Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
72.


__ADS_3

Charlotte tengah menggeliat malas di atas tempat tidur tepat ketika ia mendengar dering dari ponselnya. Ia bergegas mengambil ponsel yang ada di sebelah bantalnya untuk menjawab panggilan itu.


"Halo?" Charlotte menjawab telepon itu dengan nada yang terdengar malas-malasan. "Ada apa?"


"Di mana kau?" ujar Xander.


"Apartement!"


"Sudah aku duga?"


"Duga apa?"


"Sudah ku duga kalau kau ada di apartement." jawab Xander. "Sekarang cepat buka pintumu!"


Charlotte menaikkan sebelah alisnya, "Apa?"


"Aku sudah lelah menunggumu di depan sini, Lottie! Jadi cepatlah buka pintumu!"


"Apa kau tidak-"


"Aku tunggu!"


"Xander, kau-"


Tut! Tut! Tut!


Charlotte menaikkan sebelah alisnya saat Xander mematikan sambungan telepon mereka bahkan sebelum ia berhasil menyelesaikan kalimatnya. Charlotte menatap layar ponselnya untuk beberapa detik kemudian mendecih kesal.


"Cih, kenapa dia harus datang dan mengganggu tidur pagiku sih..." omelnya.


Dengan malas Charlotte kemudian bangun dan turun dari tempat tidurnya. Ia keluar dari kamarnya, melalui ruang tamu yang menuju ke pintu depan, berniat membukakan pintu untuk Xander.


Charlotte bahkan tidak berniat untuk mengenakan pakaian yang lain. Ia tak peduli jika saat ini ia masih mengenakan gaun tidur dan celana pendek yang terlalu tipis saat ini.


"Apa kau tidak punya pakaian lain untuk dikenakan dirumah?" ujar Xander pada Charlotte sesaat setelah ia membuka pintu apartmennya.


Xander kini berdiri di depan pintu dengan sebelah tangan di saku celananya dan seringaian licik di bibir. Pemuda itu mengangkat sebelah alisnya, menatap gadis di hadapannya ini dari atas ke bawah, menyadari betapa tipisnya pakaian yang Charlotte kenakan saat ini.


"Ini adalah gaun tidur dan seperti yang kau lihat, saat ini aku sedang ada di dalam rumahku, bukan di luar. Jadi wajar jika aku menggunakan ini."


"Dengan pakaian itu kau terlihat seperti gadis panggilan!" ejek Xander.


Charlotte sendiri terlihat sama sekali tak peduli dengan pernyataan tajam Xander padanya barusan.


"Kenapa kau ada di sini?" Charlotte bertanya balik pada Xander.


"Aku mau masuk, minggir!" ujar Xander.


Xander mendorong pintu apartemen Charlotte dan langsung melangkah masuk begitu saja ke dalam ruang tamu. Sementara itu Charlotte hanya berdiri di dekat pintu yang terbuka lebar,  masih mencoba memproses apa yang baru saja terjadi. Lelaki itu baru saja menghinanya dan sekarang ia menerobos begitu saja ke apartemennya. Dasar sint*ng!


"Aku lelah," gumam Xander berseru dari ruang tamu.


Charlotte sontak tersadar dari lamunannya. Ia segera menutup pintu dan menguncinya kembali sebelum akhirnya melihat pada sang kakak yang kini tengah berbaring di sofa panjang miliknya.


Pemuda itu terlihat memejamkan kedua matanya. Ia bahkan meletakkan lengan kanannya di atas kedua matanya yang tertutup, bermaksud untuk tidur sepertinya.


"Seingatku kita tidak punya janji apapun untuk bertemu di sini?" ujar Charlotte ikut mendudukkan dirinya di atas sofa tunggal yang berada tepat di sebelah sofa Xander, sementara kedua matanya masih menatap Xander dengan sebelah alis yang terangkat. Ia bingung dengan kedatangan mendadak sang kakak.

__ADS_1


Xander hanya diam, memilih tak menjawab pertanyaan Charlotte itu. Mulutnya seakan malas terbuka untuk menjawab apapun. Melihat hal itu Charlotte jadi kesal sendiri. Ia mengangkat kakinya dan menendang pelan kaki Xander yang saat ini berada di dekatnya


"Hei! Kau sedang apa? Kalau kau mau tidur, pergilah ke apartemenmu sendiri. Ini apartemen milikku kalau kau lupa. Apartemen milikmu berada tepat di sebelah milikku." Charlotte mencoba mengingatkan lelaki itu dengan nada kesal.


Xander berdesah malas, "Aiss, aku tau itu, nona cerewet. Aku mengantuk sekarang, biarkan aku di sini dulu." pintanya.


Xander masih sangat mengantuk karena harus begadang semalaman. Ia tidak bisa tidur karena ulah gadis di dekatnya ini.


"Tidak, cepat katakan ada apa." tuntut Charlotte tak sabar. Ia mengambil remote dan menyalakan televisi yang ada di depannya.


"Ya sudah, oke!" Xander menyerah.


Xander tampak menghela napasnya malas dan melanjutkan kalimatnya. "Jadi, pagi tadi aku mengantarkan kakek untuk pergi ke pabrik,"


Perkataan Xander barusan membuat Charlotte yang saat ini sedang sibuk mengganti chenel televisi di ruang tamunya langsung menoleh pada Xander yang belum juga membuka matanya.


"Benarkah?"


Xander mengangguk, "Ya."


"Dia memintamu untuk mengantarnya?"


"Ya." jawab Xander lagi kali ini terlihat menguap


"Tidak biasanya dia memintamu untuk mengantar dirinya pergi bekerja. Ck, aku yakin dia pasti memiliki motif tersembunyi!" tuduh Charlotte asal sambil menyipitkan matanya lalu menggelengkan kepalanya. "Dia cerdas sekali!"


Xander hanya terkekeh saat mendengar tuduhan konyol dari itu, "Dan di tengah jalan, dia sempat memintaku untuk mengatakan padamu kalau malam ini akan ada acara makan malam di mansion, jam tujuh. Dan dia ingin kita datang. Selain itu dia juga telah mengundang seseorang untuk datang."


"Benar dugaanku, dia memang memiliki maksud tersembunyi. Tapi barusan kau mengatakan seseorang akan datang?" Charlotte lalu menaikkan sebelah alisnya heran, "Apa maksudmu itu adalah seorang tamu?"


"Entahlah!" Xander terlihat menggedikkan bahunya acuh, "Mungkin saja, aku tidak tau."


Charlotte kemudian memajukkan tubuhnya mencoba untuk mendekatkan dirinya pada Xander. Charlotte menggoyang kaki sang kakak lalu berbisik. "Apakah dia adalah kekasih kakek?"


"Berhenti bicara sembarangan, dasar bodoh!"


Xander akhirnya membuka matanya, menatap Charlotte yang masih menggunakan gaun tidurnya.


"Ngomong-ngomong, apa kau ini baru bangun tidur?"


Charlotte menaikkan sebelah bahunya acuh, "Ya, dan kau sudah menggangguku."


"Apa kau tidak kuliah?"


Charlotte menggelengkan kepalanya dan menunjukkan jam yang ada di tangannya, "Kau lihat sendiri, aku kesiangan! Sudah terlambat untukku pergi kuliah saat ini."


"Oh," jawab Xander kembali menutup matanya.


"Kau sendiri bagaimana? Kenapa kau malah ada di sini, bukannya di kampus? Apakah kau tidak kuliah, wahai cucu teladan kakek?" tanya Charlotte dengan nada menyindir.


"Aku ke kampus, tapi dosenku sedang ada jadwal lain hari ini. Kelasku di liburkan. Aku hanya perlu datang untuk absen saja, mengerjakan beberapa tugas lalu pergi."


"Lalu apa kegiatanmu setelah ini?" tanya Charlotte penasaran.


Xander tampak berpikir sebentar, "Sepertinya tak ada. Mungkin aku akan ke mansion setelah ini. Atau ke rumah Laurent."


"Kebetulan kau ada di sini!" Charlotte menjentikkan jarinya.

__ADS_1


Xander kembali membuka matanya untuk yang kesekian kali, menatap Charlotte dengan sebelah alisnya yang di naikkan. "Kenapa memangnya?"


"Kau temani aku pergi berbelanja. Pakaian di lemariku sudah tidak ada yang menarik untuk aku kenakan."


"Belanja?" Xander akhirnya bangun dari posisinya dan mendudukkan dirinya di atas sofa itu.


Charlotte mengangguk. "Iya."


"Tidak mau!" tolak Xander tanpa berpikir panjang.


"Ayolah, Xander. Pakaian di lemariku sudah tak ada lagi."


Xander mendecih sinis, itu adalah ucapan semua perempuan bukan? Mereka akan terus mengatakan kalau mereka tak punya pakaian lagi, padahal...?


"Terakhir kali lemari pakaianmu bahkan sudah tak muat lagi, Lottie! Lalu bagaimana bisa kau mengatakan kalau tak punya pakaian."


"Aku baru mengosongkannya semalam," Charlotte menunjuk ke arah tumpukkan box yang ada di sudut ruang tamu yang berisi pakaian bekas miliknya, "Itu baru sebagian. Dan semua itu akan di lelang minggu depan. Itu pakaian mahal dan bermerk, harganya pasti lumayan tinggi meskipun itu barang bekas."


Xander memutar bola matanya malas. Sebenarnya dia juga tak begitu peduli dengan berapa banyak pakaian yang dimiliki gadis itu,


"Bagaimana? Kau mau kan menemaniku?"


Xander berdecak malas, "Kenapa kau tidak pergi bersama temanmu saja sih? Aku mengantuk."


"Kau lihat! Ini kan masih jam kuliah, teman-temanku pasti sedang di kampus sekarang. Ayolah, Xander! Kau tidak pernah menemaniku selama ini."


"Aku bisa menemanimu, tapi kita tidak bisa singgah kemana-mana. Ingat, sore ini kita harus pulang ke mansion untuk makan malam."


"Memangnya mau singgah kemana. Dan aku tau, ini bahkan masih jam setengah sepuluh pagi, acaranya kan jam tujuh malam nanti."


"Singgah, kau suka singgah ke tempat lain saat kita pergi bersama." ujar Xander malas.


"Bagaimana?" ujar Charlotte kembali menatap sang kakak dengan penuh harap mengabaikan perkataan Xander sebelumnya.


"Ya sudah!" Xander akhirnya menyerah. "Buruan siap-siap."


Charlotte bersorak kegirangan. "Oke, aku akan mandi dan ganti baju dulu!" ujar Charlotte sambil berlari menuju kAmarnya.


Xander tersenyum melihat tingkah adiknya itu. Ia kemudian bangkit dari kursi dan berjalan menuju ke dapur milik Charlotte.


"Apa kau tidak punya makanan?" serunya dari arah dapur. "Aku agak lapar sekarang..."


"Memangnya di mansion kau tidak sarapan dulu?" Charlotte melipat tangannya, terlihat handuk berwarna pink di sampirkan di lehernya. Ia melihat Xander yang tengah mengobrak-abrik isi kulkasnya.


Xander menggelengkan kepalanya, "Demi melindungi kau aku bahkan sampai harus menghindari kakek, alhasil aku tidak sarapan. Tapi semua usahaku itu sia-sia karena kakek malah ikut berangkat bekerja denganku,"


"Kau hanya sedang si@l." Charlotte terkekeh. Ia lalu menunjuk ke salah satu lemari yang ada di dapurnya, "Aku punya stok mie cup di dalam lemari. Saat ini aku sedang tidak memiliki stok persediaan makanan apapun, selain itu."


Xander mengangguk dan segera mengambil satu cup mie yang ada di lemari persediaan yang di maksud Charlotte barusan.


"Baiklah! Aku punya hal lain yang harus aku lakukan sekarang, aku pergi dulu." ujar Charlotte meninggalkan Xander yang tengah fokus pada mie instan miliknya.


***


✔ Note :


▪Author tidak akan mengubah kesalahan ejaan, typo dan hal lainnya karena faktor KEMALASAN TINGKAT AKUT. Dan sesungguhnya kemalasan adalah kerajinan yang tertunda.

__ADS_1


▪Author peduli dengan kesehatan mata kalian, jadi, kalau kalian kurang suka sama ceritanya, Author sarankan kalian untuk mencari cerita yang lain saja, karena cerita ini bisa menyebabkan sakit mata akut.


__ADS_2