Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
29.


__ADS_3

Charlotte melirik jam di dinding kamarnya untuk yang kesekian kalinya. Ia menghela bosan. Hari sudah malam dan itu artinya sudah satu hari penuh Xander dan sang kakek pergi, tapi pemuda itu belum juga kembali ke mansion.


Dan lihatlah, karena sudah terlalu bosan menunggu sejak tadi, Charlote bahkan sudah menghabiskan puluhan camilan. Terbukti dari banyaknya bungkus bekas makanan ringan yang berserakan di lantai kamarnya.


"Kemana sih dia?" gerutu Charlotte. "Dia bahkan tidak membalas chat atau pun mengangkat teleponku."


Charlotte meraih ponselnya kemudian membuka kontak untuk kembali menghubungi Xander yang kesekian kalinya.


"Sial, kenapa sampai sekarang nomornya masih tidak aktif sih? Lelaki itu... aku akan langsung menghábisinya begitu dia muncul di hadapanku nanti."


Charlotte lalu membuka satu bungkus camilan lagi, kemudian memakannya dengan gerakan kesal.


"Cih, makanan apa ini, tidak enak!" keluhnya kemudian dengan nada kesal. Kemudian, dengan kasar ia melempar bungkus camilan di tangannya itu hingga isinya yang masih penuh berserakan di atas lantai.


Oke, suasana hatinya sudah benar-benar menjadi buruk sekarang.


"Aku benar-benar akan menghabisinya setelah ini!" geram Charlotte.


Tok! Tok! Tok!


Tepat saat itu juga, terdengar suara ketukan dari luar pintu kamarnya.


Cklek!


Charlotte menolehkan pandangannya ke arah pintu yang mulai terbuka. Dan kini ia bisa melihat sepasang kaki yang berjalan masuk melalui celah pintu kamarnya yang terbuka itu.


Charlotte mengangkat kepalanya untuk melihat wajah dari pemilik kaki itu dan seketika tatapannya berubah tajam.


Ia berdecak pelan saat melihat siapa yang baru saja datang dan berdiri di hadapannya saat ini.


Alexander Clinton.


"Hai anak manja yang se- hei!" ucapan Xander itu terpotong saat sebuah bantal melayang dan hampir saja mengenai wajahnya.


Charlotte baru saja melemparnya.


"Wow!" ujar Xander kaget. "Apa-apaan barusan itu? Kenapa kau main lempar-lempar barang begitu?"


"Sialán kau!" Charlotte berujar tajam pada saudaranya itu.


Xander lalu tertawa geli. "Apa itu semacam ucapan selamat datang darimu?"


Tidak ada respon.


Charlotte tidak berniat sama sekali untuk menjawab pertanyaan dari pemuda itu.


Melihat raut wajah adiknya itu, kening Xander mengkerut, bingung. "Kenapa dengan wajahmu itu? Itu terlihat mengerikan, kau tau?. Ah, apa kau sedang menstruasi?" tanya Xander lalu ia kembali tertawa.


"Kau pasti berpikir kalau ini semua lucu kan?" sergah Charlotte.


Ucapan itu membuat tawa Xander langsung menghilang. Pemuda itu langsung menggelengkan kepalanya, "Nggak! Nggak lucu hehe"


"Keluar dari kamarku!" usir Charlotte.


"Eittss.. jangan mengusirku seperti itu kalau pada akhirnya kau akan mencariku juga." ujar Xander dengan nada mengejek berharap gadis itu kembali menyahut, tapi ternyata tidak. Dia hanya menatap Xander tajam.


Hal itu langsung menyadarkan Xander jika gadis di hadapannya ini benar-benar sedang marah padanya. Karena jika Charlotte hanya kesal, maka ia akan terus menjawab dan berdebat dengan Xander.


Satu fakta, jika itu marah yang fatal maka Charlotte akan mendiamkannya. Tidak main-main, gadis itu bisa mendiamkannya selama tiga hari hingga satu minggu kedepan.

__ADS_1


Xander hanya bisa menghela nafasnya pelan saat melihat Charlotte yang kini menatapnya dengan tatapan tajam, gadis itu terlihat menjadi sangat marah padanya.


Ia lalu memutuskan untuk masuk dan mendekat pada adiknya itu. Namun langkahnya terhenti saat mendapati keadaan lantai kamar Charlotte yang penuh dengan banyak bungkus makanan ringan.


"Sepertinya badai baru menyerang kamarmu." ujar Xander.


Lelaki itu kemudian berjalan masuk sambil beberapa kali membungkukkan badannya untuk mengambil satu persatu bungkusan camilan yang berserakan di atas lantai itu. "Kenapa kamarmu berantakan begini?"


Xander lalu menatap sekeliling kamar gadis itu. Ia mengernyit heran, tidak biasanya kamar Charlotte terlihat seperti kapal pecah begini.


Seingat Xander, Charlotte adalah gadis yang sangat rapi. Dan saking rapinya, gadis itu bahkan bisa mengetahui jika ada barang miliknya yang bergerak sedikit saja dari posisinya.


Xander kemudian menoleh pada Charlotte, menatap gadis itu sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Oke, sekarang bisakah kau beritahau aku, apa alasanmu marah?"


Charlotte mendecih kesal. "Kau sudah pergi lama! Dan kau bahkan pergi seharian penuh tanpa mengatakan apapun padaku! Pamit juga tidak! Tapi bisa-bisanya kau pulang dan bertingkah seperti orang yang tak punya dosa begini?" ujar Charlotte masih terus menatap tajam wajah Xander yang menurutnya tidak ada rasa bersalah sama sekali.


Xander terhenyak.


Ia mulai paham akar masalahnya sekarang.


Bagaimana dia bisa lupa? Gadis cerewet ini kan memang tidak pernah bisa jauh darinya selama ini, ya selain saat mereka tidur di malam hari dan saat gadis itu berkencan dengan para pria bodoh itu.


Sisanya ya... mereka selalu menghabiskan waktu bersama. Mulai dari Xander yang mengantarnya untuk pemotretan, olahraga, kuliah, ke klub malam bersama, pesta, bersenang-senang. Lihat mereka pasti selalu bersama kan?


Xander menghela. "Hei, aku bu-"


"Diam!" ucapan Xander itu langsung terpotong oleh sargahan Charlotte. "Aku sudah berkali-kali meneleponmu tadi. Aku bahkan menelepon kakek juga! Bayangkan, aku menelepon kakek, sebagai orang yang selama ini selalu jadi daftar terakhir dari orang-orang yang ingin ku telepon. Tapi kenapa nggak ada seorang pun dari kalian yang mengangkat telepon?"


Charlotte mendengus kesal.


"Sebenarnya apa saja yang sedang kalian berdua lakukan sampai nggak bisa di hubungi sama sekali seperti itu?" lanjut Charlotte dengan nada yang terdengar sangat kesal.


"Oh iya, satu lagi. Sejak kapan kau suka menonaktifkan ponsel seperti tadi?" tanya Charlotte tajam.


Xander menghela napasnya pelan. Charlotte…gadis cerewet ini bahkan tidak memberinya satupun kesempatan bicara untuk membela dirinya. Ini tidak adil!


"Aku baru saja pulang dari hotel kakek dan-"


"Aku tak peduli! Lagipula, aku tak tanya kau pergi kemana, tapi aku bertanya apa yang kalian lakukan!" sorot mata galak Charlotte membuat Xander merasa ngeri sendiri.


Kenapa harus ada orang semengerikan gadis ini sih?


Xander berdesah pelan. "Oke, kau denger dulu! Tadi itu kakek hanya mengajak ke hotel untuk memperkenalkanku dengan para karyawan-nya di hotel. Tapi setelah itu aku sama kakek berpisah, karena kakek harus ke pabrik."


"Dan kenapa lama? Itu karena aku dan Dimitri harus memutari seluruh area hotel. Aku juga membaca beberapa arsip dan dokumen-dokumen penting hotel. Selain itu, Dimitri juga harus menjelaskan satu per satu hal yang ada di sana, padaku!" jelas Xander panjang lebar. "Jadi, itu alasannya kenapa aku bisa lama. Karena banyak hal yang harus aku lakukan di sana."


Charlotte mengernyit heran. Xander mengurusi hal kantor? Bukankah itu hal aneh?


Ya, tentu saja! Jelas itu hal aneh karena tidak biasanya Xander ikut campur urusan hotel seperti itu. Apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini?


"Tapi kenapa?" Charlotte terlihat mulai penasaran. "Maksudku, untuk apa kau ikut-ikutan mempelajari semua hal itu?"


Xander berdehem sebentar. "Em.. kakek bilang aku bisa belajar dengan Dimitri semua hal tentang hotel. Jadi aku iseng, bertanya-tanya!" Xander menjelaskan.


"Maksudku, kenapa kau harus ikut ngurusin hal konyol tentang hotel kakek?" Charlotte bersikeras.


Xander menggedikkan bahunya. "Entahlah, aku juga nggak tau!"


"Nggak tau? Bagaimana bisa kau tak tahu?" Charlotte menaikan sebelah alisnya. Bagaimana mungkin pemuda itu tidak tau apa-apa tentang hal yang sedang dikerjakannya.

__ADS_1


Tidak mungkin seseorang akan mengerjakan sesuatu kegiatan tanpa alasan! Bukankah itu semakin terlihat aneh?


"Apa jangan-jangan kakek memintamu untuk bekerja di perusahaannya?" tebak Charlotte dan sontak saja membuat Xander terkejut.


Tebakan gadis ini benar. Lantas darimana gadis ini bisa tahu?


Xander buru-buru menggeleng. "Tidak tahu, sepertinya kakek hanya ingin memperkenalkan aku pada karyawannya saja!"


"Oh..." Charlotte berujar pelan. Ia mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.


Sementara itu, Xander sendiri saat ini merasa tidak enak karena sudah memilih untuk berbohong pada adik kesayangan-nya itu.


Ya, tapi itu karena dia merasa jika saat ini emosi Charlotte sedang tidak stabil. Dia tidak ingin gadis itu semakin marah karena mengetahui jika kakek tadi sempat memperkenalkannya sebagai calon pewaris di rapat hotel. Kakek memperkenalkannya di usianya yang masih sangat muda.


Xander sangat tahu, Charlotte tentu akan sangat marah jika sampai mengetahuinya nanti. Karena sejak awal Charlotte sudah mengatakan kalau ia akan merelakan Xander bekerja di kantor untuk menggantikan sang kakek saat Xander menginjak usia dua puluh enam atau dua puluh delapan tahun.


Dan usianya sekarang baru dua puluh satu tahun.


"Lalu bagaimana dengan ponselmu!" suara Charlotte itu kembali menyadarkan Xander dari lamunannya kecilnya. "Kalau memang kau hanya berkeliling hotel, itu agak aneh. Ya masa cuma untuk mengangkat telepon dariku saja kau nggak bisa?"


"Ponselku di tas! Dan ponselnya mati sejak pagi, aku lupa mengisi baterainya semalam." Xander berkata jujur, ponselnya memang mati.


"Alasan saja!" Charlotte berdecih. "Aku tidak percaya padamu!"


Xander lalu memutar kedua bola matanya jengah. "Oke, kalau begitu, nggak apa-apa. Terserahmu!" ujar Xander sambil menggedikkan bahunya acuh.


Xander terdiam sebentar kemudian menatap Charlotte dalam. "Aku dengar dari Paul, kau tak pergi ke kampus pagi ini! Kenapa?"


"Karena aku kesal."


"Kau ke-


"Jangan bicara apapun lagi padaku. Aku masih kesal padamu."


Xander menarik nafasnya dalam-dalam lalu melirik jam di pergelangan tangannya. "Kau sudah makan?"


"Aku tidak lapar!" balas Charlotte.


"Tapi aku lapar! Ayo makan!" bujuk Xander.


"Ku bilang, aku tidak lapar!"


Xander tersenyum kemudian berjalan mendekat pada Charlotte. "Baiklah. Aku minta maaf padamu. Lain kali aku tak akan pergi tanpa mengatakan apapun seperti tadi,"


"Ya," Charlotte mengangguk. "Kau memang tidak mengatakan apapun tadi pagi."


"Ya, makanya aku minta maaf padamu!" Xander bersikeras. "Janji, setelah hari ini aku nggak bakal melakukan hal yang sama seperti tadi pagi."


Charlotte berdecih. "Ck, kau emang tak akan melakukan hal itu lagi! Karena tadi adalah hal pertama dan terakhir untukmu pergi dengan kakek ke kantor!"


"Ya aku tidak bisa begitu, Charlotte. Mana berani aku menjanjikan hal itu!" tolak Xander tak terima. "Mana mungkin aku bisa membantah kalau kakek yang mengajak lagi nanti!"


"Gampang! Masalah itu, biar jadi urusanku, nanti!" jawab Charlotte tenang.


***


Note :


Tidak akan mengubah kesalahan ejaan/EYD karena faktor Kemalasan.

__ADS_1


Dan sesungguhnya kemalasan adalah kerajinan yang tertunda


__ADS_2