlie itu, Justin hanya melirik sekilas dan bergegas menutup resleting tasnya.
"Ada apa?" tanyanya.
"Aku pinjam buku catatanmu!"
"Buku catatanmu mana?" tanya Justin heran.
Charlie menggosok leher belakangnya canggung, "Aku tadi tidak mencatat apapun."
"Kau tidur di kelas lagi?" tanya Justin menaikkan sebelah alisnya.
"Tidak, bukan begitu. Aku hanya merasa tidak mengerti apapun dengan penjelasan dosen tadi. Kau tau, penjelasan darinya terlalu membingungkan bagiku. Ah, aku justru jauh lebih mengerti catatanmu."Â Charlie beralasan.
"Hm."
Justin membuka kembali tasnya dan mengambil buku catatannya, lalu menyerahkannya pada Charlie. "Tanya saja kalau ada yang tak kau mengerti."
Charlie hanya tersenyum lebar pada Justin, "wow, kau ini benar-benar teman yang luar biasa."
"Ngomong-ngomong, setelah ini aku dan beberapa teman-teman yang lain akan pergi ke kafe langganan kita, untuk makan siang. Kau ikut?"
__ADS_1
"Sepertinya tidak." Justin menggelengkan kepalanya pelan sebagai tanda penolakan. "Aku akan langsung pulang ke rumah setelah ini."
Ya, Justin merasa ingin cepat sampai ke rumahnya untuk beristirahat. Entah kenapa tubuhnya terasa begitu lelah sekarang.
Justin mengangkat tasnya dan langsung memasang tali tas ransel itu ke bahunya. Ia tersenyum singkat pada Chalie sebelum kemudian melangkahkan kakinya pergi dari ruangan itu.
"Terima kasih buku catatannya." seru Charlie lagi dari tempatnya berdiri.
Justin sontak menghentikan langkahnya.
"Ingat, kau harus segera menyelesaikannya. Minggu depan akan ada ujian, aku juga harus belajar." ujar Justin kemudian melangkah keluar dari ruang kuliahnya itu.
"Oke!"
Terdengar jawaban dari Charlie, namun Justin tetap terus melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu agar bisa cepat pulang.
Diam-diam Justin melirik pada jam yang ada di dinding rumahnya. Ini jam dua belas siang. Ia termenung memikirkan tentang undangan makan malam yang akan diadakan oleh tuan Romanov. Ia masih merasa bingung apakah ia akan datang atau tidak. Lagipula, kenapa juga tuan Romanov harus meminta dirinya untuk datang?
Menurut Justin, semua yang di lakukan tuan Romanov padanya begitu berlebihan. Itu hanyalah insiden yang tak di sengaja. Harusnya tuan Romanov tidak perlu bersusah payah untuk mengundangnya ke rumahnya seperti ini. Dia juga tak perlu memberi Justin uang. Dan cukup dengan mengizinkan Justin untuk kembali bekerja di kafenya saja, sudah sangat cukup bagi Justin.
Justin menghela napasnya pelan mengingat raut tuan Romanov saat menceritakan insiden kecelakaan waktu itu. Pria paruh baya itu terlihat begitu menyesali atas apa yang sudah tanpa sengaja dia lakukan pada Justin waktu itu.
Perlahan Justin meraih tas ranselnya. Ia kemudian mengeluarkan amplop coklat dari dalam tasnya. Amplop itu berisi uang yang tuan Romanov berikan padanya saat mereka bertemu di kantor utama waktu itu.
Ah, semua ini benar-benar berlebihan bagi Justin, tuan Romanov memberinya pekerjaan lagi, uang tunai, dan juga undangan makan malam. Ini terlalu banyak untuknya. Dan mengingat ini semua bahkan membuat Justin merasa semakin tak mengerti dengan apa yang sebenarnya tuan Romanov pikirkan.
__ADS_1
Sejujurnya mengenai uang tunai ini sendiri, meskipun Justin sudah menerima uang pemberian itu, namun Justin sama sekali belum menggunakan uang itu bahkan satu lembar pun. Hei, mana dia berani.
Dan meskipun uang itu memang sudah di berikan padanya, namun tetap saja ada perasaan tidak enak bagi Justin untuk menggunakannya. Hatinya bahkan sangat ingin mengembalikan uang itu, karena satu fakta, Justin tak pernah memegang uang sebanyak ini dalam hidupnya.
Justin kini meraih dompetnya. Ia mengeluarkan kartu nama pemberian tuan Romanov padanya setelah pertemuan waktu itu. Tuan Romanov memintanya untuk datang ke acara makan malam yang di adakan malam ini.
"Dan acara makan malam itu... haruskah aku datang ke sana?" ujarnya pada dirinya sendiri. "Kenapa tuan Romanov meminta aku untuk datang kerumahnya?"
Justin menundukkan kepalanya. Jika ia tidak hadir maka tuan Romanov pasti akan merasa kecewa. Dan ia tak pernah ingin mengecewakan siapapun dalam hidupnya. Lagipula ini kan hanya acara makan malam biasa. Tak mungkin akan sampai merugikan apapun bagi dirinya.
Dan juga Justin harus hadir karena dia ingin mengembalikan uang pemberian tuan Romanov. Dari kecil, Justin tidak pernah di ajari oleh mendiang orang tuanya untuk menerima uang secara cuma-cuma tanpa usaha.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Justin membuka layar ponselnya dan menyadari begitu banyak pesan yang masuk kedalam ponselnya. Ini hal biasa baginya, kalau boleh jujur.
Hampir setiap hari ponselnya menerima pesan dari banyak gadis. Entah darimana para gadis ini mendapat nomor ponselnya. Tapi ia yakin kalau ada orang yang berani menjual nomor ponselnya, itu pasti hanya satu orang. Dan itu adalah... Charlie.
Justin kemudian men-senyapkan bunyi ponselnya dan meletakkan ponsel itu ke atas sofa. Ia tidak begitu mengerti bagaimana cara membalas pesan basa-basi pada orang lain. Ah, jangankan untuk membalas pesan dari para gadis. Berbicara berdua dengan seorang gadis saja bisa di hitung dengan jari.
Selama ini Justin hampir tak pernah bicara dengan gadis asing, selain teman sekelasnya dan juga teman semasa SMA-nya dulu, itu karena ia merasa terlalu malu untuk melakukan itu. Ah, tunggu! Ada satu orang lagi... Charlotte Clinton.
Justin baru menyadari kalau beberapa kali ia selalu bertemu bahkan bicara dengan gadis itu. Justin mengernyit saat mengingat kalau beberapa kali di pertemuan singkatnya dengan Charlotte, pasti akan selalu memiliki kesan sendiri baginya. Bahkan saat pertama kali bertemu di sebuah kafe, hubungan mereka sudah di hiasai dengan berdebat.
Dan bukan rahasia lagi kalau selama ini Justin punya perasaan aneh yang dia rasakan untuk Charlotte. Ia mengakuinya. Namun itu adalah sebuah perasaan yang Justin sendiri pun tidak mengetahui apa itu. Perasaan kagum? Suka? Tertarik? Entahlah. Intinya, saat mereka bertemu, Charlotte selalu berhasil membuat jantung Justin berdebar tak karuan. Dan Justin tak pernah merasakan hal seperti itu dalam hidupnya.
Tapi, bicara tentang Charlotte, rasanya ia sama sekali tak melihat kemunculan dari gadis itu di kampusnya hari ini? Ini tidak biasanya.
__ADS_1
'Apa dia tidak datang atau aku hanya tidak melihatnya saja tadi?' batinnya.
***