Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
54.


__ADS_3

Setelah insiden menabrak mobil tadi, Justin kembali melanjutkan mengayuh sepedanya dengan buru-buru menuju kampus. Ia berfikir ini sudah benar-benar terlambat baginya untuk berkuliah tapi dia bahkan baru beberapa minggu kuliah dan jelas tidak mungkin untuk tidak hadir.


“Semoga Mr. John tidak mengomel seperti dosen yang satu lagi." gumam Justin pada dirinya sendiri sambil sesekali melirik jam di tangannya.


"Dosen yang waktu itu benar-benar sangat suka mengomel. Dia bahkan mengomeliku sampai telingaku terasa panas." gumamnya lagi lalu mengayuh sepedanya lebih cepat agar dia bisa segera sampai di kampus tepat waktu.


Pemuda itu menghentikan sepedanya saat tiba di depan gerbang kampusnya. Ia turun dari sepeda dan buru-buru memarkirkan sepedanya di parkiran kampus kemudian dengan cepat berlari masuk ke dalam kampus.


Justin terus saja berlari menyusuri lorong kampus tanpa menoleh kanan dan kiri. Tujuannya utamanya saat ini hanya satu yaitu ruang kuliahnya.


"Hei Justin, tunggu!" seru seseorang.


Justin memperlambat laju larinya saat mendengar seseorang dengan tiba-tiba memanggilnya. Ia menoleh ke samping, ke arah sumber suara barusan.


Seorang pemuda terlihat sedang berdiri tidak jauh darinya, menatapnya dengan pandangan heran. Itu Charlie, yang saat ini tengah melangkah mendekat kearahnya.


"Kau mau kemana, Justin?" tanya Charlie dengan raut bertanya-tanya. "Kenapa kau berlari?"


"Aku-"


"Kenapa kau masih pincang?" potong Charlie sambil menatap ke arah kaki Justin yang sempat terluka karena kecelakaan beberapa waktu lalu. "Lukamu yang waktu itu belum sembuh ya?"


"Sudah. Tapi ini bukan karena yang waktu itu. Ini adalah lukaku yang baru. Aku tadi jatuh!" jelas Justin  terlihat terus mencoba mengatur nafasnya yang masih belum normal karena habis berlarian.


"Hah? Kau jatuh lagi?" Charlie menatap Justin tak percaya.


Ia menggeleng-gelengkan kepalanya tak menyangka dengan perkataan Justin. Charlie tahu kalau Justin adalah manusia paling ceroboh yang pernah ia temui. Tapi ia kaget karena beberapa hari ini dalam jangka waktu yang berdekatan sahabatnya itu sudah dua kali kecelakaan.


"Kau benar-benar ceroboh!" ujar Charlie yang kini kembali menggeleng-gelengkan kepalanya saat mengingat kecerobohan sahabatnya itu. "Kau di tabrak lagi?"


"Kali ini bukan di tabrak tapi aku yang menabrak." Justin tertawa lucu sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Dan parahnya lagi, aku menabrak mobil yang sedang terparkir hingga penyok di beberapa bagiannya."


Charlie ikut tertawa. "Lalu bagaimana kelanjutannya?"


"Tentu saja pemilik mobilnya minta ganti rugi, apalagi memangnya?" jelas Justin. "Padahal sepedaku juga penyok."

__ADS_1


Charlie hanya menggeleng lalu tersenyum. "Kau ini benar-benar. Aku rasa kau sangat suka jatuh akhir-akhir ini. Aku jadi penasaran apa jatuh dari sepeda adalah hobi bagimu sekarang." ujar Charlie tertawa kecil.


"Jangan mengejekku, Charlie." protes Justin. "Ya sudah, aku mau ke kelas kita sekarang. Aku sedang buru-buru, Charlie! Kelas Mr. John pasti sudah di mulai sekarang."


Charlie tersenyum usil pada Justin kemudian tertawa. Entah apa yang sedang ia tertawakan sekarang. "Ya, sebenarnya ini sudah sangat terlambat untuk kita masuk kelas sekarang, Justin." ujar Charlie memasang wajah pasrahnya.


"Ya kau benar, Charlie." Justin menggangguk. "Aku yakin Mr. John pasti akan mengomel karena aku datang terlambat di jam kuliahnya. Aku dengar dia salah satu dosen paling mengerikan di kampus ini."


"Ya Mr. John memang salah satu dosen yang paling mengerikan dan juga di takuti di kampus ini!" Charlie menganggukkan kepalanya setuju.


"Tapi tunggu dulu. Kenapa kau malah tenang-tenang saja disini, kau tidak masuk?" Justin menatap bingung sahabatnya itu.


Charlie menggeleng pelan kemudian tersenyum. Ia lalu merangkul pundak Justin. "Tenang Justin! Info terbaru yang kudapat, hari ini dia tidak jadi hadir. Dia hanya memberi tugas tambahan pada kelas kita untuk minggu depan."


Justin sontak membulat. "Apa kau bilang? Dia tidak hadir?"


Charlie mengangguk sambil tersenyum. "Ya! Dia tidak jadi masuk!"


"Lalu kenapa kau tidak memberitahuku?" protes Justin kesal. "Kau kan bisa menghubungiku tadi!"


Justin menatap tak terima dengan perbuatan Charlie. Bagaimana dia sampai bisa lupa memberitahunya. "Hei, aku bahkan datang secepat yang ku bisa dan mengayuh sepedaku lebih cepat dua kali lipat demi datang tepat waktu!"


"Maaf, Justin!" mohon Charlie lagi sambil tertawa kecil. "Lagipula kau juga sudah terlambat lima menit. Seandainya dia hadir hari ini, kau juga tidak akan bisa masuk kelas."


Justin meringis. "Hanya lima menit, setidaknya aku datang dan bisa memohon padanya untuk masuk, kan?"


"Ah, kau benar, para dosen pasti akan luluh saat melihat wajah tampanmu itu. Seperti kejadian Miss. Miranda yang mengijinkanmu masuk waktu itu. Justin, aku yakin dosen cantik itu pasti menyukaimu."  ujar Charlie.


Justin langsung menjitak kepala Charlie. "Kau pikir  aku menggoda Miss. Miranda?"


"Kau memang tidak menggoda, tapi wajahmu-lah yang menggoda mereka." ujar Charlie mengedipkan sebelah matanya pada Justin.


"Hah?"


"Ah, aku bangga padamu karena memiliki wajah yang sangat tampan." puji Charlie sambil menepuk-nepuk pundak Justin bangga.

__ADS_1


"Apa maksudmu!" ujar Justin lalu melepas rangkulan Charlie dari pundaknya.


"Ini... wajahmu ini!" tunjuknya pada wajah Justin dengan ekspresi gemas. Justin sendiri langsung menghindar dan menepis jari telunjuk Charlie.


"Jangan mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Saat ini aku masih kesal padamu karena tidak memberitahuku tentang ketidakhadiran Mr. John dan membuatku harus berlari di sepanjang lorong kampus." seru Justin saraya menghunuskan tatapan tajam pada Charlie.


Charlie kembali tertawa. "Sekarang aku menemukan alasan kenapa wajahmu itu pucat sekali. Kau pasti kelelahan kan?"


Justin mengangguk cepat. "Kau-lah yang menyebabkannya. Kau yang menipuku! Kau mengerjaiku!"


"Bagaimana aku menipumu? Aku kan sudah bilang kalau aku lupa memberitahumu." Charlie menatap Justin tidak terima.


"Terserah saja!" Justin membuang pandangan dengan bibir yang sedikit dimanyunkan, ia masih kesal.


Melihat itu, Charlie menghela napasnya pelan. Meski baginya ini sangat lucu, tapi tetap saja ia merasa bersalah pada Justin.


"Baiklah. Aku yakin, kau pasti belum sarapan?" tanya  Charlie yang kembali mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


Justin langsung mengangguk. "Aku tidak sempat, tadi buru-buru."


"Kalau begitu tunggu apalagi, kita sarapan sekarang. Ayo ke kantin!" Charlie kembali merangkul pundak Justin, hendak membawanya menuju kantin.


Justin yang sudah hendak melangkah namun ia langsung teringat kalau dia tidak punya pekerjaan lagi. Saat ini dia harus lebih pintar dalam menyimpan sisa uang yang dia punya untuk persediaan sampai ia mendapat pekerjaan baru.


"Tidak." tolak Justin. "Aku tidak ikut, kau saja yang-"


Charlie kembali tertawa. "Kau tenang saja aku yang traktir! Anggap saja ini sebagai balasan atas rasa bersalahku karena lupa memberitahumu tentang Mr. John."


Justin hanya tersenyum masam saat Charlie mendorong-dorong punggungnya untuk mengikutinya ke kantin.


Ia hanya menurut saja.


***


✔ Note :

__ADS_1


▪Author peduli dengan kesehatan mata kalian, jadi, kalau kalian kurang suka sama ceritanya, Author sarankan kalian untuk mencari cerita yang lain saja, karena cerita ini bisa menyebabkan sakit mata akut.


__ADS_2