Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
68.


__ADS_3

"Saya mohon pada anda, tuan. Jangan laporkan saya ke polisi. Maafkan kesalahan saya kemarin tuan. Saya akui saat itu saya memang kabur. Tapi saya berjanji pada anda kalau saya akan bekerja lebih untuk membayar kerugian anda."


"Apa yang-"


"Saya akan mengganti biaya kerusakan pakaian anda." ujar Justin lirih semakin menundukkan wajahnya


Tuan Romanov menatap Justin dengan pandangan heran. Ia tidak mengerti kenapa pemuda itu tiba-tiba menunduk dan memohon padanya seperti ini?


Dan tunggu dulu, dia bilang tadi kesalahannya yang kemarin? Kesalahan apa yang dia maksud sebenarnya. Dia juga mengatakan akan mengganti kerusakan pakaian?


Apakah maksud Justin adalah kesalahan yang dia lakukan beberapa hari yang lalu. Saat insiden dimana Justin tanpa sengaja menumpahkan minuman pada kemeja dan jasnya. Apa benar masalah itu yang dia maksud? Tapi tuan Romanov bahkan sudah benar-benar melupakan tentang insiden saat itu.


Bahkan kalau di pikir-pikir, kesalahan tuan Romanov pada Justin justru lebih besar. Bukankah di sini harusnya tuan Romanov lah yang berlutut kepadanya?


"Kau ini-"


"Saya mohon tuan, jangan laporkan saya." Justin mencengkram ujung kaosnya sendiri. "Saya mohon pada anda tuan. Saya-"


"Hei, Justin dengarkan dulu-"


"Setidaknya beri saya kesempatan dan waktu agar saya bisa mendapatkan uang. Setelah itu baru saya bisa mengganti seluruh kerugian anda. Saya mohon tuan jangan laporkan saya."


Tuan Romanov menghela napas sambil menggelengkan kepalanya. Ia hanya bisa tertawa geli melihat kelakuan Justin saat ini,


"Memangnya siapa yang mau melaporkanmu?" ujar tuan Romanov tersenyum simpul.


Justin sontak terdiam.


Justin lalu mengangkat kepalanya. Ia melayangkan pandangan pada tuan Romanov yang saat ini tengah berdiri di hadapannya. Justin tampak mengerjapkan matanya beberapa kali sambilmenatap pria paruh baya itu dengan raut bingung.


"Tapi... bukankah anda-"


"Apa kau belum selesai bicara?" potong tuan Romanov cepat mencegah pemuda itu memohon seperti yang dia lakukan beberapa saat yang lalu.


Justin yang mendengar kalimat tegas itu kemudian menundukkan kepalanya takut. "Ma-maafkan saya, tuan..."


Tuan Romanov kembali menghela napasnya panjang kemudian melangkah menuju nakas yang ada di sudut ruangan untuk mengambil air minum.


"Kau kembali duduklah dulu! Kita tidak akan bicara kalau kau masih berada di lantai seperti itu." perintah tuan Romanov datar sambil menunjuk ke arah kursi yang sempat Justin duduki tadi dengan dagunya.


Justin mengangguk lalu dengan cepat bangkit dari posisi berlututnya dan duduk kembali di kursi itu.


"Kau mau minum apa? Kakek bisa meminta sekretaris yang ada di luar agar membuatkannya untukmu." tanya tuan Romanov.


Justin menggelengkan kepalanya. "Ti-tidak tuan, saya tidak haus, terima kasih..."


"Baiklah..." Tuan Romanov mengangguk mengerti baru kemudian menuang air mineral ke dalam gelasnya. Ia kembali duduk di kursinya setelah sebelumnya ia meletakkan segelas air putih di atas mejanya.


"Kakek memintamu untuk datang kemari karena ingin membicarakan sesuatu hal padamu." ujar tuan Romanov.


"Ada masalah apa tuan?" tanya Justin entah kenapa merasa penasaran.


"Kakek! Bukankah tadi aku sudah mengatakan padamu untuk memanggil aku kakek?" protes tuan Romanov.


"Itu maksud saya... kakek." ujar Justin canggung.


Tuan Romanov tersenyum saat menyadari betapa sopan pemuda di hadapannya ini. 'Dia benar-benar sopan.' batinnya.


Tuan Romanov kemudian membuka salah satu laci di meja kerjanya dan mengambil amplop coklat yang berisi foto-foto seseorang yang sedang melakukan kegiatan sehari-harinya.

__ADS_1


"Lihatlah ini!" perintah tuan Romanov sambil menyodorkan selembar foto pada Justin. "Kau tau siapa ini?"


Pertanyaan tuan Romanov itu membuat Justin mengerutkan keningnya bingung. Ia lalu meraih lembaran foto itu dan menatapnya sekilas kemudian mengangguk.


"Maaf tuan, tapi sepertinya... ini saya." ujar Justin dengan nada ragu. "Ini adalah foto saya." 


"Kalau yang ini?" tanya tuan Romanov lagi sambil menunjukkan lembar foto yang lain. "Siapa pemuda yang ini?"


Justin kembali menatap foto itu kemudian mencoba untuk melihat lebih jeli lagi pada foto yang dimaksud oleh mantan atasannya itu. Seketika matanya langsung membulat sempurna.


"Ini juga saya, tuan."


"Tepat sekali, ini adalah foto saat kau kecelakaan beberapa waktu yang lalu." tuan Romanov menjelaskan.


"Ya benar, tapi ini, b-bagaimana bisa?!" seru Justin dan detik selanjutnya Justin menatap tuan Romanov dengan ekspresi kaget. Justin langsung bisa mengingat segalanya. "Astaga, jadi saat itu-"


Justin menatap tuan Romanov tak percaya. Jadi mantan majikannya ini adalah orang yang sama dengan orang yang sudah menabraknya. Bagaimana bisa Justin sama sekali tak mengenalinya?


Dan apakah ini alasannya kenapa saat melihatnya waktu itu Justin merasa tak asing dengan wajah tuan Romanov?


"Ya, saat itu memang aku." ujar tuan Romanov dengan lirih, ia tersenyum pahir. "Kau kecelakaan saat itu. Dan roda sepedamu di serempet, makanan yang kau bawa berantakan, kau terluka."


Tuan Romanov kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi di belakangnya. "Dan... orang yang menabrakmu adalah aku!"


Justin menelan salivanya dengan kasar. Meskipun ia sudah tau segalanya tetap saja ia keget saat mendengar tuan Romanov mengatakan itu langsung padanya. Justin tak tau harus menanggapi apa saat ini, lidahnya terasa kelu dan dia bingung harus mengatakan apa.


Tuan Romanov menghela napasnya, "Kau sudah melihatnya sendiri. Itu adalah area dimana sebuah mobil menyerempetmu beberapa waktu lalu. Foto yang ini di ambil dari potongan cctv di dekat TKP-nya."


Justin menatap lekat tuan Romanov lalu kembali menatap lembaran foto di tangannya. Ya, ini memang area yang sama dengan insiden waktu itu. Tapi setelah itu apa? Justin tidak tau harus menanggapi dengan apa tentang masalah ini. Toh Justin pun bahkan sudah melupakan tentang insiden itu dan hanya menganggap hal itu sebagai kecelakaan biasa.


Melihat tak ada tanggapan apapun dari Justin selain ekspresi kaget, tuan Romanov tersenyum.


"Saat itu aku adalah orang yang sudah menabrakmu. Dan saat kita bertemu di kafe milikku, awalnya aku mengira kalau kau berpura-pura lupa. Tapi aku rasa tidak ada keuntungan yang kau dapat dari itu" ungkap tuan Romanov tertawa. "Dan aku akhirnya menyadari kalau kau memang benar-benar lupa kalau aku yang  sudah menabrakmu."


Justin masih tidak menjawab. Dia bahkan tidak bisa berpikir banyak saat ini, semuanya terasa begitu rumit untuknya. Begitu banyak pertanyaan yang muncul dalam otaknya saat ini.


Tuan Romanov memejamkan kedua matanya. "Aku tidak tau kenapa ini bisa terjadi. Tapi aku merasa sangat bersalah setelah kejadian itu."


"Tuan harusnya tidak perlu merasa bersalah pada saya seperti itu. Itu bukan sepenuhnya kesalahan tuan, saya juga bersalah karena tak melihat sekitar."


"Tidak. Itu memang salahku sepenuhnya." ujar tuan Romanov.


Justin kembali diam.


Tuan Romanov tersenyum miring melihat keterdiaman Justin. "Aku tidak bisa memberikan apapun sebagai ganti rugi padamu, Justin! Sejak kemarin aku terus berpikir bagaimana cara menebus kesalahanku padamu. Dan aku rasa tidak ada cara yang bisa menebusnya. Hanya ini yang bisa aku lakukan…"


Setelah mengatakan itu tuan Romanov mengeluarkan amplop tebal dan menyerahkannya pada Justin.


"Apa ini tuan?"


"Ini uang senilai dua puluh juta, untukmu!"


Justin membulat, "Apa?"


"Ada apa?" tuan Romanov bertanya heran.


"Tuan, tidak! Saya tidak bisa menerima ini?" ujar Justin mendorong mundur amplop itu. "Saya tidak masalah dengan kejadian itu tuan. Saya bersungguh-sunguh. Anda tidak perlu melakukan ini."


Tuan Romanov menggelengkan kepalanya, "Kau harus menerimanya. Dan saya memaksa!"

__ADS_1


"Tapi tuan-"


"Justin, hanya ini yang bisa kakek lakukan untuk menebus rasa bersalah padamu. Terimalah uang ini atau kakek akan terus merasakan perasaan bersalah padamu."


Justin menghela napasnya pasrah, "Saya akan terima uang ini. Tapi hanya untuk membuat rasa bersalah anda hilang."


"Ya," tuan Romanov mengangguk, "Dan satu lagi, setelah ini kau harus kembali bekerja di kafe lagi.


"Saya bekerja lagi, tuan?"


Tuan Romanov tersenyum. "Ya! Kau bisa bekerja lagi di kafe dan kakek akan segera mengabari Harry tentang ini."


Justin tersenyum, "Terima kasih tuan"


"Tapi ada syaratnya!" ujar tuan Romanov membuat senyum Justin menghilang.


"Syarat?"


"Kau datanglah kerumah kakek besok sore jam enam sore,"


"Kerumah tuan? Tapi untuk apa?" Justin mengernyit 


"Makan malam! Kakek mengundangmu untuk makan malam bersama di mansion kakek!"


"Tapi besok saya harus bekerja!"


"Kau sudah akan bekerja di kafe lagi. Artinya kau juga harus berhenti bekerja di tempat lain."


"Tapi-"


"Kakek akan menunggu kedatanganmu besok." ujar tuan Romanov penuh harap.


Tuan Romanov kemudian mengambil dompetnya. Ia terlihat mengeluarkan selembar kartu nama miliknya lalu menyerahkan kartu nama itu pada Justin.


"Ini adalah kartu namaku! Disitu ada alamat lengkap dan juga informasi kontakku. Kau hubungi aku malam ini setelah pulang kerja!"


Justin meraih kartu nama itu kemudian membaca isinya. Ia menatap kembali pada Laurent. "Saya menghubungi nomor ini, tuan?"


"Ya!"


Justin mengangguk paham, "Baiklah!"


Tuan Romanov tersenyum pada Justin. "Baiklah.. kita sudah sepakat! Sesuai perjanjian. Kau datanglah kerumahku besok sore jam enam tepat dan setelah itu kau bisa kembali bekerja. Karena kita sudah sepekat, kalau begitu kau bisa pulang sekarang!"


Justin kembali mengangguk meskipun ia ragu. Dan setelah percakapan itu Justun segera undur diri pada tuan Romanov dan pergi ruangan itu. Namun saat dia hendak melangkah tuan Romanov memanggilnya.


"Justin!"


Justin menoleh, "Ya, tuan?"


"Kau melupakan uangmu!" Tuan Romanov menunjuk amplop berisi uang pemberiannya tadi.


Justin tersenyum canggung dan mengambil uang itu lagi. Sekali lagi Justin pamit dan melangkah pergi. Namun saat ia sampai di ambang pintu, tuan Romanov kembali memanggilnya.


"Justin!"


Justin memberhentikan langkahnya dan menoleh sekali lagi pada pria paruh baya itu, menunggu tuan Romanov itu melanjutkan kalimatnya. 


"Ingat! Besok jam enam sore!" seru tuan Romanov mengingatkan.

__ADS_1


Justin menganggukkan kepalanya paham kemudian melangkah keluar dari ruangan itu.


***


__ADS_2