
"Kau dimana?" tanya Charlotte.
Charlotte bicara pada Laurent di sambungan telepon kala ia tengah membawa mobilnya, menyetir keluar dari gerbang besi raksasa dari mansion mewah itu.
"Aku sudah sampai di restorannya." jawab Laurent dari seberang telepon.
"Baiklah. Tunggu aku disana."
"Kau dimana sekarang?"
"Aku sudah dalam perjalanan. Sepertinya aku akan sedikit terlambat sampai disana. Aku baru saja keluar dari mansion." jawab Charlotte tenang, matanya memeriksa jam di pergelangan tangannya.
"Bukan masalah besar. Lagipula selama ini kau bukan tipe orang yang suka terlambat. Selalu datang tepat waktu. Sesekali terlambat tidak masalah."
Charlotte terkekeh. "Benar, tapi aku hanya takut kalau kau akan bosan jika terlalu lama menungguku disana."
"Tenanglah, aku mungkin tidak akan mati bosan disini karena banyak sekali gadis cantik. Beberapa dari mereka menggunakan pakaian olahraga yang ketat, lumayan menghibur mataku. Sepertinya mereka baru saja selesai berolahraga dan sarapan."
"Ya ampun, aku jadi menyesal karena sudah mengkhawatirkan dirimu." keluh Charlotte membuat Laurent tertawa renyah.
"Kau tau, Charlotte? Para pelayan di sini bahkan memiliki bok*ng yang mont*k."
Charlotte mendengus.
"Kau sedang sarapan pagi dengan matamu, heh?"
"Semacam itu."
Jawaban Laurent membuat Charlotte kembali terkekeh. Charlotte hanya menggelengkan kepalanya mengetahui kelakuan Laurent di restoran. Ingatkan dia untuk memberitahu Laurent betapa mata keranjangnya pemuda itu.
"Kau lebih mesum daripada kakakku, kau tau." sindir Charlotte.
"Siapa? Xander, maksudmu? Oh hei, jangan samakan aku dengan pemuda bodoh itu, oke!" protes Laurent tak terima. "Aku bahkan jauh lebih baik dari dia dalam hal wanita."
"Ck, mungkin lebih baik dalam hal mesum maksudmu?"
"Hal apapun, tentu saja." ujar Laurent masih tak mau kalah juga
Charlotte hanya menggelengkan kepala sembari tersenyum mendengar jawaban sahabatnya itu.
"Baiklah, kau tunggu aku di sana, oke."
"Tenang saja. Aku teman yang setia. Kau akan kutunggu sekalipun kau terlambat satu hari penuh." jawab Laurent mulai terdengar mengada-ada. Ia diam selama tiga detik kemudian kembali melanjutkan. "Tapi mungkin aku akan memesan lebih dahulu. Secangkir kopi, mungkin."
"Oke."
"Kau mau juga?"
"Tidak, sedang tak ingin. Ya sudah, kalau begitu aku tutup dulu." ujar Charlotte lalu mematikan ponselnya setelah mendapat jawaban perpisahan dari Laurent.
Charlotte lalu menginjak pedal gas mobilnya agar lebih cepat lagi, ia melajukan mobilnya menuju ke restoran tempat Laurent sedang berada saat ini.
Pagi tadi, Charlotte dan Laurent memang membuat janji temu untuk sarapan bersama. Ya, sebenarnya itu sebelum ia tahu kalau pagi ini ternyata akan sarapan di mansion bersama kakeknya dan Xander.
__ADS_1
Tapi Charlotte adalah orang yang menepati janji. Itu sebabnya ia akan tetap menemui sahabatnya itu.
***
Setelah melalui setengah jam lebih perjalanan dari mansion kakeknya, Charlotte memberhentikan mobilnya di area parkir sebuah restoran mewah langganannya.
Gadis itu segera turun dari mobilnya dan langsung masuk untuk menemui Laurent yang saat ini tengah duduk di meja yang berada pada sudut ruangan. Pemuda tampan itu tampak bersantai menikmati kopi hitam yang ada di tangannya.
"Kau sudah pesan?" tanya Charlotte.
Laurent menggeleng. "Belum. Kau yang pesan. Aku ikut saja."
Charlotte mengangguk dan segera memanggil pelayan untuk memesan. Setelah memesan makanan, keduanya saling menikmati makanan masing-masing sembari mengobrol satu sama lain.
Laurent menanyakan alasan kenapa Charlotte terlambat dan Charlotte menjawab tentang sarapan paginya bersama kakek dan Xander. Kemudian segalanya berakhir dengan Charlotte yang menceritakan kejadian yang terjadi padanya semalam.
"Memangnya mau sampai kapan kau akan bersikap seperti ini?" tanya Laurent sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dengan santai.
Charlotte menaikkan sebelah alisnya, "Seperti ini bagaimana maksudmu?"
"Seperti yang kau lakukan sekarang ini." jelas Laurent. "Seperti mengacuhkan Xander. Marah pada kakekmu. Semuanya."
Charlotte menghela lelah sembari mengaduk-aduk makanan di hadapannya.
"Entahlah." jawabnya lemas.
"Sebenarnya, untuk Xander aku sudah merasa lebih baik sekarang. Tapi kakekku, sepertinya dia agak sulit. Sikap kakek yang seenaknya itu lumayan menggangguku."
Laurent meraih gelasnya dan menunjuk Charlotte dengan jari telunjuknya.
Charlotte mendengus.
"Oh, ayolah Laurent, aku ini tidak suka terlalu di atur. Kau tau jelas bagaimana sifatku, bukan? Aku ini manusia bebas."
"Itulah yang menjadi sebab utama kakekmu akhirnya suka mengatur dirimu. Karena kau terlalu liar."
"Dan tentang Xander yang mengurus perusahaan. Aku yakin dia pasti tidak ingin Xander gelabakan saat menggantikannya nanti, itu sebabnya dia harus mengajari Xander segalanya. Itu pasti untuk kebaikan Xander juga kan?"
"Ya, tapi caranya salah. Dia merebut Xander dariku begitu saja. Membuat Xander harus membatalkan segala rencana dan janji yang kami buat."
"Untuk masalah itu, aku bisa mengerti alasanmu marah." Laurent mengangguk-angguk. "Tapi Charlotte, meski menurutmu caranya salah tapi tetap saja, semua yang dia lakukan itu pasti agar cucunya mendapat yang terbaik."
Charlotte berdecak sinis, "Caramu bicara mengingatkanku pada Xander."
"Karena pendapat kami sama."
"Ya, bisa jadi." Charlotte menatap malas. "Hanya saja itu mulai terdengar agak menyebalkan di telingaku."
"Well, aku hanya sedang memberikan pendapatku." Laurent menggedikkan bahunya santai.
Xander lalu kembali melanjutkan.
"Aku beritahu saja, mengurus perusahaan juga butuh penyesuaian, bukan? Xander jelas membutuhkan itu. Dia akan jadi pemimpin disana."
__ADS_1
"Aku tidak bisa untuk tidak setuju." Charlotte mengangguk pasrah. "Tapi tetap saja, aku tidak suka caranya. Dia terlalu seenaknya. Merebut Xander seenaknya begitu."
Laurent terkekeh.
"Jika kau menyebut kakekmu berbuat seenaknya lalu kau sendiri harus di sebut apa? Bagaimana aku menyebutmu, hah?" ejek Laurent, memandang sahabat wanitanya itu dengan senyum miring. "Sikapmu kadang bisa melebihi kakekmu sendiri. Kau bahkan jauh lebih mengerikan darinya."
Charlotte ikut terkekeh. Ia lalu mengangkat tangan, membuat gerakan seakan ingin menusuk Laurent dengan garpu yang ia pegang.
"Mengerikan apaanya, hah? Apa maksudmu. Siapa yang kau sebut mengerikan. Sial*n!"
"Aku hanya berkata jujur." Laurent tersenyum miring.
Charlotte meletakkan garpunya saat melihat layar ponselnya yang tampak menyala. Ia langsung mengecek ponselnya. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari teman-temannya. Namun alisnya berkerut saat melihat sepuluh panggilan dari Xander. Pemuda itu bahkan juga mengirim beberapa pesan singkat untuknya.
'Kenapa dia meneleponku berlebihan begini?' batin Charlotte.
Tak tahan dengan rasa penasarannya, Charlotte akhirnya membuka isi pesan dari kakaknya itu.
'Apa kau baik-baik saja? Kenapa aku tidak melihat mobilmu di parkiran kampus?'
'Ini sudah jam sembilan, kenapa kau belum tiba?'
'Ban mobilmu tidak bocor kan?'
'Kalau ada masalah cepat hubungi aku.'
Dan juga pesan lain yang berisi kalimat kekhawatiran yang hampir sama di kirim oleh kakaknya itu.
Isi pesan itu diam-diam membuat Charlotte mendengus. Ini lucu juga. Melihat Xander yang begitu khawatir sampai harus mengirimkan banyak sekali pesan padanya.
Sebelumnya pemuda itu tidak terlalu perhatian seperti ini padanya. Xander lumayan cuek. Dan hari ini pemuda itu seperti berubah seratus delapan puluh derajat. Jadi, seperti ini jika Xander menjadi sosok perhatian. Imut juga membayangkan dia perhatian seperti ini saat masih menjalani hubungan dengan Elena, mantannya.
Charlotte menatap layar ponselnya sambil terkekeh.
"Ada apa?" tanya Laurent.
"Ah, ya?"
"Kau punya janji lain?" tanya Laurent sembari menunjuk ponsel di tangan Charlotte dengan dagunya.
"Tidak, tidak apa-apa." jawab Charlotte cepat sambil tersenyum, lalu menutup ponsel itu dan memasukannya kembali ke dalam tas.
Laurent hanya menggedik acuh. Lagipula dia bukanlah orang yang selalu ingin tau urusan orang lain dan menanyakan hal sampai mendalam.
"Kau tidak kuliah?" tanya Laurent lagi.
"Kuliah." jawab Charlotte singkat.
Laurent mengangkat pergelangan tangan untuk melihat jam. "Jam segini kau belum pergi ke kampus. Apa tidak masalah."
"Jam kosong. Dosen di jam pertamaku tidak hadir. Dan dosen kedua, aku hanya perlu mengantar tugas makalah dan akan langsung pulang setelah itu."
Sebenarnya Charlotte tidak benar-benar akan pulang. Ia harus bekerja. Siang ini ia akan pergi ke studio pemotretan untuk pengambilan gambar dari sebuah produk kosmetik.
__ADS_1
***