
Charlotte dan Xander berjalan beriringan melewati koridor kampus. Sampai di depan ruang kuliahnya, Xander menghentikan langkahnya kemudian menoleh pada Charlotte.
"Gue masuk kelas gue dulu." ujar Xander menunjuk ruang kuliahnya dengan dagu.
"Hm." Charlotte mengangguk sambil memainkan ponselnya. "Gue juga nih! Gue pergi dulu."
Charlotte pun segera melangkahkan kakinya, berjalan meninggalkan Xander untuk menuju gedung kuliahnya yang memang berada di gedung yang berbeda dengan Xander. Namun ia kembali menghentikan langkahnya saat teringat akan sesuatu.
"Oh ya, hari ini gue bakal ada tambahan mata kuliah, jadi sepertinya gue bakalan pulang lebih lama dari lo." ujar Charlotte menjelaskan.
"Hm." Xander mengangguk.
"Lo mau nungguin gue atau pulang duluan aja?"
"Nunggu."
"Yakin?" tanya Charlotte lagi, mencoba meyakinkan.
Xander mengangguk mantap. "Yakin. Lagipula gue ada janji buat ketemu sama temen gue di kantin kampus sepulang kuliah ini. Selebihnya gue bisa nunggu elo di parkiran kampus atau dimana aja gue mau, gampang."
"Temen?"
"Ya."
__ADS_1
"Cewek?"
"Hm, seorang cewek. Gue kenal sama dia di klub musik, cantik banget!"
Charlotte mendecih kesal lalu memutar bola matanya malas. "Elo ini. Bukannya gue sudah bilang dan peringatkan elo untuk nggak ketemu sama cewek manapun saat pacar lo belum pulang dari luar negeri. Harusnya lo inget sama pacar lo dong!"
"Mantan, Lottie! Dia mantan gue, ingat?"
Charlotte kembali memutar bola matanya malas lalu mengibaskan tangannya acuh. "Ya, terserah! Menurut gue dia masih pacar lo."
"Ya, oke. Terserah lo aja." Xander mengangkat tangannya menyerah.
Charlotte mengibaskan tangannya,
"Baiklah. Gue duluan!" ucap Xander.
Namun langkah pemuda itu langsung terhenti tepat saat matanya menjelajah pakaian yang di kenakan Charlotte saat ini. Sambil bersidekap Xander menatap pakaian Charlotte secara menyeluruh, dari atas hingga bawah. Saat ini Charlotte hanya mengenakan mini dress hitam di atas lutut, memperlihatkan kedua pahanya yang putih mulus.
Charlotte yang merasa di perhatikan sontak mengernyit bingung.
"Ada apa? Kenapa elo melihat gue seperti itu?" ujar Charlotte kemudian menunduk untuk memperhatikan pakaiannya sendiri. Ia lalu menatap Xander dengan tatapan menyelidik. "Lo nggak lagi nafsu sama gue kan, adik lo sendiri?"
Xander tak menjawab. Ia lalu bergerak melepas jaket yang ia kenakan kemudian memasangkannya pada bahu Charlotte. "Pakai ini!" ujar Xander.
__ADS_1
"Apa-apaan ini? Buka aja!"
"Pakai aja! Pakaian lo ini terlalu terbuka! Ini kampus, bukan aula pemotretan atau klub malam yang sering elo datangi."
Charlotte sontak mendengus remeh.
"Gue nggak butuh ini, ambil aja." ujar Charlotte cuek, tangannya bergerak hendak kembali melepas jaket itu, namun Xander justru malah menahannya, matanya kini melotot menatap Charlotte.
"Jangan di lepas!" ucap Xander tajam. "Setidaknya jaket gue ini yang akan menyelamatkan elo dari tatapan pria penuh nafsu itu,"
"Pria penuh nafsu? Apa sekarang elo lagi membicarakan diri lo sendiri?" balas Charlotte dengan tatapan mengejek.
Xander mendengus sinis. "Bukannya yang penuh nafsu itu elo? Kan elo yang selalu berganti-ganti pasangan, bukan gue!"
Charlotte mengerucutkan bibirnya kesal. Ya, Xander memang benar. Selama ini memang dia yang suka berganti-ganti pakaian. Charlotte tidak ingin bicara apa-apa lagi. Dia tahu bahwa dia pasti akan selalu kalah jika berdebat dengan pemuda ini.
"Nyebelin banget sih elo! Ya sudah, gue malas berdebat sama lo. Gue pergi aja!" ucap Charlotte kemudian melengos pergi, sementara Xander hanya tertawa.
"Jangan di lepas jaketnya!" Xander berujar pada Charlotte yang berjalan meninggalkannya.
Charlotte kembali melangkahkan kakinya menuju ruang kuliahnya. Ia melangkah tanpa memperdulikan semua pasang mata yang memandang ke arahnya, menatapnya mulai dari tatapan kagum, terpana, hingga tatapan iri.
Ia berjalan lurus penuh percaya diri melewati kumpulan mahasiswa di koridor kampusnya. Bahkan beberapa mahasiswa yang tadi memenuhi sepanjang koridor kini langsung menepi saat ia lewat.
__ADS_1
***