
Beberapa saat sebelumnya , begitu sampai di parkiran mansion, Charlotte langsung turun dari mobil. Charlotte dengan cepat berjalan menaiki anak tangga yang menuju ke pintu masuk ke dalam mansion. Dari tempatnya saat ini, Charlotte bisa melihat dengan jelas Paul dan beberapa pelayan lain yang tengah berdiri tegak di dekat pintu masuk, mereka pasti menyambut kedatangannya.
Charlotte melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. "Apakah kakek sudah di dalam?"
"Ya nona. Tuan Romanov sudah tiba sejak siang hari tadi. Beliau juga sudah menunggu kedatangan nona dan tuan muda sejak tadi..."
"Dimana dia sekarang?"
"Tuan Romanov sedang bersiap, nona."
"Mari saya bantu, nona." ujar Paul mengulurkan tangannya, hendak membantu saat ia melihat Charlotte yang tengah membawa banyak sekali tas belanjaan di tangannya.
"Ah tidak perlu," jawab Charlotte sambil menolehkan pandangannya ke arah mobil yang tadi ia tumpangi.
"Itu, di sana! Aku membawa banyak sekali barang belanjaan di dalam mobilku. Kau perintahkan saja para pelayan lain untuk membawa barang-barang itu ke dalam kamarku!" perintahnya.
"Baik nona!"
Paul menganggukkan kepalanya lalu menoleh ke arah mobil yang dimaksud Charlotte barusan. Di sana terlihat Xander yang masih sibuk memarkirkan mobilnya.
"Ingat, jangan ada yang tertinggal!" Charlotte mencoba memperingatkan sambil masuk kedalam rumah.
Paul mengangguk dan bergerak menuruni anak tangga tepat saat itu ia melihat Xander yang saat ini sudah turun dari mobil. Sesampainya di dekat mobil, Paul menundukkan kepalanya hormat pada sang tuan muda.
"Tuan muda," sapanya.
"Paul, apa kami terlambat untuk acara makan malamnya?" tanya Xander.
"Tidak, anda datang tepat waktu, tuan muda." jawab Paul tersenyum.
Xander melirik Charlotte yang ternyata sudah masuk ke dalam rumah, kemudian mendekatkan dirinya pada Paul, untuk berbisik.
"Dia punya ratusan tas di dalam mobil itu!" bisik Xander sambil menyerahkan kunci mobil yang langsung di balas anggukan oleh Paul. Sambil tersenyum Xander kemudian mulai melangkah menyusuri area parkir untuk menyusul Charlotte.
Sementara itu, Charlotte kini tengah berjalan dengan santai memasuki mansion dengan tangan yang terlihat menenteng beberapa tas belanjaan. Ia lalu mengangkat tas belanjaan yang ada di tangannya itu dan menatapnya dengan raut wajah puas.
"Besok aku akan pergi untuk berbelanja lagi," gumamnya sambil tersenyum lebar.
Namun, saat memasuki area ruang tamu, langkahnya perlahan terhenti karena melihat seseorang yang duduk di ruang tamunya.
Charlotte menaikkan sebelah alisnya. Orang itu, entah kenapa dia tampak tidak asing untuk sebuah alasan. Lalu sedetik kemudian orang itu menoleh ke arahnya. Dan akhirnya...
__ADS_1
BRAKK!
Charlotte tanpa sadar menjatuhkan tas belanjaan yang ada di tangannya dan membuat seluruh barang bawaannya itu berserakan ke atas lantai. Senyum gadis itu seketika saja menghilang. Dan bukan hal yang di sengaja karena gadis berparas cantik itu kini tengah berdiri membeku di tempatnya.
Justin Kim, pemuda tampan itu sekarang tengah berada tepat di hadapannya. Benar-benar ada di hadapannya. Di dalam rumahnya. Tapi tunggu dulu, bagaimana bisa?
Charlotte sontak memundurkan langkahnya. Ia tampaknya tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. Mana mungkin Justin ada di sini? Saat ini Charlotte pasti sedang berhalusinasi?
Tidak!
Pemuda yang ada di hadapannya itu memang Justin Kim.
Sesaat keduanya hanya saling terdiam. Sama-sama tampak terkejut. Mereka saling mengunci pandangan mata masing-masing. Dan tanpa sadar tatapan itu berhasil membuat jantung Charlotte mulai berdetak dengan tak normal.
Justin saat ini menatap gadis yang tengah berdiri di hadapannya ini dengan tatapan yang tak kalah terkejutnya. Ia heran, kenapa Charlotte Clinton bisa ada di sini? Justin lalu semakin membulatkan matanya saat menyadari sesuatu di kepalanya. Ia menatap Charlotte dengan pandangan tak percayanya. Charlotte Clinton... jangan bilang kalau dia adalah...
"Kau?" ujar Charlotte pada Justin yang berdiri di hadapannya, tangannya terangkat menunjuk ke arah wajah pemuda itu. "Sedang apa kau di rumahku?"
"Aku sedang~ hah? Jadi i-ini benar rumah anda?" tanya Justin tergagap.
Justin seperti baru saja mendapat pukulan keras tepat di kepalanya. Charlotte bilang ini adalah rumahnya. Kalau begitu dugaannya barusan memang benar kalau Charlotte dan tuan Romanov, mereka pasti...
Kakek dan cucu.
"Ya, ini rumahku." Charlotte menganggukkan kepalanya angkuh. "Dan bukankah aku yang lebih dahulu bertanya tadi, sedang apa kau di rumahku? Kenapa kau-"
Ucapan Charlotte itu pun tiba-tiba saja harus terhenti ketika ia melihat tuan Romanov muncul.
"Ah, Charlotte, kau sudah datang?" ujar tuan Romanov dengan wajah tersenyum. "Kalau begitu kau cepatlah bersiap-siap, makan malam sudah akan di mulai."
"Kakek, sedang apa dia di sini?" tanya Charlotte sambil menunjuk Justin sekali lagi dengan jari telunjuknya.
Tuan Romanov menoleh pada Charlotte yang saat ini tengah menatap Justin masih dengan ekspresi kaget di wajahnya.
"Oh, dia ini Justin." ujar tuan Romanov sambil menyentuh bahu pemuda itu. "Dia tamu yang akan makan malam bersama dengan kita nanti."
Charlotte belum sempat bertanya balik karena sang kakek saat itu sudah kembali berbicara lagi.
"Kenapa, Lottie? Apakah kalian sudah saling mengenal sebelumnya?!" tanya tuan Romanov penasaran sambil menatap kedua orang itu secara bergantian dengan tatapan bingungnya.
Charlotte terlihat menatap Justin untuk sesaat sebelum akhirnya dia memasang wajah acuhnya.
__ADS_1
"Me-mengenalnya? Ah, tentu saja aku mengenalnya. Mana mungkin aku tidak mengenal pemuda ini. Lagipula siapa yang tak akan mengenalnya." gumam Charlotte pelan.
Tuan Romanov menatap Charlotte dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia mengernyit bingung, tidak mengerti apa maksud dari perkataan gadis itu.
"Apa maksudmu Lottie?" tanya tuan Romanov.
Charlotte langsung tersadar atas perkataannya sendiri. Sepertinya ia mulai bicara melantur sekarang.
"Aku..." Charlotte berdehem sebentar, sebelum kembali memasang raut angkuh.
"Maksudku tidak! Aku tidak mengenalnya. Ya, aku hanya pernah melihatnya di beberapa tempat. Pemuda ini selalu ada dimana-mana. Dia bekerja. Di kafe, di kampus juga! Ah... dan sekarang, dia ada di rumahku." tutur Charlotte sedikit canggung.
Charlotte benar-benar tidak tahu harus mengatakan hal apa lagi. Isi kepalanya terasa seperti kosong tak berisi sekarang. Hanya kalimat aneh itu yang terlintas di otaknya saat ini. Ya sudahlah! Yang penting kakeknya tidak mengetahui kalau Charlotte selama ini sedang berusaha mengejar Justin.
Sementara itu setelah mendengar penjelasan Charlotte, tuan Romanov hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Menurut informasi yang dia terima Justin memang memiliki banyak pekerjaan, mungkin karena itu Charlotte bisa melihatnya dimana-mana.
"Ah benar. Dan bukankah Justin juga berkuliah di kampus yang sama denganmu, Lottie."
"Ya, begitulah!" ujar Charlotte dengan nada acuh.
"Baguslah kalau begitu, bukankah itu artinya segalanya akan lebih baik bagi kalian untuk memulai pertemanan" kata tuan Romanov.
"Ah... masalah itu-"
"Baiklah! Ayo kita bicara di meja makan saja." ajak tuan Romanov sambil merangkul dan menarik bahu Justin menuju ke meja makan.
"Dan, dimana Xander? Kenapa dia belum masuk? Cepat kau panggil dia!" perintah tuan Romanov pada Charlotte.
Tuan Romanov memegang bahu Justin dengan halus menggiringnya ke ruang makan hingga kemudian mereka menghilang di ujung lorong.
Charlotte buru-buru berbalik untuk kembali melangkah keluar sampai ia melihat Xander muncul.
"Kau? Kenapa kau masih berada di sini?" tanya Xander yang baru saja masuk ke dalam mansion. Ia menatap heran pada Charlotte dan tas belanjaannya yang berserakan di atas lantai.
Charlotte tak menjawab. Ia hanya diam dengan mata yang menatap Xander dengan tatapan yang tak bisa di artikan. Selanjutnya, Charlotte menarik kasar lengan Xander dan menyeretnya berjalan dengan cepat ke arah keluar mansion, membiarkan tas belanjaannya yang masih berserakan di atas lantai.
"Ikut denganku, kita perlu bicara!"
***
✔ Note :
__ADS_1
▪Author tidak akan mengubah kesalahan ejaan, typo dan hal lainnya karena faktor KEMALASAN TINGKAT AKUT. Dan sesungguhnya kemalasan adalah kerajinan yang tertunda.
▪Author peduli dengan kesehatan mata kalian, jadi, kalau kalian kurang suka sama ceritanya, Author sarankan kalian untuk mencari cerita yang lain saja, karena cerita ini bisa menyebabkan sakit mata akut.