Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
17.


__ADS_3

Justin memakirkan sepedanya di depan pagar dari tempat pemakaman umum. Pemuda itu lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam area pemakaman.


Langkah kaki Justin akhirnya berhenti pada sebuah makam dengan nisan yang sudah tampak usang. Ia lalu berjongkok di samping makam itu dengan senyum manis yang mulai mengembang.


Justin lalu mengeluarkan dua tangkai bunga mawar dari dalam tasnya dan meletakkan salah satunya ke atas makam, di dekat nisan.


Tampak pula mawar lainnya yang sudah layu di atas makam itu. Justin juga yang meletakkannya di situ. Setiap hari Justin memang selalu datang untuk mengunjungi makam orang tuanya dan meletakan satu tangkai bunga mawar.


Justin mengusap nisan dari makam ibunya yang sudah di tumbuhi rumput hijau itu.


"Hai ibu, maaf Justin datang agak terlambat datang hari ini. Itu karena pekerjaanku agak banyak." Justin tersenyum.


"Dan maaf, bunga kali ini belum terlau mekar." ujar Justin pada mendiang ibunya. "Bunga di rumah sudah hampir habis. Justin tak sanggup kalau harus beli tapi terlalu malu kalau datang tanpa membawa bunga."


Sesaat Justin menolehkan pandangan ke belakang. Area pemakaman tampak sepi.


"Biasanya jam segini pemakaman ramai, ya kan, Bu?" gumam Justin lagi pada makam ibunya. "Apa karena mau hujan, ya?"


Justin menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu Justin tidak bisa berlama-lama berada di sini. Kalau hujan, tas kuliah Justin nanti basah. Justin cuma punya satu tas saja."


Justin menarik napas panjang dan menundukkan kepalanya.


"Setiap hari Justin datang kemari tapi tetap tak bisa mengurangi perasaan rindu di hati. Jujur, masih berat bagi Justin hidup tanpa ayah dan ibu disini."


"Maafkan Justin, tapi Justin masih berharap ayah dan ibu masih hidup, ada di sini untuk menghibur Justin yang kelelahan."


Drrrtttt….


Drrrtttt…


Justin merasakan getaran ponselnya di saku jaket. Ia mengeluarkan ponselnya dan melihat nama sahabatnya, Charlie terpampang di layar.


"Ada apa?" tanya Justin setelah mengangkat panggilan telepon.


"Kau dimana?" tanya Charlie tanpa basa-basi, begitu telepon itu di angkat.

__ADS_1


"Aku ada keperluan sebentar. Kenapa?"


"Kita ada janji temu sore ini. Kenapa kau belum datang? Apa kau lupa?" omel Charlie.


"Aku tak lupa. Tenang saja."


"Lalu kenapa kau belum tiba di sini?"


"Aku sedang ada keperluan."


"Jadi apa kau akan lama?"


"Hanya sebentar. Lagipula tempatnya tak jauh dari tempat kita akan bertemu. Kau tunggu di sana sebentar, oke. Aku akan datang sebentar lagi."


"Oke."


Justin memasukkan kembali ponselnya sebelum kemudian bangkit. Ia melangkah untuk mencari makam ayahnya dan turut meletakkan setangkai mawar lainnya di sana.


Setelah berpamitan dengan ayahnya, Justin langsung melangkah meninggalkan area pemakaman itu.


***


Justin yang saat ini tengah menatap piring makanan yang ada dihadapannya langsung menoleh pada Charliè.


Justin tak menjawab. Ia hanya menatap Charlie sembari menggelengkan kepala.


"Kau tidak suka makanannya?" tanya Charlie heran.


"Suka."


"Lalu kenapa tidak kau makan?"


"Aku hanya tidak suka harganya."


Ucapan jujur Justin itu sontak membuat Charlie terkekeh.


"Jangan tertawa, Charlie!" ujar Justin tajam.

__ADS_1


"Oke, oke." jawab Charlie masih tampak tersenyum-senyum.


Charlie tahu kalau Justin sedang kesal padanya karena di ajak bertemu di sebuah restoran mahal.


Justin benci restoran mahal, itu yang Charlie tahu. Ah, alangkah mudah baginya membuat Justin merasa kesal seperti ini.


"Jangan khawatir." Charlie mengibaskan tangannya santai. "Bukankah sudah ku bilang aku yang akan membayar tagihannya."


"Tetap saja. Ini bukan masalah siapa yang akan membayar tagihannya, Charlie. Lihat ini, ini mahal sekali. Kau membuang banyak uang hanya demi makanan sekecil ini."


Charlie meletakkan pisau dan garpu yang ia pegang lantas menghela napasnya malas.


"Oh, ayolah Justin, aku sengaja membawamu kemari untuk menikmati ini. Kita kan sedang merayakan keberhasilan karena masuk ke Universitas yang sama. Kita sudah berapa lama masuk ke Universitas tapi baru bisa merayakannya setelah beberapa waktu.."


"Kita bisa merayakannya di kedai bubur ayam langganan kita kan? Kenapa harus kemari."


"Ini adalah pertama kali aku membawamu ke tempat seperti ini dan kau mengomel seperti ibuku."


"Aku hanya tak ingin kau boros. Ingat, kita sudah mahasiswa sekarang. Kau harusnya lebih berhemat."


"Ya, baiklah. Hanya sekali ini saja." Charlie memutar bola matanya malas. "Jadi, bisakah kau makan dengan tenang sekarang?"


Justin tak menjawab.


"Ayolah Justin. Senyuman, aku butuh senyumanmu." ujar Charlie.


Justin menatap Charlie beberapa saat lalu tersenyum kecil sebelum kemudian dengan malas meraih pisau dan garpu.


"Nah, begitu seharusnya. Makan dengan santai sejak tadi."


"Cepat makan setelah ini kita kerjakan tugas dari dosen."


"Baik, baik. Pikiranmu hanya tugas kuliah saja."


"Tentu saja. Kita bayar biaya kuliah mahal-mahal untuk ini."


"Oke, kita habiskan ini dengan tenang baru kita ke taman saja untuk mengerjakan tugasnya."

__ADS_1


***


__ADS_2