
Bang!
Charlotte menutup pintu kamarnya dengan bantingan kasar. Gadis itu bahkan tak peduli jika ia akan mengagetkan satu mansion saat mendengar bunyi bantingan itu.
Ia langsung menghembuskan napas panjang begitu tiba di kamarnya sendiri. Setelah itu Charlotte langsung melemparkan barang-barang pribadi miliknya dengan asal ke atas tempat tidur lalu turut menghempaskan tubuhnya ke atas kasur.
"Si@l! Aku memang punya perasaan buruk bahkan sebelum masuk ke dalam tempat ini. Lihatlah ini! Harusnya aku mempercayai perasaanku." gumamnya kesal.
Tampak dari raut wajahnya menunjukkan kalau ia merasa begitu kesal sekarang. Ya, jelas Charlotte kesal sekali. Ia baru saja pulang dengan lelah karena pergi sejak pagi, tapi sudah harus berdebat dengan sang kakek.
Ia memejamkan matanya. Mencoba agar lebih tenang dari sebelumnya. Sembari memejamkan kedua matanya, Charlotte tiba-tiba saja memikirkan alasan kenapa ia dan kakeknya tak pernah akur.
Selama ini ia dan kakeknya itu memang selalu bertengkar. Tapi itu karena kakeknya membuat aturan menyebalkan yang akan membuatnya kesal setengah mati.
Mereka tak pernah sejalan. Memang sudah seperti itu adanya. Apapun masalahnya, sekecil apapun, pasti akan selalu ada perdebatan di antara mereka berdua. Sifat mereka jauh berbeda. Dan perbedaan itulah yang membuat mereka terpisah. Mereka terlihat bukan seperti cucu dan kakek. Justru Xander yang tampak seperti cucu kandungnya. Mereka selalu sejalan. Berbeda dengan Charlotte, jika mereka bertemu hanya akan ada perdebatan.
Seperti yang terjadi malam ini.
Setelah beberapa saat, Charlotte membuka kembali matanya. Pandangannya menelusuri ruangan sekitar tempat tidurnya saat ini. Perlahan, Charlotte mulai mengerutkan kening saat menatap kamar tidurnya.
Meskipun ini di kamarnya sendiri, yang harusnya bisa membuat dirinya merasa nyaman, namun Charlotte tak merasakan hal yang sama. Ia selalu merasa jengah dan bosan saat berada di sini. Di kamar ini. Di rumah ini. Tak ada satu hal pun di rumah ini yang bisa membuat dirinya betah.
Bahkan Charlotte tak bisa melupakan kenangan kedua orang tuanya dan merasa semakin sedih saja. Ia tak ingin merasakan perasaan menyakitkan itu lagi dan terus berusaha menghindarinya. Tapi sang kakek terus memintanya kembali ke mansion ini, membuat Charlotte mau tak mau harus menahan hatinya.
"Setelah kakek kembali ke Jepang nanti aku akan pindah ke apartemen atau rumah pribadiku saja daripada berada di sini." gumamnya acuh.
Charlotte kini termenung memikirkan banyak hal dalam kepalanya. Termasuk apa yang baru saja terjadi. Ia berpikir keras tentang kakeknya. Hubungan mereka semakin lama bukan semakin baik, malah semakin buruk saja. Bahkan masalah kecil berubah jadi kekacauan besar.
Walapun memang kekacauan ini memang disebabkan oleh Charlotte sendiri yang sudah menanggapi dengan emosi tinggi.
Ah, jika memikirkan tentang pria paruh baya itu hati Charlotte berdenyut sakit.
Bagaimana hati nurani Charlotte tak terkoyak ketika ia baru saja menyakiti hati dari sang kakek. Pria paruh baya yang selama ini sudah menggantikan peran orang tuanya.
Bukankah Charlotte sudah begitu kejam memperlakukan sang kakek selama ini. Ia selalu melawannya, mengacuhkannya dan menyakitinya entah dengan ucapan atau tindakan.
__ADS_1
Sebenarnya, dalam kewarasannya, Charlotte juga tak sampai hati terus menerus melakukan hal itu pada sang kakek. Tapi karena sang kakek selalu berbuat menyebalkan mengakibatkan dirinya terus menerus melawannya.
Charlotte bukanlah tipikal gadis penurut. Jika ada hal yang tak cocok dalam hatinya maka ia akan berterus terang. Charlotte tidak suka di atur. Ia lebih memilih hidup bebas. Tapi sang kakek selalu melarangnya melakukan hal ini dan itu. Segala yang ia lakukan selalu salah dimata sang kakek. Ya, kakeknya itu selalu menganggap dirinya sebagai pembuat onar.
Yang benar saja.
"Tapi memang benar kalau aku ini pembuat onar." Charlotte terkekeh sendiri sembari menggelengkan kepalanya dengan tersenyum kecil.
Sebenarnya, apapun yang terjadi, betapa pun menyebalkannya sang kakek, Charlotte tetaplah cucunya. Dan tuan Romanov tetaplah kakeknya jua.
Charlotte menghela, sebenarnya ia lelah atas kejadian yang baru saja dia alami. Ingatan tentang sang kakek yang mengajaknya makan bersama cukup mengganggunya.
Sejujurnya, Charlotte bisa saja menerima ajakan makan bersama itu, tapi entah kenapa, hanya dengan melihat wajah kakeknya, ia langsung teringat segala hal yang menjengkelkan dan kekesalannya muncul begitu saja.
"Kakek memang menyebalkan. Semua ini salahnya sendiri. Kenapa juga dia harus mengatur kegiatan Xander sampai membuat kami harus terpisah.."
Charlotte bangkit dan duduk di sudut kasurnya. Ia menyisir rambutnya frustasi.
"Kakek tidak tahu seberapa kesepiannya aku." gumamnya lirih.
"Permisi nona?" seru seseorang dari luar pintu.
Charlotte memutar kepalanya, melihat ke arah pintu melalui bahunya, menoleh pada sumber suara.
"Ada apa?" seru Charlotte.
"Saya datang membawa makanan yang anda minta." ujar pelayan itu belum berani masuk sampai diizinkan oleh majikannya itu.
Charlotte menghela.
"Bawa masuk." ujar Charlotte.
Ia menunggu dengan sabar sampai pintu itu akhirnya didorong terbuka dan ia bisa melihat dengan jelas sosok dari pelayan yang membawa nampan makanan.
Charlotte tetap duduk dengan tenang di atas kasur saat pelayan itu bergerak masuk ke dalam ruangan. Sosok yang tak lain seorang pelayan wanita itu terlihat membawa nampan berisi beberapa buah piring dan gelas. Pelayan itu terus melangkahkan kakinya, bergerak masuk ke dalam ruangan dengan sedikit tergesa-gesa.
__ADS_1
"Ini makanan yang anda minta, nona." ujar pelayan itu.
"Letakkan di sana!" perintah Charlotte sambil menunjuk meja yang ada di dekat sofa dengan dagunya.
Pelayan itu mengangguk. Ia lalu berjalan menuju ke meja yang dimaksud Charlotte.
"Ini salad buah, jus buah dan jus sayur mayur." ujar pelayan itu menjelaskan satu persatu sambil meletakan gelas dan piring ke atas meja, mengaturnya agar terlihat bagus lalu kembali berdiri.
"Kakek dimana?" tanya Charlotte penasaran.
"Masih dibawah, nona. Sedang makan malam di ruang makan bersama tuan muda Xander." jawab pelayan itu menuduk dengan raut wajah takut-takut, seakan tak berani menunjukkan wajahnya.
Sebenarnya seluruh pelayan di rumah ini sudah mengetahui perangai Charlotte. Jika gadis itu sedang kesal jangan coba-coba membuat kesalahan apapun jika kau tidak ingin di pecat.
Seperti yang diketahui kalau Charlotte baru saja bertengkar dengan sang kakek yang pastinya akan membuat suasana hatinya buruk. Dan itu yang membuat pelayan itu merasa ketakutan.
Charlotte menganggukkan kepalanya dan mengibaskan tangannya.
"Baiklah, kau bisa keluar."
"Ba-baik nona." ujar pelayan itu undur diri.
Pandangan Charlotte mengikuti pelayan itu yang saat ini tengah bergegas pergi meninggalkannya.
Setelah sang pelayan pergi meninggalkan kamarnya, Charlotte berdiri diam,menatap lekat menu yang ada di atas meja.
Ini adalah makanan favoritnya yang biasa ia konsumsi jika ada jadwal pemotretan dalam waktu dekat. Makanan ini akan menjaga berat badannya. Ya, Charlotte harus menjaga berat tubuhnya agar tidak bertambah.
Dan beberapa saat sebelum masuk ke dalam kamar, Charlotte memang sempat memerintahkan pelayan untuk membawa beberapa menu makanan dan minuman ke dalam kamarnya.
Charlotte berjalan menuju sofa. Ia kembali menatap makanannya dalam diam.
"Sebernarnya aku tidak butuh makanan ini. Cukup dengan berdebat dengan kakek setiap hari saja sudah pasti akan membuat berat badanku turun." gumamnya terkekeh.
Setelah beberapa saat memandangi makanan di hadapannya, ia memilih untuk melupakan masalah yang baru saja terjadi malam ini dan bergegas mengambil sendok untuk menikmati menu makanan dan minuman yang ada di hadapannya.
__ADS_1
***